Minggu, 10 Juli 2016

Bijak Mengelola Keuangan Setelah Lebaran #10

Pedagang Pasar Tradisional
dok.pri
Bijak Mengelola Keuangan Setelah Lebaran #10
Hari Senin besok, aktivitas berjalan seperti sedia kala. Bagi karyawan yang diberi cuti selama satu minggu, besok sudah mulai masuk kantor lagi. Bagi pekerja, tak ada alasan menambah cuti. Harus masuk dan bekerja.
Selama ini saya tidak libur kerja lo. Setiap hari tetap bekerja meskipun kalender tanggal merah. Setiap hari saya menulis dan setiap hari memosting tulisan. Iya, penulis itu tugasnya menulis dan tak boleh berhenti (kecuali ada halangan).
Apalagi kalau sudah memiliki komitmen menulis tiap hari dengan slogan one day one post. Mau tidak mau dalam keadaan apapun harus menulis. Justeru di sinilah enaknya, idenya segera tertuang. Bukankah saat libur kenaikan kelas dan lebaran, banyak peristiwa yang bisa dituliskan?
Tadi pagi saya berbelanja di pasar tradisional terdekat. Sebenarnya saya paling malas berbelanja kebutuhan dapur di pasar. Mengapa demikian? Karena berbelanja di pasar bagi saya membuat kantong cepat kosong. Meskipun sudah saya tulis barang-barang yang akan dibeli, tetap saja ada yang dibeli di  luar rencana.
Pedagang Pasar Tradisional
dok.pri
Saya lebih suka berbelanja sayur dan kebutuhan dapur pada mas-mas pedagang sayur keliling kampung-kampung. Hanya saja tadi saya belum menemukan mas pedagang sayur yang ganteng dan baik hati. Suami dengan senang hati mengantar saya belanja di pasar.
Tak banyak yang saya beli, hanya tempe dua papan, sop-sopan dua ribu rupiah, Lombok, kerupuk dan sate lontong buat Faiz. Ternyata harga sayuran dan kebutuhan dapur normal-normal saja, masih wajar, tidak terlalu mahal.
Kalau selama ini yang saya tahu setelah lebaran biasanya harga kebutuhan pokok masih tinggi. Kali ini tidak, harga-harga  masih normal dan pasokan cukup. Dan saya hanya membeli sesuatu yang saya butuhkan saja. Saya memakai kacamata kuda agar tak melirik sana-sini yang bisa menguras kantong.
Sampai di rumah lalu mendadak jadi koki. Sarapan di rumah adalah langkah tepat untuk menjalankan program pengiritan. Selain itu memasak bahan-bahan yang ada di dapur untuk makan siang dan sore akan menjauhkan kita dari pemborosan.
Langkah pengiritan lainnya adalah tidak bepergian ke tempat wisata. Tempat-tempat wisata di Kabupaten Karanganyar pada liburan ini sangat padat pengunjungnya. Mengunjungi Grojogan Sewu bagi penduduk asli Karanganyar pada saat ini adalah tindakan yang kurang perhitungan. Selain padat pengunjung di tempat wisata, juga tak mungkin sabar berdamai dengan macet. Bahkan kemarin diberitakan Tawangmangu-Karangpandan (Karanganyar) macet sampai 3 km. Macetnya ini memang tidak separah Tol Brebes atau Semarang.
Warung lesehan biasanya menjadi tempat favorit untuk makan malam. Kalau kita memiliki kolam ikan di rumah, lebih baik dikuras dan dimasak bareng-mareng daripada makan di warung lesehan yang harganya selangit.
Masih banyak tindakan pengiritan yang bisa dilakukan. Intinya, jangan habiskan uang untuk lebaran saja. Masih ada 21 hari berjalan kebutuhan sehari-hari yang harus dipenuhi. Lakukan pengiritan sana-sini, agar dompet kita tetap berisi. Kalau pertengahan bulan dompet kita kosong, kita bisa meringis. Jangan lupa, anak-anak butuh biaya besar untuk kebutuhan sekolah.

