Tampilkan postingan dengan label ramadhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ramadhan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Juni 2017

Libur Akhir Puasa


Bagi saya dan teman-teman guru, libur akhir puasa adalah saat yang ditunggu-tunggu. Dua tahun yang silam, bagi kami libur akhir puasa tetap saja kami suka cita kalau piket di sekolah. Berbeda dengan dua tahun terakhir. Kami ingin secepatnya libur dan masuk sekolah lagi sesuai jadwal yang telah ditentukan pemerintah.

Ada sesuatu yang membuat kami ingin menikmati libur akhir puasa, yakni ingin melepaskan penat saja. Sebelum bulan puasa tiba hingga tiga minggu puasa telah kita jalani, kami harus lembur-lembur di sekolah. Bahkan saya selama itu tidak mengurus anak-anak.

Begitu ketua guru memberitahukan libur, hati kami plong. Komunikasi kami (sesama guru dan karyawan) lakukan lewat WA dan kami tetap merasa dekat satu sama lain. Hingga akhirnya lebaran tiba.

Hari terakhir puasa, saya, suami dan si kecil melakukan perjalanan mudik ke kampung halaman (Yogyakarta). Setelah asar kami berangkat. Perjalanan sore hari memang mengasyikkan. Cuaca tidak terlalu panas. Kecepatan sepeda motor juga alon-alon waton klakon.
Sampailah kami di perbatasan Klaten dan Prambanan. Kami singgah di Rumah Makan Minang Masakan Padang. Bagi saya dan suami, masakan padang adalah menu yang netral. Dan rasanya juga tidak mengecewakan.

Kami melanjutkan perjalanan. Sampai di Janti, kami tidak belon ke kiri, melainkan lurus. Benar-benar perjalanan yang tidak saya duga, sebab kami lewat Tugu Yogyakarta ke barat (perempatan Pingit).

Alhamdulillah, kami benar-benar terhindar dari macet. Ini semua berkat suami yang bisa membaca kondisi jalanan. Akhirnya sampailah di rumah Ibu dan Bapak. Saat itu azan Isya berkumandang.
00000
Kebetulan saya dan adik saya yang tinggal di Rejodani tiba di rumah Ibu hampir bersamaan. Bapak langsung membuatkan kami minuman kesukaan yaitu teh panas.

Ada yang harus adik saya lakukan mala mini, yakni mencarikan obat buat Ibu. Ibu memang rutin mengkonsumsi obat darah tinggi. Kebetulan dua hari sebelumnya obat sudah habis, padahal dokter langganan sudah cuti. Adik saya berusaha mencarikan obat di apotek. Hanya saja, bungkus obat tidak utuh, jadi nama obatnya tidak begitu jelas. Menurut apotekernya, obat tersebut adalah XYZ. Di apotek tersebut XYZ tidak ada. Obat lain yang khasiatnya sama dengan XYZ memang ada (beda pabrik). Tidak mau ambil resiko, adik saya tidak jadi membeli obat di apotek buat Ibu.

Kami menuju PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Adik dan ipar saya biasa memeriksakan Ibu secara rutin di PKU. Berharap semua bisa teratasi, kami optimis mendapatkan obat. PKU Muhammadiyah, tidak jauh dari rumah kami. Tapi kami tetap saja tidak bisa lancar jaya untuk sampai PKU. Mengapa demikian? Malam takbiran di Yogyakarta memang beda. Jalan raya macet saat takbir keliling, itu hal biasa. Dan kami kena macet. Kami harus sabar menunggu peserta takbir keliling yang melakukan atraksi. Bosan, tidak sabar, marah-marahkah kami? Tidak! Kami menikmati macet, kami menikmati atraksi tersebut setelah sampai di PKU Muhammadiyah, Jl. Kauman.

Menunggu proses untuk mendapatkan obat yang tidak sebentar, tak terasa perut keroncongan dan haus. Oi, di seberang jalan ada penjaja wedang ronde. Dengan semangat, Faiq dan keponakan saya menyeberang jalan untuk mendapatkan wedang ronde. Hasilnya zonk, wedang ronde habis. Nasib kami!

Perjalanan pulang dari rumah sakit menuju rumah dibuat hepi. Mampir dulu di angkringan untuk mendapatkan teh panas. Alhamdulillah, plong rasanya. Sampai di timur Bugisan, ternyata ada barisan takbir keliling dari kampung Suryowijayan. Lumayan panjang, dari timur perempatan Bugisan sampai Pojok Beteng Kulon. Padahal sudah jam sepuluh lebih. Mereka tetap semangat. Anak-anak, remaja dan dewasa berbaur. Masya Allah, luar biasa! Inilah Yogyakarta. Inilah hari terakhir bulan Ramadhan. Besok pagi kita akan melakukan shalat Idulfitri.

