Kamis, 25 Januari 2018

Lima (5) Cara Menghilangkan Anak Kecanduan Gadget


 
Gadget dan Barang dagangan
dok.pri
Saya mulai mengizinkan Dhenok membawa hp ketika Dhenok kelas 5 SD. Bukan berarti Dhenok boleh membawa hp ke mana-mana. Ada batasan waktu untuk Dhenok dalam membawa hp. Saat Dhenok sekolah, hp dibawa oleh Ayahnya. Dan ketika pulang sekolah, hp diberikan kepada Dhenok.

Saya sering mengamati, setiap membawa hp, anak tersebut bukan untuk kegiatan yang aneh-aneh. Paling-paling untuk memotret dan merekam kegiatan adiknya yang masih bayi (waktu itu tahun 2011-2012). Memotret pun bukan asal memotret tapi memotret alam, ilalang, sawah, bunga di tepi jalan dan lain-lain.  (Kadang saya tidak tahu jalan pikiran Dhenok bila dia sedang memotret)

Kini setelah Dhenok remaja, saya juga membatasi dia dalam penggunaan gadget. Alhamdulillah, gadget digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat. Saya baru menyadari kalau Dhenok melakukan jual beli barang secara online. Apakah saya bisa memantau kegiatannya? Ya, Insya Allah saya memantau semua kegiatan sehari-harinya. Dhenok dodolan secara online lewat tokonya sendiri atau lewat marketplace. Bagi saya, kegiatan positif ini perlu saya dukung karena menggunakan gadget bukan hanya untuk sesuatu yang mubazir. Untuk memasarkan produk-produknya, Dhenok perlu gambar-gambar yang keren. Perpaduan kamera DSLR dan gadget yang bagus, akan menghasilkan gambar produk yang tidak meragukan.

Sebenarnya, saya sendiri awalnya hanya memakai hp zadul. Hp yang hanya bisa digunakan untuk SMS dan telepon saja. Bagi saya, yang penting bisa untuk berkomunikasi dengan keluarga dan keluarga besar serta mudah dihubungi untuk kepentingan pekerjaan. Sekarang, untuk kepentingan menulis dan ngeblog, saya memerlukan gadget yang tidak hanya bisa untuk sms dan kring saja.

Anak saya yang kedua (kelas 1 SD) kadang-kadang meminjam hp saya untuk ngegame. Itu saja saya batasi waktunya. Hanya beberapa menit saja. Kok saya mengizinkan anak kecil memegang gadget? Saya mempunyai alasan si kecil boleh memegang gadget, karena di rumah tidak ada televisi. Pulang sekolah, si kecil berada di penitipan anak sampai sore. Setelah dijemput pulang ke rumah biasanya bermain (bermain dengan tetangga atau bersepeda keliling di dekat sawah).

Kalau tidak bermain, si kecil biasa diajak memancing (di selokan atau sungai) atau berolahraga bulutangkis/tenis lapangan (yang ini tugas Ayahnya). Sepulang dari memancing atau berolahraga menjelang maghrib, tentu saja ada agenda belajar membaca/menulis dan berhitung. Nah, kalaupun si kecil memegang gadget, waktunya tidak lama.

Kalau sekarang saya sering mendengar orang tua yang mengeluh karena anak kecanduan gadget, saya jadi heran. Kok bisa begitu ya? Siapa yang bersalah bila anak sampai kecanduan gadget? Bila sudah terlanjur, tidak perlu menyalahkan siapa-siapa. Mari bersama-sama memperbaiki komunikasi kita dengan anak-anak. Sebagai orang tua, kita harus sabar untuk mengubah kebiasaan anak yang sudah “kecanduan gadget”. Lalu bagaimana cara menghilangkan/mengurangi anak kecanduan gadget? Lima (5) cara menghilangkan atau mengurangi anak kecanduan gadget, adalah:
1.    Luangkan Waktu Untuk Anak
Selama ini, berapa lama kita melakukan kegiatan bersama anak-anak? Sepulang dari bekerja di luar rumah, masih adakah waktu kita melakukan kegiatan bersama anak-anak? Atau malah pulang dari kantor, sampai di rumah masih bekerja lembur-lembur, pekerjaan kantor dibawa pulang? Lantas anak-anak juga sibuk dengan urusannya sendiri, nonton televisi, bermain sendiri atau memegang gadget?

Mari luangkan waktu untuk anak-anak, kita bisa duduk bersama atau melakukan kegiatan bersama, berbincang-bincang ringan, menemani anak melakukan aktifitas dan sebagainya. Anak lebih merasa diperhatikan dan lebih percaya diri. Dengan kita mendampingi anak, anak tidak lagi merasa sendiri.

