Tampilkan postingan dengan label wanita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wanita. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Maret 2017

Isteri Ikhlas Dipoligami

Hai suami!
Dahulu, dirimu bersusah payah, berjuang untuk bertahan, meniti segala macam usaha denganku. Jatuh bangun, terseok dan gagal bersamaku. Tapi kita tidak patah semangat dan tetap saling menguatkan.
Waktu kita habis untuk berusaha, berikhtiar dan berdoa. Siang dan malam, pagi dan petang, hujan dan panas tak kita hiraukan untuk memohon kepadaNya agar kita bisa bertahan. Lalu kita berhasil melewati masa sulit.
Hai Suami!
Kehidupan kita berangsur membaik. Apa yang kita cita dan idamkan terkabul. Lambat laun kebahagiaan itu mewarnai rumah sempit kita. Perekonomian semakin membaik bahkan kita bisa dibilang lebih mapan.
Hai Suami!
Tiba-tiba dirimu menjadi asing bagiku. Engkau ingin berbagi bahagia dengan perempuan yang lain. Sebelum berbagi bahagia, maka tengoklah ke belakang. Siapa yang mendampingimu bersusah payah? Kalau engkau mau berbagi bahagia, maka berbagi susah dan derita dahulu dengan orang lain. Apakah perempuan itu mau dan bisa?
Hai perempuan lain!
Maukah kamu bersusah-susah sekian puluh tahun sebelum berbahagia? Jangan lihat kebahagiaan seseorang di saat ini saja. Tapi lihat dan bacalah sejarah perjuangan seseorang di masa lampau! Bersama siapa dan siapa pendampingnya di saat dia berada di titik nol?
00000

Tulisan ini terinspirasi dari status FB seorang sahabat yang lagi membicarakan tentang poligami.

Selasa, 14 Maret 2017

Tips Membereskan Pakaian Agar Rumah Tampak Rapi

Pekerjaan rumah yang dilakukan seorang Ibu atau perempuan, tidak akan pernah ada habisnya. Bagi perempuan yang bekerja di luar rumah, memerlukan waktu khusus atau jadwal khusus untuk melakukan masing-masing pekerjaan. Memasak, mencuci pakaian, menyeterika, mencuci piring, merapikan seluruh ruangan, maupun kamar merupakan pekerjaan rumah yang selalu akan dikerjakan (pinginnya) dalam waktu bersamaan (kalau bisa). Akan tetapi tenaga kita sangat terbatas. Melakukan beberapa jenis pekerjaan, harus bergantian. Tidak mungkin kita bisa melakukan sekaligus.
Salah satu contoh pekerjaan yang harus segera dikerjakan adalah membereskan pakaian agar rumah tampak rapi. Adapun beberapa macam kegiatan membereskan pakaian yang bisa dilakukan agar rumah tampak rapi adalah:
1.    Bebas pakaian di ruangan yang sering digunakan untuk beraktivitas selain kamar
Sering kita menaruh pakaian di ruangan-ruangan selain kamar. Misalnya karena tergesa-gesa waktu berganti pakaian, lalu pakaian yang tidak kita kenakan kita taruh ditempat yang tidak semestinya. Sebenarnya, bisa kita lakukan untuk membiasakan diri menaruh pakaian pada tempatnya, misalnya keranjang. Dengan demikian, pakaian yang tidak kita pakai terdapat dalam satu wadah saja. Lebih baik lagi kalau wadah tersebut memiliki tutup.

2.    Bebas pakaian di dalam kamar
Kamar merupakan tempat yang selalu kita gunakan untuk beraktivitas.  Kamar, tidak hanya kita gunakan untuk beristirahat (tidur). Kalau kita tidak memiliki ruang kerja khusus, kadang-kadang kita asyik bekerja di dalam kamar daripada di ruang lain. Alasan lebih tenang dan santai inilah yang membuat kita betah bekerja di dalam kamar. Sama halnya dengan ruangan lain yang kadang terdapat pakaian, di kamar juga demikian.

Bila kita ganti pakaian, sering kita membiarkan pakaian yang tidak kita pakai menumpuk/digantung di dalam kamar. Selain membuat kita merasa tidak nyaman, tumpukan pakaian juga bisa digunakan untuk tempat persembunyian nyamuk. Sebaiknya kamar pun bebas dari pakaian. Mungkin kita bisa menyediakan keranjang pakaian yang memiliki tutup agar kamar kelihatan rapi.

3.    Mencuci pakaian
Sebaiknya, mencuci pakaian dilakukan secara rutin, setiap hari, dua hari sekali atau sesuai kebutuhan. Biasanya kita mencuci pakaian dalam jumlah tertentu. Sebenarnya bila kita mencuci pakaian rutin setiap hari, maka pakaian kotor tidak lagi kita lihat. Tapi dengan alasan tertentu (menghemat waktu), kita mencuci pakaian kalau sudah dalam jumlah banyak. Hal ini tergantung dari kebiasaan masing-masing orang.

4.    Melipat pakaian
Setelah pakaian kering, kita bisa melipat pakaian terlebih dahulu sebelum ada waktu untuk menyeterika. Sebagian dari kita akan melipat semua baju, lalu dimasukkan ke dalam lemari sebelum diseterika. Dengan melipat pakaian, segera setelah pakaian kering akan mengurangi kusut. Pakaian juga tetap wangi setelah dilipat kemudian dimasukkan ke dalam lemari. Untuk pakaian harian yang dikenakan di rumah, sebagian orang tidak perlu diseterika. Tapi, bagi orang yang merasa “harus” sempurna, melipat pakaian saja tidak cukup. Semua harus diseterika sebelum masuk dalam lemari kemudian dikenakannya.

