Kamis, 20 Oktober 2016

Momen yang Paling Berkesan dan Tak Terlupakan

Dua puluh satu tahun (sejak tahun 1995)  mengenalnya, kini bersamanya, selalu indah ceritanya. Bersama anak-anak lengkap sudah kebahagiaan itu. Di balik semua yang pernah aku dan dia alami, ada sesuatu yang sangat berkesan dan tak mungkin aku lupakan. Dua puluh satu tahun yang silam, kala kami baru beberapa hari bertemu. Jelas, waktu itu aku tak pernah menilainya omong kosong atau ngegombal belaka. Karena dia adalah orang yang serius dan tak suka bercanda (kala itu).
Ketika aku melanjutkan kuliah dari D3 ke S1, aku pernah mengikuti program semester pendek. Aku mengambil mata kuliah KKN (Kuliah Kerja Nyata). Ternyata sebagian besar mahasiswa mengambil mata kuliah KKN pada semester pendek.
Sebelum berangkat ke lokasi KKN, aku mengikuti program pembekalan KKN. Di sinilah aku bertemu dia. Kebetulan aku dan dia berada dalam satu kelompok kecil. Artinya, nantinya tinggal di tempat yang sama.
Pada saat pembekalan, dia bertanya padaku. Apakah aku adalah mahasiswa yang naik sepeda onthel dengan rute bla-bla pada tahun 1990-an? Aku jawab ya. Kok kamu tahu? Katanya, dia juga naik sepeda onthel dan melewati jalan yang sama denganku. Kebetulan dia mengambil Jurusan Pendidikan Olahraga sedang aku mengambil Jurusan Pendidikan Kimia. Kampus kami tidak begitu jauh jaraknya.
Singkat cerita, aku dan teman-teman yang bergabung dalam kelompok kecil, tinggal di rumah penduduk. Selama 2 bulan, kami melakukan kegiatan bersama. Sebagian besar kegiatan kami adalah bergabung dengan penduduk di desa dalam banyak kegiatan. Kegiatan tersebut dilaksanakan dari pagi hingga malam hari.
Biasanya kami saling berbagi tugas. Dalam kelompok kecil ini terdiri dari 5 mahasiswa dan 5 mahasiswi. Untuk menyediakan sarapan, makan siang dan makan malam serta minumannya, kami bekerja sama.
Kalau malam hari, dalam suasana santai, kami merencanakan program berikutnya pada keesokan harinya dan melakukan evaluasi kegiatan yang sudah  kami laksanakan.  
Suatu hari dia bilang ingin menunaikan ibadah haji bersamaku. Aku tersenyum. Jawabku, Insya Allah. Ternyata temanku yang lain juga mengatakan hal yang sama, ingin menunaikan ibadah haji bersamaku. Tapi, apa mungkin? Aku dari Yogyakarta, dia dari Karanganyar, dan temanku lainnya dari Blora. Ya, mungkin kami bisa berangkat pada tahun yang sama, tapi kan belum tentu bisa bertemu saat di Mekah atau Madinah. Betapa nekatnya dia, dia bilang ada cara agar aku dan dia bisa sampai ke tanah suci bersama.
00000
Tahun 2011, aku diuji dengan kelebihan uang. Aku bilang ke laki-laki yang pernah mengajak naik haji bersama tahun 1995 tersebut.
“Berangkatlah ke tanah suci lebih dahulu. Lalu panggil aku dan anak-anakmu, agar kami juga bisa segera ke tanah suci,”kataku
“Aku akan berangkat bersamamu. Kalau kita bisa bersama, Allah akan memudahkan urusan kita ketika berada di tanah suci. Semua bisa kita kerjakan bersama,”jawabnya.
Hampir saja air mataku meleleh. Rasanya harus menunda lebih lama karena kami hanya memiliki dana untuk mendaftar satu orang (mendapat porsi). Rupanya Allah menunjukkan jalan-Nya. Tahun 2012, ketika aku berada di depan petugas DEPAG, mendaftarkan “naik haji”, ditanya siapa muhrimnya, laki-laki itu menjawab,”saya, suaminya.” Nyes! Laki-laki itu adalah dia yang tahun 1995 pernah bilang,”aku ingin naik haji bersamamu.”
Aku baru menyadari, bahwa tahun 1995 ketika dia mengatakan ingin naik haji bersamaku adalah momen yang sangat mengesankan dan tak pernah aku lupakan. Dan ketika dia bilang,”ada cara kita bisa naik haji bersama,” rupanya itulah cara dia melamarku dengan cara yang santun dan elegan, tidak main-main.
Semoga Allah memudahkan urusan kami baik di dunia maupun di akhirat.