Tampilkan postingan dengan label panen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label panen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Maret 2017

Keuntungan Menanam Dan Panen Sayuran Belakang Rumah

            MENANAM KACANG HIJAU
Sewaktu aku masih mengajar dan tinggal di Blora, suami mengatakan menanam kacang hijau di sawah. Biaya untuk tenaga, benih, pupuk dan lain-lain jumlahnya luar biasa banyak. Karena aku tidak tahu-menahu tentang pertanian, aku sempat protes dan keberatan. Aku tidak mau apa yang aku lakukan tidak punya dasar. Kalau dasarnya hanya ikut-ikutan pada orang yang berhasil, tanpa memiliki ilmu sedikit pun berarti siap untuk gagal total.
Honor-honor yang aku terima selama mengajar di Blora setelah menikah, masuk dalam biaya-biaya pertanian. Aku pasrah. Sebenarnya ide terjun ke dunia pertanian sudah sejak lama suami utarakan. Bahkan katanya kelak biaya sekolah untuk “anak-anak” berasal dari bercocok tanam. Aku manut saja. Toh percuma saja kalau aku tidak setuju atau membantah.
Setelah tinggal di Karanganyar, waktu itu usia kandunganku sudah cukup kuat untuk diajak “bekerja keras”, kacang hijau mulai panen. Jarak antara rumah dan sawah cukup jauh. Belum lagi dalam kondisi hamil aku tidak mungkin berpanas-panas untuk memanen kacang hijau. Kami berinisiatif memanen kacang hijau pada sore hari setelah matahari tidak terik lagi. Karena mulai memanen kacang hijau sudah sore, maka sebantar saja sudah maghrib. Kami tak membawa hasil panen dalam jumlah banyak.
Sabar, itulah kuncinya. Setiap pulang mengajar mengupas polong-polong kacang hijau, lalu menjemurnya. Namum suami ternyata bukan orang yang sabar lagi telaten. Kacang hijau dipanen harus tepat waktu. Kalau waktunya panen tidak segera dipetik, maka esok harinya polong kacang hijau akan pecah dan isinya tumpah jatuh di atas tanah dengan sendirinya. Malah suami bosan memanennya.  
Setelah hasil panen dikumpulkan semua dan dijual, hasilnya jauh dari harapan. Jangankan untung, balik modal saja tidak. Suami bilang,” maaf ya dik kita kali ini belum berhasil.” Kecewa, itulah kata-kata yang ada dalam hatiku. Bagaimana tidak? Seandainya uang yang digunakan untuk membiayai “kebun” itu aku gunakan untuk kepentingan keluarga maka aku tak perlu berhutang koperasi untuk menyiapkan perlengkapan bayi.

MENANAM PADI
Setelah anakku lahir, suami disuruh mertua untuk menanam padi. Bayanganku kali ini masih negatif. Bagaimana tidak?  Menanam padi seluas 3500 meter persegi. Kalau gagal lagi atau maksimal impas, aku katakan merugi. Usaha yang dibangun kok merugi alias tidak mendapatkan untung, maka perlu belajar dulu tentang usaha yang akan dijalani.
Usaha yang luar biasa, dan suami kadang begadang demi “mendapatkan air jatah” untuk sawah. Sebab bila air jatah tidak ditunggui maka akan dialirkan ke sawah lain oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Tidak heran sering terjadi bentrok antara petani satu dengan yang lain  karena berebut air. Sepulang dari mengajar suami juga langsung ke sawah untuk melihat tanamannya.
Perjuangan dan pengorbanan suami tidak sia-sia. Alhamdulillah, hasilnya memuaskan. Dari hasil panen ini kami bisa menabung kayu, besi dan material lain yang akan digunakan untuk membangun rumah.