Karanganyar, 10 Juli 2016

Sabtu, 09 Juli 2016

Tak Ada Perjuangan Yang Sia-sia #9

Adu Cepat Naik Bus
dok.pri

Tak Ada Perjuangan Yang Sia-sia #9
Tidak ada yang sia-sia dengan usaha saya untuk bertemu teman-teman semasa SMA, bahasa kerennya sekarang adalah reuni. Sebenarnya bagi teman-teman yang mukim di Yogyakarta setiap saat bisa bertemu untuk sekadar ngobrol menikmati bakmi Jawa favorit mereka pada malam hari. Kebetulan saya tak bisa ikut berkumpul bila tak ada agenda khusus. Kemarin, Jumat adalah waktu yang tepat mengikuti reuni.

Kebetulan suami juga menghadiri acara reuni yang diadakan bersama teman-temannya SMA. Jadilah saya tetap tinggal di Yogyakarta, sedangkan suami dan kedua anak saya kembali ke Karanganyar. Dan tadi pagi waktunya saya balik ke Karanganyar.
Alumni 3A1 '90
dok.pri

Perjuangan saya balik ke Karanganyar tidak dipenuhi drama mengharukan sama sekali. Saya benar-benar menikmati kepulangan saya yang sendirian. Wah, saya seperti masih jomblo saja, apalagi wajah saya adalah wajah anak 17 tahunan. (Hohohoi, jangan diprotes).

Dari jalan raya menuju terminal Yogyakarta, saya harus mengeluarkan ongkos naik bus sebesar lima ribu rupiah. Dilanjutkan saya duduk manis di dalam bis Yogya-Surabaya, tarifnya hanya dua belas ribu, fasilitas full AC. Perjalanan saya benar-benar lancar, bahkan biasanya di sekitar bandara macet, pagi itu tidak macet sama sekali. Sampai di Kartosura memang harus sabar. Meskipun tidak sampai macet, jalannya bus tetap saja merayap.
 
Keluarga Budiarso
dok.Faiqah Nur Fajri 
Turun di terminal Tirtonadi, saya harus naik bus jurusan Karanganyar. Saya melihat perjuangan orang-orang berebut bus. Mungkin semua ingin segera sampai pada tempat yang dituju. Beruntung, saya tidak melakukan perjalanan pulang ini bersama anak-anak. Saya tidak tega kalau harus mengejar waktu, berebut tempat duduk untuk mendapatkan kursi buat buat anak-anak.

Kali ini dari Solo sampai Karanganyar, saya harus mengeluarkan biaya sepuluh ribu. Ini tarif lebaran. Biasanya saya hanya mengeluarkan ongkos naik bus Solo-Kra sebesar tujuh ribu saja. Namanya lebaran, ya tak apalah. Yang penting pelayanannya baik.

Turun dari bus saya dijemput suami. Alhamdulillah, selamat sampai rumah. Tidak sempat istirahat, saya dan keluarga kecil saya harus menghadiri acara halal bi halal keluarga besar/trah. Sebenarnya mata saya tak mau diajak kompromi. Demi keluarga suami yang menjadi panitia, saya harus menyukseskan acara pertemuan trah ini.
Keluarga Budiarso, Mursito, Arif Purnama
dok.Faiqah Nur Fajri

Kebetulan Faiq menjadi fotografer. Gambar-gambar yang diambil berupa foto keluarga tiap keluarga atau keluarga besarnya. Nantinya foto-foto tersebut akan didokumentasikan dalam bentuk album dan diposting dalam blog.

Di keluarga besar suami, saya dan anak saya memang dikenal. Namun, hari ini keluarga besar suami tidak mengenal anak saya yang 13 tahun yang lalu masih imut dan lucu. Ya, Faiq memang identik dengan saya. Di situ ada saya pasti ada Faiq. Kalau saya tak ada berarti Faiq juga tak ada.

