Tampilkan postingan dengan label ibu dan anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ibu dan anak. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Juni 2016

Mulai Fokus Mengajar Baca Tulis Buat Si Kecil

Gambar BUS Karya Faiz
dok.pri
Hari Jumat, 17 Juni 2016 yang lalu Faiz sudah selesai mengikuti kegiatan riang gembira di Taman Kanak-Kanak. Dua tas besar berisi peralatan tulis, menggambar dan ketrampilan dibawanya pulang. Ada pas foto, foto bersama teman TK B, Surat Keterangan Tamat TK. Seperti biasa saya menjemput Faiz pada sore hari.

Saya memiliki alasan khusus untuk menjemput sore hari, sebab kalau siang sudah berada di rumah maka ulah Faiz sukar untuk dikendalikan.  Faiz inginnya berada di luar rumah, itu berarti saya harus ekstra mengawasi. Kalau di dalam rumah paling bermain mobil, gunting-gunting kertas, mainan bedak (semua benda dibedaki). Ibunya tidak boleh cuci piring, cuci baju, setrika, pegang laptop, tidak boleh pegang hape. Ibunya khusus melayani dia, mengajak bicara dan bercerita.

Dengan selesainya Faiz bermain riang di TK, tugas saya sekarang adalah mengajarnya membaca. Faiz, 6 tahun belum bisa membaca. Sepertinya dia tidak fokus. Kalau diajari membaca atau mengenal huruf, ada saja alasannya. Mana yang ngantuk, mana yang lelah, dan alasannya ada saja. Saya tak pernah memaksa. Toh, di luar sekolah Faiz sudah ada les membaca. Tapi ternyata Faiz tidak bisa fokus dan tidak mau diajari.

Hari ini saya ingin mengajarkan membaca/mengenalkan huruf-huruf. Memang dia kadang mau menulis, tapi lebih banyak tidak mau menurut. Ketika saya membuka tas besar dari TK, saya keluarkan alat tulis, buku gambar dan buku tulis. Saya membuka buku gambarnya. Ternyata oh ternyata, saya salah menduga. Gambar Faiz menurutku bagus. Padahal dulu gurunya (waktu TK A, Faiz tidak play group dulu) bilang Faiz kalau mewarnai tidak pernah selesai. Saya mengenal garis-garis gambarnya Faiz. Ya, bus tersebut gambarnya. Dan roket itu juga hasil kerja kerasnya.
Roketnya Faiz
dok.pri
Hasil karya Faiz saya perlihatkan pada kakaknya. Ayah dan kakak juga memuji. Sementara ini, saya harus mengkondisikan pada Faiz untuk belajar membaca. Semoga Faiz mau diajari Ibunya yang super sabar ini. Dulu, waktu masih TK B kakak sudah bisa membaca je, Le. Itu karena kakak manut dan fokus serta tak banyak alasan untuk tidak mau belajar. Ya, anak memang sendiri-sendiri kemampuannya.

Ada kelebihan Faiz, yaitu hafalan surat pendeknya okey banget.

Jumat, 10 Juni 2016

Pengalaman Bersama Apotek K24

Apotek Buka 24 jam, online
sumber : www.apotek k-24.com
Awalnya saya mengenal Apotek K24 ketika saya mudik naik sepeda motor bersama suami. Waktu itu di bangjo Prambanan arah dari timur, sebelah kiri jalan (selatan jalan) saya lihat ada Apotek K24, buka 24 jam. Wah bagus juga nih, pikir saya.
Suatu saat, saya putar-putar kota bersama suami ketika berada di Yogya. Ternyata di dekat Gereja Pugeran, tepatnya di seberang jalan dari gereja, ada Apotek K24. Pikir saya waktu itu, wah ada toko obat yang buka 24 jam di dekat rumah Bapak.

Sebenarnya saya suka banget dengan acara mudik. Mudik berarti bertemu saudara, bertemu orang tua, bernostalgia, mendatangi tempat-tempat yang bersejarah bagi saya dan lain-lain. Akan tetapi, mudik juga berarti repot menyiapkan banyak hal. Repotnya karena suami tidak mau diajak bekerja sama dalam hal menyiapkan segala sesuatunya. Kalau si Dhenok benar-benar sudah mandiri. Bila diajak mudik, semua sudah dipersiapkan sendiri untuk kenyamanannya.

Nah, ini loh si Mami cantik yang kadang lupa. Biasanya saya membawa buku kecil, mencatat barang-barang yang harus dibawa lalu mengecek. Demikian pula kalau pulang dari mudik, saya akan mengecek barang berdasarkan catatan yang sudah saya tulis.

Kalau mudiknya mendadak, mana sempat nulis di catatan kecil. Pastinya mudik begitu saja. Hasilnya, kadang lupa bawa barang-barang yang sangat penting. Seperti waktu itu lupa membawa botol/dot si kecil, Thole sing bagus dewe.

Meskipun telah berusia 5 tahun, Thole masih ngedot kalau minum susu. Kalau di penitipan anak, dia sudah punya rasa malu sehingga botol dotnya dibawa pulang (di penitipan tak memiliki botol dot lagi). Kalau di rumah tidak ngedot, dijamin jam berapa pun malam hari bakalan heboh menangis. Saya jadi kasihan, tidak tega.

Tapi saya memang punya keyakinan, suatu saat dia akan melepaskan ketergantungannya ngedot tanpa dipaksa. Sayangnya, saya lupa tidak membawa botol ketika mudik. Saya bujuk pada sore hari. Dia berjanji mau tidak ngedot pada malam harinya.

Tetapi olalaaa, dia ingkari janjinya. Sekitar jam 2 malam, Thole nangis kejer. Pinginnya ngedot, sudah dibujuk tetap saja nangis. Masalahnya, rumah Bapak kan nggak ada botol dot. Saya jadi tak enak hati sama Bapak dan saudara saya. Bahkan saudara saya ada yang menyalahkan kenapa saya tak membawa botol. Yaelahhh, sudah dikasih tahu kalau saya lupa, kok tidak percaya.

Malam itu juga, suami berusaha mendapatkan botol. Entah, saya tak tahu, dia mencari di mana. Tidak lama berselang, suami sampai rumah membawa botol yang dimaksud. Saya segera mencuci botol lalu membuatkan susu. Aman, tenteram, masalah selesai. Ternyata suami membeli botol di Apotek K24 yang terletak di depan Gereja Pugeran.

Saya benar-benar bersyukur, di saat saya mengalami kesulitan ada jalan keluar. Selain masalah botol, pengalaman di Apotek K24 dalam rangka membeli obat di saat apotek lainnya tutup karena libur nasional.

Akhirnya, agar saya tak lagi membawa botol ngalor ngidul ngetan ngulon, botol saya tinggal di rumah Bapak. Kalau lupa nanti beli lagi, beli lagi.

Kini, setelah usianya 6 tahun, Thole belum bisa lepas dari botolnya. Tapi tadi siang, dia bilang seperti ini. “Mah, aku mimiknya susu pakai gelas saja.” Saya tanya,”kenapa, Le?” Jawabnya,”kalau minum pakai botol, aku takut sama orang, takut sama tamunya Ayah atau mama.” Saya tersenyum, dalam hati saya bersyukur. Ternyata kamu punya kesadaran untuk melepaskan botol.