5.    Menyeterika pakaian
Ibu-ibu/perempuan sibuk yang tidak memiliki asisten rumah tangga, semua pekerjaan rumah akan diselesaikan sendiri atau berbagi tugas dengan suami dan anak-anak. Bila tidak menggunakan jasa seterika pada laundry, pekerjaan menyeterika adalah pekerjaan yang membosankan dan memakan waktu yang lama. Ada kiat khusus bagi Ibu yang sibuk dan tidak mendapatkan tuntutan dari anggota keluarga lainnya, yaitu menyeterika pakaian seperlunya saja. Biasanya pakaian yang akan digunakan untuk bekerja/bepergian yang akan diseterika. Ibu-ibu bekerja akan menggunakan waktu sebaik mungkin.

6.    Memasukkan pakaian dalam lemari/kotak ajaib
Setelah diseterika, biasanya pakaian akan masuk dalam lemari/loker, kotak ajaib. Memasukkan pakaian ke dalam lemari/kotak ajaib adalah cara tepat agar ruangan tampak rapi dan bersih. Biasanya Ibu-ibu melakukan pekerjaan seperti ini tanpa keluh-kesah. Semua berjalan semestinya. Dengan atau tanpa bantuan suami, Ibu-ibu akan melakukan pekerjaan membereskan pakaian dengan suka cita. Karena Ibu-ibu tahu, membereskan pakaian agar ruangan tampak rapi membuat nyaman bagi Ibu-ibu sendiri.

Semoga bermanfaat dan selamat beraktivitas.

Minggu, 19 Februari 2017

Jangan Mudah Tertipu dengan Perubahan Wajah Seseorang

Ketika Maharani memoleskan lipstick warna merah muda, beberapa teman di kantornya spontan berkata,”wow beda.” Tapi ada juga yang berkata pelan, takut menyinggung dg ucapan, “maaf, itu bukan Anda yang sebenarnya.” Ada yang bilang, nah sekarang tambah segar tidak kelihatan pucat. Tapi sebagian besar menyarankan pada Maharani untuk berhias seperti saban harinya saja. (yang menyarankan seperti ini bukan Ibu-ibu lo, nanti dikira saingan). Lebih teduh dan lebih kalem.
Dari sekian pendapat teman-teman, Maharani memilih menjadi dirinya sendiri dan kembali seperti semula dengan make up minimalis. Lipstiknya warna cokelat atau pink teduh. Itulah uji coba yang dilakukan Maharani. Ternyata ada yang tidak mudah tertipu dengan penampilan barunya.
Masukan teman Maharani sungguh bermanfaat agar dia tidak salah menggunakan make up. Maharani memang tipe perempuan sederhana dan tidak neko-neko. Ternyata perubahan sedikit saja sudah kelihatan nyata.
Suatu ketika Maharani memakai make up minimalis, bedak dan lipstick seperti biasanya. Hanya saja pada bulu mata bagian bawah ditambah garis pencil hitam sedikit saja. Ternyata, itu juga menjadikan wajahnya berubah.
Banyak orang yang pangling, atau hampir tak mengenalnya hanya karena make up yang berbeda dari biasanya. Jangankan orang lain, suaminya saja, Mahendra juga kaget kalau Maharani memakai make up berlebihan. Dan reaksinya menolak. Lantas Mahendra memperingatkan,”tidak usah menjadi orang lain.”
Tentu saja Maharani kembali ke sifat aslinya/asalnya, yang sederhana, kalem, tenang, tidak menor, tidak berlebihan dan apa adanya. Make up yang dipakai yang minimalis saja, biar tidak banyak mengeluarkan biaya untuk kosmetik. Selain itu tidak menjadi bahan pembicaraan orang lain. Dibicarakan baik dan buruk, toh tidak berpengaruh.

Selain make up, yang menjadi perhatian teman-temannya adalah model berkerudungnya. Asal beda sedikit nanti juga dikomentari. Dunia ini memang penuh dengan penilaian. Semoga Maharani tidak terpengaruh dengan penilaian manusia. Baginya hanya Allah yang memiliki hak untuk menilainya.

