Hari Selasa kemarin saya kedatangan teman lama. Kami biasa saling berkunjung. Kebetulan dia mau menjemput anaknya. Jadi, masih ada waktu untuk ngobrol. Teman saya memiliki 2 anak. Yang besar sudah menikah dan punya 2 orang anak. Yang kecil kelas 1 SMA. Anak saya uang besar adik kelas anak teman saya. Yang kecil satu sekolah dengan anaknya.
Obrolan kami macam-macam, terutama soal menyiapkan diri untuk "pulang kampung" akhirat dengan banyak beramal. Usia mulai menua, kini mikirnya tentang akhirat. Kesenangan di dunia hanya sementara. Kelak anak-anak juga akan berkeluarga dan meninggalkan kita.
"Bu, besok kalau tua aku pingin hidup di panti jompo. Tidak merepotkan anak, tapi tidak sendiri di rumah. Aku tahu, pasti banyak yang kontra. Di panti jompo aku bisa bantu-bantu apa yang bisa kulakukan."
"Ho o. Apik wae. Cuma, anak-anak mengizinkan atau tidak."
"Ikut anak itu beda kalau berada di rumah sendiri. Ikut anak, ada menantu. Mertua-menantu dalam satu rumah kebanyakan ada gesekan, apalagi dengan menantu perempuan. Tapi di rumah sendiri, kalau ada apa-apa kadang tidak ada yang menolong. Beberapa kisah nyata; orang tua/lansia membusuk di rumah, meninggal setelah beberapa hari baru ketahuan, dan lain-lain. Kalau di panti jompo minimal ada temannya."
"Kalau masih sehat dan bisa berkarya juga bisa melakukan aktivitas yang menghasilkan uang. Berkebun dan beternak ayam."
Saya jadi ingat seorang perempuan penulis terkenal. Dia tinggal di panti jompo, anaknya berada di luar. Dia sendiri yang menginginkan berada di panti jompo. Secara materi berlebih. Di panti jompo semata-mata ingin berada di tempat yang nyaman, komunitas sama (lansia) dan dapat berbagi manfaat.
Menurut saya tidak masalah menua di panti jompo. Sebab. Hidup ini adalah pilihan. Abaikan orang lain yang tidak sependapat. Bila itu membuatmu nyaman, lakukan. Kelak kalau tak lagi nyaman masih ada pilihan lainnya.
"Kalau di rumah sendiri, harus ada yang menemani. Paling tidak ada yang mengunjungi pada jam-jam tertentu dan memastikan kita baik-baik saja."
"Ada artis lajang yang ingin menua di panti jompo. Namanya siapa ya."
Saya gercep, gugling.
"Putri Patricia."
"Ho o."
00000

Tidak ada komentar:
Posting Komentar