Rabu, 10 Februari 2016

Tungku Pemanggang Sate

Gambar 1. Tungku pemanggang sate
sumber : olx.co.id
Hari Sabtu, 6 Februari 2016 saya menghadiri pertemuan ibu-ibu PKK di perumahan. Sore itu hujan turun, saya tetap harus datang. Ada alasan mengapa saya harus datang, sebab sore itu saya menjadi petugas. Bulan Februari ini setiap anggota PKK wajib mengenakan seragam PKK. Oit, kain seragam masih utuh di dalam plastik, saya simpan di loker. Sebenarnya, kalau mesin jahit di rumah tidak rewel pastilah saya kres-kres, grek-egrek, taraaaa, jadilah baju sederhana. Baju sederhana yang saya kenakan, sesederhana pemakainya. Huit.
Sayangnya mesin jahit ngadat. Saya pikir yang penting memakai kain seragam, apapun wujudnya, saya harus memakai. Masih ada waktu untuk mencoba-coba kain, mau diapain ya. Suitttt, ketemu juga akhirnya. Kain seragam saya lipat menjadi segitiga. Jadilah seperti kerudung yang super lebar. Saya mengenakan baju batik (kebiasaan saya mengenakan batik), kain seragam berbentuk segitiga tadi saya kenakan di badan, lalu bagian depan saya semat dengan keniti. Jadilah kain seragam itu menutup seluruh baju saya. Saya tinggal memakai kerudung. Praktis bukan?
Sampai di tempat pertemuan, tetangga saya yang tahu kalau saya suka menjahit baju sendiri bilang,”yang jahit baju sendiri….”
Saya mengedipkan mata. Karena gerimis masih turun, sedangkan rumah yang ditempati untuk pertemuan sempit, maka sebagian dari kami menempati rumah tetangga sebelahnya. Saya terus terang saja, gak apa-apa, akhirnya saya ditertawakan. “oala, jadi panjenengan tidak pakai baju seragam ta?”
“Yang penting kain seragamnya dipakai bulan Februari,”jawab saya (rada ngeyel)
“Bener juga.”
Ternyata ada beberapa anggota yang belum memakai seragam PKK. Aman-aman…. Acara pertemuan PKK dimulai, semua berjalan dengan lancar. Acara selesai, dilanjutkan promosi. Kebetulan sore ini ada seorang bapak-bapak mau memromosikan dagangannya. Sebenarnya barang yang dijual tidak terlalu istimewa. Itu menurut saya yang tidak hobi belanja. Barang tersebut adalah tungku panggangan sate. Tungku ini terbuat dari tanah liat. Kata bapak tadi tanah liatnya kualitas bagus, tidak sembarangan. Bila dipakai berulang-ulang akan semakin baik, dan hasil masakannya juga enak. Namanya juga promosi dagangan, jadi yang baik-baik yang diomongkan. (Saya tidak tergiur untuk membeli).
Tungku ini bisa dipakai dengan api berasal dari kompor minyak atau kompor gas. Namun demikian, hasil masakan tidak bau minyak atau gas. Katanya, bau-bauan itu terserap dalam tanah liat. Top tenan!
Cara memakai : nyalakan kompor, taruh tungku di atas kompor. Tungku jangan sampai terbalik, bagian bawah halus, sedang bagian atas yang ada garis dan lubang timbul. Setelah tungku panas, taruh makanan yang akan dibakar atau dipanggang di atas tungku. Makanan dibolak-balik. Kabarnya, bila makanan terlalu lama di atas tungku tidak akan hangus (gosong).
Yang ditunggu-tunggu adalah soal harga. Tungku tadi dijual dengan harga Rp 60.000,00 per buah. Bila membeli 5 buah maka bonusnya 3 buah. Atau dengan kata lain 8 buah seharga Rp 300.000,00. Jadi satu buah harganya Rp 37.500,00. Murah, bukan? (saya berkata dalam hati : mahal. Soalnya kalau mau bakar sate atau apa saja tinggal cari beberapa bata, ambil arang dan api. Kipas-kipas, memanggang. Hemmmm, maunya harum. Bau arang dan sedikit gosong, hehe).
Ada 10 orang yang membeli tungku. Laris manis. Pertanyaan saya : kalau sudah membeli tungku, apakah juga akan dipakai. Seberapa seringkah digunakan? Paling 1-5 kali saja setelah itu masuk ruangan/gudang. Saya sih mending pinjam tetangga saja (halah, ini pelit).
Selesai pertemuan PKK, saya mencari-cari alat masak panggangan. Nah itu dia! Bedanya milik saya dari logam. Selain bisa digunakan untuk memanggang sate dan makan seperti yang disebut tadi saat promosi, juga bisa digunakan untuk membuat dadar telur. Alat ini sudah lebih dari 5 tahun saya miliki dan sampai sekarang masih sering saya gunakan. Nah, kalau sudah punya barang yang fungsinya sama, ngapain beli barang yang lain? Eh, tapi saya tidak boleh protes, suka-suka mereka ya?
Karanganyar, 10 Februari 2016