Banyak yang menanyakan Faiq. Padahal mereka sudah berhadapan langsung dengan Faiq. Setiap tamu yang datang dipersilakan foto keluarga dulu. Yang mengatur posisi berfoto tersebut adalah Faiq. Saya bilang, itu yang pegang kamera dan memotret adalah Faiq. Mereka kaget, tak menyangka kalau Faiq sudah besar.

Dalam hati saya bersyukur, saya berhasil membuat Faiq bodynya tak diragukan lagi. Meski memakai jilbab, Faiq tetap tomboy. Saya memang sengaja memberikan yang terbaik buat Faiq. Saya tak pernah memaksa Faiq menjadi apa. Saya hanya mendukung bakat dan kemauannya saja. Semoga dia berhasil menjadi fotografer professional. Dan yang tak kalah penting adalah tetap menjadi sholehah.

Selama acara pertemuan keluarga trah berlangsung, Faiq mengedit gambar dan akhirnya selesai. Tugas selanjutnya diserahkan pada admin Blog. Admin inilah yang akan memosting tulisan dan foto-foto.

Akhirnya acara selesai dan kami harus pulang keluarga adik-adik suami akan datang ke rumah kami. Cukup lama kami berbincang-bincang sementara anak-anak bermain. Sebelum maghrib mereka pulang. Saya pun kembali bekerja, yaitu menulis.

Perjuangan saya tak sia-sia. Apa saja yang saya perjuangkan? Yang saya perjuangkan adalah:
1.      Silaturahmi dengan teman SMA
2.      Kepulangan menuju rumah
3.      Bertemu saudara dan kerabat
4.      Mendukung kegiatan fotografi Faiq
5.      Berbincang-bincang dengan saudara kandung suami
6.      Mengeratkan hubungan antara anak-anak dengan sepupunya

Banyak yang akan saya tulis, tetapi cukup sekian dulu. Semoga bermanfaat.


Jumat, 08 Juli 2016

Tips Bila Bertemu Teman Lawas Teman SMA #8

Tujuh belas tahun ke atas
dok.Reuni 3A1 
Tips Bila Bertemu Teman Lawas Teman SMA
Lebaran, bersilaturahmi, bermaaf-maafan, dan reuni sepertinya menjadi rangkaian kegiatan yang tak terpisahkan. Walaupun tidak wajib, namun bertemu dengan orang-orang yang pernah dekat dengan kita, sayang bila dilewatkan begitu saja.

Setelah Ramadan telah berlalu, lebaran kemarin sudah diisi dengan kegiatan silaturahmi, sekarang waktunya reuni. Saya menghadiri acara reuni yang diadakan teman-teman SMA kelas 3A1 angkatan ’90, di Desa Ngrame, Kasihan, Bantul. Pasti bakalan seru!
 
Serius banget
dok.Reuni 3A1
Saya harus menghadiri reuni sendiri, sebab suami dan anak-anak sudah balik ke Karanganyar. Nah, berhubung saya termasuk orang yang tak suka pergi-pergi kalau tak dengan suami, jadilah saya tak hapal rumah teman-teman SMA. Namun, Alhamdulillah, saya akhirnya bisa sampai di rumah teman saya, yaitu Mas Edi Yulianto. Perjuangan yang luar biasa.

Beberapa teman yang datang antara lain Warti, Rosa Listyandari, Siti Rochimah, K Heru Kuncoro (Jalink), Didyk Hartanto, Budi Santosa, Barudi Hidayat, Adi Cahyadi. Oya, saya Noer Ima Kaltsum datangnya nomor satu (plok-plok dapat hadiah).

