Senin, 17 Juli 2017

Nilai Mapel Pendidikan Agama Bukan Sekadar Angka-angka



Beberapa tahun yang silam, teman saya Guru Agama Islam bercerita. Selama beliau menjadi Guru dan mengajar, bila seorang siswa tidak “sangat keterlaluan” maka pantang baginya memberikan nilai enam ke bawah. Paling tidak beliau akan memberi nilai tujuh.

Teman saya percaya, seandainya siswanya tidak bisa mengerjakan soal ulangan harian, tes semester atau tes kenaikan kelas, tapi siswa tersebut bisa membaca surat Al Fatihah, surat-surat pendek, bisa shalat, dan benar bacaannya serta mengerjakan puasa. Nilai ulangan atau tes yang jeblok atau jatuh bisa ditolong dengan remidi dan amalan lainnya. Maka, tidak ada yang aneh kalau nilainya minimal tujuh.

Teman saya tidak pelit memberi nilai dalam bentuk angka. Harapannya, setiap Guru Agama Islam, juga akan melakukan hal yang sama dengan beliau. Tapi apa yang terjadi? Nilai Agama Islam pada rapor putrinya hanya enam. Teman saya tidak marah, hanya kaget saja. Mosok, Bapaknya Guru Agama Islam, anaknya rajin shalat, puasa, menangkap pelajaran juga tidak bodoh-bodoh amat, kok nilai Agama hanya enam.

Menurut saya, benar apa yang dikatakan teman saya. Mapel Agama Islam, cara menilainya bukan dari gabungan angka-angka saja. Seharusnya ada faktor X yang membuat nilai itu angkanya “enak dan manis dipandang mata”, paling tidak tujuh.

Contoh lagi, seorang anak berbudi pekerti baik, tapi karena belum fasih baca tulis, nilai akhlak di rapor hanya 55. Anak setiap zuhur dan asar di sekolah mengikuti shalat berjamaah, mengikuti doa bersama, bisa membaca dengan benar bacaan dalam shalat, bisa melakukan wudhu sebelum shalat, nilai fikihnya 50. Apakah amal dan perbuatan baik anak tadi, tidak diikutkan dalam penilaian? Apakah nilai ini hanya didapat dari ulangan harian, tes semester atau kenaikan kelas saja? Apakah tidak ada unsur lain yang bisa untuk mengangkat nilai anak tersebut menjadi lebih tinggi?

Benar juga kata kenalan Guru yang sudah senior, biji ora kulakan we kok pelit-pelit dikasih ke siswa. Bukan berarti mengabaikan proses penilaian, tapi mari kita cermati lagi. Sudah pantaskah kita memberi nilai hanya sekadar angka tanpa mempertimbangkan akhlak, amal perbuatan, kebiasaan anak-anak didik?

Saya kira memberi nilai pada rapor untuk pelajaran Agama, akan berbeda dengan memberi nilai untuk pelajaran matematika.

Pantas saja teman saya (Guru Agama Islam) kaget, mendapatkan nilai 6 pada rapor anaknya, puluhan tahun yang silam.


Karanganyar, 17 Juli 2017