Karanganyar, 30 Juni 2017

Rabu, 29 Juni 2016

Bukber, Gaya Hidup dan Pemborosan

Nasi Bandeng Seribu Rupiah
dok.pri
Bukber, Gaya Hidup dan Pemborosan
Sekarang sedang ngetren acara bukber. Dari anak-anak hingga orang dewasa, dari semua kalangan tidak asing dengan bukber tersebut. Bukber atau berbuka puasa bersama ini memiliki nilai positif, tetapi juga ada kekurangannya. Kebaikannya adalah sarana mempererat tali ukhuwah, mempererat tali silaturahmi, berempati dan berbagi dengan sesama. Sisi keurangannya juga ada misalnya ajang pamer, tidak bersegera (menunda-nunda) shalat fardhu, berlebih-lebihan.
Sudah tiga kali saya mengikuti acara bukber di sekolah (untuk Ramadan tahun ini setiap hari Kamis) diawali berdoa bersama yang merupakan rangkaian dari pelaksanaan penerimaan peserta didik baru. Saya tidak mempermasalahkan acara doa bersama ini. Ternyata teman-teman saya juga sependapat dengan saya. Acara berdoa bersama dilanjutkan dengan berbuka puasa bersama ini penggunaan/pengaturan waktunya tidak pas.
Setelah azan maghrib berkumandang, kami berbuka puasa langsung dilanjutkan dengan evaluasi dan pembahasan tentang penerimaan peserta didik baru. Ini yang keliru. Seharusnya kami berbuka dengan minum secukupnya dan makan satu kudapan saja lalu shalat maghrib berjamaah dahulu. Setelah shalat barulah mengadakan evaluasi. Teman-teman banyak yang bersungut-sungut, kami inginnya bersegera sementara yang memiliki hajat malah terkesan mengulur waktu dan bertele-tele.
Bukber di sekolah ini tidak makan besar, hanya kudapan saja. Setelah bukber selesai, saya tidak ikut shalat berjamaah di sekolah. Saya izin langsung pulang. Sebagai seorang perempuan, saya sudah meninggalkan keluarga untuk acara ini, meninggalkan suami dan anak-anak di rumah. Belum lagi jalur yang saya lewati dari sekolah sampai rumah sedikit rawan. Bisa dibayangkan, seorang perempuan pada malam hari, naik sepeda motor sendiri di jalan yang sepi. Rasanya ngeri saja. Saya hanya berdoa semoga saya selamat sampai di rumah.
Karena acara doa bersama dan bukber ini pula, acara mudik saya jadi ikutan tertunda. Menghadiri acara doa bersama dan bukber hukumnya adalah wajib. Dahulu saya pernah usul, doa bersama dilakukan pada siang hari setelah jam kantor saja. Supaya saya bisa dengan nyaman keluar rumah. Tapi usul saya tidak disetujui. Sebenarnya ada alasan mengapa saya tidak setuju doa bersama pada sore hari, sebab kalau sudah berada di rumah si kecil rewel bila saya tinggal. Nggak tega saya bila melihat si kecil menangis meraung-raung.
Sebenarnya saya tak begitu suka dengan acara bukber di luar rumah. Bukber di luar rumah akan banyak membuang waktu dan tenaga. Kalau soal uang mungkin tak begitu saya permasalahkan. Tahun yang lalu pernah diadakan bukber sambil membahas program sekolah. Bukber diadakan di rumah makan lesehan. Kebetulan rumah makan tersebut termasuk salah satu rumah makan favorit untuk bukber.
Antrinya lama padahal sudah berpesan jauh hari. Rumah makan padat berisi pelanggan. Acara pembahasan program sekolah bertele-tele, ngaya wara. Dan, menu buka puasa yang dihidangkan saya nilai terlalu berlebihan. Saya masih ingat betul. Katakanlah, yang datang di acara bukber 20 orang. Mulai dari minuman ada teh panas, es teh, jeruk hangat dan es jeruk jumlahnya lebih dari dua kali jumlah peserta bukber. Hidangan pembuka berupa kolak, jumlahnya lebih dari jumlah peserta bukber. Demikian juga es buahnya.
Untuk makan beratnya, nasi, lalapan dan sambel dengan beraneka macam lauk. Lele bakar, kakap bakar, bebek goreng, ayam goreng, yang jumlahnya sangat berlebihan. Sampai-sampai setiap orang bisa mencicipi keempat lauk tersebut. Setelah selesai acara ternyata makanan yang tersisa jumlahnya melebihi jumlah perserta. Benar-benar berlebihan. Apakah ini yang dinamakan menghambur-hamburkan uang?
Lantas bagaimana shalat maghribnya? Shalat maghribnya mepet waktu, tempatnya terbatas dan rasanya tidak nyaman dan khusyu. Bagaimana mungkin bisa khusyu kalau peserta bukber di rumah makan tersebut sangat “meramaikan” suasana dengan bicara kenceng-kenceng.
Saya tidak pernah memanfaatkan kondisi semacam ini dengan semangat aji mumpung. Bagi saya secukupnya saja. Ketika saya diminta membawa makanan yang masih ada, saya menolak. Saya hanya membawa es jeruk dan sambal (untuk melegakan saja). Pikiran saya, saya harus segera sampai rumah lalu menjalankan shalat maghrib. Kalau pulangnya terlalu malam, saya takuttttt. Itu saja teman-teman bertanya,”Piye wani ora mulihe?” “Dipeksa wani, sing penting ndang tekan omah.”

Sangat kontras keadaannya dibandingkan dengan ketika saya diajak suami berbuka puasa di Matesih hari Jumat yang lalu. Minumnya teh panas gelas kecil, si Thole susu panas, makan nasi bungkus, nasi sambal bandeng dan nasi oseng, lauknya bakwan, tempe dan tahu. Bertiga menghabiskan enam belas ribu lima ratus rupiah saja. Oh ya, nasi bandeng dan nasi oseng harganya seribu rupiah. Nasinya hanya dua sendok saja. Hemat bukan? Berpuasa memang untuk menahan segala-galanya. Bisa saja saya dan suami membeli makanan yang lebih dari itu. Pertanyaannya, buat apa?

