Jumat, 10 Juni 2016

Pengalaman Bersama Apotek K24

Apotek Buka 24 jam, online
sumber : www.apotek k-24.com
Awalnya saya mengenal Apotek K24 ketika saya mudik naik sepeda motor bersama suami. Waktu itu di bangjo Prambanan arah dari timur, sebelah kiri jalan (selatan jalan) saya lihat ada Apotek K24, buka 24 jam. Wah bagus juga nih, pikir saya.
Suatu saat, saya putar-putar kota bersama suami ketika berada di Yogya. Ternyata di dekat Gereja Pugeran, tepatnya di seberang jalan dari gereja, ada Apotek K24. Pikir saya waktu itu, wah ada toko obat yang buka 24 jam di dekat rumah Bapak.

Sebenarnya saya suka banget dengan acara mudik. Mudik berarti bertemu saudara, bertemu orang tua, bernostalgia, mendatangi tempat-tempat yang bersejarah bagi saya dan lain-lain. Akan tetapi, mudik juga berarti repot menyiapkan banyak hal. Repotnya karena suami tidak mau diajak bekerja sama dalam hal menyiapkan segala sesuatunya. Kalau si Dhenok benar-benar sudah mandiri. Bila diajak mudik, semua sudah dipersiapkan sendiri untuk kenyamanannya.

Nah, ini loh si Mami cantik yang kadang lupa. Biasanya saya membawa buku kecil, mencatat barang-barang yang harus dibawa lalu mengecek. Demikian pula kalau pulang dari mudik, saya akan mengecek barang berdasarkan catatan yang sudah saya tulis.

Kalau mudiknya mendadak, mana sempat nulis di catatan kecil. Pastinya mudik begitu saja. Hasilnya, kadang lupa bawa barang-barang yang sangat penting. Seperti waktu itu lupa membawa botol/dot si kecil, Thole sing bagus dewe.

Meskipun telah berusia 5 tahun, Thole masih ngedot kalau minum susu. Kalau di penitipan anak, dia sudah punya rasa malu sehingga botol dotnya dibawa pulang (di penitipan tak memiliki botol dot lagi). Kalau di rumah tidak ngedot, dijamin jam berapa pun malam hari bakalan heboh menangis. Saya jadi kasihan, tidak tega.

Tapi saya memang punya keyakinan, suatu saat dia akan melepaskan ketergantungannya ngedot tanpa dipaksa. Sayangnya, saya lupa tidak membawa botol ketika mudik. Saya bujuk pada sore hari. Dia berjanji mau tidak ngedot pada malam harinya.

Tetapi olalaaa, dia ingkari janjinya. Sekitar jam 2 malam, Thole nangis kejer. Pinginnya ngedot, sudah dibujuk tetap saja nangis. Masalahnya, rumah Bapak kan nggak ada botol dot. Saya jadi tak enak hati sama Bapak dan saudara saya. Bahkan saudara saya ada yang menyalahkan kenapa saya tak membawa botol. Yaelahhh, sudah dikasih tahu kalau saya lupa, kok tidak percaya.

Malam itu juga, suami berusaha mendapatkan botol. Entah, saya tak tahu, dia mencari di mana. Tidak lama berselang, suami sampai rumah membawa botol yang dimaksud. Saya segera mencuci botol lalu membuatkan susu. Aman, tenteram, masalah selesai. Ternyata suami membeli botol di Apotek K24 yang terletak di depan Gereja Pugeran.

Saya benar-benar bersyukur, di saat saya mengalami kesulitan ada jalan keluar. Selain masalah botol, pengalaman di Apotek K24 dalam rangka membeli obat di saat apotek lainnya tutup karena libur nasional.

Akhirnya, agar saya tak lagi membawa botol ngalor ngidul ngetan ngulon, botol saya tinggal di rumah Bapak. Kalau lupa nanti beli lagi, beli lagi.

Kini, setelah usianya 6 tahun, Thole belum bisa lepas dari botolnya. Tapi tadi siang, dia bilang seperti ini. “Mah, aku mimiknya susu pakai gelas saja.” Saya tanya,”kenapa, Le?” Jawabnya,”kalau minum pakai botol, aku takut sama orang, takut sama tamunya Ayah atau mama.” Saya tersenyum, dalam hati saya bersyukur. Ternyata kamu punya kesadaran untuk melepaskan botol.


Dari siang sampai saat ini, Thole tak memegang botol lagi. Moga-moga malam ini ketika dia bangun untuk buang air kecil, tetap memegang janjinya tidak ngedot lagi. Selamat menikmati tidur nyenyakmu, Le. Mami tidak lagi sebentar-sebentar bangun membuatkan susu dalam dot.