Jumat, 22 April 2016

Sedekah Tak Menunggu Kaya

Gambar : sedekah uang receh
dok.pri
Sampai di rumah, belanjaan di dalam kardus dikeluarkannya. Ada 2 buah kardus, kardus pertama berisi mie instan dan kardus kedua berisi gula kemasan ½ -an kg dan 10 kotak teh celup. Dengan cekatan, dia menyediakan beberapa plastik kresek hitam. Tiap tas diisi mie instan, gula dan teh. Hari ini perempuan itu bernafas lega. Dia sudah menyiapkan beberapa paket untuk dibagikan kepada orang yang membutuhkan.
Biasanya perempuan itu akan memberikan paket-paket tersebut kepada tetangganya saat waktu telah gelap, sehingga tak ada orang yang mengetahui. Atau siang hari di saat orang-orang sedang bekerja, sehingga kampung begitu sepi.
Namun demikian,
tindakannya lama-kelamaan juga diketahui orang lain. Tapi perempuan itu tak peduli. Bahkan malah malu kalau ada orang lain tahu. Dia takut, apa yang dilakukan selama ini membuat hatinya berbunga-bunga kalau namanya disebut. Padahal sejak awal niatnya lillahita’ala.
Berapa sih nilai sedekahnya? Ah, tidak seberapa, hanya sedikit saja. Bilangannya tak sampai jutaan. Tapi perempuan itu puas, karena dia melakukannya tidak dengan terpaksa. Ikhlas.
Apa yang dia miliki sudah seharusnya dikeluarkan untuk orang yang membutuhkan. Dia tak pernah berharap 2x, 5x, 10x bahkan 100x lipat gantinya. Biarlah semua menjadi urusan yang Mahakaya. Perempuan itu hanya membaca hikmah dari semua yang telah terjadi.
Dia masih ingat ketika kecil, kedua orangtuanya miskin dan tak punya. Betapa hebat kedua orangtuanya, yang tiap hari menyediakan makan untuk tetangganya yang kekurangan. Padahal keluarganya sendiri hidup pas-pasan. Itulah contoh dari orangtua yang membesarkannya dan menanamkan akhlak mulia.
Bersedekah selagi lapang maupun sempit. Allah menjamin rezeki tiap orang, dan rezeki kita tidak mungkin diambil orang lain. Bulan depan perempuan itu siap untuk mengemasi paket yang isinya sama. Semoga Allah menitipkan rezeki yang halal dan barokah, amien.
Karanganyar, 22 April 2016