Minggu, 26 Juni 2016

Menjenguk Tetangga Sakit Kanker Payudara

Kebun Teh, Kemuning, Ngargoyoso, Kab. Karanganyar
Dok.pri
Menjenguk Tetangga Sakit Kanker Payudara
Hari ini saya menjenguk tetangga kampung yang sedang sakit. Empat bulan yang lalu tetangga saya tadi tergolek di tempat tidur tak bisa mengerjakan apa-apa. Kabarnya sakitnya luar biasa, bahkan untuk memiringkan badan saja tak mampu, harus dibantu orang lain.
Sebelum sakit, tetangga saya adalah perempuan pekerja keras. Pekerjaan apa saja dilakukan asalkan halal. Setahu saya beliau adalah buruh tani. Tiap musim tanam, beliau ikut menanam padi, lalu menyiangi rumput. Berangkat kerja setelah subuh, pulangnya matahari sudah akan tenggelam. Dalam bekerja, beliau memiliki team khusus. Team ini terdiri dari beberapa perempuan tangguh.
Saya sering mengamati beliau kalau sedang menanam padi di samping rumah saya. Sambil bekerja beliau ngobrol dan bersenda gurau dengan sesama teman menanam padi. Pada suatu musim tanam, saya tak mendapatkan beliau ada dalam satu rombongan buruh tani. Suatu ketika saya bertanya pada tetangga kampung, ternyata beliau sedang sakit.
Awalnya beliau mengatakan sakit badannya. Saya tidak berani bertanya lebih jauh. Tadi pagi, adalah kedatangan saya yang keempat. Kondisi beliau masih sama, bahkan sekarang malah kedua kakinya harus diikat dengan kain jarik agar tidak bergerak bebas tanpa control (menurut beliau dan saudaranya kedua kakinya bisa bergerak sendiri tanpa digerakkan. Setelah itu kakinya sulit untuk dikembalikan seperti pada posisi semula bila tak dibantu orang lain.
Saya tak bisa membayangkan, betapa berat penderitaan wanita perkasa ini. Kini semua aktivitasnya dikerjakan di atas tempat tidur. Beruntung, kalau ditinggal suami dan anaknya bekerja, beliau ditunggui oleh saudaranya yang rumahnya berada di samping rumahnya.
Sudah segala macam pengobatan ditempuh. Dulu ketika keluhannya pada tulang, beliau sudah dibawa ke ortopedi. Pengobatannya juga sudah sampai Yogyakarta. Dan akhir-akhir ini pengobatan dan pemeriksaan dilakukan di RS Muwardi, Jebres, Surakarta.
Menurut cerita beliau dan saudaranya, di RS Muwardi dilakukan pemeriksaan scan (beliau bercerita badannya dimasukkan dalam terowongan). Kata dokter yang memeriksa, sakit yang diderita tetangga saya karena ada benjolan di payudara sebelah kanan.
[Memang ketika saya datang, beliau pertama kali menunjukkan pada saya payudara yang ada benjolannya dan ditekan-tekan. Menurut beliau sudah 5 tahun ini benjolan itu ada dan tidak terasa sakit sama sekali]
Kata dokter penyakit beliau bisa sembuh kalau benjolan itu diambil (artinya benjolan itu kanker atau tumor). Sayangnya, beliau tak tahu kalau itu kanker dan mungkin tak diberi tahu.
Setelah cukup lama saya menjenguk tetangga kampung, akhirnya saya pulang. Saya ceritakan keadaan tetangga kampung pada suami. Seperti biasa, suami tak menanggapi, tapi memperhatikan cerita saya.
Sore harinya, suami bercerita kalau dia bertemu salah satu saudara tetangga kampung yang sakit tadi, sebut saja Mas A. kata Mas A, sebenarnya saudaranya menderita kanker payudara stadium 4. Astaghfirulloh. Ibu, semoga cepat sembuh ya.

Manusia hanya bisa menjalani semua yang sudah menjadi bagian hidupnya. Jalan cerita sudah disiapkan Yang Maha Pandai, dan kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi. Maka mulai sekarang perbanyaklah bekal untuk pulang kampung.

Saya hampir mewek, teringat Ibu mertua saya yang dulu mengidap tumor limfa stadium lanjut. Saya dan suami merahasiakan sampai beliau meninggal.

Sabtu, 18 Juni 2016

Team Solid Untuk Menyelesaikan Suatu Pekerjaan

Bekerja sama dalam satu team mempunyai hikmah tersendiri. Semua bisa dikerjaan sesuai waktu yang ditentukan dan target terpenuhi. Bila bekerja sendiri-sendiri akan membuang banyak waktu dan hasilnya juga tidak maksimal.

Saya suka bekerja dalam satu team. Bekerja dalam satu team tidak selalu ke mana-mana harus jadi satu dengan anggota yang lain. Bisa saja pekerjaan dibagi-bagi (job dibagi-bagi) lalu diserahkan pada ahlinya. Dengan demikian, pekerjaan bisa berjalan dengan lancar. Apabila ada kesulitan, maka bisa diselesaikan bersama-sama saling membantu.

Suatu contoh, saya berdua dengan guru Bahasa Inggris diminta untuk memberikan undangan kepada wali murid. Oleh karena ada 4 wali murid yang harus kami datangi, maka kami membagi tugas dengan cara saya mengantarkan 2 undangan untuk 2 wali murid yang rumahnya dekat sekolah. Dua undangan lainnya diantar teman saya karena alamat rumah wali murid dekat dengan rumah teman saya. Pekerjaan menjadi ringan, cepat selesai dan lebih efisien.

Tetapi ternyata cara kami berdua dianggap salah. Seharusnya kami berdua seiring sejalan, tidak boleh jalan sendiri-sendiri. Namanya partner, seharusnya ke mana-mana harus berdua. Agar penyerahan undangan ke wali murid ada saksinya. Saya dan teman saya tersenyum, terkekeh lalu tertawa. Oh, begitu ya cara bekerjanya. Seandainya wali murid yang dimaksud tidak bisa kita temui, barulah undangan dibawa oleh salah satu dari kami untuk diserahkan pada yang bersangkutan. Ini namanya kerja keras, bukan kerja cerdas.

Yang kedua, baru saja terjadi pada saya. Saya biasa dijadikan satu team dengan teman saya guru mesin. Biasanya ke mana-mana saya dijadikan satu team dengan guru mesin. Kemarin waktu ke Matesih dalam rangka mencari murid juga satu team dengan guru mesin. Hari ini, team kami berharap bisa bertiga lagi ke Matesih. Karena pekerjaan ini masih ada hubungan dengan pekerjaan kemarin, kami sudah mempersiapkan diri.

Ternyata, saya dipisahkan dari team kemarin. Padahal team yang kemarin termasuk solid. Karena sudah teruji hasil kerjanya. Saya tidak kecewa, hanya saja sepertinya memang ada unsur kesengajaan dibuat demikian. Saya tak mempermasalahkan, saya bekerja dengan siapa pun bisa. Tapi kalau bekerja dengan orang yang suka memaksakan kehendak, saya merasa tidak sreg.

Ternyata team saya yang sekarang orangnya asyik diajak kerja bareng. Saya tahu, mereka adalah orang-orang yang mau mendengarkan pembicaraan orang lain, dan saling menghargai pendapat orang lain. Pekerjaan selesai dengan hasil memuaskan. Itulah team solid, kompak dan sudah teruji.

Bekerja dalam satu team yang solid dan kompak itu menyenangkan. Namanya bekerja dalam satu team, harus kerja cerdas tak perlu kerja keras. Yang penting hasilnya optimal dan sesuai target.