MENANAM JAGUNG
Setelah merasa berhasil menanam padi, mertua menyuruh kami untuk mencoba komoditas lain. Pada musim kemarau di nama air tidak begitu melimpah, menanam jagung pilihan yang tepat.
Kunci utama dari bercocok tanam adalah rajin merawat dan “menyambangi” sawah. Dengan sering menengok sawah, kami jadi tahu perkembangan tanaman. Atau kalau ada sesuatu yang tidak beres dengan tanaman bisa segera diatasi.
Saat panen jagung, sungguh aku tidak menyangka sama sekali. Panen hanya mengandalkan keluarga, yaitu suami, adik ipar dan pembantu (aku ganti yang momong anakku, karena pembantu memilih ikut panen). Dari hasil penjualan jagung kering, kami bisa mencukupi konsumsi untuk tukang-tukang kami yang bekerja membangun rumah.

MENANAM KACANG TANAH
Sukses menanam padi dan jagung, suami mencoba menanam kacang tanah. Akan tetapi sayang, ketika tanaman kelihatan bagus hasilnya, mertua meminta pada suami supaya tanaman kacang tanah diteruskan mertua. Ikhlas, itu yang harus aku lakukan. Bagaimanapun sawah itu juga milik mertua. Kami hanya diberi ijin untuk mengelolanya.
Setelah kacang tanah dipanen, dan kami menempati rumah kami sendiri (masih di lingkungan sawah tempat kami bercocok tanam), kami mulai memikirkan usaha sendiri. Walaupun sawah letaknya hanya di belakang rumah kami, bukan berarti kami bisa seenaknya menanam sayuran atau apa saja. Semua harus minta ijin pada mertua lebih dahulu.

MENANAM LOMBOK
Setelah Bapak mertua meninggal, sawah yang biasanya digarap Bapak sendiri kini tidak diolah sendiri melainkan dengan sistem bagi hasil dengan petani penggarap. Ibu mertua tidak repot mengurus ini-itu untuk sawah yang akan ditanami padi. Ibu cukup menyumbang separo pupuk, bila telah panen Ibu mendapatkan separo bagian (untuk biaya panen ditanggung Ibu dan petani penggarap sawah).
Khusus untuk belakang rumah (yang berimpit dengan rumah), suami diperbolehkan menanam sayuran. Setelah belajar pada orang yang sudah berpengalaman, suami akhirnya mencoba menanam lombok merah. Dari menanam lombok ini, aku jadi tahu istilah-istilah pertanaian serta hama penyakit yang menyerang tanaman. Ada lalat buah, layu fusarium, cambuk, dan lain-lain.
Dengan harga stabil relatif tinggi, sungguh aku tak pernah menduga sama sekali kalau untungnya “luar biasa”. Karena perawatannya optimal, jumlah panennya maksimal. Teman suami yang memberikan “pelajaran lombok” mengatakan kami termasuk pemain baru yang berhasil.
Pada saat menanam lombok, ini merupakan tamanan pertama yang kami usahakan setelah menempati rumah di dekat sawah. Ada perbedaan yang kami lakukan saat panen kali ini, tidak seperti panen sebelumnya. Yaitu kami menyedekahkan sebagian panen kami untuk orang lain (teman guru, tetangga dan saudara), sebelum kami menjualnya. Artinya sedekah pada saat panen pertama. Uniknya, teman-teman atau tetangga datang dan memanen sendiri.

