Jumat, 01 Juni 2018

TANPA UTANG HIDUPKU MENYENANGKAN


Dua hari libur dan hanya berada di rumah, membuat saya benar-benar merasa bebas dari beban. Saya tahu teman-teman pasti membatin kalau saya sangat menikmati liburan. Mereka membayangkan saya bisa selonjoran sambil membuka laptop, browsing atau bobok manis.

Hidup hanya sekali, tentu saja harus dinikmati dan tidak boleh dilewatkan begitu saja. Saya ingin berlama-lama di rumah. Memang kondisi di kantor sekarang sangat berbeda dengan dulu. Dahulu berlama-lama di kantor, rasanya nyaman-nyaman saja. Saya ingat, pernah kami berada di kantor sampai sore karena benar-benar nyaman suasananya. Berbeda dengan sekarang, bel tanda pulang belum berbunyi, kami sudah bersiap tas ransel sudah di punggung.

Pagi tadi, seperti biasa saya memarkir super cup di tempat parkir. Beberapa teman saya langsung nyeletuk,”Wah, yang libur panjang. Bahagianya, bebas merdeka tidak ada yang mengganggu dan tidak mendengar suara-suara pengganggu.”

Ternyata teman-teman melihat saya enjoy, kelihatan nyaman dan bahagia. Alhamdulillah, apalagi hari ini tidak ada orang yang senangnya marah-marah. Rezeki saya berada di sekolah. Di sekolah sampai siang, rasanya nyaman-nyaman saja selama tidak ada orang yang suka marah-marah.

Mungkin teman-teman saya heran, melihat saya bisa hidup tenang dan senang. Padahal mereka tahu, di kantor saya sering berada di bawah tekanan dan intimidasi. Bagi saya, hidup ini hanya sekali. Setiap masalah bisa diselesaikan dengan baik, tinggal bagaimana kita menyikapi.

00000

Saya memang suka dengan kehidupan saya yang simple, tidak terlalu repot dan sesuatu direspon dengan sederhana alias tidak rumit. Saya pernah bercerita bila pagi hari saya melakukan pekerjaan di dapur dan mengkondisikan  si kecil bersiap untuk sekolah. Suami tugasnya adalah menyiapkan sarapan, bisa dengan menggoreng telur atau membeli sarapan di warung pagi.

Suatu saat seorang teman berkomentar,”Kalau saya tidak mau disuruh membeli sarapan.”

Saya tersenyum. Bro, ini hidup-hidup keluarga gue. Suami gue ajah nggak usah disuruh, dengan suka cita mau membeli sarapan dan bahagia bisa meringankan pekerjaan gue. Kenapa lu sewot?

Kalau teman-teman putri yang repot setrika sampai bertumpuk-tumpuk sambil melihat sinetron, saya tidak. Baju yang sudah kering, dari jemuran lalu saya lipat rapi. Pakaian yang rapi langsung masuk lemari. Malam hari, saya hanya perlu menyetrika beberapa potong pakaian yang akan dipakai keesokan harinya. Pakaian harian yang dikenakan di rumah tidak perlu disetrika.

Oleh karena saya menyetrika pakaian yang akan dipakai esok hari secara mendadak maka saya selalu bertanya pada suami pakaian apa yang akan digunakan. Maklum, suami adalah guru olahraga. Memang tiap hari memakai pakaian olahraga tapi kadang-kadang memakai seragam sekolah selain kaos dan training.

Kalau ada tugas ke luar kota, saya akan menyetrika pakaian suami secara mendadak malam hari sebelum berangkat. Hal ini saya lakukan karena saya harus menghemat energy. Kebetulan di rumah kami tidak memiliki asisten rumah tangga. Saya tidak memaksa suami untuk terlibat dalam pekerjaan rumah tangga. Kalau suami mau membantu, ya Alhamdulillah. Kalau suami tidak mau membantu pekerjaan rumah tangga, ya nggak apa-apa. Tapi ada perjanjian di antara kami : suami tidak boleh banyak menuntut saya dan tidak boleh mencela pekerjaan saya.

Hidup saya memang dilihat orang sangat menyenangkan dan saya selalu bahagia. Belum lagi baik teman, tetangga atau kerabat saya, melihat kehidupan saya menyenangkan dilihat secara ekonomi. Sebenarnya secara ekonomi, saya sih biasa saja. Mungkin karena saya enjoy dengan hidup sederhana, tidak bergaya, tidak memaksakan diri ikut seperti orang-orang. Kelihatannya saya tidak memiliki masalah ekonomi. Padahal, mungkin saya sama dengan mereka. Masalah ekonomi sering muncul, hanya saya pandai menyikapi saja. Tidak usah neko-neko.

Saya dan suami sepakat tidak mau terjebak dalam lingkaran setan riba. Oleh karena itu, kami tidak akan memaksa untuk membeli sesuatu bila tidak mampu. Sebisa mungkin tidak menggali lubang utang. Bagi saya pribadi, cukuplah pengalaman orang tua saya menjadi pelajaran untuk kehidupan rumah tangga kami. Saya dan suami bukan orang kaya raya secara materi. Kami hanya kaya hati. Hidup kami tidah wah. Biasa saja.

Suatu hari, seorang teman bilang tanpa utang hidup tidak semangat. Dengan memiliki utang, kerja jadi semangat. (Saya tidak setuju, tapi saya tidak menyinggung orang yang mengajak bicara saya maka saya hanya diam).

Banyak yang tidak cocok dengan prinsip saya : jangan berutang. Utang itu memberatkan. Terima uangnya sih enak, tapi nyicilnya yang berat. (Gara-gara tidak sependapat dengan soal utang ini, saya pernah dinyinyiri. Hidup-hidup gue, kenapa gue nggak punya utang kok malah seperti terdakwa. Hiks-hiks-hiks)

Ah, mungkin benar kata orang kalau hidup saya menyenangkan tanpa beban. Semoga apa yang dikatan teman-teman merupakan doa.