Selasa, 09 Agustus 2016

Kalau Sekolah Full Day Siapa Yang Bantu Aku Jualan?


Kalau Sekolah Full Day Siapa Yang Bantu Aku Jualan?
Berbincang-bincang ringan di ruang piket. Berita yang lagi hangat adalah wacana Full Day School. Sekolah seharian ini tujuannya membentuk karakter. Masih sebatas wacana : untuk diterapkan di SD dan SMP. Awalnya memang tidak diberi keterangan mendetail. Tapi akhirnya ada penjelasan tentang full day school ini dari Pak Mentri.
Saya dan beberapa sahabat guru juga ingin mengungkapkan argument. Dan, saya rangkum beberapa keberatan tentang full day ini:
1.      Sekolah gratis tingkat SD dan SMP. Akankah gratis juga kalau full day? Kalau kemudian membayar, pasti banyak yang keberatan.
2.      Kalau sekolah regular, pulang sekolah makan siang di rumah. Makan dengan menu seadanya. Nah, kalau full day, tentu saja menyiapkan dana untuk makan siang di sekolah (bila disediakan sekolah). Kalau membanwa bekal dari rumah, tentu orang tua akan memberikan menu yang special/istimewa (pengeluaran bertambah)
3.      Ada beberapa orang tua yang tetap ingin mengasuh anaknya sepulang sekolah (regular) karena mereka ada waktu untuk bersama anak-anak. Berbeda dengan bagi orang tua yang sibuk.
4.      Bagi orang tua yang kehidupannya/tingkat ekonomi rendah, mereka membutuhkan anak-anak untuk membantu melakukan pekerjaan. Di Karanganyar, banyak anak yang membantu orang tuanya membuat bata, genteng, mencari rumput dan lain-lain. Sebagian lagi membantu memasak/menyiapkan dagangan yang akan dijual di rumah/warung lesehan.
5.      Kalau anak lelah atau capek, pasti tidak mau belajar lagi di rumah
Saya dan sahabat guru sependapat, full day bisa dipilih orang tua sesuai kebutuhan. Selama ini sudah ada sekolah terpadu (full day) dan regular. Kalau orang tua yang membutuhkan full day, ya silakan anaknya disekolahkan di full day school. Kalau orang tua menginginkan anaknya bisa bantu-bantu momong adiknya,  memasak, membungkus nasi untuk dijual, mencetak dan membakar bata, silakan menyekolahkan anaknya ke sekolah regular.
Sebenarnya madrasah pertama kan Ibu. Jadi, Ibulah (dan Bapak) yang berperan membentuk karakter anak.
Yang setuju full day school sumangga, yang ingin sekolah regular juga tidak masalah kok.

Karanganyar, 9 Agustus 2016