MENANAM KACANG PANJANG
Akhirnya tanaman lombok mulai tua dan buahnya mulai kecil-kecil. Setelah menimba ilmu pertanian dari “orang pintar”  bertani, kami disarankan menanam kacang panjang. Untuk kacang panjang, umurnya relatif pendek. Buah mulai dipanen pada umur 45 hari setelah tanam.
Ternyata memperlakukan tanaman kacang panjang tidak sama dengan lombok. Kalau yang ini lebih ekstra. Mulai menanam bibit, memasang turus, mengikat antara turus satu dengan yang lain, merempel daun bagian bawah dan mengkondisikan tanaman untuk membelilit pada turus.
Sayang, tanamannya terlalu subur, terlalu banyak pupuk. Saking suburnya, tanaman rimbun sekali. Begitu terserang hama; ulat dan cambuk, kami kewalahan untuk mengusir secara alami. Kami mulai melirik berorganik.
Sewaktu panen perdana, kami mengundang tetangga dan teman-teman guru untuk memetik polong kacang panjang. Semua bisa mengambil sepuasnya. Bagi kami kacang panjang yang dipetik akan memberikan polong berikutnya lebih banyak.
Karena polongnya banyak, kadang-kadang kami tidak dapat menyelesaikan panen dalam satu kali panen. Apalagi waktu hujan turun dengan deras. Jelas, kami tidak dapat berbuat banyak. Lebih baik menghentikan kegiatan memanen dari pada kena resiko. Padahal kacang panjang yang tidak segera dipanen, keesokan harinya ukurannya terlalu besar dan tidak laku dijual.
Hari berikutnya kami menyiasati dengan memanen sebagian di pagi hari dan sebagian dipanen sepulang mengajar. Dengan cara seperti ini kami bisa menyelesaikan panen dalam satu waktu panen.
Kacang panjang jenis hijau yang kami usahakan ini termasuk komoditas yang laku di segala cuaca. Tidak heran, sejelek-jelek harga kacang panjang kami tetap untung. Akhirnya aku menyadari bahwa Allah memberikan jalan pada kami. Usaha kami di bidang pertanian ini termasuk bisa diperhitungkan. Dengan seperti ini semoga harapan suami dahulu yakni ingin menyekolahkan anak-anak dari hasil pertanian bisa terwujud.

MENANAM MENTIMUN
Setelah panen kacang panjang berakhir, kami menanam mentimun. Untuk tanaman mentimun karena diusahan tegak, tidak dibiarkan menjalar di atas tanah, maka kami harus mengikat batang mentimun pada turus. Mengikat batang mentimun pada turus sangat menyita waktu.
Mentimun mulai dipanen saat usia 40 hari setelah tanam. Mentimun termasuk sayuran umur pendek. Memanen mentimun memerlukan tenaga besar. Ya, karena buahnya yang berat, kandungan airnya tinggi. Kami harus memindahkan mentimun tersebut dari sawah ke halaman rumah. Sedikit demi sedikit memindahkan hasil panen. Ya, kami harus sabar.
Waktu itu harga jual mentimun dari aku seribu rupiah per kilogram. Pedagang pasar menjual kembali dua ribu rupiah per kilogram. Total hasil panen lebih dari dua ton. Lebih dari dua juta uang yang kuterima. Kebetulan pedagang yang aku setori hasil panen masih saudara sendiri.
Dengan modal satu jutaan, kami mendapatkan untung lebih dari satu juta. Uang dapat balik kurang dari dua bulan. Dengan keberhasilan ini semakin mengukuhkan niat kami untuk terus mengolah sawah/kebun untuk sayuran.
Dari beberapa tanaman yang telah kami usahakan, kami jadi lebih paham tentang pertanian. Dari penyediaan bibit, mengolah tanah, memupuk, merawat, membasmi hama, memanen dan analisis keuangannya. Walaupun tidak terlalu detail yang aku tulis, tapi cukup memberikan informasi tentang setiap tanaman. Mulai menanam sampai memanen dan memasarkan.
Dengan menuliskan setiap  kali menanam sayuran, sedikit banyak menambah pengetahuan. Bila diperlukan setiap saat, aku memiliki catatan. Sayangnya catatan kecil itu sering hilang karena buku yang dipakai juga buku campur sari. 

Nah, ini pengalaman saya menanam sayuran. Sebenarnya sekarang ingin memulai menanam sayuran lagi, tapi waktunya perlu diatur sedemikian rupa agar kegiatan harian bisa tertata rapi. bagi yang ingin mencoba menanam sayuran, silakan mulai dari skala kecil. Tapi kalau sudah niat terjun bisnis sayuran, mangga mawon kalau langsung dalam jumlah yang besar.

Sabtu, 25 Februari 2017

Bertanam Sayuran Dalam Pot

Menemukan majalah edisi lama, lalu saya tulis ulang pada tahun 2012 yang lalu, sesuatu banget. Semoga bisa memberikan manfaat untuk orang lain.