Saya jadi ingat teman-teman guru mesin yang selalu mengajak saya kalau ada pekerjaan di lapangan. Untuk apalagi kalau tidak untuk mendokumentasikan pekerjaan. Saya suka mengorbankan waktu untuk pekerjaan bersama teman-teman. Saya mau melakukan semua itu karena mereka juga tak pernah memperhitungkan untung rugi. Selalu ada bantuan dari teman-teman untuk pekerjaan di lapangan yang tidak bisa saya jangkau. Terima kasih buat teman-teman yang tak bisa saya sebut satu per satu.

Kamis, 16 Juni 2016

Lebih Produktif Menulis Saat Bulan Ramadan

Komunitas Nulis Yang Ngompori
dok.pri
Dahulu ketika masih menjadi mahasiswa bila Bulan Ramadan tiba, aktivitas saya di masjid sangat padat. Sebagai remaja masjid, wajar bila ingin memakmurkan masjid. Tidak hanya saat Ramadan, tetapi di bulan lain juga demikian.

Beruntung, saya bisa membagi waktu. Kegiatan di masjid dengan kuliah bisa seiring sejalan. Memang kegiatan di masjid selama Ramadan banyak dan bisa menambah nilai pahala. Pada saat Ramadan, remaja masjid berlomba-lomba untuk memakmurkan masjid.

Sangat disayangkan, saya tidak pernah mendokumentasikan kegiatan bulan Ramadan dalam buku harian. Semua berjalan begitu saja. Sebenarnya bila semua kegiatan dituliskan, tentu sangat bermanfaat.

Ya, yang lalu biarlah berlalu. Sekarang saya mulai tertib diri merekam semua kegiatan di buku harian (berupa file). Oleh karena sekarang sudah memiliki 2 anak yang perlu pengawasan, saya fokus untuk ibadah dan mengawasi anak-anak.

Bila kegiatan sehari-hari sebagai perempuan yang harus “serba bisa” sudah selesai, saya kembali menekuni menulis. Pada bulan Ramadan ini saya tetap harus bisa menghasilkan tulisan. Saya berusaha untuk membuat tulisan yang lebih baik dari sebelumnya.

Dengan cara mengikuti lomba penulisan (giveaway), saya berharap tulisan saya semakin berbobot dan berkualitas. Yang berbobot ternyata bukan hanya yang gemuk-gemuk lo. Hehe…

Tantangan yang harus saya taklukkan adalah bila persyaratan dalam lomba penulisan tersebut banyak dan bikin saya patah semangat. Contoh kalau syarat lomba harus dengan follow, like, (akun atau fanpage), awalnya saya akan bilang lahhh syaratnya uakih men. Tapi saya tetap harus mencoba. Gara-gara mau menaklukkan syarat yang seabrek, Alhamdulillah saya bisa mendapatkan uang dan barang karena memenangkan giveaway. Ternyata usahakeras saya bisa menghasilkan uang. (ya… edisi matrenya muncul).

Selama Ramadan ini, saya berkomitmen akan menyirami blog dan membersihkan rumput dan lumut. Agar blog saya juga enak dipandang, terus ada tamu yang berkunjung ke blog saya. Hanya, blog saya masih mendompleng. Saya belum punya rumah pribadi. Akan tetapi tamu-tamu saya juga sudah pada tahu alamat rumah kontrakan saya ini.


Semoga saya bisa konsisten dengan satu hari satu artikel. Lebih bersyukur lagi kalau bisa nulis satu hari 2 artikel selama Ramadan. Tetap semangat, tetap produktif, Ramadan tidak bisa dijadikan alasan untuk bermalas-malasan.