Minggu, 26 Juni 2016

Menjelang Lebaran Dapat Rezeki Nomplok (#2)

Siap Panen, Semakin Merunduk
dok.pri
Menjelang Lebaran Dapat Rezeki Nomplok (#2)
Anak perempuan sudah diantar ke rumah Ibu (Yogyakarta). Saya sudah mulai beres-beres rumah, beres-beres yang ada kaitannya dengan dunia menulis, si kecil bukannya beres-beres melainkan menyebarluaskan mainannya sampai di mana-mana. Tidak apa-apa, yang penting tidak bermain di luar.
Saya mengambil dompet besar, biasanya berisi nota atau kuitansi pembayaran. Saya membuka dompet pelan-pelan, takutnya ada kertas atau uang kertas yang nyangkut di retsleting. Alhamdulillah, persediaan uang saya masih aman. Untuk belanja sampai akhir bulan masih ada. Kalau tidak cukup, masih ada uang recehan milik Dhenok yang disimpan di wadah plastik. Bisa dipinjam dulu, nanti bilang ke Dhenok belakangan.
Di sekolah ada rezeki datang tanpa permisi. Lumayan, dapat SHU koperasi dan saham koperasi yang sudah dikembalikan (saya keluar dari keanggotaan koperasi). Begitu terima uang, pikiran saya bukan buru-buru ingin ke swalayan atau ke mall. Saya langsung membayangkan berada di Pegadaian untuk investasi lagi. Soalnya kalau dipegang dalam bentuk uang tidak bakal bertahan satu minggu.
Ada lagi rezeki nomplok lainnya yaitu uang transport masuk kantor. Jumlahnya lumayan untuk membeli gula pasir yang kabarnya harganya selangit. Alhamdulillah, masih bisa minum manis, tak perlu terlalu manis. Uang transport tadi juga bisa untuk membeli bensin beberapa ember.
Uang transport kalau saya bawa pulang memang bisa untuk membeli bensin atau gula. Tetapi saya sengaja tidak membawa pulang uang transport. Uang transport sengaja saya simpan di dalam laci meja dengan anak kunci nomor sekian. Uang transport tersebut menyimpan cerita unik dan kenangan yang indah, maka saya tak akan menggunakannya untuk belanja. Bukan saya sok kaya tak butuh uang, bukan itu maksud saya.
Menjelang lebaran ini, saya juga sudah mendapatkan kabar berita dari alam. Walah, apa ya? Alam telah menghembuskan kabar baik. Padi di belakang rumah sudah mulai merunduk, sebentar lagi menguning lalu panen. Nah, ini adalah rezeki yang saya tunggu-tunggu dari pertanian. Semoga panen pada MT II baik sebab air untuk sawah masih cukup. Ini bagian rezeki dari hujan di bulan Juni. Hasil panen MT I kemarin gabah dan berasnya masih ada, untuk membayar zakat masih cukup.

Bersyukur dan sabar, itulah yang selalu saya ungkapkan setelah mendapatkan nikmat. Apalagi saya, suami dan anak-anak masih diperkenankan menggunakan nikmat kesehatan untuk beribadah pada Ramadan kali ini.

Jumat, 17 Juni 2016

Sedekah Berbuka Puasa Bersama Seorang Gadis Buat Teman-temannya

Faiq with friends
dok.pri
Siang itu seorang gadis menelepon Ibunya. Dia minta untuk dipesankan lauk dalam jumlah besar. Oleh karena sang Ibu akan menunaikan ibadah shalat zuhur, maka telepon segera dimatikan.

Akhirnya Ibu-anak tersebut bertemu di warung ayam bakar tak jauh dari kota.
“Sudah pesan?”tanya Ibu
“Belum.”
“Teman-teman iurannya berapa rupiah per anak?”
“Tidak iuran. Ibu kemarin mau mengundang teman-teman untuk berbuka puasa bersama. Kali ini kami mau berbuka puasa di rumah teman. Aku sudah menyanggupi membawa ayam bakarnya.”

Ibunya paham setelah anaknya menjelaskan maksudnya. Gadisnya berencana untuk mengadakan bukber di rumah temannya. Temannya akan menyediakan nasi dan minumannya. Sedangkan si gadis menyediakan lauknya untuk 30 orang. Anak-anak SMA tersebut mengadakan bukber di hari Jumat terakhir pertemuan mereka, sebab hari Sabtu mereka akan terima rapor. Setelah terima rapor, mereka libur 1 bulan.

Selain makan dan minum, iuran yang jumlahnya kecil khusus untuk membuat es buah dan mungkin kudapan ala kadarnya. Si gadis sudah tahu kebiasaan kedua orang tuanya yang sering mengadakan bukber untuk murid-muridnya. Kali ini si gadis minta sedikit perhatian, sedikit sedekah yang akan dikeluarkan pada Ramadan tahun ini.