“Menanam dan memetik sayuran yang dirawat sendiri memberikan kepuasan sendiri bagi pemiliknya. Hal itu tidak salah sebab selain dapat mengembangkan hobi menanam sayuran, pemiliknya juga merasa lebih aman mengkonsumsi sayuran dalam keadaan segar.

Apapun alasannya, menanam sayuran dalam pot memang sedang ngetren saat ini. Bahkan kalau di awal tahun 1980-an hanya cabe dan terung saja yang sering dipotkan, kini beragam sayuran dapat tumbuh subur di dalam pot karena perawatannya relatif sama.

Sayuran dalam pot memang menarik, bahkan dapat dipajang di teras rumah sebagai tanaman hias. Bagi orang yang mempunyai sedikit waktu luang, menanam sayuran dalam pot/polybag cukup mudah dilakukan. Apalagi benih sayuran dapat diperoleh di toko-toko pertanian.

Banyak metode penanaman yang dapat dipakai untuk mengembangkan hobi ini. Ada sayuran yang dapat langsung ditanam benihnya di dalam wadah tetap, misalnya kacang-kacangan, bayam cabut, atau kangkung darat. Ada juga yang benihnya perlu disemaikan terlebih dahulu di wadah persemaian, misalnya terung, cabai, tomat, kubis, selada dan sawi. Namun untuk mendapatkan tanaman yang pertumbuhannya baik, sebaiknya benih disemaikan dahulu di wadah semai. Setelah itu dipindahkan ke pot/polybag untuk menyapih. Setelah tanaman kuat, baru dipindahkan ke pot.

Berikut ini teknik yang baik bertanam sayuran dalam pot.
1.    Benih sayuran. Dipilih yang baik, sehat, mengkilap, berisi, tidak cacat atau berjamur.
2.    Wadah media, terdiri dari kotak semai (kotak kayu, nampan plastik dan lain-lain), wadah sapih (polybag ukuran 10-15 cm), dan wadah tetap (pot, ember, atau polybag ukuran besar). Semua wadah harus diberi lubang di bawahnya.
3.    Alat-alat pertanian sederhana seperti sekop kecil, penyemprot tangan, gembor, dan perlengkapan mini garden toor.
4.    Media semai berupa campuran tanah dan pupuk kandang, pasir dan pupuk kandang, atau tanah, pasir, pupuk kandang dengan perbandingan yang sama ( 1:1:1 ).
5.    Media tanam berupa campuran tanah, pasir dan kompos atau tanah, sekam padi, dan kompos dengan perbandingan 2 : 1 : 1.
6.    Pupuk anorganik (misalnya urea, ZA, TSP, KCl, NPK dan pupuk daun) dan pestisida (misalnya Antracol dan Dithane sebagai fungisida, serta Basudin dan Decis sebagai insektisida).
7.    Campurkan media semai secara merata dan diratakan ketebalannya sekitar 7 cm di dalam kotak semai. Media semai disediakan minimal seminggu sebelum digunakan agar benar-benar kompak.
8.    Rendamlah benih sayuran ke dalam air atau larutan perangsang tumbuh selama 10 menit untuk mempercepat perkecambahan benih.
9.    Taburkan benih ke atas media dan ditutup kembali dengan lapisan media tipis di atasnya lalu disiram tiap hari. Benih akan berkecambah dalam 3-7 hari.
10. Jika telah berkecambah siramlah kecambah setiap hari sampai siap dipindahkan ke polibag pada umur 1-2 minggu. Penyiraman harus hati-hati jangan sampai membongkar media atau merusak kecambah di persemaian.
11. Campurkan semua komponen media tanam secara merata dan biarkan terkena sinar matahari selama 1-2 minggu, lalu masukkan sampai setinggi 5 cm dari bibir polibag dan dipadatkan dengan tangan.
12. Angkat bibit di persemaian secara hati-hati untuk dipindahkan ke dalam polibag. Pemindahan dilakukan pada sore hari.
13. Tempatkan bibit yang akan dipindahkan tepat di bagian tengah polibag dan tambahkan sisa media hingga memenuhi polibag. Padatkan dan tempatkan polibag di tempat yang teduh.
14.  Lakukan penyiraman bibit sebanyak 2-3 kali sehari agar media tidak kekeringan.
15. Jika tanaman sudah cukup kuat untuk dipindahkan (umur 2-3 minggu), tanggalkan polibag secara hati-hati, jangan sampai merusak akar dan media tanam lama.
16. Isilah wadah tetap dengan media tanam serupa sedia sapih hingga mengisi sepertiga bagian wadah, lalu letakkan tanaman beserta tanah lamanya ke dalam wadah tetap.
17. Tambahkan media tanam ke dalam wadah sampai 1 cm di bawah bibir wadah lalu dipadatkan.
18. Lakukan penyiraman setiap hari dan seminggu sekali dipupuk dengan larutan pupuk berdosis satu sendok makan per 20 liter air. Untuk sayuran daun cukup dipupuk N saja, sedangkan untuk sayuran bunga dan buah di pupuk N, P, dan K. Dapat juga ditambah penyemprotan pupuk daun.
19. Apabila terjadi serangan hama dan penyakit, pestisida dapat digunakan sesuai dosis dan frekuensi semprot yang dianjurkan. Namun sebaiknya pemakaian pestisida diupayakan ditekan seminimal mungkin.