Selasa, 14 Juni 2016

Manfaat Teknologi Bagi Guru dan Penulis dalam Kehidupan Sehari-hari

Laptop dan LCD Sarana Penunjang KBM
dok.pri
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi memengaruhi kehidupan sehari-hari bagi manusia. Dampak yang timbul akibat kemajuan teknologi ada yang positif, namun ada pula negatifnya. Adapun salah satu dampak negatif dari kemajuan teknologi adalah penyalahgunaan teknologi oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk kepentingan pribadi dan merugikan orang lain.
Adanya telepon genggam, jaringan internet, mesin ATM, adalah beberapa bentuk kemajuan teknologi selain teknologi tepat guna berupa kamera digital, peralatan kantor (laptop, komputer, printer, dan lain-lain, peralatan listrik (rumah tangga), peralatan berbahan bakar bensin, solar, dan lain-lain. Dari beberapa bentuk peralatan yang dihasilkan oleh kemajuan teknologi tersebut ternyata bisa digunakan oleh orang yang tak bertanggung jawab untuk melakukan kejahatan. Itu contoh dari dampak buruk atau pengaruh negatif dari kemajuan teknologi.
Laptop dan Kamera Sarana Penunjang Membuat Tulisan
dokpri.
00000
Kali ini saya akan membahas dampak positif dari kemajuan dan penggunaan teknologi yang semakin meningkat. Kebetulan saya seorang guru dan penulis yang telah banyak menikmati manfaat dari kemajuan teknologi tersebut.
Beberapa tahun yang lalu, ketika belum ada telepon genggam, flasdisk, data ekternal,laptop, kamera digital, jaringan internet, hampir semua pekerjaan dilakukan dengan penuh kesabaran. Dengan adanya kemajuan teknologi, semua jadi serba mudah, pekerjaan cepat selesai.
Contoh sederhana adalah kalau dahulu orang akan menyampaikan berita harus lewat surat, yang bisa berhari-hari sampai tujuan. Sekarang tinggal mengirim lewat email atau menyampaikan berita lewat telepon, sms, medsos, berita sudah bisa menyebar ke mana-mana (tujuan positif).
Contoh yang lain adalah seorang guru akan menyampaikan suatu materi, memerlukan alat peraga atau contoh konkrit. Apabila contoh konkritnya sukar didapatkan atau terlalu repot pengadaannya, maka guru bisa menyampaikan materi lewat pemutaran video (sesuai dengan materi yang diajarkan), menampilkan gambar-gambar dan lain-lain.
Seorang guru yang akan menyampaikan materi dengan menayangkan video atau memperlihatkan foto-foto ini memerlukam suatu alat yang bisa untuk menunjang kegiatan KBM, yaitu proyektor LCD. Dengan demikian, selain guru pandai menyampaikan materi pelajaran, guru juga harus bisa mengoperasikan alat.
Nah, kalau belum bisa terus bagaimana dong? Ya, tentu saja harus belajar. Pada dasarnya kemajuan teknologi harus disikapi dengan bijak. Kita harus terbuka dengan kemajuan teknologi ini, jangan menutup diri. Jangan menganggap kemajuan teknologi berdampak buruk (tidak semua kemajuan teknologi berdampak buruk saja loh).
Mempelajari sesuatu yang baru, bagi saya sangat mengasyikkan. Kalau kita malu bertanya pada orang lain yang lebih tahu, kita juga bisa bertanya pada Google. Kalau begitu kita butuh internet dong. Tentu saja, ya. Kan di dunia ini tidak semuanya kita dapatkan secara gratis. Ya, mau dapat ilmunya tentu kita harus mau merelakan sedikit gaji/honor (baik guru PNS maupun non PNS) untuk membeli kuota internet/langganan internet.
Guru memang tidak perlu serba bisa tetapi tetap penting dengan bisa sedikit-sedikit. Mengapa harus tahu sedikit-sedikit pada banyak hal? Ya, biar kita tidak serba tidak tahu. Sebagai guru, jangan gaptek-gaptek amat. Kecuali kalau guru tersebut usianya sudah lanjut, (maaf sekali) menghidupkan dan mematikan computer/laptop, menulis saja nunak-nunuk (tidak gesit). Apakah ada guru yang demikian? Oh, ada saja. Sekian orang dari 100 orang, sudah tak mau belajar,  hehe.
00000
Tahun 1988/1989 saya mulai menulis dan beberapa tulisan saya berupa cerpen dan dongeng pernah dimuat di Koran Kedaulatan Rakyat. Waktu itu, saya menulis dengan mesin ketik manual, pinjaman pula. Untuk sampai redaksi, tulisan harus saya kirim melalui pos. Bila menulis, ternyata tulisannya terdapat kata yang salah, harus ditip-ex. Kalau ada beberapa kalimat yang tulisannya salah, maka harus membuat tulisan pada kertas yang baru. Repot bukan?
Kostum Wajib, Rompi dan Tas
dok.pri
Sekarang mau menulis, ya nulis saja lalu simpan. Nanti bisa diedit, ditambah atau dikurangi. Selesai menulis mau dicetak lalu dikirim lewat pos atau langsung dikirim lewat email, tergantung syarat dan ketentuannya.
Sekarang semua serba praktis berkat kemajuan teknologi. Sebagai penulis, saya merasakan manfaat dari kemajuan teknologi. Kemajuan teknologi ternyata bisa mengubah kehidupan saya. Sekarang saya menulis tidak hanya untuk dikirim ke redaksi Koran, saya bisa berbagi ilmu dan manfaat dengan menulis di medsos.
Menulis di blog tentang sesuatu yang bermanfaat, tentang parenting, kesehatan, keuangan, agama, pertanian, kehidupan sehari-hari, pendidikan, wisata, makanan dan lain-lain. sesudah memosting tulisan di blog, tulisan juga perlu dibagikan ke facebook, twitter, WA, BBM dan lain-lain. Tujuannya adalah agar bisa berbagi pengalaman dan manfaat untuk orang lain.
Agar tulisan kita memiliki nilai plus, maka perlu ditempelkan foto-foto yang menunjang. Untuk mendapatkan foto yang baik maka harus bisa memanfaatkan teknologi lagi, bukan? Kita memerlukan kamera atau memerlukan ponsel yang ada kameranya. Setelah mendapatkan gambar, tentu saja kita tak bisa sembarang memasang gambar. Kalau ada ketentuan ukuran gambar, maka kita harus bisa mengubah ukuran gambar, misalnya memperkecil ukuran gambar. Kita belajar ilmu baru dong. Santai saja, belajar dengan happy, rasanya gimanaaaa gitu.
Candi Ceto dan Kain Kampuh
dok.pri
Untuk mendapatkan gambar-gambar tertentu, saya kadang-kadang meluangkan waktu melakukan perjalanan wisata. Sudah menjadi kebiasaan, ketika bepergian saya memakai kaos lengan panjang, rompi dan tas. Itu merupakan kostum wajib saya.
Yang paling saya suka adalah mengikuti lomba penulisan. Dengan mengikuti lomba penulisan, kita harus pandai memanfaatkan teknologi. Kalau kita memenangkan lomba dan mendapatkan hadiah, rasanya segala jerih payah kita terbayarkan sudah. Nah, berkat kemajuan teknologi saya bisa memanfaatkan dengan baik dan berhasil mendapatkan materi.
Jadi dampak positif kemajuan teknologi yang saya rasakan adalah mengubah kehidupan saya dari yang biasa menjadi luar biasa.

Tulisan ini diikutsertakan dalam GA, "Lomba ini diselenggarakan oleh IDCopy.net dan Eliska.id"

Minggu, 12 Juni 2016

Di Pantai Kwaru dan Pantai Baru Kita Selalu Bersama


Bersama sahabat
dok.pri
Sebenarnya jalan-jalan kali ini (Senin, 24 Agustus 2014) bukan acara keluarga. Saya dengan terpaksa mengajak si kecil, Faiz, sebab suami ada dinas keluar kota. Saya tak memiliki asisten rumah tangga, sedangkan kalau saya tinggal bersama kakaknya jelas tidak mungkin. Teman-teman saya memaklumi keadaan saya yang jalan-jalan membawa anak.