Siapa tahu semua bisa dipakai untuk pembelajaran. Bagaimanapun pedidikan diajarkan lewat contoh, bukan hanya lewat ceramah. Si gadis berharap, dengan bukber semacam ini akan banyak membawa hikmah. Bandingkan bila bukber dilakukan di rumah makan. Sekarang sedang marak bukber di rumah makan, di tempat-tempat lesehan, di resto atau di mana saja.


Bukber di rumah salah satu siswa akan menjalin keakraban, anak-anak juga mengenal keluarga teman-temannya. Sedekah yang dikeluarkan orang tua, juga merupakan sedekah bagi anak-anaknya. Semoga Allah senantiasa menitipkan rezeki yang barokah untuk orang-orang yang mengeluarkan sedekah di bulan Ramadan. Baik memdapatkan pahala secara estafet maupun pahala untuk dirinya sendiri.

Kamis, 16 Juni 2016

Lebih Produktif Menulis Saat Bulan Ramadan

Komunitas Nulis Yang Ngompori
dok.pri
Dahulu ketika masih menjadi mahasiswa bila Bulan Ramadan tiba, aktivitas saya di masjid sangat padat. Sebagai remaja masjid, wajar bila ingin memakmurkan masjid. Tidak hanya saat Ramadan, tetapi di bulan lain juga demikian.

Beruntung, saya bisa membagi waktu. Kegiatan di masjid dengan kuliah bisa seiring sejalan. Memang kegiatan di masjid selama Ramadan banyak dan bisa menambah nilai pahala. Pada saat Ramadan, remaja masjid berlomba-lomba untuk memakmurkan masjid.

Sangat disayangkan, saya tidak pernah mendokumentasikan kegiatan bulan Ramadan dalam buku harian. Semua berjalan begitu saja. Sebenarnya bila semua kegiatan dituliskan, tentu sangat bermanfaat.

Ya, yang lalu biarlah berlalu. Sekarang saya mulai tertib diri merekam semua kegiatan di buku harian (berupa file). Oleh karena sekarang sudah memiliki 2 anak yang perlu pengawasan, saya fokus untuk ibadah dan mengawasi anak-anak.

Bila kegiatan sehari-hari sebagai perempuan yang harus “serba bisa” sudah selesai, saya kembali menekuni menulis. Pada bulan Ramadan ini saya tetap harus bisa menghasilkan tulisan. Saya berusaha untuk membuat tulisan yang lebih baik dari sebelumnya.

Dengan cara mengikuti lomba penulisan (giveaway), saya berharap tulisan saya semakin berbobot dan berkualitas. Yang berbobot ternyata bukan hanya yang gemuk-gemuk lo. Hehe…

Tantangan yang harus saya taklukkan adalah bila persyaratan dalam lomba penulisan tersebut banyak dan bikin saya patah semangat. Contoh kalau syarat lomba harus dengan follow, like, (akun atau fanpage), awalnya saya akan bilang lahhh syaratnya uakih men. Tapi saya tetap harus mencoba. Gara-gara mau menaklukkan syarat yang seabrek, Alhamdulillah saya bisa mendapatkan uang dan barang karena memenangkan giveaway. Ternyata usahakeras saya bisa menghasilkan uang. (ya… edisi matrenya muncul).

Selama Ramadan ini, saya berkomitmen akan menyirami blog dan membersihkan rumput dan lumut. Agar blog saya juga enak dipandang, terus ada tamu yang berkunjung ke blog saya. Hanya, blog saya masih mendompleng. Saya belum punya rumah pribadi. Akan tetapi tamu-tamu saya juga sudah pada tahu alamat rumah kontrakan saya ini.


Semoga saya bisa konsisten dengan satu hari satu artikel. Lebih bersyukur lagi kalau bisa nulis satu hari 2 artikel selama Ramadan. Tetap semangat, tetap produktif, Ramadan tidak bisa dijadikan alasan untuk bermalas-malasan.

Nasi Aking dan Nasi Setengah Matang Untuk Berbuka Puasa

Makanan Pokok Nasi
dok.pri
Dalam seminggu ini, saya harus rela berbuka puasa dengan nasi yang luar biasa artinya di luar kebiasaan. Pertama berbuka dengan nasi setengah kering (sebagian yang kering saya sisihkan). Ada alasan mengapa saya tiba-tiba harus makan nasi tersebut. Yang kedua berbuka dengan nasi belum matang.

Berbuka dengan nasi setengah kering (nasi aking)
Hari itu sepulang dari penitipan, biasanya Faiz minta makan terlebih dahulu lalu tidur. Kali ini Faiz minta mandi lantas tidur. Saya tidak terlalu repot, karena dengan Faiz tidur saya bisa mengerjakan segala sesuatunya.

Suami hari itu repot rapat kelulusan untuk kelas IX, dan menerima tamu wali murid yang akan menerima surat kelulusan tersebut. Oleh karena sampai sore, dugaan saya adalah berbuka puasa di sekolah. Sampai jam lima lebih suami belum pulang.

Di rumah saya sudah menyiapkan segalanya untuk berbuka puasa dengan Faiq. Rasanya sudah beres semua. Waktunya azan maghrib, saya dan Faiq langsung berbuka dengan minum teh hangat. Setelah itu saya mengambil piring lalu membuka mejikom. Saya terbelalak, kaget, hah. Ternyata nasinya tinggal sedikit dan setengah kering. Saya bilang ke Faiq,”Nok, nasinya kering. Ternyata tinggal sedikit.”