20. Lakukan penyiangan rumput liar dan penggemburan tanah secara rutin untuk menjamin kesuburan tanaman. 
(Trubus 296-TH XXV- JULI 1994)

Jumat, 24 Februari 2017

Sayuran Kebun Organik


Back to nature, demikian slogan yang kini sering terdengar di mana-mana. Sayuran pun dituntut bebas pestisida, dan kembali ke budidaya tanpa bahan kinia sama sekali (secara organik).
          Dulu, ketika sayur-sayuran ditanam tanpa semprotan insektisida berbahan kimia konsumen di Jerman dan Amerika tidak heboh. Ketika penyemprotan itu dilakukan timbul bermacam-macam perdebatan antara yang anti pemakaian racun dan yang masih mempertahankannya. Yang pro mengatakan,”Penyemprotan racun serangga mutlak perlu kalau tidak mau hasil kebun merosot karena rusak terserang hama!” Sebaliknya yang anti mengatakan, “Penyemprotan dilakukan dengan cara lain saja yang tidak menggunakan racun kimia!”
Sejauh ini memang belum ada kecelakaan yang mengakibatkan kematian mendadak, kalau makan sayuran beracun.
Di Eropa dan Amerika juga timbul imbauan yang meluas di kalangan konsumen, agar jangan menyemprotkan racun serangga lagi pada sayuran dan buah-buahan berkulit lunak seperti wortel, tomat, melon, kubis.
Tergerak dengan imbauan itu, beberapa petani pekebun beralih berkebun sayur tanpa racun kimia setetes pun. Cara ini kemudian ditiru oleh beberapa pekebun sayur di Pulau Jawa, dengan jenis sayur dan tanaman pendukung yang sesuai dengan lingkungan setempat.

