Jumat, 08 April 2016

Menjenguk Teman Sakit, Jajan Bakso "Gendhut"

Bagi saya, waktu sangat berharga dan berarti. Saya ingin menghabiskan waktu setelah pulang mengajar bersama anak-anak. Kalau kebetulan saya libur kelas atau tidak mengajar di sekolah, saya akan mengerjakan kegiatan di rumah. Menjadi isteri dan ibu sepenuhnya. Akan tetapi saya tidak lantas mengerjakan keperjaan rumah dari pagi sampai selesai. Kebiasaan saya kalau pas libur tidak mengajar, setelah suami dan anak-anak meninggalkan rumah menuju sekolah, saya akan menulis lebih dahulu. Kadang, karena terlalu asyik, saya jadi lupa waktu. Pekerjaan rumah saya kerjakan setelah menulis.
Hari ini saya mendapatkan pemberitahuan lewat sms, bahwa guru dan karyawan akan menjenguk salah seorang guru yang sedang sakit. Setelah menjenguk teman dilanjutkan “tilik bayi”. Tilik bayi adalah bahasa lain menjenguk bayi yang baru lahir (tapi bukan yang baru saja lahir lo). Selain menjenguk bayi tentunya menjenguk ibu si bayi dan keluarganya. Kebetulan Ayah dari sang bayi adalah keluarga yayasan.
Rencananya kami akan berangkat bersama-sama, berkumpul di sekolah terlebih dahulu. Jadwalnya jam satu siang berangkat. Saya berangkat ke sekolah setelah shalat dhuhur. Sayang, sampai jam setengah dua tak ada tanda-tanda kami mau berangkat. Bagi saya waktu saya terbuang dengan percuma. Tahu seperti ini, saya datangnya mepet-mepet saja.(ternyata teman-teman banyak yang gedumel).
Akhirnya Bapak Kepala Sekolah memberi tahu bahwa pengisian angket atau apa (saya tidak mudeng, karena berhubungan dengan UNBK), agak lama. Hal ini dikarenakan koneksi ke pusat juga sulit. intinya sebagian dari kami berangkat duluan, sedangkan yang ada kepentingan dengan UNBK menyusul.
00000
Ternyata teman saya sakit gejala tipes. Tapi sudah agak mendingan. Kami tidak lama-lama di rumah Mbak Rosita, guru yang masih muda, guru yang sakit. Setelah mendoakan kesembuhan mbak Rosita, kami menuju warung bakso. Acara tilik bayi batal, karena waktunya tidak memungkinkan, terlalu sore nanti pulangnya.
Jajan bakso ramai-ramai bersama teman guru, ini yang saya tunggu-tunggu. Apalagi jajannya gratis, saya sangat suka. Saya tidak takut terhadap bendahara yang guntingnya tajam. Sekarang guntingnya sudah tumpul. Jadi tidak sedikit-sedikit potong gaji.
Kami sepakat makan bakso di warung milik orang tua murid saya yang sudah lulus. Murid saya bernama Feri, dulu jurusan Multi Media. Alhamdulillah, anaknya masih ingat dengan saya. Mungkin yang diingat-ingat adalah karena suka menghukum siswa yang terlambat dengan hukuman push up lima kali saja.
Warung bakso milik orang tua Feri berada di kampung Celeb, Jaten, Karanganyar. Lumayanlah, rasanya mantap. Tapi sayang, yang pesan es teh dan es jeruk agak kecewa karena lupa diberi gula pasir. Yang teh jadi es teh tawar dan yang pesen es jeruk cengir-cengir karena masam. Tapi semua bisa diatasi, karena lupa belum dikasih gula pasir, timggal diberi gula saja.
Saya bersyukur, jajan bareng kali ini penuh dengan suka cita, sebab tidak ada rasa sungkan dan rasa tak enak. Mengapa demikian? Karena Bapak Kepala Sekolah masih ada urusan di sekolah, jadi tidak bisa ikut. Rupanya teman-teman juga merasa bebas, merdeka! Eh, saya juga merasa merdeka!
Acara makan bakso cukup singkat alias waktunya secukupnya saja. Tidak berlama-lama. Nah, ini yang paling penting, kata teman saya “wartawane mengko mesthi poto-poto, terus wawancara.”
Ya jelas, namanya juga ketemu murid. Hehe, pastinya masuk blog juga. Selamat menikmati Bakso Gendhut.
Karanganyar, 7-8 April 2016