Perjalanan wisata mengambil tujuan Pantai Kwaru dan Pantai Baru, Bantul, DIY. Saya orang asli Yogyakarta piknik ke Yogyakarta, itu sesuatu banget. Saya sangat bersyukur bisa bersama sahabat-sahabat dekat, melihat air.

Baik Pantai Kwaru maupun Pantai baru, tempatnya sungguh indah. Konon kabarnya Pantai Kwaru sudah berubah drastis. Pantai Kwaru mengalami kerusakan besar ketika terjadi gempa bumi Yogyakarta tahun 2006 yang lalu. Karena tak banyak pohon besar, jadi terasa panas sekali.
Bergaya di atas motor ATV
dok.pri
Gelombang tak besar, air juga tenang. Saya tetap takut air, saya harus mengawasi Faiz ke mana dia berjalan. Dia suka dengan pemandangan di pantai. Sesekali dia menunjuk laut lepas, mungkin takjub. Akan tetapi karena mungkin dia bosan, dia mulai ngambek. Ada saja tingkahnya yang membuat saya ekstra sabar.

Teman-teman saya jadi bertanya-tanya, ada apa? Biasa, dia kan dekat Ayahnya. Kalau tak ketemu Ayah beberapa hari pasti membuat ulah. Teman-teman membujuk untuk naik motor ATV. Sewa motor ATV Rp. 25.000,00 per 15 menit. Akhirnya Faiz berboncengan dengan anak teman saya. Kelihatannya senang.
Siapa dia?
dok.pri
Saya tak bisa menikmati travelling ini. Namanya juga momong anak. Tempat berikutnya yang kami tuju adalah Pantai Baru, sebelah barat Pantai Kwaru. Nah, sampai di Pantai Baru sebenarnya pas waktunya makan siang. Kebetulan panitia sedianya mau membeli di rumah makan di Yogyakarta saja. Karena waktunya tanggung, sampai Yogya belum jam maksi, begitu sampai Pantai Baru waktu maksi telah lewat. Sebelumnya kudapan sudah habis tuntas. Ceritanya kelaparan gitu. Teman-teman membeli nasi bungkus. Isinya nasi, miehun dan telur, tidak ada pedasnya sama sekali. Yang penting Faiz kemasukan nasi, saya membeli 2 bungkus.

Di Pantai Baru tempatnya tidak panas, sejuk. Banyak pohon cemara sebagai peneduh. Di sini kami bisa bercanda ria, ngobrol sana-sini, sambil melihat laut dengan segala keindahannya. Faiz bermain pasir. Teman saya yang kebetulan bisa berkomunikasi dengan dunia lain berada di dekat pantai. Dengan menghadap ke pantai, entah apa yang dilakukannya. Tiba-tiba gelombang besar datang mencapai tempat Faiz bermain pasir. Faiz langsung saya angkat menjauh. Sandal Faiz sempat hanyut, tapi berhasil diambil teman saya.

[Saya tidak habis mengerti, kok bisa begini. Ketika perjalanan pulang ke Karanganyar, saya sempat bertanya, kok bisa begitu? Tiba-tiba air datang? Kata teman saya (mungkin bagi orang lain tidak masuk akal), waktu dia menghadap laut, dia bilang kalau “kamu ada” tunjukkan dengan air, maka airnya yang besar benar-benar datang. Saya melihat sendiri keanehan itu]

Ketika waktu kami habis, kami harus shalat dulu. Ini yang bikin saya tambah lebih sabar. Faiz tak mau ditinggal shalat, rewel. Teman saya mengajak Faiz jalan-jalan agar saya bisa shalat.

Sampai di bus, sungguh saya kaget sebab Faiz membawa kucing. Ya, ampun le Thole. Jangan bawa pulang kucing itu. Kasihan simboknya, nanti mencari. Akhirnya kucing dilepas, saya cuci tangan Faiz pakai air mineral.

Sebelum ke Malioboro, kami mampir rumah makan. Maksi yang terlambat. Tak apa-apa yang penting tetap makan nasi. Selesai makan, lalu perjalanan dilanjutkan ke Malioboro. Saya tidak jalan-jalan ke Malioboro. Saya dijemput adik saya, mampir di rumah adik saya. Ketika waktunya teman-teman yang di Malioboro akan meninggalkan parkiran timur kantor Pos Besar, saya menunggu di depan Jogja Expo Center.

Akhirnya sampai Karanganyar dengan selamat. Saya menelepon suami, minta dijemput. Oleh karena suami lelah, tak bisa menjemput. Akhirnya pertama kalinya saya pulang dari sekolah menuju rumah pada malam yang telah larut. Sesekali Faiz saya tepuk, saya ajak ngobrol biar tidak ketiduran, membonceng di depan saya. Iz, romantic banget ya seharian kita nempel kayak perangko.

Rabu, 08 Juni 2016

[Vonis Mioma] Gowesser Tangguh, Enerjik Dan Dinamis

Semangat Noer Chasanah
dok.Noer Chasanah
Perempuan tangguh, enerjik dan dinamis ini tidak asing bagi saya. Bahkan selama saya belum menikah, saya bersamanya. Dia tak lain adalah kakak perempuan saya, anak kedua. Mungkin di komunitas Gowes, dia tak asing lagi. Namanya Noer Chasanah dan kami memanggilnya dengan sebutan mbak Anna. Mbak Anna bekerja di UGM.

Di dalam keluarga, mbak Anna adalah pahlawan bagi kami. Tapi kali ini saya akan menceritakan tentang dia dan vonis mioma yang sangat mengagetkan kami, waktu itu tahun 2007.