ALAMI
Untuk memberantas ulat, disemprotkan ekstrak biji mimba yang efektif menumpas ulat, larva ulat, dan larva kumbang. Ini digabung dengan menaruh daun-daun mimba di antara barisan tanaman, untuk menghalau ulat yang lolos dari pengaruh penyemprotan. Kadang juga diikuti penyemprotan larutan merica putih pada sayuran yang diserang ulat.
Untuk mencegah kutu Aphis dipakai kertas timah atau aluminium foil yang mengkilap, di antara tanaman. Pantulan sinar matahari yang menyilaukan membuat kutu penghisap tanaman tidak mau mendekat. Apabila masih ada kutu disemprot dengan air sabun, perasan daun pepaya, bawang merah, atau sari daun lantana.
Sebelumnya, pada penanaman bibit sayuran (pindahan dari persemaian), petani organik juga menanam jenis penghalau serangga, di antara barisan tanaman utama, seperti bawang daun, tomat, kenikir, dan jenis lain yang mengeluarkan bau busuk.
Ini semua masih ditambah dengan perlindungan menyeluruh bagi seluruh kebun sayur, berupa pagar keliling dari tanaman yang tidak disukai serangga. Kembang sepatu, lantana, dan beluntas sangat efektif menghalau serangga. Sangat boleh jadi serangga-serangga itu lalu terbang ke kebun tetangga saja yang belum berkebun organik.
Kalau pagar hidup ini belum efektif karena masih muda, dipasanglah tumpukan daun dan batang tanaman sebagai pagar mati. Kulit durian yang busuk, kulit pinang yang menyengat, cincangan batang tembakau yang menusuk hidung, atau daun mimba dan daun mindi  yang pahit. Pagar busuk dan pahit ini juga tidak disukai oleh serangga. Kebun sayur pun selamat dari serbuan serangga-serangga.
Untuk mencegah hama serangga yang lebih permanen, dimanfaatkan jasa-jasa baik para serangga parasit yang memakan serangga dari dalam, seperti kaum penyengat Apanteles plutellae dan Diadegma cerophaga. Mereka bertelur di tubuh ulat kubis, dan larva yang menetas di tengah-tengah daging ulat tinggal menggerogoti saja. Ulat kubis itu mati dari dalam.

PUPUKNYA JUGA  BAHAN ORGANIK
Untuk mempertahankan kesuburan tanah tidak dipakai pupuk kimia buatan pabrik, melainkan bahan organik alami. Sebab, pupuk kimia makin lama makin merusak struktur tanah. Memang hasil tanaman meningkat, tapi tanah makin keras sehingga sukar diolah.
Sebaliknya, tanah yang tetap gembur karena dibari bahan organik seperti pupuk hijau, kompos, dan pupuk kandang, lebih mudah (dan murah) dikerjakan.  Bahan ini diberikan setiap kali mau mulai bertanam. Jumlahnya perlu banyak, karena jumlah N dalam pupuk organik, terutama pupuk hijau, sedikit.
Pupuk hijau diperoleh dari tumbuh-tumbuhan yang sengaja ditanam sebelumnya di tepian kebun atau di petakan khusus dalam kebun. Biasanya digunakan enceng-enceng, orok-orok, lamtoro, kacang-kacangan. Kalau tiba waktunya mengolah tanah menjelang bertanam sayuran, tanaman pupuk hijau itu ditebang untuk dibenamkan seluruh batang dan daunnya dalam tanah. Tanaman kacang-kacangan membentuk bintil akar yang ditebengi bakteri pengikat nitrogen bebas dari udara. Kalau dibenamkan dalam tanah, bintil-bintik akar itu menambah jumlah nitrogen dalam tanah.

PENAMPILAN KURANG MENARIK

Sayuran hasil kebun organik wujudnya kurang menarik. Harga lebih tinggi karena butuh biaya lebih besar untuk menggantikan faktor-faktor yang berbau kimia/buatan sehingga belum ada yang memproduksi secara massal. Namun demikian kalau cara ini diterapkan konsisten dan murni organik, sayuran yang dihasilkan akan lebih aman dikonsumsi. (Slamet Suseno)

Rabu, 02 November 2016

Seni Mengukus Kacang Kulit (Kacang Tanah)

Kacang tanah terakhir hasil panen belakang rumah masih tersisa sedikit. Belum sempat saya memasaknya untuk dibawa ke sekolah. Pada akhirnya, ada beberapa polong yang sempat berkecambah.
Supaya bisa dimanfaatkan, maka saya sesegera mungkin memasaknya. Dan saya memiliki seni mengukus kacang tanah terakhir ini. Kebetulan di dapur ada 6 butir telur ayam kampung. Sayang kalau tak segera dikukus, nanti keburu kadaluwarsa. Setelah kacang tanah dan telur saya cuci, keduanya saya masukkan ke dandang.
Dengan mengukus, maka matangnya lebih cepat dan lebih kesat dibandingkan direbus. Akhirnya matang juga. Malam ini menikmati kacang godhog (enggak digodhog, melainkan dikukus) dan telur ayam kampung untuk menambah stamina setelah sehari tadi sempat kliyeng-kliyeng karena lelah.
Inilah seni mengukus kacang kulit. Sambil merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampau. Sambil menyelam, lihat pemandangan di Umbul Ponggok Klaten (maksudnya di bawah permukaan air). Mengukus kacang kulit dan telur sekaligus, irit gas dan irit waktu.

