Rabu, 22 Februari 2017

Sebarkan Virus Menulis Kepada Keluarga

Sejak awal kembali menulis, saya mengajak anak saya untuk menulis. Untuk Faiq yang kala itu masih SD, saya minta untuk menceritakan pengalamannya sehari-hari lalu mengirimkannya ke Koran Kedaulatan Rakyat dan Solopos. Memang, satu kali tulisan pengalaman Faiq pernah dimuat di Koran Kedaulatan Rakyat dan mendapat honor. Tapi, setelah itu Faiq tidak mau menulis lagi.
Selain kepada anak, saya juga mengajak suami untuk menulis. Kebetulan, suami guru olahraga yang pengalamannya luar biasa banyak. Kegiatan di luar jam sekolah juga penuh, baik olahraga, bimbingan terhadap anak didik, ekstrakurikuler, dan lain-lain. Seandainya setiap kegiatan/pengalamannya bersama anak didik atau kegiatan di luar jam sekolah dituliskannya, tentu seru dan bisa dicontoh oleh orang lain, terutama murid-muridnya. Namun, sayangnya suami tidak mau menulis.
Suami memang suka membaca. Bahkan, suami ini pembaca setia blog keroyokan Kompasiana. Alangkah bermanfaatnya bila kita menuliskan sedikit pengetahuan dan pengalaman kita untuk orang lain.
Ternyata, tidak mudah mengajak orang lain (keluarga sendiri) untuk menulis. Meskipun Faiq sering mengisi blog dan pembacanya banyak, tapi blognya berisi gado-gado dan masih suka-suka. Padahal Faiq memiliki pengalaman memotret, lo. Alangkah bermanfaatnya kalau dia bisa menuliskan tentang tutorial.
Saya salut terhadap teman-teman penulis, di mana mereka juga sedikit memaksa anak-anaknya untuk menulis. Seperti yang dilakukan oleh mbak Nurul Chomaria, dia memaksa anaknya untuk menulis lalu diberi honor setiap karyanya yang selesai ditulis.
Dulu saya juga pernah memberi iming-iming begitu untuk Faiq, tapi anaknya tidak mau dipaksa. Ya, sebagai orang tua saya memang harus sabar. Saya ikuti saja kemauannya. Semoga kelak, suatu saat Faiq segera menyadari pentingnya menulis. Lebih-lebih, Faiq mengetahui bahwa menulis itu bisa mendatangkan materi. Pasti dia akan ketagihan.
Ketika saya seusia Faiq (kelas 2 SMA), saya mulai menulis dan berhasil tembus media. Waktu itu tidak ada yang memaksa. Saya mempunyai inisiatif sendiri. Kemudian mendapat dukungan dari keluarga. Alangkah bahagianya saat itu. Padahal waktu itu menulis tidak gampang. Proses menulis artikel dengan mengetik secara manual perjuangannya lebih berat dibanding dengan menulis saat ini.
Saya tetap tidak bosan mengajak keluarga saya untuk menulis. Kalau saya bisa mengajak orang lain untuk menulis, mengapa saya tidak berhasil mengajak keluarga sendiri untuk menulis?

Karanganyar, 22 Februari 2017