Kata Faiq yang penting makan sop saja. Makan nasinya belakangan juga tidak apa-apa. Lantas saya mengirim pesan sms pada suami. “Nasi habis, tolong belikan nasi”. Sebentar kemudian suami datang. Dia belum berbuka puasa. Dia memberikan satu kardus kecil berisi kudapan dan satu kardus besar berisi bermacam-macam Roti Kecil.

“Ayah, tidak beli nasi?”
“Tidak.”
“Lahhhhh, sms- ku nggak dibaca.”
“Rapapa. Ngliwet dhisik.”

Saya ceritakan, ternyata kita tak punya nasi. Biasanya kalau pagi hari nasinya tinggal sedikit, mejikom dimatikan lalu nasi diberikan pada ayam-ayamnya Faiz. Pagi tadi Ayah memberi pakan kering. Saya pikir nasi di mejikom masih banyak, soalnya petugas mematikan mejikom adalah Ayah. Tetap bersyukur, masih ada makanan lain untuk berbuka puasa. (tak perlu mengeluh, pada hari-hari biasa banyak loh orang yang kelaparan)

Berbuka dengan Nasi Belum Matang
Kemarin siang sampai sore listrik mati. Aktivitas yang ada kaitannya dengan sumber arus macet, termasuk menanak nasi. Alhamdulillah, jam lima kurang seperempat listrik hidup. Saya bergegas menanak nasi dengan mejikom. Lalu saya meninggalkan rumah untuk membeli sop galantin. Kebetulan suami membawakan pulang lauk dari sekolah.

Di perjalanan listrik mati lagi. Sampai di rumah gelap semua. Saya mengambil lilin lalu menyalakannya. Saya membuka mejikom. Alhamdulillah, ternyata nasi belum matang. Jadilah kami makan nasi belum matang. Tetap bersyukur, masih ada makanan lain untuk berbuka puasa.


Sukses berbuka puasa hingga Isya belum menyala/hidup listriknya. Akhirnya saya tertidur setelah shalat Isya. Ketika hampir jam setengah Sembilan saya bangun, ternyata lampu sudah menyala. Saya mau menulis agak malas, biasanya kalau hujan-hujan seperti kemarin listrik mati hidup mati hidup. Daripada nanti di tengah perjalanan menulis, listrik kembali mati lebih baik nulisnya saya tunda.

Selasa, 07 Juni 2016

[Vonis Tumor Limfa] Maafkan Kami Yang Telah Berbohong Pada Kalian

Ayo, semangat
dok.Faiqah Nur Fajri
Maafkan kami, saya dan kakakmu yang telah berbohong dan menyembunyikan ini bertahun-tahun. Semua untuk kebaikan Ibu yang waktu itu masih sugeng, menjalani hari-harinya setelah divonis menderita tumor limfa. Maafkan kami, kenapa kami tak berterus terang. Kami tidak tega melihat wajah-wajah kalian akan berubah setelah tahu yang sebenarnya.

Waktu itu saya dan kakakmu tetap bisa tersenyum dan memberi semangat pada Ibu. Masih ingatkah kalian ketika Ibu menderita tumor limfa? Pasti, saya yakin pasti ingat dan itu tak mungkin kita lupakan.

Sebenarnya jauh sebelum Bapak mertua meninggal, Ibu yang selama itu dikenal kuat tiba-tiba sakit (tak berdaya). Waktu itu dokter mengatakan sakit Bronkhitis dan sakit perut. Beberapa tahun kemudian, setelah Bapak meninggal, perut Ibu sakit lagi, kambuh. Setelah berobat, kondisi Ibu membaik. Tapi lama-kelamaan frekuensi sakitnya semakin sering. Bahkan kalau tidak minum obat sakitnya tiada tertahan.

Akhirnya suami berinisiatif membawa Ibu cek darah (total) dan USG. Dari hasil lab, Ibu ternyata mengidap tumor. Waktu itu, Ibu dan adik ipar berada di luar ruang dokter. Hanya suami yang diajak berbicara dengan dokter spesialis penyakit dalam, suami akhirnya berkonsultasi sampai tuntas. Sepulang dari periksa, Ibu istirahat. Di ruang tamu ada saudara-saudara dari keluarga Ibu dan Bapak.

Suami memberi isyarat pada saya untuk menjauh dari mereka.
“Mami, Ibu menderita tumor dan harus segera berobat ke rumah sakit. Mungkin biayanya tidak sedikit.  Menurutmu bagaimana?”
“Yah, harta benda yang kamu miliki semua milik orang tuamu. Seandainya semua kauberikan untuk beliau itu belum seberapa, belum bisa membalas Ibu dari ketika Ayah bayi sampai sekarang. Sudah menjadi kewajibanmu mengobatkan Ibu.”

Suami menggenggam tangan saya, matanya berkaca-kaca, memandang saya dan mengucapkan terima kasih. Apakah ada yang aneh dengan ucapan saya waktu itu? Rasanya tidak, menurut saya itu biasa.

Pagi harinya, Ibu masuk rumah sakit dan opname. Lebih dari satu minggu Ibu berada di rumah sakit. Setelah menjalani biopsy dan lain-lain, dokter mengatakan bahwa Ibu menderita tumor limfa ganas tidak lagi pada stadium I atau II.