Karanganyar, 2 Nopember 2016

Rabu, 11 Mei 2016

Hujan Semalam Dan Petir Menggelegar

Bersahabat dengan alam
dok.pri
Semalam hujan turun dengan derasnya. Saya yang terbiasa kalau hujan turun di malam hari bergegas menyelamatkan si Dhenok untuk menyelimuti atau sekedar melongok kamarnya, kali ini tidak. Kantuk benar-benar tak bisa saya tahan. Tapi saya tahu, Dhenok pasti berupaya sedemikian rupa supaya tidak kedinginan dan mematikan kipas anginnya.
Hujan benar-benar deras, sama seperti cerita teman saya sehari sebelumnya. Mojogedang hujan hingga pagi. Dia bersyukur karena sawah mendapatkan air yang melimpah.
Wah, saya juga harus bersyukur. Sawah belakang rumah semoga aman tidak rusak dan stok air cukup. Agar saudara saya yang menggarap sawah kelak waktu panen mendapatkan hasil yang banyak. Dengan demikian kami juga mendapatkan gabah yang sebanding, bukan?
Saya tidak tahu, saat itu jam berapa, terdengar petir menggelegar dan dahsyat. Saya pikir awalnya ada travo di luar yang meledak. Tapi listrik tetap hidup. Berarti suara tadi adalah petir. Mungkin dengan tegangan tinggi mampu menggetarkan rumah dan kaca jendela agak lama.
Si kecil langsung meringkuk. Menutupi telinganya dengan selimut. Sementara tangan satunya memegang lengan saya.
“Takut Mama.”
Saya dekap dia, saya selimuti dengan rapat. Saya berharap tidurnya kembali nyenyak.
00000
Jam tiga pagi, hujan telah reda. Saya tak mendengar sisa rintiknya sama sekali. Saya bangun untuk membuatkan susu si kecil. Lalu menyiapkan diri untuk menyantap nasi sayur sekadarnya, dua butir kurma, 2 buah biscuit  dan teh panas. Saya berharap niat saya untuk mengganti puasa yang saya tinggalkan Ramadhan tahun lalu tidak mendapatkan godaan di sekolah.
Meskipun semalam hujan deras tapi pagi ini saya sudah berkeringat karena udara tidak dingin sama sekali. Malah terasa panas dan sumuk.

