Sabtu, 29 Juli 2017

Wahai Bapak Ibu Guru Kelas I, Ajarilah Anak-anak Membaca

Membaca Alam


Wahai Bapak Ibu Guru Kelas I, Ajarilah Anak-anak kelas I membaca dan menulis! Karena membaca dan menulis baru boleh diajarkan pada kelas I SD, bukan di TK. Bahkan di TK, anak-anak tidak boleh diajari calistung (baca, tulis, hitung). Jadi, kewajiban Bapak Ibu guru kelas I di sekolah adalah mengajar baca tulis. Itu saja yang kata, kalimat dan angka sederhana, belum yang rumit atau kompleks.

Tulisan sederhana ini sengaja saya buat, karena saya membaca banyak status teman-teman FB yang menyayangkan “tragedy anak kelas I dikeluarkan karena belum bisa membaca”. Rasa penasaran itu akhirnya terobati dengan membuka sebuah link. Akhirnya, saya jadi pingin nulis tentang tulisan ini.

Anak saya yang kedua, sekarang duduk di kelas I SD. Alhamdulillah, dia sudah bisa membaca dan menulis. Apakah ketika di TK sudah diajari membaca dan menulis? O, tidak. Semua berjalan alami, seperti air mengalir. Wah, hebat ya? Enggak juga. Lo, mengapa nggak mau dikatakan hebat? Karena ada alasan yang harus saya tuliskan.

Tahun lalu, anak saya sudah SD di sekolah swasta. Karena saya memiliki keyakinan di sekolah tersebut mengutamakan pendidikan agama, maka saya tidak khawatir. Waktu itu saya berpikir, yang penting bisa hafalan surat pendek, bisa membaca doa-doa, bisa menghafal hadits, perilakunya baik, bisa berwudhu, shalat dan lain-lain. Di rumah, saya ajari membaca dan menulis. Memang si kecil bisa membaca dengan terbata-bata, menulis juga belum begitu bisa. Jangan dibayangkan menulis satu kalimat. Menulis kata-kata saja kebalik-balik. Hasilnya, rapor nilainya sebagian besar merah.

Pada semester I karena nilai rapor yang tidak menggembirakan, saya usul pada wali kelasnya supaya anak saya diberi pelajaran tambahan (sekadar 15 menit saat akan istirahat tidur siang). Oleh karena sekolah fullday 5 hari sekolah, anak saya kalau sudah sampai rumah kelihatan capek, maka tidak mau belajar. Saya juga tidak mungkin membebani les membaca dan menulis sepulang sekolah. Sayangnya, wali kelas belum sependapat dengan saya. (Sebenarnya, ceritanya sangat panjang, tapi saya pangkas saja).

Kalau di rumah, anak saya mau membaca dan mengerjakan soal dengan bimbingan saya. Menjawab pertanyaan juga bisa, kalau saya tuntun. Anak saya memang sukar untuk focus, tapi dengan kesabaran saya ternyata dia bisa konsentrasi juga.

Hanya saja, saya heran, mengapa buku tulis anak saya tidak banyak tulisan? (saya sempat bertanya pada wali kelasnya, dan jawabannya tidak memuaskan saya). Akhirnya, sebelum penerimaan rapor, saya sudah diberi tahu terlebih dahulu dari sekolah. Sungguh, saya tidak menduga sama sekali kalau anak saya harus tinggal kelas.  Karena keadaan tidak bisa diubah (misalnya naik bersyarat), kalau sama-sama masih di kelas satu, maka pilihan saya, saya mendaftarkan anak saya kelas satu di sekolah lainnya.

Awalnya saya khawatir, anak saya tidak bisa konsentrasi. Ternyata saya salah! Setiap pulang sekolah, anak saya bilang ada PR. Saya pikir PR yang berat. Ternyata tidak. PR yang dimaksud hanya mengulang menulis. Contoh: nama lengkap : ……., nama panggilan: …… Hari berikutnya, saya lihat bukunya. Anak saya menulis tentang peralatan mandi. PR :  keramas memakai …., mandi memakai…., gosok gigi memakai …. Menulis angka dan membuat gambar benda sebanyak angka yang ditentukan. Karena merasa bisa, anak saya kelihatan menikmati proses pembelajaran. Anak saya juga bercerita kalau diajari menulis dan membaca. Dan seterusnya, materi pelajaran dan PR gampang. .

Ternyata, di sekolah sebelumnya, anak dianggap bisa membaca dan menulis. Jadi tidak ada pelajaran membaca dan menulis. Tapi setelah “hal terjadi pada anak saya”, sekolah lama sekarang ada pelajaran baca tulis.

Kembali ke tugas Bapak Ibu guru kelas I SD. Pelajaran dasar (Sepertinya) di kelas satu adalah pengenalan huruf dan angka. Pengenalan huruf dan angka yang diulang-ulang, rasanya memudahkan anak untuk menangkapnya dan menuliskannya. Bukankah zaman dulu, pelajaran Bahasa Indonesia “ini budi” yang fenomenal, kata-kata dan hurufnya hanya diulang-ulang? Dan, anak-anak yang dulu belajar “ini budi” juga pandai-pandai. Ada yang berprofesi sebagai dokter, psikolog, insinyur dan lain-lain.

Setiap hari, saya menyempatkan diri/meluangkan waktu untuk mendampingi di kecil belajar menulis, membaca dan berhitung. Saya membuka-buka buku pelajarannya. Kebetulan sekarang memakai kurikulum 13. Untuk saat ini materi pelajarannya adalah Tema I. Tema I (Diriku) pada beberapa halaman depan berisi perkenalan. Tokohnya Siti, Lani, Dayu, Edo, Udin, Beni dan lain-lain. Si kecil sampai hafal tokoh-tokohnya. Menurut saya, materinya juga tidak berat. Kalimat-kalimat yang ada, beberapa kata ditulis berulang-ulang sehingga anak hafal tulisan tersebut. Lama-kelamaan anak bisa membaca kata baru dan menuliskannya. Kalau materi pelajaran itu ringan, tentu saja anak akan senang karena merasa bisa mengikuti pelajaran.

00000

Beberapa orang tua yang memiliki anak kelas I SD, memiliki pendapat simple (saya setuju banget). Anak kelas I dan II, yang tidak terlalu lancar membaca dan menulis, bukan berarti bodoh. Kemampuan anak berbeda-beda. Mungkin pada hal tertentu, si anak mempunyai kemampuan yang luar biasa. Bisa jadi, anak lemah pada pelajaran saat kelas I dan II tetapi di tingkat yang lebih tinggi ternyata si anak lebih berprestasi dibanding anak-anak yang sejak awal masuk kelas I, baca tulisnya sudah lancar.

Bapak Ibu guru di kelas I, mengajar siswa di sekolah. Selebihnya, kalau di rumah, tentu kewajiban orang tua untuk mendampingi putra-putrinya dalam belajar. Kalau ini semua bisa berjalan dengan selaras, pasti semua bisa dikomunikasikan dengan baik dan hasilnya juga tidak mengecewakan.

Harapan saya, jangan sampai ada sekolah yang menolak calon siswa baru kelas I SD yang belum bisa membaca dan menulis. Karena perlu digarisbawahi “Di TK tidak boleh ada CALISTUNG”, jadi memang calistung belajarnya di SD.    

Wahai Bapak Ibu Guru Kelas I, Ajarilah Anak-anak kelas I membaca dan menulis!


Karanganyar yang dingin, 29 Juli 2017