Suami yang diajak berdiskusi dengan dokter minta pendapat dokter seandainya tidak dioperasi bagaimana? Soalnya Ibu sudah stress dulu divonis tumor dan tidak mau menjalani operasi. Maka suami diminta untuk menyampaikan pada siapa pun termasuk Ibu dengan mengatakan penyakit Ibu cukup diobati (kemoterapi), tidak perlu menjalani operasi karena letak tumor posisinya sangat tidak menguntungkan (mana ada penyakit yang menguntungkan?). Ada dampak yang lebih besar bila operasi dilakukan.

Akhirnya Ibu hanya diberi obat dan menjalani kemoterapi. Kemoterapi dilakukan setiap tiga minggu sekali. Efek dari kemoterapi yang saya lihat dari Ibu adalah nafsu makan menurun, rambut rontok (dalam setahun, kepala gundul), kuku menghitam dan jari-jari kaku sulit digerakkan.

Lebih dari delapan kali Ibu menjalani kemoterapi di rumah sakit. Setelah kemoterapi terakhir dilakukan, Ibu tak lagi semangat seperti hari sebelumnya. Waktu opname terakhir, saya dan suami bekerja, jadi yang menunggu Ibu adalah adik suami yang nomor 2. Adik ipar bilang bahwa tumor yang diidap Ibu sudah stadium lanjut. (sebenarnya sejak awal saya dan suami sudah tahu, Ibu mengidap tumor ganas, kemungkinan untuk sembuh kecil).

Akhirnya Ibu tahu juga bahwa penyakitnya sudah tidak bisa diobati. Ibu putus asa, pasrah, tak lagi bersemangat. Kesehatan Ibu semakin menurun. Tepat satu tahun setelah Ibu divonis tumor limfa, Ibu sudah tidak mau makan dan minum. Semua aktivitas Ibu dilakukan di tempat tidur.  Suara Ibu juga sudah tidak begitu jelas. Yang bisa menerjemaahkan maksud dari apa yang diinginkan Ibu hanya adik ipar yang tinggal serumah dengan Ibu.

Pada Idhul Fitri 2009, saya memulai minta maaf pada Ibu, minta maaf karena tak bisa memberikan yang terbaik buat Ibu. Demikian juga suami dan adik-adik ipar saya. Hujan tangis ada di kamar Ibu.

[Suami saya waktu itu dinas di SMP N 2 Jumantono, mengajukan pindah ke sekolah yang lebih dekat dengan rumah agar bisa merawat Ibu tanpa meninggalkan pekerjaan. Kebetulan Kepala Sekolah tempat suami mengajar mengizinkan dan surat permohonan pindah sudah mendapat persetujuan/tanda tangan. Pulang dari sekolah, suami bilang pada Ibu bahwa dia akan segera pindah tempat tugas. Ibu mengangguk]

Setelah maghrib, Ibu menghembuskan napas yang terakhir kali. Innalillahi wa innailaihi rojiun. Semoga Allah mengampuni dosa Ibu dan menerima amalnya.

[Ketika Ibu divonis mengidap tumor, saya lihat Ibu semakin rajin beribadah dan mendekatkan diri pada Allah. Ada butir-butir tasbih yang menemaninya di kamar. Ibu selalu memanfaatkan waktunya untuk berzikir. Alhamdulillah, dengan diberi ujian sakit ternyata Ibu semakin khusyu ibadahnya]

Pagi ini saya ingat betul kejadian-kejadian 7 tahun yang silam. Ramadhan tahun ini berlalu tanpa Ibu mertua.

Minggu, 05 Juni 2016

Arti Mudik Bagi Isteri Sholehah

Rachman Big Family
dok.pri
Pertama-tama, jangan melihat judul dengan memicingkan mata. Ingat saja, muslimah adalah wanita sholehah. Ini ceritanya mau berkisah tentang senam jantung yang saya rasakan bila saudara-saudara perempuan saya tiba-tiba menelepon (tidak berkabar lewat WA). Perasaannya jadi gimana gitu. 

Apalagi kalau pas mereka menelepon, saya tak membawa hape. Jadilah semakin penasaran dan dag-dig-dug. Kalau ditelepon balik, mereka juga tak langsung mengangkat hape. Dikirimi sms, mereka juga tak segera menjawab. Pikiran saya langsung tertuju pada kedua orang tua yang sudah senja. Ada apa dengan Mamiku dan Bapakku?

Saya 6 bersaudara, kakak saya yang sulung laki-laki. Yang lainnya perempuan semua. Empat saudara perempuan saya berdomisili di Yogyakarta. Praktis, dengan berkirim WA, dalam waktu tak lama 4 saudara perempuan saya bisa berkumpul. Lain halnya dengan saya. Saya memerlukan waktu minimal 3 jam untuk sampai Yogyakarta.

Dua hari yang lalu tiba-tiba kakak saya yang nomor 2 menelepon. Pertama menanyakan kabar, terus bertanya-tanya tentang uang. Begitu topiknya uang, saya kok jadi berbunga-bunga, apalagi kalau dia bilang uangnya bisa diambil saat kamu mudik. Pasti saya tidak akan menunggu waktu atau menunda-nunda, saya langsung mudik!