Karanganyar, 11 Mei 2016

Kamis, 17 Maret 2016

Panen Padi Penuh Berkah

Gambar 1. Thole Nleser
dok.pri
Ketika Ibu dan Bapak mertua masih ada, tiap panen padi di sawah belakang rumah saya hasilnya lumayan banyak. Ada sekitar 30 karung ikan/pakan ayam. Biasanya setelah diambil beberapa karung untuk persediaan makan sehari-hari, sebagian dijual untuk menutup biaya operasional/produksi dan sebagian disimpan. Gabah kering yang disimpan ini sebagai tabungan, bila sewaktu-waktu membutuhkan uang, tinggal dijual.
Saya dan suami sejak tahun 2002, hidup mandiri. Tinggal di rumah sendiri. Rumah yang dibangun di atas tanah milik mertua. Belakang rumah saya sawah. Kiri, kanan, dan depan rumah juga sawah. Bila musim hujan, nyanyian katak menemani kami. Tikus, kadal, luwing, bahkan ular berbisa juga menemani kami, kadang masuk rumah, Hi… ngeri kalau yang ini.
Saya dan suami sering ditawari beras oleh ibu mertua, tapi saya selalu bilang masih punya. Saya membeli beras sendiri. Meskipun beras di rumah habis, saya akan bilang sudah punya. Kalau suami biasanya mau mengambil beras dari rumah mertua. Akan tetapi kalau Ibu mertua sudah memasukkan beras ke dalam kantong plastic, atau karung gandum, saya tidak menolak. Pasti saya angkut dan dalam hati saya bersyukur, Alhamdulillah gak beli beras, ngirit….
Mengapa kalau sekedar ditawari saya mengatakan di rumah berasnya masih ada? Sebab, saya tidak ingin menjatuhkan wibawa suami. Jangan sampai nanti tetangga Ibu mertua ada yang bilang enak ya, gajinya utuh la wong makannya saja masih disuplai orang tua.
Gambar 2. Nleser, merontokkan padi
dok.pri
Tapi kalau sudah dimasukkan kantong plastic rasanya beda. Kan saya bisa menjawab ke orang-orang tetangga Ibu mertua, saya dipaksa membawa. Soalnya Ibu terlanjur memecah gabah hehe. Kalau beras tidak segera habis, lama-lama bau dan rasanya berubah.
Mulai tahun 2009, sawah belakang rumah praktis dikelola suami dan adik-adiknya (empat bersaudara). Ibu dan Bapak mertua sudah meninggal. Nah, karena kami tak punya latar belakang bertani maka pengelolaan sawah diserahkan pada kerabat, saudara dekat. Sistemnya paroan. Pengelola menyediakan benih, membajak sawah hingga menanam. Untuk pupuk ditanggung pengelola dan keluarga suami. Bila panen tiba, biaya panen ditanggung berdua.
Hasil panen dibawa pengelola untuk dijemur. Keluarga suami tahu beres tinggal membayar ongkos mengeringkan. Saya tidak tahu persis, berapa banyak biaya operasionalnya sebab semua biaya operasional diambilkan dari uang kas keluarga. (Bahasanya uang kas, rada mentereng. Kas ini berasal dari uang sewa lahan-lahan warisan mertua yang belum dibagi. Mertua meninggalkan rumah besar di pinggir jalan. Bagian depan ada semacam kios-kios. Dari kios-kios yang disewakan ini uang kas bertambah. Uang kas yang terkumpul, nantinya akan digunakan untuk biaya balik nama setelah warisan dari mertua dibagi)
Satu tahun biasanya hanya dua kali tanam padi setelah itu tanah dibiarkan menganggur, karena tidak ada air. Rata-rata dalam setahun mendapatkan 44 karung gabah kering (belakang rumah saya Tanami pohon tahunan. Dulu waktu Ibu dan Bapak mertua masih ada, tidak ada pohon tahunannya). Pengelola mendapatkan 22 karung. Keluarga suami mendapat 22 karung. Dari 22 karung ini masing-masing mendapatkan 5,5 karung. Ini lebih dari cukup untuk makan setahun. Alhamdulillah, kami tak kekurangan makan.
Beras yang kami dapatkan kualitasnya bagus, pulen, wangi dan rasanya mantap. Berasnya enak, lauknya enak, makan pun jadi lahap. Semoga apa yang diberikan mertua untuk anak-anaknya menjadi amal. Apa yang diusahakan anak-anak hingga saat ini mendapatkan keberkahan.
Pengelola sawah kami, juga menggarap sawah milik beliau sendiri. Menurut cerita dan pengalaman yang sudah-sudah, sawah milik beliau hasilnya tidak bagus. Ada saja masalahnya, dari padi ambruk, hama wereng, sekarang kena hama walang sangit. Dengan menggarap sawah milik keluarga suami, beliau bisa menikmati jerih payahnya selama di sawah. Minimal menikmati hasil panen sawah yang lain.
Hari Senin yang lalu ketika panen, buruh tebangnya memuji kalau padi sawah kami hasilnya bagus. Padinya tidak ambruk dihempas angin kala hujan deras. Sedangkan sebelah kiri, kanan, dan depan rumah sebagian ambruk.
Semoga Allah senantiasa menitipkan rezeki yang barokah untuk keluarga saya dan keluarga adik-adik suami. Amin.
Karanganyar, 17 Maret 2016