Kado Ulang Tahun Mengejutkan

Setiap karyawan/karyawati UGM (tempat dia bekerja) bila ulang tahun mendapatkan kado dari kantor berupa cek kesehatan gratis. Untuk karyawati ditambah USG. Pada saat ulang tahun keempat puluh tersebut (Maret 2007), kado itu sungguh mengagetkannya. Hasil USG, ada benjolan di perutnya. Selanjutnya mbak Anna menjalani pemeriksaan lebih detail. Periksa ke dokter obsgyn 3D ada 3 myome 14 cm, 11 cm dan 7 cm.  Akhirnya di ketahui ada mioma dan harus diambil.

Sebenarnya mbak Anna tidak pernah mengeluh karena memang tidak merasa sakit. Dia merasa sehat-sehat saja fisiknya. Konon katanya mioma bisa dirasakan gejalanya bila sedang datang bulan perut terasa sakit (kram). Memang, kelima anak perempuan Ibu bila sedang datang bulan/menstruasi perutnya sakit. Bahkan saya juga sampai keluar keringat dingin. Tapi untuk saya, Alhamdulillah, sebelum menikah sampai sekarang tak lagi merasakan sakit perut kala menstruasi. Setelah berkonsultasi dengan dokter, akhirnya mbak Anna memutuskan untuk operasi pengambilan mioma.

Permintaan Terakhir Pada Bapak Sebelum Operasi

Mbak Anna sudah lama ingin Bapak naik haji. Dia akan membiayai semuanya. Akan tetapi Bapak selalu menolak. Bapak mengatakan biarlah anak-anaknya yang masih muda yang pergi haji. Bapak sudah tua, Bapak ingin melihat anak-anaknya bisa menunaikan ibadah haji semua.

Mbak Anna bilang sebelum dia operasi, dia ingin Bapak memenuhi permintaannya. Bapak kaget, karena selama ini mbak Anna tidak sakit dan kelihatan sehat-sehat saja. Setelah mbak Anna menceritakan hasil pemeriksaan, barulah Bapak mau memenuhi permintaan terakhir mbak Anna untuk menunaikan ibadah haji.

Mbak Anna yang menguruskan administrasinya. Sebenarnya tahun itu juga Bapak bisa berangkat naik haji, tapi Bapak menunda berangkat tahun berikutnya (2008).
Akhirnya pada bulan April 2007, operasi pengambilan mioma dilakukan. Hasil Patologi tak ada indikasi keganasan.

Gowesser Tangguh, Enerjik Dan Dinamis
Setelah menjalani operasi mioma, Alhamdulillah semuanya berjalan normal kembali. Mbak Anna bisa beraktivitas, bekerja seperti sedia kala. Bahkan sekarang mbak Anna memiliki hobi bersepeda keliling kota. Dia memang perempuan yang tangguh, enerjik dan dinamis. Orangnya memang tak bisa tinggal diam.
Gowes Surabaya-Denpasar
dok.Adityo Hidayat
Beberapa gowes yang dilakukan bersama komunitas Gowesnya antara lain: Gowes Merdeka keliling Merapi pada 2015, Gowes keliling Merapi Merbabu, Gowes Yogyakarta-Karanganyar, Gowes Dies Natalis UGM Malang-Yogyakarta, Gowes Banyuwangi Singaraja Denpasar, Gowes Sarangan- Cemoro Sewu, Tawangmangu, Karanganyar (April 2016). Sebenarnya gowes yang sudah dilakukan lebih banyak dan tak bisa saya sebut satu per satu. 

Ya, semoga tetap sehat meskipun dahulu pernah sakit. Tetap semangat bersama orang-orang yang mencintainya, keluarga dan sahabat-sahabatnya.


Karanganyar, 8 Juni 2016

Inilah Akibatnya Membawa Pulang Kain Kampuh Dari Candi

Kain Kampuh
dok.pri
Jangan sekali-sekali membawa pulang kain kampuh yang kita sewa ketika kita mengunjungi Candi. Pengalaman dari seseorang yang dengan sengaja membawa pulang kain kampuh, mengalami kesurupan. Akhirnya kain kampuh dikembalikan.
Cerita di atas terjadi pada pengunjung yang berwisata ke Candi Borobudur. Apakah kain kampuh itu? 

Kain kampuh adalah kain yang bercorak kotak-kotak hitam putih yang dikenakan saat mengunjungi Candi. Saya pernah melihat pengunjung di Candi Sukuh dan Candi Ceto. Kalau pengunjung Candi Borobudur dan Candi Prambanan saya hanya melihat dari foto-foto.
Pada dasarnya kita memang tidak boleh mengambil barang yang bukan milik kita. Kalau kita memaksakan diri/sengaja mengambil namanya bentuk pencurian. Mencuri adalah perbuatan yang dilarang oleh agama.
Pengunjung Candi Sukuh
dok.pri
Akibat mencuri kain kampuh ternyata mendapatkan balasan langsung berupa kesurupan. Kalau sudah tahu seperti itu, apakah masih ada yang nekat mau mengambil kain kampuh tanpa minta izin alias mencuri?
Pengunjung Candi Ceto
dok.pri
Terima kasih saya ucapkan pada panjenengan yang bersedia saya foto ketika panjenengan mengenakan kain kampuh. Kita tak mengenal, tapi kita bisa bertegur sapa dan berbagi kebaikan.

Selasa, 07 Juni 2016

[Vonis Kanker Payudara] Tetap Semangat Jalani Semuanya

Bu Ucok Berjilbab Ungu
dok.pri
Kali ini saya akan menceritakan pengalaman tetangga yang diberi ujian sakit kanker payudara. Tetangga saya bernama Ibu Ucok. Hari Minggu, 5 Juni 2016 kemarin beliau mengucapkan terima kasih kepada warga Perum Manggeh Anyar yang telah memberi dukungan baik secara moril maupun materiil.