Di sini saya mulai berpikir, saudara memang begitu. Kalau ketemu bareng tumplek blek kadang berselisih paham sampai padu dewe-dewe. Kalau lagi berjauhan, saling merindukan. Saya termasuk yang selalu dirindukan. Huwaaa, ge-er saya. Selalu yang ditanyakan kapan mudik, ya Cuma saya. Yang lain kan tinggal di Yogya.

Lantas kemarin siang di kala saya sedang rapat, kakak saya yang guru SD menelepon. Berhubung hape saya posisi silent maka saya tak tahu. Ketika saya bertanya, mau bicara apa ya kok nelpon aku? Jawabnya sungguh membuat saya terharu, walah wis lali!

Tapi saya yakin banget kalau mereka mau bertanya,”Awal puasa sekolah libur, murid dan gurunya libur. Kamu pasti mudik kan?”
Sayangnya kali ini awal puasa saya tidak bisa mudik. Saya manut suami saja. Kalau akhirnya yang bisa mudik suami sama si Dhenok, ya biarlah. Saya menunggu rumah sambil jaga ayamnya Thole yang makin banyak.

Sebenarnya saya ingin mudik. Bagi saya mudik di awal Ramadhan memiliki arti tersendiri. Pertama saya ingin berkumpul dengan saudara (jadi ingat waktu kecil), berbuka puasa makan bareng lesehan. Yang kedua, mumpung masih ada kesempatan, saya ingin berpuasa bersama kedua orang tua. Ketiga, Yogyakarta selalu memberi nuansa tersendiri. Dan yang keempat kalau ditanya teman guru, bu Im mudik nggak? Saya bisa menjawab dengan bangga, mudik dong!

Siapa tahu mudik bisa menyambangi kampung Ramadhan, sekitar Masjid Jogokariyan dan Kauman. Keren, bukan? Orang Yogya kalau ada waktu kok nggak mampir ke Kauman dan Jogokariyan, wah wah rugi. Orang luar Yogya saja penasaran dengan Masjid Jogokariyan lo!


Tapi sudahlah, kalau hari ini tidak bisa mudik, saya berharap bisa diajak jalan-jalan ke desa Jumantono lalu panen singkong. Soalnya dua hari yang lalu teman suami ada yang menawarkan panen singkong. Panen singkong, mau dong!

Kamis, 26 Mei 2016

Saling Merindukan

Duo Faiq-Faiz
dok.Faiqah Nur Fajri
Walaupun kalau bertemu tak selalu akur, tetapi keduanya saling merindukan. Buktinya bila kakak tidak ada di rumah, adik selalu mencari/menanyakannya atau sebaliknya. Bagaimana pun karena mereka bersaudara. Tugas saya adalah membuat keduanya saling rindu bila tak bertemu.
Kakak berencana akan ke Yogya liburan besok. Si kecil tidak mau kalah, merengek-rengek pada saya ingin ke Yogya. Kalau sudah begitu, Maminya juga ikutan ke Yogya. Lantas siapa yang menunggu rumah di desa dong?
Rencananya hanya beberapa hari saja ke rumah Bapak-Ibu. Selebihnya, liburan tetap berada di rumah, maklum  Ayah dan Mami memiliki kesibukan untuk bekerja. Kebetulan setelah terima rapor, libur panjang ini bersamaan dengan bulan Ramadhan. Kami harus bekerja ekstra sebab pas Ramadhan waktunya mencari murid.
Kalau kakak lama berada di Yogya, maka adik akan merasa kesepian. Dia merasa tidak ada orang yang bisa diajak ribut. Saya jadi kasihan sama si kecil. Semoga dengan tidak setiap hari selama 24 jam bertemu, Faiq-Faiz saling merindukan. Lalu mereka saling bercerita layaknya dua orang sahabat yang sudah lama tak bertemu