Orang tua bisa mengajak anak-anak melakukan perjalanan wisata atau travelling di sekitar kota. Perjalanan yang ditempuh atau tempat wisata yang dikunjungi tidak harus jauh-jauh. Orang tua bisa mengajak anak-anak mengunjungi tempat wisata yang dekat dan tidak menguras kantong.

Orang tua juga bisa mendampingi anak-anak keluar rumah untuk sekadar mencari sesuatu yang dibutuhkan anak. Dengan demikian, anak mengurangi memegang gadget bila bersama dengan orang tua dalam melakukan aktifitas yang menarik perhatiannya.


2.    Biarkan Anak Bermain Dengan atau Tanpa Mainan
Saya sering membaca tulisan tentang perbedaan permainan anak-anak zaman dulu dengan zaman now. Zaman dahulu, permainan anak-anak cenderung dilakukan bersama teman-temannya. Tidak ada anak yang bermain secara individu atau perorangan, sendirian. Ada permainan yang sifatnya bertanding berkelompok dan ada yang bertanding sendiri-sendiri. Ada permainan dengan menggunakan alat permainan, ada juga permainan tanpa menggunakan alat permainan.

Berbeda dengan zaman sekarang, anak cenderung sibuk “sendirian”. Bermain gadget sendiri, menyendiri dan tidak berinteraksi dengan anak lain.

Agar anak mengurangi dan tidak bergantung pada gadget, orang tua bisa mengajak anak-anak untuk bermain bersama teman-temannya. Bermain bersama teman yang lain maka akan terjadi komunikasi antar anak. Anak bisa bersama-sama membuat mainan atau bermain bersama.

3.    Sibukkan Dengan Kegiatan Positif
Di rumah kami, tidak ada televisi. Saya, suami dan anak-anak biasa tidak melihat TV karena di rumah tidak ada TV. Sesekali melihat TV kalau berada di rumah orang lain. Itu saja, bagi saya acara TV sekarang tidak banyak yang menarik. Memang ada beberapa acara TV yang menarik dan mendidik, tapi saya sudah terlanjur tidak suka menonton TV.

Anak saya yang besar sibuk dengan “dagangannya”. Si kecil juga sibuk dengan kegiatannya. Kegiatan luar yang paling disukai si kecil adalah memancing. Sedangkan waktu luang hari-ihari biasa, sering ikut Ayahnya melakukan olahraga. Olahraga yang dijalani si kecil adalah bulutangkis dan tenis lapangan. Si kecil juga suka beternak, maka dia paling suka kalau diajak jalan-jalan untuk melihat ternak, seperti ayam, bebek, ikan, kambing dan sapi.  

4.    Berikan Batasan Waktu Bermain Gadget
Kalau belum terbiasa menggunakan gadget, silakan batasi saja menggunakan gadget untuk ngegame atau berinternet. Cara membatasi di sini juga tidak perlu kaku. Berikan pengertian terlebih dahulu kepada anak. Internet bisa dinikmati dengan batasan waktu. Alangkah baiknya kalau di awal ada perjanjian antara anak dengan orang tua.

Kalau anak bisa berhasil menggunakan gadget dengan bijak, berikanlah penghargaan. Kalau ternyata anak melanggar peraturan, berikan sanksi yang tidak memberatkan.

5.    Ajaklah Anak Untuk Bersosialisasi
Orang tua bisa mengajak anak bersosialisasi dengan teman-teman, saudara, tetangga dan lain-lain. Dengan mengajak bersosialisasi ada nilai positif, yakni silaturahmi. Selama bersosialisasi, tentu saja tidak boleh membawa gadget. Ajarkan pada anak, untuk menghargai orang lain dengan cara tidak sibuk sendiri dengan gadget.

Dengan bersosialisasi, ada kontak fisik dan kontak mata dengan orang lain. Kalau sudah ada kontak mata dengan orang lain maka akan ada senyum tipis yang menghias bibir sehingga ada pelajaran berinteraksi dengan orang lain membuat kita bahagia.
Nah, ayo batasi penggunaan gadget pada anak dan keluarga. Gunakan  gadget seperlunya saja. Dan tulisan ini telah berhasil membuat saya melepaskan gadget beberapa saat. Masih di #SatuHariSatuKaryaIIDN, tetap semangat dan semoga bermanfaat.


Karanganyar, 25 Januari 2018