Sabtu, 01 Oktober 2016

Rezeki Kayu Jati di Kebun Desa | Kahfi Noer

Noer Ima Kaltsum : Rezeki Kayu Jati di Kebun Desa
Bukan hutan jati, melainkan pinus
dok.pri
Namanya tanah ternyata juga akan menemukan jodohnya. Tanah, walaupun dikejar kalau belum jodohnya juga tidak mungkin kita miliki. Demikian juga bila tanah itu memang berjodoh dengan kita, ternyata tanah akan mendatangi kita. Sungguh, cerita tentang perjodohan orang dengan tanah adalah benar adanya.
Kisah Maharani dan Mahendra ini contohnya. Sebenarnya bukan hanya Maharani, kakak perempuannya Maduri juga demikian. Maduri tiba-tiba ditawari tanah beserta bangunannya oleh tetangga samping rumah orang tuanya. Dua kapling sekaligus dengan harga murah, tanpa tawar-menawar. Beberapa tahun kemudian, Maduri mendapatkan tawaran rumah tetangga depan rumah orang tuanya.
Dulu ketika Maduri dan saudara-saudaranya masih kecil dan remaja, rumah orang tuanya terlalu sempit dihuni 8 orang. Sekarang di saat semua sudah meninggalkan rumah orang tua, kok tetangga sebelah dan depan rumah pindah dan rumah ditawarkan pada keluarganya. Ternyata tanah memang akan menemukan jodohnya atau orang menemukaan tanah yang sudah menjadi jodohnya.
Maharani dan Mahendra memilih hidup sederhana. Mereka tak pernah bangga dengan apa yang dimilikinya. Semua hanya titipan. Dan titipan itu sewaktu-waktu akan diambil pemilik yang sebenarnya. Oleh sebab itu Maharani dan Mahendra kelihatan menikmati hidup sederhananya.
Sebagai anak tertua dan kedua orang tua telah tiada, Mahendra selalu bermusyawarah dengan ketiga adik-adiknya. Di kala kedua orang tua Mahendra masih hidup, mereka tak pernah sekalipun membicarakan “rencana Warisan” untuk anak-anaknya. Dengan musyawarah tersebut, Mahendra berharap tidak ada rasa iri dan merasa diperlakukan tidak adil.
Mahendra justeru membiarkan ketiga adiknya memilih lokasi/tanah yang disenangi milik orang tuanya. Mahendra tidak mengatur ketiga adiknya. Baginya, kerukunan yang menjadi prioritas.
Setelah berembug, ternyata ketiga adiknya memilih tanah di pinggir jalan raya, Jalan Solo-Tawangmangu. Lokasi yang sangat strategis untuk mendirikan usaha. Lantas di mana tanah yang Mahendra dapatkan? Mahendra mendapatkan tanah di desa. Jauh dari keramaian kota. Tanah tersebut berupa kebun dan biasa ditanami sayuran/palawija oleh orang desa. Dan untuk hasil kebunnya, keluarga Mahendra tidak mendapatkan apa-apa. Kalau sedang beruntung, mendapat kiriman hasil kebun. Jumlahnya tak seberapa.
Di atas kebun tersebut terdapat beberapa batang pohon tahunan. Dan salah satu pohon yang bisa diambil manfaatnya adalah pohon jati. Pohon jati yang usianya 20 tahunan.
Beberapa waktu yang lalu, Mahendra pernah ditawari tanah oleh kenalannya. Maharani menolak. Maharani tahu kalau tanah tersebut bermasalah. Lagi pula Maharani tidak memiliki sejumlah uang yang harus dibayarkan. Mahendra ingin membeli tanah tersebut dengan cara berhutang. Sekali lagi, Maharani menolak. Buat apa memiliki tanah kalau hutang menumpuk lalu tiap bulan sebagian besar gajinya dipakai untuk membayar hutang? Hidup tak nyaman karena hutang. Tidur tak lagi nyenyak karena tagihan hutang.
Bagi Maharani, tanah dan rumah yang dibangun di atasnya sudah lebih dari cukup. Dunia itu kalau dikejar, tidak akan ada habisnya. Prinsip Maharani hidup itu yang secukupnya saja, tidak berlebihan.(Ora sah ngaya)
Baru-baru ini Mahendra ditawari tanah oleh seorang kerabat. Kebetulan kerabatnya membutuhkan uang. Kalau yang ini Maharani sangat setuju. Semoga tanah yang dibeli ini membawa keberkahan. Tanah yang masih berupa sawah dan lokasinya dekat dari rumah tersebut bisa digunakan untuk bercocok tanam. Cocok untuk menyalurkan hobi Maharani. Kalau musim hujan ditanami padi, lumayan kan hasilnya. Tidak perlu membeli beras.
Kalau kebun warisan ada beberapa batang pohon jatinya, di sekitar rumah Maharani ada 3 batang pohon jati. Sebenarnya 14 tahun yang silam, Maharani sudah menyarankan pada Mahendra untuk menanam pohon jati di sekitar rumah. Misalnya ada 10 batang pohon jati, ya hasilnya lumayan. Kalau bukan Maharani dan Mahendra yang memanen, bukankah bisa dinikmati oleh anak cucu?
Mungkin mulai saat ini, Mahendra harus memiliki program satu orang 3 batang pohon jati. Tugasnya adalah memupuk dan menyiram. Biarkan pohon-pohon itu tumbuh dan hidup dengan sentuhan pemiliknya. Semoga pohon-pohon jati tersebut memberikan manfaat.
Semoga bermanfaat.
Karanganyar, 1 Oktober 2016