Minggu, 26 Juni 2016

Menjelang Lebaran Dapat Rezeki Nomplok (#2)

Siap Panen, Semakin Merunduk
dok.pri
Menjelang Lebaran Dapat Rezeki Nomplok (#2)
Anak perempuan sudah diantar ke rumah Ibu (Yogyakarta). Saya sudah mulai beres-beres rumah, beres-beres yang ada kaitannya dengan dunia menulis, si kecil bukannya beres-beres melainkan menyebarluaskan mainannya sampai di mana-mana. Tidak apa-apa, yang penting tidak bermain di luar.
Saya mengambil dompet besar, biasanya berisi nota atau kuitansi pembayaran. Saya membuka dompet pelan-pelan, takutnya ada kertas atau uang kertas yang nyangkut di retsleting. Alhamdulillah, persediaan uang saya masih aman. Untuk belanja sampai akhir bulan masih ada. Kalau tidak cukup, masih ada uang recehan milik Dhenok yang disimpan di wadah plastik. Bisa dipinjam dulu, nanti bilang ke Dhenok belakangan.
Di sekolah ada rezeki datang tanpa permisi. Lumayan, dapat SHU koperasi dan saham koperasi yang sudah dikembalikan (saya keluar dari keanggotaan koperasi). Begitu terima uang, pikiran saya bukan buru-buru ingin ke swalayan atau ke mall. Saya langsung membayangkan berada di Pegadaian untuk investasi lagi. Soalnya kalau dipegang dalam bentuk uang tidak bakal bertahan satu minggu.
Ada lagi rezeki nomplok lainnya yaitu uang transport masuk kantor. Jumlahnya lumayan untuk membeli gula pasir yang kabarnya harganya selangit. Alhamdulillah, masih bisa minum manis, tak perlu terlalu manis. Uang transport tadi juga bisa untuk membeli bensin beberapa ember.
Uang transport kalau saya bawa pulang memang bisa untuk membeli bensin atau gula. Tetapi saya sengaja tidak membawa pulang uang transport. Uang transport sengaja saya simpan di dalam laci meja dengan anak kunci nomor sekian. Uang transport tersebut menyimpan cerita unik dan kenangan yang indah, maka saya tak akan menggunakannya untuk belanja. Bukan saya sok kaya tak butuh uang, bukan itu maksud saya.
Menjelang lebaran ini, saya juga sudah mendapatkan kabar berita dari alam. Walah, apa ya? Alam telah menghembuskan kabar baik. Padi di belakang rumah sudah mulai merunduk, sebentar lagi menguning lalu panen. Nah, ini adalah rezeki yang saya tunggu-tunggu dari pertanian. Semoga panen pada MT II baik sebab air untuk sawah masih cukup. Ini bagian rezeki dari hujan di bulan Juni. Hasil panen MT I kemarin gabah dan berasnya masih ada, untuk membayar zakat masih cukup.

Bersyukur dan sabar, itulah yang selalu saya ungkapkan setelah mendapatkan nikmat. Apalagi saya, suami dan anak-anak masih diperkenankan menggunakan nikmat kesehatan untuk beribadah pada Ramadan kali ini.