Dari siang sampai saat ini, Thole tak memegang botol lagi. Moga-moga malam ini ketika dia bangun untuk buang air kecil, tetap memegang janjinya tidak ngedot lagi. Selamat menikmati tidur nyenyakmu, Le. Mami tidak lagi sebentar-sebentar bangun membuatkan susu dalam dot.

Rabu, 25 Mei 2016

Dua Yang Tak Akur

Duo Faiq-Faiz
dok.Faiqah Nur Fajri
Dua yang tak akur ini memiliki selisih usia 10 tahun. Dhenok tak mau mengalah dan Thole maunya menang sendiri. Saya tak bisa menengahi mereka. Kalau saya menengahi, si Dhenok bilang,”Faiz yang dibela padahal salah.”
Namanya juga anaknya semua, saya tahu banyak hal tentang mereka hingga yang remeh sekalipun. Ketika Dhenok  masih kecil, kehidupan kami masih kurang dan prihatin. Pernah suatu hari, tak ada uang untuk membeli susu (beras tinggal mengambil hasil panenan, makan dengan lauk seadanya, memasak sayur tinggal memetik di sawah), Dhenok merengek minta minum susu. Saya menenangkan Dhenok dan memberinya teh hangat sambil memberi pengertian. Dan saya berjanji esok harinya pulang sekolah membawa susu. Dan saya membawa susu bendera 1 kg, hutang koperasi (potong gaji bulan berikutnya). Saya ingin membahagiakan putri saya yang ketika itu masih berusia 3-4 tahun.  Akan tetapi saya pantang mengeluh pada mertua (kalau saya mau, pasti juga diberi).
Lain halnya dengan Thole, kehidupan kami Alhamdulillah lebih mapan. Masalah rezeki, pokoknya ada saja sumbernya. Akan tetapi Thole memiliki kisah yang sedikit mengharu biru. Sejak kecil, belum ada 1 tahun usianya, Thole masuk rumah sakit karena kejang. Sebenarnya kejang yang dialami Thole termasuk ringan, penyebabnya adalah demam biasa. Demam yang menyertai batuk pilek. Thole dirawat di rumah sakit selama seminggu. Baru seminggu keluar dari rumah sakit, Thole mengalami kejang lagi (masuk rumah sakit lagi).
Sampai umur 3,5 tahun, Thole sudah 4 kali masuk rumah sakit. Tiga kali karena kejang dan satu kali karena muntaber. Dengan demikian, saya tak tega kalau pas tidak akur Thole dimarahi Dhenok. Satu lagi, bulan Nopember 2015, Thole menjalani operasi pemasangan pen karena lengan kirinya patah. Menurut saya sebagai ibunya, lengkap sudah kesusahan Thole. Kalau Dhenok sering marah-marah pada Thole, saya selalu menengahi. Memang Thole itu juga sering usil, memancing kakaknya biar marah.
Dua yang tak akur, kata teman saya, perlu ada yang ketiga. Saya hanya tersenyum. Sepulang dari Tawangmangu kemarin, sore harinya badan saya terasa lungkrah. Buntil tahu dan molen pisang yang saya makan akhirnya keluar pada malam hari. Perasaan saya, kok sama seperti ketika Thole tiduran di dalam perut saya ya. Malam hari, kondisi saya juga tak semakin baik. Tapi tidak muntah, hanya mual saja.
Pagi harinya, perasaan saya kok jadi tidak enak. Di sekolah suasananya jadi terbawa ngantuk pol. Lah, ini kan sama dengan kondisinya ketika Thole diam-diam tidur di dalam perut. Semangat, dua yang tak akur akan ditengahi satu anak yang adil.
Saya bilang pada suami,”Sudah siapkah Ayah dengan satu lagi?”
“Insya Allah, siap.”
“Kalau begitu, atur jadwal, kurangi badminton dan tenis!”
“Wah, itu tidak bisa.”
Nah, betul kan. Dulu ketika Thole lahir, dia bilang siap momong. Tapi sekarang,mau  tenis dan badminton sering main petak umpet dulu. Lalu meninggalkan tangis Thole yang kejer-kejer.  
“Sebelum pergi, beli onemed dulu. Kalau positif, ya mulai besok kurangi acara pergi-pergi.”
Ketika saya melahirkan Thole, usia saya 39 tahun. Kini Thole berusia 6 tahun. Semangat! Mata saya berbinar ketika saya lihat ada satu garis merah. Alhamdulillah, ternyata hanya kurang tidur saja dan kondisi badan tidak seimbang.
Dua yang tak akur, akan Mami jaga dengan sepenuh hati karena kalian memang punya cerita sendiri dengan latar belakang yang tak sama.

Karanganyar, 25 Mei 2016

Sabtu, 23 April 2016

Bekali Jajanan Agar Anak Tak Mengambil Milik Temannya

Gambar 1. Bekal Anak Sekolah
dok.pri
Seorang anak membawa pulang beberapa makanan kecil. Sang Ibu tidak merasa membekali anaknya jajanan, dan kebetulan makanan tersebut membuat anaknya batuk. Ibu dari anak tadi komplain pada sekolah tempat anaknya belajar.
Kata-kata Ibu tersebut kurang lebih menyalahkan pihak sekolah yang memberikan jajanan pada anaknya. Jajanan yang tidak sehat, yang menyebabkan anaknya sakit. Guru-guru mendapatkan kesempatan untuk angkat bicara. Selama ini guru-guru sudah mengingatkan pada si Anak untuk tidak mengambil milik temannya. Ternyata si Anak hobinya mengambil makanan milik temannya tanpa minta izin terlebih dahulu.

