Jumat, 17 Februari 2017

Muka Kelihatan Jelek Karena Tidak Tersenyum

Seorang kenalan bercerita bahwa dia baru saja bertemu saudaranya. Saudaranya ini kelihatan kurus, lebih tua dan jelek. Glek, kata yang terakhir inilah yang membuat saya mengernyitkan kening.
Sebenarnya kita tidak boleh menghina fisik seseorang, sebab fisik seseorang adalah ciptaan Tuhan. Kalau kita menghina fisik seseorang berarti menghina Tuhan. Ternyata yang dimaksud fisik di sini bukan cacat mukanya melainkan raut mukanya yang menjadi jelek karena suatu hal. Yaitu karena saudara kenalan saya ini jarang (sukar) untuk tersenyum.
Benar juga, orang kalau tidak pernah tersenyum biarpun cantik tetap saja kelihatan jelek. Atau seganteng apa, kalau cemberut terus, mana kelihatan gantengnya. Orang yang pelit tersenyum, mencerminkan keadaan hatinya.
Benar juga, salah satu bentuk sedekah adalah tersenyum pada orang lain. Dan, orang yang murah senyum akan disegani orang, didekati orang lain (yang sudah mengenalnya). Bandingkan kalau kita berdekatan dengan orang yang cemberut. Jangan-jangan kita kena imbas dari suasana hatinya.
Tersenyumlah, karena tersenyum tak memerlukan biaya yang besar dan energy yang besar. Orang yang cemberut mengeluarkan energy yang cukup besar. Membiasakan diri tersenyum pada orang yang kita kenal bisa dilatih. Kalau kita murah senyum, ada keuntungan yang akan kita peroleh.
Kalau tersenyum hanya memerlukan sedikit energy, menambah kecantikan kita, menambah saudara, masihkah kita pelit untuk tersenyum? Kalau cemberut dan pelit senyum menguras energy dan membuat muka kita tambah jelek dan lebih tua, apakah kita mau mempertahankan? Apakah kita tidak mau meninggalkan muka cemberut?
Mungkin yang dimaksud kenalan saya jeleknya muka saudaranya itu karena pelit senyum bukan cacat fisik. Semoga kita termasuk golongan orang yang murah senyum dan cantik.

Karanganyar, 17 Februari 2017