Tahun ini yang datang masih seperti tahun yang lalu, ketambahan mbak Siti Rochimah dan mas Didyk. Ada beberapa hal yang perlu saya sampaikan berkaitan dengan reuni tahun ini.
1.      Kami memilih tempat reuni di rumah teman, bukan di rumah makan atau warung lesehan, restoran dan lain-lain. Tujuannya agar kami tahu rumah teman-teman.
2.      Temanya sederhana. Silaturahmi untuk menghilangkan kelompok-kelompok atau gap-gap.
3.      Reuni adalah tempat menyampaikan kabar tentang teman yang pernah ditemuinya
4.      Memberikan informasi penting, agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan
5.      Berbagi cerita, berbagi info tentang peluang bisnis (bagi yang suka bisnis)
6.      Reuni bisa memperpanjang umur
7.      Reuni bisa membuka peluang mendapatkan ide menulis (haiyah, ini bagian dari penulis)
8.      Berbagi info tentang obyek wisata yang bisa dikunjungi ketika mudik, tentang perjalanan yang bebas dari macet.

Masih banyak yang bisa saya tuliskan. Namun, ada sesuatu yang penting yang bisa saya tuliskan di sini mengingat teman saya bermacam-macam profesi. Cukup satu saja ya, ini tentang obrolan ringan bersama pak dokter jiwa, Mas Dokter.

Suatu hari di group WA Mas Dokter mengirim rekaman pasiennya yang lagi omong tentang duit. Namanya orang gila jadi bicaranya ngawur. Durasi rekaman hanya beberapa menit, tapi cukup membuat saya ngakak. Saya sampai ditanya suami, Mi ngapain ta kok ngakak sendiri. Saya putar lagi rekaman suara pasien tadi. Suami tersenyum.

Nah, Mas Pos (pegawai kantor pos) bertanya-tanya tentang pasien RSJ. Apakah semua pasien bisa disembuhkan? Mas Dokter jawab tidak semuanya. Ada yang masih bisa disembuhkan, tapi yang sudah parah tentu saja sulit.

Mas Pos juga bertanya tentang perbedaan psikolog dan psikiater. Lama-kelamaan pertanyaannya kok guyonan. Wah, ini nggak bisa saya tulis di blog.

Bincang-bincang santai ini juga disampaikan tips menjalin persahabatan, dengan teman lama. Bila kita ingin bersahabat dengan teman, maka jangan rusak persahabatan tersebut dengan pinjam-meminjam sesuatu (tidak disebut, mungkin tidak etis). Karena yang dibicarakan adalah dunia laki-laki, maka saya tak ikut campur.

Bagi saya pertemuan sore tadi benar-benar mempererat persaudaraan. Saya tidak menyangka sama sekali bisa bertemu teman-teman yang heterogen.

Setelah cukup waktu bertemu dengan teman-teman, maka acara reuni diakhiri. Dua teman saya, bertugas membagi makanan yang masih ada untuk dibawa pulang ke teman lainnya.
Terima kasih tuan rumah semoga barokah. Terima kasih teman-teman yang sudah membawa makanan dari rumah (seperti kado silang).

Terima kasih sahabat yang sudah datang pada acara reuni ini. Semoga yang tidak bisa datang reuni dalam keadaan sehat. Amin. Acara terakhir adalah foto bareng. Alhamdulillah, terus pulang terus nulis terus ngobrol sama saudara kandung.


Yogyakarta, 8 Juli 2016

Kamis, 07 Juli 2016

Tips mengunjungi Hutan Pinus di Imogiri #7

Pohon Pinus
dok.pri
Tips mengunjungi Hutan Pinus di Imogiri

Imogiri, tidak hanya dikenal dengan Makam Raja-raja dan gurah saja. Sekarang Imogiri juga dikenal obyek wisata alamnya yang lumayan sejuk. Terletak di desa Mangunan, kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, DIY. Ya, hutan pinus.