Senin, 18 April 2016

Ajari Anak Menabung Sejak Dini

Gambar 1. Akhirnya Buka Rekening
dok.pri
Sebenarnya saya memunyai niat untuk memberikan tabungan buat anak-anak sejak masih kecil. Contohnya Dhenok, dulu saya simpankan uang tiap bulan Rp. 25.000,00. Coba kalau sampai sekarang konsisten dan tabungan tidak pernah diambil, tentu uangnya boleh dibilang tidak sedikit. Usia Dhenok sekarang 16 tahun. Secara matematis uang yang ada seharusnya 16 x 12 x Rp.25.000,00 = Rp. 4.800.000,00. Akan tetapi uang tersebut sekarang wujudnya berbeda, tidak tunai.
Ketika saya membangun dan merenovasi rumah, eh ternyata tabungan Dhenok ikut terbawa arus. Ikut dipakai untuk transaksi pembelian semen dan keramik. Meskipun demikian, saya berterus terang pada Dhenok. Suatu saat saya akan mengembalikan dalam bentuk yang berbeda. Niat saya kan baik.
Coba dihitung secara cermat, misalnya delapan tahun yang lalu, berarti tabungan Dhenok sebesar Rp. 2.400.000,00. Saat itu bisa untuk membeli keramik sekian meter. Kalau uang tersebut tidak saya pakai untuk membeli keramik, tentu saat ini sudah tak ada nilainya lagi. Wah, simboknya ini pandai berdalih ya. Ya, beberapa waktu yang lalu saya belikan cincin. Harapan saya beberapa tahun yang akan datang, cincin emas tersebut tidak turun harganya.
Selain emas, pada bulan ini saya memenuhi janji saya untuk membuka rekening atas nama Dhenok. Tapi sayangnya, belum bisa karena Dhenok belum 17 tahun. Jadi rekening tersebut atas nama saya dan Dhenok. Saya sebagai walinya. Ya sudah tak apa-apa, yang penting mulai sekarang harus bisa mengatur uang.
Adapun syarat untuk membuka rekening buat Dhenok antara lain:  2 lembar fc akta kelahiran, 2 lembar fc Kartu Keluarga, 2 lembar fc KTP wali, 2 lembar fc identitas pelajar (kartu pelajar/KTA), 1 buah materai 6000. Pengisian formulir atas nama wali diberi garis miring nama Dhenok. Untuk pembuatan kartu ATM, atas nama Dhenok.  Pembuatannya tidak memerlukan waktu yang lama. Akhirnya selesai sudah proses pembukaan rekening buat Dhenok dengan produk TabunganKu dari Bank Jateng.
Gambar 2. Tabungan Thole, recehan
dok.pri
Nah, untuk si kecil saya juga sudah menyiapkan tabungan. Tabungan berupa uang receh. Nanti kalau sudah mencapai sejumlah tertentu, bisa digunakan dulu untuk kepentingan simboknya. Lalu simboknya harus mengembalikan kalau anaknya sudah agak besar. Misalnya uang Thole (usia 6 tahun) sekarang Rp. 1.800.000,00 kan bisa untuk membeli barang yang produktif hehe. Barulah besok dikembalikan, kalau anaknya sudah besar dan secara ekonomi simboknya mapan benar.
Semoga tulisan ini bermanfaat. Menabunglah sedikit demi sedikit, lama-lama bisa untuk bekal ke Tanah Suci. Amin, amin.
Karanganyar, 18 April 2016 

Rabu, 06 April 2016

Mudik Ceria Bersama Dhenok

Gambar 1. Dalam bis, mudik ceria
dok.pri
Hari ini jadi berangkat ke Yogya. Saya pikir rencana yang disusun beberapa hari yang lalu batal, pasalnya pagi tadi dhenok agak malas-malasan. Berhubung anaknya tidak siap, saya mulai membuka satu buku. Rencananya mau membuat ringkasan. Saya jadi peduli dengan buku-buku motivasi menulis. Ini efek diopyak-opyak teman.  
Laptop saya tutup kembali, dan tidak sampai 5 menit saya sudah siap dengan sepeda motor. Dhenok juga simple banget, kami memang orang yang simple dan tak suka ribet. Oke, meluncurlah ke Bejen (rumah Om-nya dhenok) untuk menitipkan sepeda motor.
Cukup lama saya menunggu bis dari arah Tawangmangu/Matesih menuju Solo. Alhamdulillah, akhirnya kami bisa duduk manis di dalam bis yang tak terlalu penuh. Dhenok mulai bercerita. Mulai dari temannya Mas Dhiva, Maya, Toba, Ari, Asa, Diki, halah banyak sekali. Lalu menceritakan dolannya ke Wonogiri, Tawangmangu, SGM, Palur dan masih banyak lagi. Simboknya yang imut ini memang harus rela mendengarkan anaknya yang ABG.
Dari Karanganyar ke Solo, tarifnya Rp. 7.000,00 per orang. Sampailah di terminal Tirtonadi. Saya harus menunggu bis yang akan membawa ke Yogya. Tak perlu buru-buru, santai dan sabar menunggu bis dari Surabaya. Alhamdulillah, tidak pakai lama bis Surabaya menuju Yogya sudah datang.
Mengapa saya berusaha naik bis jurusan Surabaya-Yogya? Mengapa saya tidak naik bis jurusan Solo-Yogya? Alasan saya sederhana, bis jurusan Surabaya-Yogya hanya menaikkan penumpang dari terminal Tirtonadi. Di jalan, bis ini tidak menaikkan penumpang lagi. Sedangkan bis jurusan Solo-Yogya, menaikkan penumpang di sepanjang jalan atau penumpang mencegat di pinggir jalan. Tarifnya juga berbeda. Kalau memakai bis jurusan Surabaya-Yogya, dari Solo ke Yogya tarifnya hanya dua belas ribu rupiah per orang. Sedangkan bis jurusan Solo-Yogya ongkosnya bisa lebih dari dua belas ribu rupiah per orang.
Karena dhenok belum sarapan, saya membeli 2 arem-arem (kecil) dan 1 bungkus tahu goreng pada pedagang asongan, harganya lima ribu rupiah. Saya bilang petualang makannya sekedarnya saja. Hehe, ngirit.
Seorang pengamen puisi masuk bis. Mendoakan penumpang, serta ikut berpromosi bis yang ditumpangi. Ngamen membaca puisi. Dia tidak mau diberi uang orang yang sudah tua dan anak-anak di bawah 17 tahun. Hehe, pengamennya sopan banget.
Sampai Giwangan sukses, dhenok tidak mabuk. Lalu saya dan dhenok naik bis jurusan Wates. Ongkosnya empat ribu rupiah per orang. Turun dari bis, mampir ke Toko Damai Indah, Jl. Bantul. Lalu berjalan kaki menuju rumah Bapak. Dhenok selfi di tempat usaha kerajinan, sebelah barat juragan kacang.
00000
Sampai di rumah Bapak, Ibu dan Bapak kaget. Apalagi keponakan saya yang kuliah di Fak. Pertanian, UGM, rada heboh. Karena sudah waktunya maksi, saya dan Afi, keponakan saya beli mie ayam di warung tetangga. Lumayan, mantap sekali. Apalagi begitu saya datang, Bapak langsung membuatkan teh hangat (walah, anaknya gak tau diri).
Setelah berbincang-bincang, dilanjutkan shalat lalu mandi. Jam setengan tiga saya harus bersiap untuk pulang. Sebenarnya yang ingin mudik kali ini si dhenok. Dia ingin foto bersama Bapak dan Ibu. Dhenok mau membandingkan foto 16 tahun yang silam dengan sekarang. Enam belas tahun yang silam, setelah syukuran aqiqoh, dhenok digendong Ibu foto bersama Bapak. Kali ini dia mau foto di tengah-tengah antara Ibu dan Bapak. Ternyata Afi ikutan foto, jadilah kami foto bergantian.
Selesai foto-foto, hujan turun dengan derasnya. Nasib, nunggu sebentar. Setelah reda, tinggal gerimis kecil, saya bilang pada Bapak untuk cenglu ke jalan raya, daripada bolak-balik. Cenglu itu bahasa kerennya dari berboncengan tiga orang.
Gambar 2. Cenglu, 3 generasi
dok.pri
Tidak lama menunggu datangnya bis yang menuju ke arah terminal. Kebetulan sekali, bis jurusan Yogya-Surabaya sudah siap menuju Solo. Bis meninggalkan terminal Giwangan. Perasaan saya tidak nyaman. Sopirnya rada ra beres le nyetir. Badalah tenan, sampai Delanggu bis mau menghantam tronton yang ada di depannya. Astaghfirulloh, banyak penumpang yang beristighfar (saya sempat senam jantung). Suara grek-grek, bis bagian depan sudah menyentuh pantatnya tronton. Rupanya si tronton mengerem mendadak. Slamet, slamet, ora papa.
00000
Jam lima sore sampai terminal Tirtonadi. Kalau sudah sore begini, kendaraan sudah jarang. Saya naik bis jurusan Matesih. Pokoknya yang penting sampai Bejen. Penumpang bis tidak terlalu banyak. Bis keluar dari terminal. Sang kondektur menawari calon penumpang untuk naik.
Sampai di Jaten, saya lihat bis Rukun Sayur. Wah, ini bakalan kebut-kebutan berebut penumpang (di sini kawasan pabrik, karyawan pabrik pada keluar mau pulang). Benar saja, di jalur utara sedemikian sempit, dua bis berdampingan, ngeri (senam jantung bagian kedua). Kalau bertabrakan atau nabrak divider terus gimana? Akhirnya bis Rukun Sayur berhenti, mengambil penumpang. Bis yang saya naiki mengambil penumpang di depannya.
Di Papahan, tidak bisa kebut-kebutan. Dari Papahan sampai Karanganyar tidak ada pembatas jalan ruas kiri dan kanan. Mau tak mau bis harus berjalan antri. Akhirnya sampai Bejen dengan selamat.  Turun dari bis, dhenok happy sekali.
Hari ini saya sudah memenuhi keinginan dhenok untuk ke Yogya menengok Mbah Uti dan Mbah Kakung yang semakin sepuh (Alhamdulillah, Ibu dan Bapak sehat selalu). Kebetulan dhenok yang lagi kelas X libur karena kelas XII sedang UN. Saya sendiri tahun ini tidak mengawasi UNBK. Jadilah saya dan dhenok menikmati mudik ceria ini. Selfinya sudah terpenuhi. Jalan-jalan santai mencari bis. Mendengarkan curhatnya. Terakhir beli nasi sambal, walah nikmatnya tiada tara.
Kapan bisa seperti ini lagi, ya?
Karanganyar, 6 April 2016

