Rabu, 01 Juni 2016

Dibilang Kurang Sedekah Ketika Kehilangan Laptop

Laptop Akhirnya Kembali
dok.pri
Kami, yang 5 perempuan bersaudara (kalau dengan kakak tertua laki-laki jadinya enam bersaudara, enam Noer), kalau sudah mau ngomong apa adanya, tanpa tedeng aling-aling. Omong/bicara ceplas-ceplos memberi kritikan pada sesama saudara. Tidak boleh ada kata tersinggung. Semua demi perbaikan diri semata. Kalau ada kritik dari saudara, kami harus berterima kasih, bukannya marah.
Kami, yang 5 perempuan bersaudara, kalau sudah bertemu maka suasana rumah Bapak/Ibu jadi heboh. Karena sudah biasa mendapat kritikan dan mengkritik, maka saya juga tak pernah sakit hati kalau dibilang ini-itu oleh saudara. Kita memang sadar diri.
Ketika saya kehilangan laptop, Februari 2015, tahun yang lalu, saya langsung introspeksi. Saya membatin, amalan apa yang saya tunda hari ini? Seketika itu saudara perempuan saya menyuruh saya pulang. Saya pasrah saja. Apapun yang akan dikatakan mereka, akan saya terima. Akan tetapi setelah sampai di rumah Bapak, ternyata berbeda dengan apa yang ada di pikiran saya.
Saudara saya tidak mengatakan,”Kamu kurang sedekah. Kamu pelit, kamu diberi peringatan.” Ternyata kakak saya bilang,”biarpun sedekah kita banyak, kalau Allah mau menguji, ada saja jalannya.”
Plong, lega saya. Malah, saya diberi hp yang ada aplikasinya macam-macam. Harganya mahal lagi. Wah, bagaimana saya tidak bersyukur? Di saat saya kehilangan sesuatu yang sangat berharga bagi kelangsungan menulis saya, tiba-tiba makces, segar sekali.
Kedua orang tua saya juga mengatakan hal yang positif tentang berita kehilangan ini. Bapak bertanya,”Ada apa, kok kamu kehilangan laptop?” kalau saya menjawab dengan guyon juga bisa,”Ada maling pak.” Beres bukan?
Saya mengakui, seharusnya saat itu saya mudik. Saya harus menemui Bapak dan Ibu. Tapi saya terus menunda dan menunda. Jadi intinya ketika saya kehilangan laptop, mas Maling sudah mengingatkan saya,”Hai, Ima. Kamu harus pulang. Minta maaflah pada Bapak dan Ibu!”
Lantas saya menyusun rencana, agenda saya saat itu khusus menemui Bapak dan Ibu serta saudara-saudara kandung saya. Bagi orang lain yang tak tahu tentang saya, pasti langsung bilang saya kurang sedekah. Hehe, saya tak tersinggung dibilang kurang sedekah. Mungkin ada benarnya. Sedekah itu kan cakupannya luas.
Beberapa waktu yang lalu, ketika saya menghadiri Kopdar IIDN, IIDB, dan EPY, ada salah satu anggota yang memberikan testimony. Beliau menceritakan tentang kebangkrutannya dan bisa bangkit. Ketika showroomnya dirampok habis, ada kenalan dan tetangga yang mengatakan bahwa beliau kurang sedekah. Rupanya (menurut penilaian saya dari penuturannya) beliau tersinggung berat. Dalam hati beliau membela diri dengan mengatakan bahwa sedekahnya yang tahu hanya dirinya dan Allah.
Kalau saya dulu justeru bilang, Mas Maling telah mengingatkan pada saya dan suami kalau sedekah saya kurang dan menunda amal. Jadilah saya langsung bisa berdamai dengan musibah.
Ketika 4 bulan kemudian laptop saya kembali, teman-teman saya jadi bingung mau berkomentar dan menilai saya. Maka saya berkata,”kalau memang masih rezeki saya, laptopnya kembali dengan jalan yang tak disangka-sangka. Pokoknya harus banyak-banyak sedekah”
00000
Ada perbedaan antara sedekah dengan zakat. Kalau sedekah, tidak perlu/tidak ada nishob dari harta benda yang kita miliki, tapi kalau zakat ada nishobnya. Ketentuan benda yang kita zakati adalah harta benda dimiliki selama satu tahun, dengan jumlah minimal tertentu.
Mari keluarkan sedekah sebanyak-banyaknya. Kalau tak punya harta benda, bisa dengan tenaga kita, atau dengan menyingkirkan duri dan tersenyum. Masih berat mengeluarkan sedekah? Ayo, belajar bersedekah karena sedekah memang dahsyat.
Karanganyar, 1 Juni 2016
Wow, sudah bulan Juni ya. Sebentar lagi Ramadhan, tapi kok aku belum mudik? Maafkan saya Bapak dan Ibu, saya nggak durhaka loh!