Meskipun terletak di kecamatan Dlingo, tetapi orang menyebut tempat wisata Hutan Pinus adalah Imogiri. Hal ini dikarenakan Hutan Pinus terletak di atas Makam raja-raja Imogiri. Bila ingin ke Imogiri, dari Ring road selatan dilanjutkan ke Jalan Parangtritis. Sebelum arah ke Makam Raja-raja belok ke kanan.
Tempat Parkir Nyaman
dok.pri
Tempat wisata di Kabupaten Bantul selain pantai, sebenarnya masih banyak lagi. Bagi yang tak suka dengan air, Hutan Pinus bisa dimasukkan daftar tempat wisata yang perlu dikunjungi. Anda pingin berwisata alam yang tak banyak merogoh kantong, pilihannya adalah Hutan Pinus. Hutan Pinus merupakan salah satu obyek wisata, di mana tempatnya mudah dijangkau.

Untuk memasuki kawasan Hutan Pinus, kita tak dipungut biaya masuk dengan tiket. Bila membawa kendaraan cukup mengeluarkan uang untuk biaya parkir.
Nostalgia
dok.pri
Kalau sudah jalan-jalan di Hutan Pinus, bisa dilanjutkan berziarah ke Makam Raja-raja. Nah, kuliner di sekitar makam harganya sangat terjangkau. Ada pecel, tempe kara, thiwul ayu dan wedang uwuh.
Sendiri
dok.pri
Ada beberapa tips saat kita mengunjungi Hutan Pinus Imogiri, yaitu:
1.      Sebaiknya membawa kendaraan pribadi, karena tidak ada angkutan umum yang akan mengantarkan sampai lokasi/tempat tujuan
2.      Sebaiknya membawa bekal makanan dan minuman sendiri, sebab di sekitar tempat wisata belum ada pedagang yang menyediakan makanan/minuman secara komplit. [Malah mungkin belum ada pedagang yang menjajakan dagangannya di sekitar obyek wisata]
3.      Jangan membuang sampah sembarangan
4.      [penting] JANGAN MENYALAKAN API karena Hutan Pinus merupakan kawasan yang mudah terbakar

Mumpung libur lebaran masih beberapa hari lagi, bagi yang sudah mukim di Yogya, jangan lupa ke Hutan Pinus Imogiri. Pemandangannya sungguh eksotis.


Yogyakarta, 7 Juli 2016

Rabu, 06 Juli 2016

Lebaran Tanpa Lombok Rawit

dok.pri
Lebaran Tanpa Lombok Rawit
Apa istimewanya membicarakan lebaran hanya dengan tema sekadar Lombok rawit? Bagi orang lain mungkin hal itu biasa saja tetapi bagi saya dan keluarga menjadi luar biasa. Mengapa demikian?

Lombok rawit biasa dimakan bersama gorengan, misalnya sosis, bakwan, tahu, tempe, risoles, tahu bakso, mendoan. Orang menyebut Lombok rawit sebagai lalapan. Tentu saja Lombok rawit yang dikonsumsi adalah Lombok rawit hijau yang sudah tua.

Kalau Lombok rawit merah, biasanya digunakan untuk sambal. Kalau dibuat sambal maka menjadi bermacam-macam namanya. Malah sekarang ada rumah makan yang menyediakan aneka macam sambal dan dikenal dengan nama Rumah Makan SS (serba sambal). Umumnya sambal rawit merah ini disediakan pada pedagang mie ayam, bakso dan soto.

Pada beberapa hari terakhir Bulan Ramadan, kami mau mengadakan acara bukber. Kebetulan salah satu kudapan yang disuguhkan adalah tahu. Maka kami membutuhkan Lombok rawit hijau sebagai lalapannya (diceplus atau digigit). Dulu ketika Ibu kondisinya masih kuat selalu menyediakan sayuran, bumbu dapur dan Lombok rawit di dalam kulkas tetapi sekarang tak lagi.

Di dalam kulkas tak ada persediaan Lombok rawit. Berarti kami harus membeli Lombok rawit hijau. Sebab tanpa Lombok rawit, makan tahu menjadi aneh (bagi yang suka nyeplus Lombok). Akhirnya Ibu membeli Lombok rawit secukupnya saja. Memang ada sisa sedikit untuk dikonsumsi. Yah, habis dah lomboknya.