Karanganyar, 26 Mei 2016

Senin, 09 Mei 2016

[Religi] Mengganti Puasa Yang Ditinggalkan

Oleh-oleh dari Tawangmangu
dok.pri
Saya berniat untuk mengganti puasa yang saya tinggalkan tahun lalu. Memang menjalankan ibadah puasa, baik puasa sunah maupun mengganti puasa wajib yang ditinggalkan sangat berat. Selain berat karena tidak ada teman yang sama-sama berpuasa juga karena godaannya tidak ringan.
Hari ini saya sudah berniat untuk berpuasa. Si kecil membangunkan saya sebelum fajar karena dia biasa buang air kecil dan minta dibuatkan susu. Si kecil tidak lantas tidur, tapi malah bermain mobil-mobilan. Saya makan sahur dengan porsi teramat sedikit. saya tidak melupakan minum madu. Sebenarnya kalau di rumah ada VCO, saya akan mengkonsumsinya, agar puasa saya tidak mendapatkan halangan. Tapi VCO belum tersedia, jadi saya cukup minum teh panas dan madu saja.
Sampai di sekolah, godaan pertama datang dari petugas yang menaruh minuman di atas meja saya. Saya bilang, minuman ini menggoda iman saya. Belum juga saya tawarkan, teman saya sudah minta izin untuk memindahkan gelas saya ke mejanya.
Godaan yang kedua adalah acara syukuran. Seorang teman yang baru saja mendapatkan kelebihan rezeki membuat syukuran kecil-kecilan. Petugas menaruh kudapan 3 jenis di atas piring plasti kecil di meja saya. Lagi-lagi, saya harus menyingkirkan kudapan ini supaya saya tidak lupa memakannya. Kudapan saya taruh di meja teman saya yang duduk di belakang saya.
Dua godaan tersebut belum seberapa. Yang ketiga, yang ini benar-benar menguji iman kita. Seorang teman mengajak makan tengleng di warung sate kambing. Astaghfirullah, beruntung saya tidak kepincut. Saya tetap bertahan.
“Bu, kalau besok bagaimana? Kita ke warung sate bareng-bareng.”
Benar-benar bikin ngiler. Kalau sekarang jelas berpuasa karena sudah separo perjalanan. Nah, kalau besok jadi terus puasa atau berhenti dulu diganti hari lain?
“Maaf, jangan menawarkan makan daging kambing mulai hari ini sampai Sabtu. Saya mau mengganti puasa yang saya tinggalkan dulu. Mumpung waktunya masih longgar. Kemarin-kemarin ada saja alasan untuk tidak berpuasa. Kalau sekarang tidak ada alasan lagi.”
“O, iya. Bulan puasa sebentar lagi ya. Memang bagi ibu-ibu, bulan ini waktunya mengganti puasa yang ditinggalkan tahun lalu,”kata teman saya, yang mualaf,  yang isterinya seorang guru agama Islam.
00000
Sebenarnya saya ingin mengganti puasa bulan Ramadhan yang saya tinggalkan sesegera mungkin. Tapi apa daya, godaan selalu ada. Saya salut pada teman-teman, saudara-saudara saya yang selalu menyegerakan mengganti puasa yang ditinggalkan tanpa halangan. Saya salut pada teman-teman yang terbiasa menjalankan puasa sunah.
Saya sendiri jauh sekali dari mereka. Saya akui, mungkin saya kurang taat ya. Mulai saat ini, saya mau mencoba menjalankan puasa sunah. Memang harus ada komitmen. Paling tidak dalam sebulan, meski hanya sehari harus menjalankan puasa sunah. Semoga Allah memberi kemudahan pada saya. Wahai teman-teman saya, jangan ganggu saya dong.
Catatan : Puasa wajib yang ditinggalkan, harus diganti pada lain waktu sesegera mungkin. Mengganti puasa yang ditinggalkan bisa dilaksanakan dari bulan Syawal sampai Sya’ban (sebelum bulan Ramadhan tahun berikutnya). Apabila tahun-tahun sebelumnya, masih ada puasa yang ditinggalkan, maka kita tetap memiliki kewajiban menggantinya. Berniat kuatlah untuk mengganti puasa yang ditinggalkan. Allah Mahatahu dan Allah Maha Pengampun. Jangan berkecil hati, tetaplah berbaik sangka pada Allah.
Kalau kita sudah dalam keadaan tidak berdaya, sakit yang tak mungkin sembuh, tua renta dan senja (lemah), pikun, tak ada waktu untuk mengganti maka membayar fidyah adalah solusi. Membayar fidyah pun ada ketentuannya ya, fidyah  bukan jalan pintas lo. Untuk fidyah, silakan Anda mencari referensinya.
Semoga bermanfaat. Ayo menulis, wahai muslimah.

Karanganyar, 9 Mei 2016

Kamis, 05 Mei 2016

Sediakan VCO Saat Makan Sahur Di Bulan Ramadhan

Minyak Kelapa Murni (VCO)
dok.pri
VCO atau Virgin Coconut Oil, sepuluh tahun yang silam sempat naik daun penggunaannya. VCO pada dasarnya minyak kelapa murni yang diperoleh bukan melalui pemanasan (cara dingin). Akan tetapi minyak kelapa yang dibuat melalui pemanasan juga ada manfaatnya seperti VCO.
Sampai sekarang sering saya dengar bahwa minyak kelapa menyebabkan beberapa penyakit, di antaranya kolesterol. Orang awam bila diberi tahu tentang sesuatu yang baru, tidak mau langsung mempercayainya. Siapa dulu yang berpendapat atau yang bicara. Mereka tidak memperhatikan apa yang dibicarakan melainkan siapa yang bicara.
Dulu ketika saya menawarkan VCO hasil olahan dari Yogyakarta, saya harus meyakinkan pada calon pembeli. Yang paling sering saya beri tahukan khasiatnya VCO adalah untuk memperlancar BAB, menyembuhkan sakit maag, mengenyangkan, membuat langsing, menaikkan berat badan bagi yang berat badannya kurang.
Karena memiliki manfaat mengenyangkan perut, maka VCO cocok untuk persediaan saat bulan puasa. Dulu ketika Dhenok masih kecil, setiap habis makan sahur selalu saya berikan VCO rasa mint satu sendok teh. Hasilnya Dhenok tidak mengeluhkan perut lapar. Saya juga mengkonsumsi VCO setelah makan sahur. Dengan minum VCO secara teratur, ibadah puasa saya lancar. Kalau bangun tidur sudah mendekati waktu azan subuh, saya sahur dengan minum teh panas dan minum VCO. Saya tidak khawatir lapar dan badan lemas. Semua berjalan dengan normal apa adanya.
Mari, sediakan VCO di rumah menjelang Bulan Ramadhan tahun ini. Bila sulit menemukan VCO, minyak kelapa buatan sendiri juga memiliki fungsi yang sama dengan VCO. Ibadah puasa lancar, ibadah lainnya juga lancar.
Karanganyar, 5 Mei 2016