Minggu, 27 Maret 2016

Gelang Identitas Untuk Orang tua Lanjut Usia

Setelah kembali dari mudik, saya harus segera menuliskan ini. Mumpung masih ingat dan semoga bermanfaat untuk orang lain. Berbagi itu sangat perlu, apalagi berbagi tulisan yang bisa membantu orang lain yang memiliki permasalahan yang sama.
Kepulangan saya kali ini hanya ingin bertemu ibu dan bapak saja, tidak ada tujuan yang lain. Syukur, Alhamdulillah, ibu dan bapak dalam keadaan sehat wal afiat. Saya tambah bersyukur, karena beberapa hari yang lalu ibu kambuh lagi ambeiennya, sekarang kondisinya membaik dan tensinya normal.
Dua tahun yang lalu ibu menjalani operasi ambeien. Setelah menjalani operasi, ternyata kami baru tahu kalau ibu menjadi pelupa. Kalau diajak berbicara ibu bisa menjawab, dan nyambung tapi kejadian yang baru saja kadang malah sudah lupa. Mungkin Allah memberikan ujian pada kami, anak-anaknya, untuk sabar merawat ibu.
Karena ibu mudah lupa, mungkin kadang-kadang bapak jadi tidak sabar. Ya, namanya orang tua, tidak ada yang mau mengalah. Kalau sudah begitu ibu dan bapak tensinya jadi naik. Sebulan yang lalu ibu merasa pusing. Adik saya dan suaminya membawa ke dokter. Karena tensinya tinggi, seketika itu ibu diminta untuk meminum obat yang diberikan dokternya. Adik saya  mengantri mengambil obat.
Ternyata dulu waktu ibu sakit ambeien dan tensinya tinggi, setelah mendapatkan obat oleh dokter sudah dipesan, ibu harus cek tekanan secara rutin. Minum obat untuk darah tinggi rutin tidak boleh terputus dan ada beberapa makanan yang harus dipantang, terutama mengurangi garam.
Sepertinya setelah obat ambeien sudah habis, ibu tidak mengkonsumsi obat untuk darah tinggi. Bapak juga berpikir kalau obat untuk darah tingginya sudah habis. Sekarang adik saya memberi tahu bapak dan keponakan saya yang tinggal bersama ibu dan bapak. Pesannya : ibu tidak boleh lupa minum obat. Karena ibu pelupa maka bapak dan keponakan saya bertugas untuk mengingatkan minum obat dan control kesehatan ringan di Puskesmas.
Karena ibu pelupa, tentu saja ke mana-mana ibu harus ditemani anggota keluarga, ibu tidak boleh bepergian sendiri. Kami khawatir ibu lupa tempat yang akan dituju dan bingung ketika mau pulang. Nah, karena ibu menjadi pelupa di usianya ke 70 ini, dokter menyarankan ibu diberi gelang identitas. Saran ini berlaku untuk orang tua, terutama yang sudah benar-benar sepuh dan pelupa.
Apakah gelang identitas itu? Gelang identitas merupakan gelang dengan nama pemakai dan berisi alamat/no telepon salah satu keluarga yang mudah dihubungi. Ternyata gelang identitas ini memiliki tujuan positif, yaitu apabila orang yang memakai gelang tersesat maka siapa saja yang menemukan orang ini akan mudah menghubungi keluarganya. Orang tua ini bisa secepatnya kembali ke keluarganya. (Bapak saya bilang kaya wong munggah haji kae nganggo gelang. dadi nek kesasar ketahuan kalau dia orang Indonesia hehehe)
Orang tua adalah orang yang sudah memasuki usia senja, lebih-lebih orang tua ini sudah menjadi pelupa. Sebenarnya bukan hanya orang tua saja yang diberi gelang identitas semacam ini. Maaf, untuk anak-anak/orang kurang normal juga bisa mengenakan gelang ini.
Akhir-akhir ini sering ditemukan orang tua yang sudah “sangat pelupa” atau anak kurang normal dan diajak komunikasi agak sulit. Adanya medsos mempermudah mempertemukan orang tua ini/anak dengan keluarganya. Mungkin gelang identitas ini akan sangat membantu dan bermanfaat.
00000
Kelihatan ibu dan bahagia waktu saya datang. Tapi bapak sempat bertanya pada saya,”kamu pulang karena apa? Karena dikabari siapa?”
“Ya, pingin pulang saja. Kan saya sudah lama tidak pulang. Apalagi kemarin waktu ibu sakit saya tidak bisa pulang.”
“Berarti ada yang memberi tahu kalau ibu sakit.”
“Nggih pak, lewat WA.”
“Ya wis. Sekarang ibu sudah sehat. Makannya juga dikontrol. Tapi ibu sudah sering lupa.”
Saya, ibu dan bapak berbincang-bincang ringan sambil bercanda. Saya suka bapak dan ibu tertawa lepas. Ibu juga tertawa kalau disindir-sindir. Sekarang ibu tidak marah lagi kalau disindir-sindir. Saya benar-benar terharu. Kadang saya menyesal tidak bisa dekat dengan ibu dan bapak di saat mereka sudah berusia senja. Tapi bapak memahami keadaan saya. Malah siang itu bapak bertanya pada saya mau pulang jam berapa? Saya memang pamit pada suami akan kembali ke rumah sore hari. tapi tiba-tiba langit gelap dan hujan deras. Jam setengah empat sore seharusnya saya meninggalkan rumah ibu dan bapak, tapi saya urungkan.
Saya mengirim pesan singkat pada suami. Saya minta maaf karena tidak bisa kembali ke rumah sore. Jawaban suami sungguh membuat saya kaget. ANAK-ANAK NYUSUL. Badalah, pagi-pagi saya tidak pamit anak-anak soalnya nanti mereka ribut. Akhirnya anak-anak tahu dan minta menyusul mudik. Akhirnya suami, dhenok (kelas X SMA) dan thole (TK), ke Yogyakarta naik sepeda motor. Malamnya kami sekeluarga berkumpul di rumah ibu dan bapak. Tidak sengaja kami akhirnya mudik semua.
Hari Minggu, saya dan anak-anak diantar adik pulang ke Karanganyar. Suami saya naik sepeda motor pulang sendiri. Alhamdulillah, kami selamat sampai di Karanganyar. Terima kasih Lely, yang sudah mengantar keluargaku pulang dan terima kasih kamu sudah wira-wiri mengantar ibu dan merawat beliau. Jadikan semua itu ladang amal. Yang sabar dan berlemah lembutlah pada ibu dan bapak.
Karanganyar, 27 Maret 2016