Sehari sebelum lebaran, biasanya Ibu memasak opor ayam dan sambal goreng krecek. Namun kali ini beda, lebaran kali ini tidak ada ketupat, tidak ada opor ayam dan sambal krecek. Ibu tidak memasak untuk lebaran. Yang memasak untuk hidangan lebaran adalah kakak saya. Kakak memasak sayur asem, dan gurame asam pedas. Sayangnya kakak juga tidak membeli Lombok rawit, baik hijau maupun merah. 

Di rumah Ibu banyak makanan berbahan baku kedele, ada tahu goreng dan tempe goreng. Makan tahu dan tempe tidak sambil nyeplus Lombok rawit kok beda banget. Mau membeli Lombok di warung tetangga ternyata warungnya tutup. Lebaran begini tidak melayani pembeli.

Lebaran tanpa Lombok rawit, memang beda banget. Saya sendiri sebagai tamu (maksudnya anak yang rumahnya jauh dari Ibu) tak tahu-menahu tentang isi kulkas. Tahu kalau tak punya Lombok rawit, pasti saya bakal membeli untuk persediaan.

Siapa yang tak suka makan gorengan sambil nyeplus Lombok? Rasanya banyak orang yang suka makan gorengan sambil nyeplus Lombok. Semoga lebaran kedua sudah ada pedagang sayuran yang mulai berjualan.


Yogyakarta, 6 Juli 2016

Perjuangan Bertemu Saudara Untuk Berlebaran #6

Shalat Id, tahun 2016
dok.pri
Perjuangan Bertemu Saudara Untuk Berlebaran #6
Lima hari berada di rumah Bapak, menurut saya lama sekali. Saya tidak biasa meninggalkan rumah terlalu lama. Kalau rumah ditinggal terlalu lama, tentu saja ada sesuatu yang membuat saya ingin segera pulang. Pulang sehari lantas balik lagi ke Yogya.
Seperti kemarin, hari puasa terakhir, saya harus kembali ke Karanganyar. Untuk memastikan keadaan ayam saya baik-baik saja dan menyapu halaman rumah. Selain itu juga menyiram tanaman anti nyamuk.
Pagi hari saya dan keluarga kecil melaksanakan shalat Id di Masjid Assakinah, Manggeh, Lalung, Karanganyar. Setelah shalat, saya bersalaman dengan para tetangga. Wah, tetangga saya heran, kemarin kan saya mudik. Kok tiba-tiba pagi ini ikut shalat Id. Ya, saya bercerita kronologinya (hehe seperti olah TKP saja). Saya bersyukur, meskipun tetangga saya jauh (rumah saya rumah mewah alias mepet sawah, bahasa kerennya tinggal di tengah sawah) tapi mereka memperhatikan saya. Buktinya saya mudik atau tidak, mereka tahu saja.
Saya mempersiapkan diri untuk balik ke Yogyakarta. Ada sesuatu yang menarik yaitu saya harus membawa balon gas yang dibeli Thole. Padahal saya sudah meminta balonnya ditinggal saja. Kalau sudah sampai Yogya, nanti membeli lagi. Demi Thole sing bagus dewe, saya rela membawa balon gas dengan cara saya jepit, saya peluk sedemikian rupa supaya tidak mengganggu perjalanan.
Bawa Balon, Karanganyar-Yogyakarta
dok.pri
Alhamdulillah, sampai di rumah sukses. Saya menemui Bulik Lasmi dan keluarga. Kami mengobrol dengan asyik. Tiba-tiba Thole berteriak,”Ayah, balonku.”
Ternyata balon Thole nyangkut di kabel listrik. Setelah berusaha untuk mengambil namun tidak bisa, akhirnya talinya putus. Thole tidak menangis. Perjuangan saya dari Karanganyar-Yogyakarta berakhir dengan terbangnya balon. Padahal Thole baru memainkan balonnya sekitar 15 menit.
Beruntung, kakaknya baik hati mau membelikan balon lagi. Cerita tentang membawa balon ini dari Yogyakarta-Karanganyar dan Karanganyar-Yogyakarta sudah dua kali. Tak apalah, semoga tahun depan sudah tidak demikian. Lebaran, ada saja cerita serunya bersama si kecil.
Lebaran memang tidak selalu harus mudik. Tapi entah mengapa, suami selalu ingin menghabiskan waktu lebaran di Yogyakarta. Mungkin dia merasa kalau saya harus bertemu keluarga kala lebaran, sebab kedua orang tua suami sudah tiada.
Endhog Abang Yang Beli Mbak Faiq
dok.pri
Perjuangan dari Karanganyar-Yogyakarta, Yogyakarta-Karanganyar lalu Karanganyar-Yogyakarta sungguh menyenangkan. Naik sepeda motor, lewat desa dengan udara sejuk. Semoga kelak udara di desa tetap sejuk, amin.
Selamat berlebaran bersama keluarga.
Yogyakarta, 6 Juli 2016

