Minggu, 27 Maret 2016

Gelang Identitas Untuk Orang tua Lanjut Usia

Setelah kembali dari mudik, saya harus segera menuliskan ini. Mumpung masih ingat dan semoga bermanfaat untuk orang lain. Berbagi itu sangat perlu, apalagi berbagi tulisan yang bisa membantu orang lain yang memiliki permasalahan yang sama.
Kepulangan saya kali ini hanya ingin bertemu ibu dan bapak saja, tidak ada tujuan yang lain. Syukur, Alhamdulillah, ibu dan bapak dalam keadaan sehat wal afiat. Saya tambah bersyukur, karena beberapa hari yang lalu ibu kambuh lagi ambeiennya, sekarang kondisinya membaik dan tensinya normal.
Dua tahun yang lalu ibu menjalani operasi ambeien. Setelah menjalani operasi, ternyata kami baru tahu kalau ibu menjadi pelupa. Kalau diajak berbicara ibu bisa menjawab, dan nyambung tapi kejadian yang baru saja kadang malah sudah lupa. Mungkin Allah memberikan ujian pada kami, anak-anaknya, untuk sabar merawat ibu.
Karena ibu mudah lupa, mungkin kadang-kadang bapak jadi tidak sabar. Ya, namanya orang tua, tidak ada yang mau mengalah. Kalau sudah begitu ibu dan bapak tensinya jadi naik. Sebulan yang lalu ibu merasa pusing. Adik saya dan suaminya membawa ke dokter. Karena tensinya tinggi, seketika itu ibu diminta untuk meminum obat yang diberikan dokternya. Adik saya  mengantri mengambil obat.
Ternyata dulu waktu ibu sakit ambeien dan tensinya tinggi, setelah mendapatkan obat oleh dokter sudah dipesan, ibu harus cek tekanan secara rutin. Minum obat untuk darah tinggi rutin tidak boleh terputus dan ada beberapa makanan yang harus dipantang, terutama mengurangi garam.
Sepertinya setelah obat ambeien sudah habis, ibu tidak mengkonsumsi obat untuk darah tinggi. Bapak juga berpikir kalau obat untuk darah tingginya sudah habis. Sekarang adik saya memberi tahu bapak dan keponakan saya yang tinggal bersama ibu dan bapak. Pesannya : ibu tidak boleh lupa minum obat. Karena ibu pelupa maka bapak dan keponakan saya bertugas untuk mengingatkan minum obat dan control kesehatan ringan di Puskesmas.
Karena ibu pelupa, tentu saja ke mana-mana ibu harus ditemani anggota keluarga, ibu tidak boleh bepergian sendiri. Kami khawatir ibu lupa tempat yang akan dituju dan bingung ketika mau pulang. Nah, karena ibu menjadi pelupa di usianya ke 70 ini, dokter menyarankan ibu diberi gelang identitas. Saran ini berlaku untuk orang tua, terutama yang sudah benar-benar sepuh dan pelupa.
Apakah gelang identitas itu? Gelang identitas merupakan gelang dengan nama pemakai dan berisi alamat/no telepon salah satu keluarga yang mudah dihubungi. Ternyata gelang identitas ini memiliki tujuan positif, yaitu apabila orang yang memakai gelang tersesat maka siapa saja yang menemukan orang ini akan mudah menghubungi keluarganya. Orang tua ini bisa secepatnya kembali ke keluarganya. (Bapak saya bilang kaya wong munggah haji kae nganggo gelang. dadi nek kesasar ketahuan kalau dia orang Indonesia hehehe)
Orang tua adalah orang yang sudah memasuki usia senja, lebih-lebih orang tua ini sudah menjadi pelupa. Sebenarnya bukan hanya orang tua saja yang diberi gelang identitas semacam ini. Maaf, untuk anak-anak/orang kurang normal juga bisa mengenakan gelang ini.
Akhir-akhir ini sering ditemukan orang tua yang sudah “sangat pelupa” atau anak kurang normal dan diajak komunikasi agak sulit. Adanya medsos mempermudah mempertemukan orang tua ini/anak dengan keluarganya. Mungkin gelang identitas ini akan sangat membantu dan bermanfaat.
00000
Kelihatan ibu dan bahagia waktu saya datang. Tapi bapak sempat bertanya pada saya,”kamu pulang karena apa? Karena dikabari siapa?”
“Ya, pingin pulang saja. Kan saya sudah lama tidak pulang. Apalagi kemarin waktu ibu sakit saya tidak bisa pulang.”
“Berarti ada yang memberi tahu kalau ibu sakit.”
“Nggih pak, lewat WA.”
“Ya wis. Sekarang ibu sudah sehat. Makannya juga dikontrol. Tapi ibu sudah sering lupa.”
Saya, ibu dan bapak berbincang-bincang ringan sambil bercanda. Saya suka bapak dan ibu tertawa lepas. Ibu juga tertawa kalau disindir-sindir. Sekarang ibu tidak marah lagi kalau disindir-sindir. Saya benar-benar terharu. Kadang saya menyesal tidak bisa dekat dengan ibu dan bapak di saat mereka sudah berusia senja. Tapi bapak memahami keadaan saya. Malah siang itu bapak bertanya pada saya mau pulang jam berapa? Saya memang pamit pada suami akan kembali ke rumah sore hari. tapi tiba-tiba langit gelap dan hujan deras. Jam setengah empat sore seharusnya saya meninggalkan rumah ibu dan bapak, tapi saya urungkan.
Saya mengirim pesan singkat pada suami. Saya minta maaf karena tidak bisa kembali ke rumah sore. Jawaban suami sungguh membuat saya kaget. ANAK-ANAK NYUSUL. Badalah, pagi-pagi saya tidak pamit anak-anak soalnya nanti mereka ribut. Akhirnya anak-anak tahu dan minta menyusul mudik. Akhirnya suami, dhenok (kelas X SMA) dan thole (TK), ke Yogyakarta naik sepeda motor. Malamnya kami sekeluarga berkumpul di rumah ibu dan bapak. Tidak sengaja kami akhirnya mudik semua.
Hari Minggu, saya dan anak-anak diantar adik pulang ke Karanganyar. Suami saya naik sepeda motor pulang sendiri. Alhamdulillah, kami selamat sampai di Karanganyar. Terima kasih Lely, yang sudah mengantar keluargaku pulang dan terima kasih kamu sudah wira-wiri mengantar ibu dan merawat beliau. Jadikan semua itu ladang amal. Yang sabar dan berlemah lembutlah pada ibu dan bapak.
Karanganyar, 27 Maret 2016