Rabu, 01 Juni 2016

Ada Apa Dengan Keris?

Ada Apa Dengan Keris?
Ilustrasi
Masuk rumah almarhum mertua saya, saya jadi ingat keris yang dimiliki Bapak mertua. Awalnya saya tidak pernah mengira sama sekali akan berada di lingkungan yang berbau mistis. Bahkan ketika pertama kali masuk rumah mertua setelah menikah, perasaan saya sungguh tak enak. Apalagi di depan rumah ada kijing yang berjajar rapi, di dalam rumah terdapat kotak peti mati yang jumlahnya tak sedikit. Benar-benar membuat saya merinding. Tidak pernah saya duga sama sekali.
Tiap malam kalau saya mau ke kamar kecil, saya harus membangunkan suami. Pokoknya hati saya deg-degan. Ketika malam-malam ada yang ketok pintu, lalu terlihat beberapa orang laki-laki memesan peti mati, kain kafan dan lain-lain, saya selalu merinding. Saya membutuhkan waktu beberapa bulan untuk menyesuaikan diri, mengumpulkan keberanian untuk sekedar menatap peti mati yang berada di dalam rumah pada malam hari. Maklum, mertua saya jualan peti mati, kain kafan dan uba rampenya.
Setiap malam jumat, saya selalu mencium aroma kembang. Pagi harinya saya lihat air kembang disiramkan ke halaman samping rumah. Lama-kelamaan saya terbiasa dengan keadaan yang sebenarnya bagi saya teramat asing. Jauh berbeda dengan suasana rumah Bapak saya di Yogyakarta. Akhirnya saya harus berdamai dengan lingkungan seperti itu.
Suatu ketika, Bapak mertua saya kedatangan tamu. Entahlah, saya tak tahu maksud kedatangan tamu tersebut. Yang saya tahu, Bapak mertua mengambil keris dari kamar beliau. Di hadapan sang tamu, keris dikondisikan berdiri. Konon kabarnya, keris tersebut ada isinya (jin), dan nyatanya keris tersebut berdiri tegak. Setelah itu saya tak lagi memperhatikan hal berikutnya. Ternyata Bapak mertua memiliki beberapa keris. Keris-keris tersebut mendapatkan perlakuan khusus (mungkin juga jamasan, saya tak begitu paham).  
Ketika Bapak mertua meninggal, satu dari keris yang dimiliki diminta Pakde (kakak dari Bapak mertua). Keris yang lain tetap berada di rumah. Ibu mertua menyimpannya. Tiga tahun setelah Bapak mertua meninggal, Ibu mertua meninggal karena sakit tumor limfa stadium lanjut.
Suami dan adik-adiknya berembuk tentang siapa yang akan membawa keris milik almarhum Bapak mertua. Kata orang-orang, keris yang ada penghuninya biasanya akan mencari tuannya. Dia (keris tersebut) akan kerasan tinggal di mana. Saya bilang pada suami, nggak usah bawa keris kalau nanti malah repot harus memperlakukan keris tersebut. Menurut isteri adik ipar saya yang Bapaknya dulu memiliki keris, begitu Bapaknya meninggal, kerisnya dilarung.
Ternyata adik suami yang ragil mau membawa keris tersebut. Akhirnya keris tadi menemukan tuannya. Ada keris yang dibawa teman adik ipar, namun akhirnya dikembalikan. Alasannya tidak kuat. Maksud dari tidak kuat adalah berat konsenkuensinya. Akhirnya adik ipar merawat semua keris yang tersisa milik alm Bapak Mertua.
00000
Sore tadi saya bertanya pada suami tentang keris. Setahu saya, kalau Guru memakai pakaian beskap jangkep selalu kerisnya juga dipakai. Dan saya pernah tahu kalau suami membawa keris.
“Yah, Ayah menyimpan keris tidak?”
“Apaan? Tidak punya keris. Semua dibawa Om Arif.”
“Kalau pakai beskap jangkep itu kan pakai keris juga.”
“Itu Cuma pinjam milik teman. Memang kenapa, kok tiba-tiba Mami tanya tentang keris?”
“Mau buat artikel tentang keris. Arep tak foto.”
“Ambil gambar dari Google saja.”
Akhirnya saya memutuskan menulis dulu sampai selesai sambil sesekali melongok kamarnya Faiq. Kebiasaan Faiq kalau belajar sambil mendengarkan lagu atau buka-buka internet.
Keris, ada apa denganmu? Kok saya tiba-tiba pingin nulis tentang keris?

Karanganyar, 1 Juni 2016