Rabu, 11 Mei 2016

Hujan Semalam Dan Petir Menggelegar

Bersahabat dengan alam
dok.pri
Semalam hujan turun dengan derasnya. Saya yang terbiasa kalau hujan turun di malam hari bergegas menyelamatkan si Dhenok untuk menyelimuti atau sekedar melongok kamarnya, kali ini tidak. Kantuk benar-benar tak bisa saya tahan. Tapi saya tahu, Dhenok pasti berupaya sedemikian rupa supaya tidak kedinginan dan mematikan kipas anginnya.
Hujan benar-benar deras, sama seperti cerita teman saya sehari sebelumnya. Mojogedang hujan hingga pagi. Dia bersyukur karena sawah mendapatkan air yang melimpah.
Wah, saya juga harus bersyukur. Sawah belakang rumah semoga aman tidak rusak dan stok air cukup. Agar saudara saya yang menggarap sawah kelak waktu panen mendapatkan hasil yang banyak. Dengan demikian kami juga mendapatkan gabah yang sebanding, bukan?
Saya tidak tahu, saat itu jam berapa, terdengar petir menggelegar dan dahsyat. Saya pikir awalnya ada travo di luar yang meledak. Tapi listrik tetap hidup. Berarti suara tadi adalah petir. Mungkin dengan tegangan tinggi mampu menggetarkan rumah dan kaca jendela agak lama.
Si kecil langsung meringkuk. Menutupi telinganya dengan selimut. Sementara tangan satunya memegang lengan saya.
“Takut Mama.”
Saya dekap dia, saya selimuti dengan rapat. Saya berharap tidurnya kembali nyenyak.
00000
Jam tiga pagi, hujan telah reda. Saya tak mendengar sisa rintiknya sama sekali. Saya bangun untuk membuatkan susu si kecil. Lalu menyiapkan diri untuk menyantap nasi sayur sekadarnya, dua butir kurma, 2 buah biscuit  dan teh panas. Saya berharap niat saya untuk mengganti puasa yang saya tinggalkan Ramadhan tahun lalu tidak mendapatkan godaan di sekolah.
Meskipun semalam hujan deras tapi pagi ini saya sudah berkeringat karena udara tidak dingin sama sekali. Malah terasa panas dan sumuk.

Karanganyar, 11 Mei 2016