Selasa, 05 Juli 2016

Sedekah Rombongan #5

Sedekah Rombongan #5

Kepulangan saya ke rumah Bapak alias mudik lebih cepat dari biasanya. Saya diminta saudara saya pulang lebih dahulu bila urusan sekolah sudah selesai. Ada acara yang akan diadakan di rumah, yaitu berbuka puasa bersama.

Seperti Ramadan tahun lalu, berbuka puasa bersama Ibu-ibu pengajian di rumah Bapak, persiapannya cukup melibatkan anak-anak Bapak. Sayang, tahun yang lalu saya tidak bisa mengikuti bukber karena masih repot.

Bapak yang memiliki acara bukber di rumah, namun seluruh pembiayaan ditanggung anak-anak. Jadi, bisa dikatakan Bapak bersedekah dari anak-anaknya. Oleh karena sedekah tersebut dikeluarkan dari anak-anaknya, maka saya menamakan sedekah rombongan.

Kok sedekah rombongan? Iya, karena yang bersedekah 4 orang dari keenam anak Bapak. Bagi kami hal itu biasa dilakukan. Sedekah yang dikeluarkan besarnya satu sama lain tidak sama. Seikhlasnya dan tergantung kemampuan masing-masing. Namun, saudara-saudara saya biasanya berlomba-lomba untuk memberikan kontribusi yang banyak.

Demikian juga bila lebaran tiba. Beberapa hari sebelumnya, anak-anak sudah memberikan uang pecahan kepada Bapak. Uang tersebut nantinya akan diberikan pada anak-anak tetangga yang datang silaturahmi ke rumah saat lebaran. Kami menyebutnya uang fitrah atau sekarang disebut angpao.

Anak-anak Bapak sudah menyiapkan pecahan uang kertas baru dengan besaran lima ribuan, sepuluh ribuan dan dua puluh ribuan rupiah. Lebaran kali ini kami tidak perlu memberi uang pecahan pada Bapak untuk angpao anak-anak tetangga sebab uang pecahan tahun yang lalu masih ada.

Anak-anak Bapak cukup menyiapkan makanan kecil dan minuman untuk tamu-tamu Bapak. Sekali lagi, kami mengeluarkan semua itu secara rombongan. Sebenarnya salah satu saudara saya bisa mengeluarkan biaya untuk bukber dan lebaran secara mandiri. 

Namun, dia kasihan pada adik-adiknya kalau tak berkontribusi. Dia tak mau pahalanya diborong sendiri. Saudara saya ingin anak-anak Bapak yang lain juga mendapat pahala dari bersedekah itu. Itulah indahnya dan nikmatnya sedekah rombongan.

Yogyakarta, 5 Juli 2015