Kamis, 24 Maret 2016

Dikemuli Sarung, Anak Jadi lengket Sama Ayahnya

Saya pernah dibilangi sama Ibu mertua, jangan sekali-sekali memnyelimuti bayimu dengan sarung Bapaknya. Alasannya, agar si anak tidak lengket dengan Bapaknya. Katanya, anak kecil terutama bayi, bila tidur diselimuti dengan sarung milik Bapaknya maka kelak tidak pisah dari Bapaknya. Bila Bapaknya jauh darinya, anak itu akan rewel. Sepertinya itu hanya mitos. Kenyataannya, dua anak saya tidak ada yang saya selimuti dengan sarung milik Ayahnya, mereka lengket semua.

Banyak yang maido, tidak percaya dengan yang saya omongkan. Kedua anak saya lahir disaksikan Ayahnya. (Suami mendampingi saya) Setelah lahir, malamnya keduanya punya nasib yang sama yaitu ditinggal Ayahnya yang repot jadi wasit badminton, turnamen bergengsi. Bahkan si kecil malah ditinggal-tinggal ke luar kecamatan sampai malam hari untuk keperluan Sensus Penduduk Tahun 2010.

Yang jelas, kedua anak saya memang lebih dekat dengan Ayahnya daripada dengan saya. Padahal keduanya sering dimarahi Ayahnya. Kadang saya ingin mbok anak-anak dekat dengan saya saja. jadi kalau di rumah tidak ada Ayahnya mereka tak perlu tanya-tanya, apalagi harus mencari.

Moga-moga kelak mereka berdua mengingat bahwa dulu yang sering dicari adalah Ayahnya, bukan Ibunya.

