Sabtu, 14 April 2018

THE POWER OF “MESIN JAHIT”




Sebenarnya saya bukan tipe orang yang suka menunda-nunda waktu dan membiarkan waktu terbuang dengan percuma. Akan tetapi saya sering tidak bisa membagi waktu untuk melakukan semua pekerjaan. Sepulang sekolah, saya harus mengerjakan tugas sebagai Ibu rumah tangga dan istri sholehah. Kalau malam hari saya berupaya untuk menulis dan berbagi tulisan.

Selain menulis, saya memiliki hobi menjahit. Menjahit pakaian, rok atau celana panjang sangat mengasyikkan. Kadang-kadang saya lupa waktu kalau sudah asyik menjahit. Akhir bulan Maret yang lalu, guru-guru sudah diingatkan untuk memakai baju batik terbaru  tiap hari Kamis.

Saya ingin menjahit sendiri baju batik hijau. Dengan modal pola jiplak milik mbak Wilis, saya mencoba membuat baju seragam PKK RT. Ternyata menggunakan pola jiplak ini memang sangat praktis. Tinggal jiplak, tak perlu mengukur dan membuat pola sendiri.

Untuk seragam batik hijau, belum sempat saya buat ternyata hari merangkak menuju Kamis. Oleh karena sebagian besar guru/karyawan sudah memakai seragam batik hijau maka saya diingatkan oleh beliau orang nomor satu di sekolah.

Ketika saya bilang kalau baju saya belum jadi, beliau mengatakan bahwa beliau tidak mau kalau nanti ada teman yang membicarakan saya gara-gara tidak memakai seragam batik hijau. Saya diam saja. Saya hanya membatin, pokoknya seragam segera diselesaikan.


Sampai di rumah, saya mulai mengeksekusi. Setelah memotong kain, mulailah menjahit. Tapi apa yang terjadi? Pada tahap akhir pemasangan lengan, tali karet yang dihubungkan dengan dynamo putus. Innalillahi. Hari sudah malam, suami tidak di rumah pula (lagi mudik bersama anak-anak).

Bismillah. Akhirnya, saya mengeluarkan jurus  penggunaan tali untuk menjahit secara manual tidak menggunakan dynamo. Tali tersebut saya buat dengan cara menrobek kain jarik yang sudah tidak dipakai. Syukur Alhamdulillah, akhirnya baju saya jadi. Tinggal memasang kancing dan membuat lubangnya.

Kalau sudah kepepet, mesin jahit saya ini memang sangat membantu. Mesin jahit saya beli belasan tahun yang silam. Waktu itu saya mendapatkan rezeki berupa insentif dari pemerintah. Saya minta izin terlebih dahulu kepada suami. Meskipun uang saya sendiri, saya biasa minta izin bila mau membelanjakan uang.

Meskipun belum modern, setidaknya mesin jahit saya masih bisa digunakan. Keuntungan saya bila menggunakan mesin jahit untuk menjahit baju adalah unsur pengiritan. Selain itu, menjahit sendiri waktunya hanya sebentar saja. Tidak perlu menunggu lama seperti kalau menjahitkan di penjahit. Kekurangannya adalah saya belum bisa memasang saku dalam. Semua baju yang saya jahit tidak memakai saku. Untuk rok dan celana panjang tetap saya beri saku.

Semoga penjahit pemula seperti saya ini bisa terus berkembang dan maju. Bagi yang belum memulai menjahit, ayo menjahit mulai sekarang, jangan tunggu besok.