Rabu, 29 Juni 2016

Bukber, Gaya Hidup dan Pemborosan

Nasi Bandeng Seribu Rupiah
dok.pri
Bukber, Gaya Hidup dan Pemborosan
Sekarang sedang ngetren acara bukber. Dari anak-anak hingga orang dewasa, dari semua kalangan tidak asing dengan bukber tersebut. Bukber atau berbuka puasa bersama ini memiliki nilai positif, tetapi juga ada kekurangannya. Kebaikannya adalah sarana mempererat tali ukhuwah, mempererat tali silaturahmi, berempati dan berbagi dengan sesama. Sisi keurangannya juga ada misalnya ajang pamer, tidak bersegera (menunda-nunda) shalat fardhu, berlebih-lebihan.
Sudah tiga kali saya mengikuti acara bukber di sekolah (untuk Ramadan tahun ini setiap hari Kamis) diawali berdoa bersama yang merupakan rangkaian dari pelaksanaan penerimaan peserta didik baru. Saya tidak mempermasalahkan acara doa bersama ini. Ternyata teman-teman saya juga sependapat dengan saya. Acara berdoa bersama dilanjutkan dengan berbuka puasa bersama ini penggunaan/pengaturan waktunya tidak pas.
Setelah azan maghrib berkumandang, kami berbuka puasa langsung dilanjutkan dengan evaluasi dan pembahasan tentang penerimaan peserta didik baru. Ini yang keliru. Seharusnya kami berbuka dengan minum secukupnya dan makan satu kudapan saja lalu shalat maghrib berjamaah dahulu. Setelah shalat barulah mengadakan evaluasi. Teman-teman banyak yang bersungut-sungut, kami inginnya bersegera sementara yang memiliki hajat malah terkesan mengulur waktu dan bertele-tele.
Bukber di sekolah ini tidak makan besar, hanya kudapan saja. Setelah bukber selesai, saya tidak ikut shalat berjamaah di sekolah. Saya izin langsung pulang. Sebagai seorang perempuan, saya sudah meninggalkan keluarga untuk acara ini, meninggalkan suami dan anak-anak di rumah. Belum lagi jalur yang saya lewati dari sekolah sampai rumah sedikit rawan. Bisa dibayangkan, seorang perempuan pada malam hari, naik sepeda motor sendiri di jalan yang sepi. Rasanya ngeri saja. Saya hanya berdoa semoga saya selamat sampai di rumah.
Karena acara doa bersama dan bukber ini pula, acara mudik saya jadi ikutan tertunda. Menghadiri acara doa bersama dan bukber hukumnya adalah wajib. Dahulu saya pernah usul, doa bersama dilakukan pada siang hari setelah jam kantor saja. Supaya saya bisa dengan nyaman keluar rumah. Tapi usul saya tidak disetujui. Sebenarnya ada alasan mengapa saya tidak setuju doa bersama pada sore hari, sebab kalau sudah berada di rumah si kecil rewel bila saya tinggal. Nggak tega saya bila melihat si kecil menangis meraung-raung.
Sebenarnya saya tak begitu suka dengan acara bukber di luar rumah. Bukber di luar rumah akan banyak membuang waktu dan tenaga. Kalau soal uang mungkin tak begitu saya permasalahkan. Tahun yang lalu pernah diadakan bukber sambil membahas program sekolah. Bukber diadakan di rumah makan lesehan. Kebetulan rumah makan tersebut termasuk salah satu rumah makan favorit untuk bukber.
Antrinya lama padahal sudah berpesan jauh hari. Rumah makan padat berisi pelanggan. Acara pembahasan program sekolah bertele-tele, ngaya wara. Dan, menu buka puasa yang dihidangkan saya nilai terlalu berlebihan. Saya masih ingat betul. Katakanlah, yang datang di acara bukber 20 orang. Mulai dari minuman ada teh panas, es teh, jeruk hangat dan es jeruk jumlahnya lebih dari dua kali jumlah peserta bukber. Hidangan pembuka berupa kolak, jumlahnya lebih dari jumlah peserta bukber. Demikian juga es buahnya.
Untuk makan beratnya, nasi, lalapan dan sambel dengan beraneka macam lauk. Lele bakar, kakap bakar, bebek goreng, ayam goreng, yang jumlahnya sangat berlebihan. Sampai-sampai setiap orang bisa mencicipi keempat lauk tersebut. Setelah selesai acara ternyata makanan yang tersisa jumlahnya melebihi jumlah perserta. Benar-benar berlebihan. Apakah ini yang dinamakan menghambur-hamburkan uang?
Lantas bagaimana shalat maghribnya? Shalat maghribnya mepet waktu, tempatnya terbatas dan rasanya tidak nyaman dan khusyu. Bagaimana mungkin bisa khusyu kalau peserta bukber di rumah makan tersebut sangat “meramaikan” suasana dengan bicara kenceng-kenceng.
Saya tidak pernah memanfaatkan kondisi semacam ini dengan semangat aji mumpung. Bagi saya secukupnya saja. Ketika saya diminta membawa makanan yang masih ada, saya menolak. Saya hanya membawa es jeruk dan sambal (untuk melegakan saja). Pikiran saya, saya harus segera sampai rumah lalu menjalankan shalat maghrib. Kalau pulangnya terlalu malam, saya takuttttt. Itu saja teman-teman bertanya,”Piye wani ora mulihe?” “Dipeksa wani, sing penting ndang tekan omah.”

Sangat kontras keadaannya dibandingkan dengan ketika saya diajak suami berbuka puasa di Matesih hari Jumat yang lalu. Minumnya teh panas gelas kecil, si Thole susu panas, makan nasi bungkus, nasi sambal bandeng dan nasi oseng, lauknya bakwan, tempe dan tahu. Bertiga menghabiskan enam belas ribu lima ratus rupiah saja. Oh ya, nasi bandeng dan nasi oseng harganya seribu rupiah. Nasinya hanya dua sendok saja. Hemat bukan? Berpuasa memang untuk menahan segala-galanya. Bisa saja saya dan suami membeli makanan yang lebih dari itu. Pertanyaannya, buat apa?