Hari itu pertemuan rutin PKK di perumahan tempat saya tinggal. Tapi maaf, sebenarnya saya tidak tinggal di perumahan. Saya tinggal di tengah sawah, berhubung secara administrasi saya bergabung di perumahan jadi saya ikut kegiatan PKK di perumahan juga.

Sudah dua kali saya tidak ikut PKK, jadi kali ini saya menyodorkan diri membantu bertugas. Lah, ternyata memang saya petugasnya. Lo, kok saya lagi sih petugasnya. Kan saya baru empat bulan yang lalu bertugas. Ya sudah tidak apa-apa, niatnya juga membantu kelancaran acara. Hehe.

Ketika acara berlangsung, saya menyempatkan diri mengambil gambarnya Bu RT yang sedang memberi sambutan dan Bu Ucok yang ada di sampingnya. Kebetulan mereka berada di depan saya. Mumpung ada kesempatan, saya tak menyia-nyiakan begitu saja. Apalagi saya sudah mendapatkan sekelumit cerita dari Bu Ucok ketika saya menjenguk di rumahnya beberapa hari yang lalu. (Begitulah penulis, sekelumit cerita harus dibagikan)

Inilah kisahnya, penuturan Bu Ucok saya tulis dengan kata ganti saya.
Saya merasa sehat-sehat saja. Ketika saya meraba payudara (kiri) saya, sepertinya ada benjolan. Saya merasakan itu. Ada perbedaan antara payudara kiri dan kanan. Akan tetapi bila ditekan tidak terasa sakit. Demikian juga ketika anak saya menekan juga tidak terasa sakit.

Saya bilang pada suami, dan suami mendukung untuk segera periksa. Ketika periksa (dan diambil jaringannya/biopsy), hasil pemeriksaan ternyata ada kanker di payudara saya, stadium awal. Konon katanya benjolan itu ukurannya kecil, hanya sebesar biji asam. Kata dokter benjolan tersebut harus segera diambil. Sebenarnya saya sudah siap. Saya berharap dengan benjolan yang ukurannya kecil ini diambil, semua akan menjadi lebih baik. Setelah berkonsultasi keluarga besar, saya dan suami semakin mantap untuk melakukan operasi.

Waktu itu saya berpikiran bahwa yang diambil hanya benjolannya saja. Tetapi sungguh di luar dugaan saya, ternyata payudaranya juga diangkat. Saya begitu shock. Saya belum bisa menerima itu. Lalu saya berkonsultasi ke dokter yang ada di Yogyakarta. Saran dokter di Yogyakarta sama, yaitu harus diangkat. Kerabat dekat saya yang juga dokter menyarankan untuk diambil.

Setelah browsing internet, saya mantap untuk diambil benjolannjya sekaligus operasi pengangkatan payudara. Suami, anak-anak, dan keluarga besar memberikan dukungan moril pada saya.

Sebelum saya menjalani operasi, saya sempat merenung. Saya yang sehat wal afiat, tidak merasakan sakit sedikitpun tiba-tiba divonis kanker. Saya harus kehilangan sesuatu yang dianggap tolok ukur sempurnanya wanita. Teman dan tetangga juga kaget karena sebelumnya saya tidak pernah mengeluh sakit.

Akhirnya operasi berjalan dengan lancar. Setelah operasi, saya juga harus menjalani kemoterapi. Pada saat kemoterapi, barulah saya merasa tidak sendiri. Yang berada di ruangan kemoterapi ini semua perempuan dengan kondisi yang sama, mengidap kanker. Sebagian dari mereka adalah mengidap kanker payudara dan menjalani pengangkatan. Bahkan saya sempat berbincang-bincang dengan salah satu pasien (kebetulan menunggu giliran menjalani kemoterapi).


Perempuan itu akhirnya ditinggalkan suaminya begitu saja setelah menjalani operasi pengangkatan payudara. Anak-anaknya dibawa suaminya, diboyong ke rumah mertuanya. Tinggallah dia sendiri. Menjalani semuanya dengan sendiri dan sepi. Tak ada lagi celoteh anak-anak yang pernah mengisi hari-harinya seperti ketika dia sehat. Menurutnya, dia bagaikan habis manis sepah dibuang. Tapi dia tetap semangat menjalani semuanya. Manusia itu sekadar menjalankan apa yang sudah digariskan Tuhan.

Saya melihat wanita itu tegar. Sudah setahun menjalani semua itu, dan kini dia bisa sehat. Tanpa orang-orang yang dicintainya. Hanya keluarga dari pihaknya yang masih ada.
Saya harus semangat seperti perempuan itu. Saya beruntung punya suami, anak-anak yang menyayangi saya, keluarga besar saya. Ya, setelah kemo saya merasakan efek sampingnya. Badan lemas, mual, nafsu makan menurun dan jari-jari sedikit kaku.

Saya berharap masih ada jalan buat mencari kesembuhan. Bagi saya ini adalah ujian untuk saya supaya saya lebih dekat pada Allah. Semoga hanya saya yang mengalaminya, anak-anak dan keluarga saya, tetangga atau siapa saja jangan sakit seperti saya.

[Kemoterapi masih dilakukan beberapa kali ke depan. Sekarang Bu Ucok sudah bisa menikmati makanan sehari-harinya meski dalam porsi kecil dan masih terasa mual. Sebelum mengakhiri ceritanya, beliau sempat mau menunjukkan hasil operasinya, tapi saya menolak. Tidak usah Bu, saya tidak sampai hati, Di sudut mata saya ada air yang mau menetes. Saya genggam tangannya. Saya tak mampu berkata apa-apa.
Dulu kami sering berbagi cerita. Tentang anak-anak, tentang tanaman sayuran, tentang banyak hal, mengaji dan tadarus Quran. Seiring dengan kesibukan masing-masing, saya hanya sempat bertegur sapa bila lewat depan rumahnya. Semoga lekas sembuh, Bu Ucok]

Renungan Ramadhan malam ini.