Kamis, 10 Maret 2016

GMT dan Operasi Pengambilan Pen

Gambar 1. Makan Lahap
dok.pri
Hari ini, Rabo, 9 Maret 2016 saya dan suami mendampingi si kecil sing bagus dewe yang akan menjalani operasi pengambilan pen (platina yang dipasang di lengan atas kirinya). Meskipun libur Hari Raya Nyepi dan bertepatan dengan GMT tahun 2016, RS Kustati, Kota Surakarta, Jawa Tengah, tetap melayani operasi seperti yang sudah dijadwalkan. Memang jadwal operasi khusus hari ini mundur dari jadwal hari-hari biasa karena Tim Medis (dokter dan perawat) yang akan melakukan tindakan operasi melaksanakan shalat Gerhana di masjid terdekat sekitar rumah sakit terlebih dahulu.
Saya dan suami tidak dapat ikut melaksanakan shalat gerhana karena harus mengantri. (Bagian administrasi tetap berjalan, sejak jam 5 pagi, saya mulai mengantri jam 5). Di loket pendaftaran mengantri tidak terlalu lama. Akan tetapi sebelum saya datang sudah ada beberapa orang yang mengantri. Rata-rata mereka control (khusus orthopedic) dan mau operasi (tulang).
Sebelumnya saya sampaikan terlebih dahulu, Faiz anak saya yang kedua pada minggu keempat bulan Nopember mengalami patah tulang lengan kiri (di atas siku). Tanggal 26 Nopember 2015 menjalani operasi pemasangan pen. Saat akan pulang, Faiz diminta banyak latihan memegang hidung, telinga kiri, kanan dan memegang mulut. Dua minggu kemudian (8 Desember 2016), ketika control, dokter menyarankan untuk memberikan latihan memindahkan kelereng ke tempat yang lebih tinggi (latihan meluruskan tangan) dan gerak bebas. Tanggal 8 Januari 2016, control yang kedua disarankan oleh dokter untuk latihan melempar bola voli/bola basket. Pada saat control ini Faiz juga diminta untuk foto Rontgen. Ternyata posisi pen dan tulang sudah baik. Dua bulan berikutnya, tanggal 7 Maret 2016, control lagi dan dokter mengatakan pen bisa dilepas.
Suami saya memilih tanggal 9 Maret 2016. Padahal tanggal itu sebenarnya saya mau menhadiri acara Kopdar Ibu-Ibu Doyan Nulis Solo, di Sukoharjo. Terpaksa saya izin, tidak ikutan kopdar.
Operasi akan dilaksanakan hari Rabu, 9 Maret 2016 pagi hari. Mulai jam 1 dini hari, Faiz harus berpuasa. Hari Selasa, sewaktu makan malam saya menyuruh Faiz makan yang banyak.  Jam 9 saya membangunkan Faiz untuk minum susu. Kemudian menunggu jam 12 malam untuk menyediakan minum susu yang terakhir, saya tidak tidur. Saya mengisi malam dengan membuka facebook dan menulis blog. Takutnya kalau saya memejamkan mata malah bablas tidur sampai pagi. Kasihan Faiz, bakalan kelamaan puasanya. Jam 12 lebih sedikit saya membuat susu buat Faiz. Lalu saya bilang padanya setelah ini sudah tidak boleh makan dan minum. Dia oke-oke saja. Yes, Alhamdulillah.
Awalnya Faiz diambil sampel darah untuk kemudian diperiksa. Sebagai simbok yang sudah beberapa kali menunggu anak-anak periksa di UGD, saya harus tega melihat Faiz dicoblos jarum. Ketika mulai di lengannya diikat dengan karet, saya menutup mata Faiz agar tak melihat tangannya dicoblos jarum suntik.
Alhamdulillah, tidak nangis sama sekali. Wah ini simboknya berhasil. Setelah pengambilan sampel darah selesai, kami keluar untuk menunggu tahap berikutnya. Tahap berikutnya adalah memberi tanda bagian yang akan dioperasi. Siku Faiz diberi lingkaran hijau. Beberapa saat kemudian Faiz masuk ruang operasi (ruang tunggu, antri operasi). Saya ikut melepas pakaian Faiz dan mengganti dengan pakaian khusus.
Saya bisikkan pada Faiz, Faiz berdoa ya. Bismillahirrohmannirrohim. Mama tunggu di luar, assalamualaikum. Saya keluar, suami menunggu Faiz di dalam. Beberapa saat kemudian saya mendengar teriakan anak kecil. Sepertinya suara Faiz, sebab yang masuk ruang operasi tadi tidak ada anak kecil selain Faiz. Sebentar kemudian suami keluar dari ruangan. Berarti Faiz sudah dibius. Saya tanya,”Faiz dicoblos lagi ya?” Ternyata pemasangan infuse mengalami kesulitan karena ketika dicoblos Faiz menarik tangannya. Sedangkan suami juga orangnya gak tegaan. Waduhh.
00000
Ketika menunggu jalannya operasi, saya sempat berbincang-bincang dengan keluarga pasien dari Pati. Pasiennya seorang batita cantik yang kakinya patah. Ceritanya bikin air mata terus berlinang. Teringat waktu Faiz jatuh dan mau memasang pen 4 bulan yang lalu.
Sekitar jam 10 Faiz keluar dari ruang operasi dalam keadaan belum sadar. Saya dan suami beserta 2 orang petugas menuju zal. Di zal I C1 seorang perawat sudah siap menerima kedatangan pasien. Setelah Faiz dipindahkan ke tempat tidur, mbak perawat cantik tadi berpesan bla-bla-bla. Sip. Pesannya, jangan lupa sebentar-sebentar dibangunkan.
Suami berada di dekat Faiz. Sesekali menepuk-nepuk pipi Faiz pelan sambil mengucap salam. Di dekat Faiz, suami juga melantunkan zikir. Pokoknya Faiz harus mendengar apa yang diucapkan suami seperti ketika akan dibius tadi.
Alhamdulillah, matanya sudah terbuka. Kembali kami mengucap salam. Yang pertama kali disebut adalah ayah. Lalu mama, dan yang terakhir kakak. Beberapa saat kemudian minta diteleponkan ke kakak. Pingin mendengar suara kakak.
Setelah itu Faiz tidur lagi. Masih mengantuk. Paling cepat jam 1, Faiz baru boleh minum air putih. Setelah benar-benar sadar dan sudah kentut sampai 3 kali rupanya anak itu ingin makan. Baru beberapa butir nasi yang masuk mulut, Faiz batuk, muntah berupa air seperti ludah dalam jumlah banyak. Mungkin dia merasa mual-mual dan ingin muntah.
Jam 5 sore, Faiz minta biscuit. Saya beri sedikit saja dan sedikit air putih. Sepertinya perutnya sudah nyaman untuk kemasukan makanan. Alhamdulillah, Faiz sehat. Sebelum pulang saat makan sore hari rakus banget. Tempe satu potong, hati ayam, sop, nasi sepiring (tinggal 2 sendok), disantap dengan lahap.
Setelah maghrib Faiz diizinkan pulang. Cepat sembuh ya le. Jangan ngantuk di jalan ya le. Soalnya kita hanya naik sepeda motor. Saya bersyukur, memasuki kawasan Karanganyar, jalanan basah. Sore sebelumnya hujan deras (reportasenya anak saya perempuan yang seharian berada di rumah adik ipar). Ketika pulang nggak ada hujan, nggak ada badai.
Sampai di rumah, Faiz makan roti bakar dan masih minta mie goreng milik ayah. Wah, maruki iki jenenge. Ya wis, rapapa thole sing bagus dewe.
Ketika Faiz mulai tidur, Alhamdulillah saya bisa memejamkan mata lebih awal. Pagi harinya saya dan suami harus mengajar. Faiz yang masih malas-malasan terpaksa seragam tidak saya pakaikan. Biarlah dia memakai baju bebas dan tidur di Taman Penitipan Anak dulu.
Di sekolah, saya masih mengantuk dan akhirnya pusing pun datang. Tetap kuat, kuat, dan kuat. Anak sakit jangan digunakan alasan lantas tidak produktif.
Karanganyar, 9-10 Maret 2016
Catatan : maruki = makan dengan lahap setelah tidak makan dalam jangka waktu lama

Sumber bacaan:

Batita Terpeleset, Kakinya Patah

Gambar 1. Ruang Operasi
dok.pri
Hari ini, Rabo, 9 Maret 2016 saya dan suami mendampingi si kecil yang akan menjalani operasi pengambilan pen (platina yang dipasang di lengan kirinya). Meskipun libur Hari Raya Nyepi dan bertepatan dengan GMT tahun 2016, RS Kustati tetap melayani operasi seperti yang sudah dijadwalkan. Memang jadwal operasi khusus hari ini mundur dari jadwal hari-hari biasa karena Tim Medis yang akan melakukan tindakan operasi melaksanakan shalat Gerhana di masjid sekitar rumah sakit terlebih dahulu. Saya dan suami tidak dapat ikut melaksanakan shalat gerhana karena harus mengantri. (Bagian administrasi tetap berjalan, sejak jam 5 pagi, saya mulai mengantri jam 5).
Di sini saya bukan mau menceritakan tentang operasi pengambilan pennya Faiz, melainkan menceritakan kembali pengamatan saya waktu menunggu Faiz yang sudah dibawa masuk ke ruang operasi. Saya berada di luar ruang operasi, sedangkan suami tetap mendampingi Faiz sampai Faiz dibius.
Sejak mengantri di bagian administrasi pagi-pagi, saya mendengar tangisan keras anak kecil yang tiada henti. Dalam hati saya miris, Ya Allah, sakit apakah si kecil hingga menangis kok tidak berhenti? Bagaimana bapak dan ibunya menghadapi anaknya yang rewel terus-terusan. Mungkin anak itu tidak tidur semalam. Tentu saja bapak ibunya juga begadang semalaman.
Sebuah tempat tidur didorong/ditarik  2 orang perawat. Seorang lelaki muda berada di sisi tempat tidur. Di atas tempat tidur ada batita yang menangis “kejer-kejer” tidak berhenti, posisi duduk dengan kaki diperban. Astaghfirullah, jadi, anak kecil ini yang sejak tadi menangis? Seorang ibu muda duduk di kursi panjang di depan saya. Sepasang suami isteri mendekati ibu muda tadi. Ibu muda dan ibu yang barusan datang (saya memperkirakan ibunya) sambil berpelukan terisak. Beberapa orang mendekati mereka, mungkin saudara-saudaranya. Saya pindah tempat duduk agak jauh.
Tangis si kecil tetap kuat. Hati saya benar-benar ikut tersayat perih. Lebih dari setengah jam bapak muda yang menunggu di dalam keluar setelah suara tangis si kecil reda. Bapak muda duduk lesu, di sampingnya ada lelaki separuh baya yang mengusap punggung bapak muda. Bapak muda itu menangis, benar-benar menangis. Melihat adegan itu, tak kuasa mata saya ikut berkaca. Air mata saya ikut tumpah.
Kok saya bisa seperti itu? Sebab 4 bulan yang lalu saya mengalami hal yang sama. Faiz jatuh dan tangannya patah. Saya benar-benar menyesal. Saya ingat betul, malam hari sebelum paginya Faiz dioperasi, Faiz menangis menahan sakit. Bagaimana ibunya tidak perih tersayat hatinya melihat anaknya yang tak berdosa menanggung penderitaan seperti itu? Saya yakin orang lain akan melakukan hal yang sama dengan saya-suami dan pasangan muda tadi.
Saya dan orang-orang, keluarga pasien yang menjalani operasi berpindah tempat. Menunggu di ruang tunggu jalan keluar setelah pasien dioperasi. Pasangan muda tersebut duduk berdampingan di kursi depan. Sedangkan bapak dan ibu dari sang isteri pasangan muda tadi duduk di belakang saya. Ada saudaranya yang duduk di samping saya.
Ternyata mereka berasal dari Pati, Jawa Tengah. Anak kecil yang menangis tadi usianya belum dua tahun. Saya tak sempat menanyakan nama anak kecil. Gadis kecil tadi lagi senang-senang berjalan. Badannya memang kecil (berat badan kurang dan memprihatinkan), ibunya mengalami kesulitan untuk membujuk agar anaknya doyan makan. Sejak lahir memang ada masalah dengan kondisi kesehatan batita tadi.
Kata saudara yang duduk di samping saya, batita tadi terpeleset saat akan ke kamar mandi bersama ibunya. Ceritanya begitu. Hari Senin (2 hari yang lalu) dibawa ke RS Kustati ini. Bagi saya sedikit cerita ini sangat bermanfaat.
Saya beranjak dan berjalan-jalan di sekitar ruang tunggu, sekedar menghilangkan penat dan menghilangkan kantuk yang mulai menyergap. Semalam saya kurang tidur. Faiz mulai jam 1 malam harus puasa. Jadi saya jam 9 harus membangunkan Faiz untuk minum susu. Kemudian menunggu jam 12 malam untuk menyediakan minum susu yang terakhir, saya tidak tidur. Saya mengisi malam dengan membuka dan menulis blog. Takutnya kalau saya memejamkan mata malah bablas tidur sampai pagi. Kasihan Faiz, bakalan kelamaan puasanya. Jam 12 lebih sedikit saya membuat susu buat Faiz. Lalu saya bilang padanya setelah ini sudah tidak boleh makan dan minum. Dia oke-oke saja. Yes, Alhamdulillah.
Jam setengah satu satu tidur, jam setengah 4 bangun untuk menyiapkan semuanya dan siap meluncur ke rumah sakit. Tiga jam saja saya memejamkan mata.
Sekitar jam 10 Faiz keluar dari ruang operasi dalam keadaan belum sadar. Saya dan suami beserta 2 orang petugas menuju zal. Di zal I C1 seorang perawat sudah siap menerima kedatangan pasien. Setelah Faiz dipindahkan ke tempat tidur, mbak perawat cantik tadi berpesan bla-bla-bla. Sip. Pesannya, jangan lupa sebentar-sebentar dibangunkan.
00000
Saya minta izin pada suami untuk shalat di mushola. Ketika masuk mushola, saya melihat bapak muda, bapaknya si batita tadi keluar mushola.  Setelah sholat, saya melihat beberapa orang yang saya temui di depan kamar operasi dan ruang tunggu tadi pagi. Ternyata pasien batita tadi berada di kamar kelas 2, dekat mushola.
Sore hari Faiz sudah benar-benar sadar. Saya izin pada suami mau jalan-jalan sebentar. Saya menemui/menengok batita kecil cantik di zal. Keluarga ini ingat saya. Tapi untuk pasangan mudanya atau orang tua batita tadi, tidak tahu saya sama sekali. Setelah berbincang sebentar, saya ikut mendoakan agar si kecil lekas sembuh dan kembali pulih seperti semula. Akhirnya saya pamit.
Mungkin keluarga yang baru saya kenal ini heran. Orang kenalnya juga pas di rumah sakit kok tiba-tiba nengok.  Tapi tak apalah, sama-sama mendoakan. Semoga cepat sembuh.
Setelah maghrib Faiz diizinkan pulang. Alhamdulillah, Faiz sehat. Sebelum pulang saat makan sore hari rakus banget. Tempe satu potong, hati ayam, sop, nasi sepiring (tinggal 2 sendok), disantap dengan lahap. Cepat sembuh ya le. Jangan ngantuk di jalan ya le. Soalnya kita hanya naik sepeda motor. Saya bersyukur, memasuki kawasan Karanganyar, jalanan basah. Sore sebelumnya hujan deras (reportasenya anak saya perempuan yang seharian berada di rumah adik ipar). Ketika pulang nggak ada hujan, nggak ada badai.
Sampai di rumah, Faiz makan roti bakar dan masih minta mie goreng milik ayah. Wah, maruki iki jenenge. Ya wis, rapapa thole sing bagus dewe.
Karanganyar, 9-10 Maret 2016

Catatan : maruki = makan dengan lahap setelah tidak makan dalam jangka waktu lama

Senin, 07 Maret 2016

Hidup di Era Cekrek-cekrek

Pasangan serasi
dok.pri
Saya sering membandingkan hidup di masa kecil dulu dengan sekarang. Kepada anak saya yang mulai beranjak remaja, saya selalu memberikan nasehat. Padahal dulu waktu saya seusia dhenok, Ibu dan Bapak tak banyak memberikan nasehat, hanya yang penting-penting saja.
Mungkin karena masanya berbeda sehingga saya harus ekstra memberi nasehat. Tak perlu banyak hingga berbusa, sedikit nasehat yang penting mengena. Oleh karena itu saya harus memilih kata yang berkualitas. Tidak sembarang kalimat saya sampaikan. Saya harus hemat energy untuk yang satu ini.
Saya sering bilang ke dhenok, diawali dengan kata ketika mama kecil, ketika mama seusiamu, ketika mama kuliah dan lain-lain. Mengapa saya mengawali pembicaraan dengan kata-kata itu? Agar dhenok bisa membayangkan Ibu yang akan bicara ini usianya seperti dia dengan segala keimutannya.
Kalau sekiranya dhenok bisa menerima dan sesuai kemauannya dia tak berkomentar apa-apa, tapi kalau tak sesuai biasanya dia akan bilang,”itu dulu mah. Dulu dan sekarang jelas beda.” (episode pembangkangan)
“Tapi adab sopan santun, adab bergaul dalam Islam, pendidikan akhlak sejak dulu sampai sekarang tetap sama. Jaman memang sudah banyak berubah. Sekarang dibilang jaman modern, kalau yang dulu dianggap kuno. Tapi lihat anak-anak jaman sekarang yang dibilang modern, jauh berbeda dengan anak-anak jaman dulu yang dianggap kuno. Yang dulu dianggap tabu dan memalukan, sekarang disebut modern, wajar dan biasa saja.
Semua kembali pada masing-masing anak, masing-masing keluarga. Mama yakin, orang tua sekarang ketika masih remaja  yang dididik dengan disiplin dan keras oleh orang tuanya maka mereka juga akan melakukan hal yang sama. Kata-kata larangan menunjuk mengapa tidak diizinkan tapi dengan alasan kuat.
Coba lihat anak-anak yang tidak dilarang ini-itu, mereka akan cenderung bebas tak terbatas (meskipun tidak semua). Carilah sendiri contohnya dari teman yang kamu kenal. Carilah perbedaan temanmu yang dididik dengan beberapa larangan dan yang bebas tak terbatas.”
00000
Sekarang jamannya cekrek-cekrek, sedikit-sedikit cekrek. Apa sih cekrek-cekrek? Saya hanya mengambil kata-kata dari anak muda jaman sekarang. Cekrek-cekrek alias foto-foto. Orang yang usianya hampir sama dengan saya, ketika remaja memasuki tahun 80 an sampai sebelum tahun dua ribu, mereka tak mungkin sebentar-sebentar selfi. Foto diri saja tidak dilakukan apalagi memotret kerbau yang ada di sawah bukan untuk keperluan fotografi.
Mengapa orang jaman dulu kok tidak sedikit-sedikit cekrek? Ya, iyalah. Wong mau foto saja uba rampenya banyak. Kamera, film, lalu nanti cuci film, mencetak foto, yang duitnya untuk mendapatkan satu lembar foto lumayan banyak. Jangankan untuk foto, untuk transport sekolah dan jajan saja tidak cukup. Lain dengan anak sekarang berani lapar yang penting selfi dan hape ada pulsa/kuota internetnya.
Anak sekolah dan mahasiswa yang belum kerja jaman dulu, yang penting belajar dan bisa beli buku. Jajan juga seadanya, sewajarnya saja. Paling pol kalau mau ulangan/ujian bila tak belajar mengandalkan senjata berupa kertas panjang berisi rumus praktis. Mungkin juga melirik sana-sini.
Berbeda dengan anak-anak sekolah (termasuk mahasiswa) sekarang, tidak belajar ya tetap santai-santai saja. Ada mbah google yang siap membantu asal tidak ketahuan. Syukur-syukur bisa cekrek soal lalu kirim ke orang yang pintar, yang kira-kira bisa membantu menjawab.
Kembali ke masalah cekrek tadi. Orang mau makan saja makanan difoto. Orang mau mandi update status dengan disertai foto. Kegiatan apapun ditulis dalam status lalu mengunggah foto. Ini dilakukan terutama anak-anak yang masih berada pada masa puber. Ada yang mengambil gambar ketika berenang atau jajan bareng di kafe sama teman-temannya. Lalu update status bla-bla-bla. Ealah, mungkin si anak tak tahu diri. Berani nulis status macam-macam, padahal orang tuanya ngutang tetangga sana-sini udah lama nggak lunas-lunas. Kalau orang tuanya punya duit bukan untuk mengurangi hutang dengan cara mencicil malah untuk membeli gaya hidup. Prang preng….(episode ngajak perang)
Kalau tahu status yang ditulis  anak tetangga yang ngutang, rasanya pemberi pinjaman tersebut gemes sekali. Nah, ini yang rada serem. Akhir-akhir ini heboh foto yang beredar di dunia maya. Seorang anak SD biasa cekrek-cekrek. Berlanjut setelah pra remaja juga cekrek-cekrek. Ketika dewasa juga update status dengan foto-fotonya. Padahal fotonya dinilai orang tidak layak dipertontonkan. (konon kabarnya, fb itu akun abal-abal). Apapun alasannya, entah itu untuk koleksi pribadi atau untuk apa saja, sebagai orang tua saya kok prihatin dan miris. Pergaulan anak jaman sekarang kok parah banget (episode prihatin sebagai guru).
(Akhirnya ada klarifikasi dari orang yang ada di foto, bahwa foto tersebut sengaja disebarluaskan oleh orang yang sakit hati dan dendam). Kalau ada anak (pasangan remaja) yang berani memperlihatkan kemesraan di depan umum, mungkin ketika tidak di lihat umum akan melakukan tindakan yang lebih. Apalagi di dalam foto yang memperlihatkan kemesraan pasangan remaja yang bukan pasangan suami-isteri (istighfar, istighfar).
Kalau demikian, siapa yang akan ditunjuk pertama kali untuk disalahkan? Saya yakin tidak langsung sekolahnya, melainkan anaknya siapa alias orang tuanya. Ke mana orang tuanya selama ini? Sudah memantau sejauh mana pergaulan putra-putrinya? Seberapa jauh komunikasi antara orang tua-anak? Bagaimana hubungan antara orang tua dan anak? Sehat-sehat saja, tidak dekat, atau malah tidak berkomunikasi sama sekali?
Anak sedikit-sedikit cekrek, tidak masalah. Justeru arahkan ke hal positif. Beri dukungan pada anak-anak, agar cekrek-cekreknya bermanfaat apalagi bisa menghasilkan uang. Menjadi orang tua tanggung jawabnya besar. Orang tua bukan hanya sebagai mesin uang yang siap 24 jam bila diperlukan anak. Tapi orang tua juga wajib berkomunikasi, meluangkan waktu untuk bicara terutama dengan anak-anak yang menginjak remaja. Jangan menggunakan sisa waktu untuk berkomunikasi dengan anak-anak, tapi luangkan waktu secukupnya.
Orang tua jaman sekarang juga harus mengenal teknologi. Kalau perlu orang tua juga memiliki akun di medsos, bertemanlah dengan anak-anak, agar kita bisa memantau anak. Kita juga tahu kelayakan status yang ditulis anak. Kalau tak layak, kita bisa mengingatkan untuk menghapus status atau foto yang diunggah.
00000
Tetap boleh cekrek-cekrek di jaman sekarang asal ada kepentingan yang mendasar. Batasi dan lakukan foto-foto hanya sebatas yang tak menimbulkan kontroversi. Jangan sampai foto kita hanya menjadi sampah. Kalau foto kita dianggap bisa dikomersialkan, tentu saja pihak-pihak tak bertanggung jawab akan menyalahgunakan. Siapa yang rugi? Jelas kita! Sebagai orang yang beradab, lakukan semua hal sesuai adab.
Karanganyar, 7 Maret 2016
Sumber:
http://www.kompasiana.com/noerimakaltsum/hidup-di-era-cekrek-cekrek_56dd34c6c322bd610d096b9a