Senin, 18 Januari 2016

Mencuri Nangka Kala Abu-abu Putih

Gambar 1. Di Parangtritis KIRSTA
dok.Eri Ratmanto
Bicara masa remaja penuh bunga-bunga tak lain adalah masa SMA. Menceritakan masa SMA berarti saya harus mengingat-ingat beberapa peristiwa penting (untungnya saya dulu sudah suka menulis hal-hal penting), yaitu kenangan 28 tahun yang silam. Ahai, saya masuk SMA tahun 1987 dan lulus tahun 1990. Tapi saya tetap merasa masih muda, karena murid-murid saya juga bilang usia saya sekitar 30-an tahun. Hehe, masih imut ya.
Kelas 1, murid baru siap beradaptasi dengan lingkungan baru
Sudah umum kalau murid baru dikerjain kakak kelas. Dulu, tahun 1987 yang namanya plonconan sudah ada. Cuma kalau di sekolah saya dibatasi, tidak boleh ada kekerasan fisik. Itu karena di sekolah saya sepertinya yang diandalkan kemampuan berfikirnya.
Gambar 2. Anggota baru KIRSTA
dok.Eri Ratmanto.
Kegiatan baris-berbaris sepulang sekolah sampai hampir maghrib dilaksanakan selama hampir seminggu. Dibentak-bentak, ditegasi, diajak disiplin, membuat kami menjadi pribadi yang siap menerima segala macam tantangan dan rintangan. Hikmahnya kami bisa mandiri.
Setelah hampir satu bulan kami menyesuaikan diri dari seragam putih biru ke putih abu-abu, kami harus memilih ekstrakurikuler (ekskul). Saya memilih ekskul Kelompok Ilmiah Remaja atau KIR. Di SMA saya ekskul ini memiliki nama KIRSTA. Ketua KIRSTA adalah Mas Julius Eri Ratmanto. Dia hobinya memotret. (Dokumentasinya banyak banget)
Gambar 3. Pelantikan anggota KIRSTA
dok.Eri Ratmanto
Anggota baru KIR mengikuti banyak kegiatan. Setiap hari Jumat sore sampai maghrib kami berada di sekolah diberi tugas-tugas ringan tentang penulisan. Setelah beberapa minggu mengikuti kegiatan awal, kami pun dilantik resmi menjadi anggota KIRSTA. Hore… berhasil-berhasil.
Di KIR ternyata kegiatannya ada yang di dalam dan di luar sekolah. Kegiatan ke luar sekolah pertama yang kami ikuti adalah melihat lebih dekat proses pembuatan gerabah di Kasongan (Sentra industry gerabah). Kami hanya bersepeda saja ke Kasongan, sebab jarak antara sekolah dan Kasongan tidak terlalu jauh. Hanya beda kecamatan saja. Asyik banget bersepeda di pedesaan. Kiri dan kanan jalan yang terlihat hanya sawah. Udaranya sejuk.
Gambar 4. Kegiatan ke Kasongan
dok.Eri Ratmanto
Kegiatan ke luar berikutnya adalah ke Parangtritis. Sama seperti waktu di Kasongan, pas di Parangtritis kami juga dibagi menjadi beberapa kelompok. Kelompok jurusan Fisika, Biologi dan IPS. Ternyata seru sekali mengikuti ekskul KIR. Bayangan saya awalnya KIR itu serius, ternyata tidak. Di sini santai, banyak guyon, banyak diskusi tapi tidak berlebihan guyonnya.
Gambar 5. KIRSTA di alam
dok.Eri Ratmanto
Kelas 2, kehilangan teman akrab. Hiks-hiks, semoga khusnul khotimah
Kebetulan saya tidak masuk dalam kepengurusan OSIS jadi saya tidak ikut mlonco adik-adik kelas. Tapi gak papa, saya memang tidak tipenya orang aji mumpung. Bagi saya tak masalah. Biarlah teman-teman saya yang lain yang kebagian ngerjain adik kelas.
Gambar 6. Pulang dari Paris
dok.Eri Ratmanto
Saya masih bertahan dan tak berpindah ke lain ekskul. Saya tetap masuk KIRSTA. Di KIRSTA saya menjadi pengurus juga, Cuma saya itu orangnya enggak tegaan. Kalau ngerjain sampai habis-habisan rasanya kok gak manusiawi gitu. Jadilah di kepengurusan angkatan kami, KIRSTA tidak memberikan gemblengan yang membuat anggota barunya keder. Lebih focus ke tulisan saja.
Tapi sewaktu pelantikan anggota baru atau acara formal, anggota baru KIRSTA digiring (ah, enggak juga digiring. Mereka jalan sendiri) dari sekolah menuju jembatan Prapanca. Di bawah jembatan itulah diadakan pelantikan anggota baru.
Gambar 7. Di bawah jembatan Prapanca
dok.Eri Ratmanto
Anggota lama adalah siswa kelas 2 dan 3. Kemudian kelas 3 tidak aktif lagi mengikuti ekskul. Mereka focus mendalami materi untuk persiapan EBTANAS dan UMPTN. Ada beberapa siswa kelas 3 yang masih aktif. Mereka adalah pengurus lama.
Anggota KIRSTA yang juga teman sekelas saya (kelas 2 A1/jurusan Fisika) di antaranya adalah Gianto. Di kelas kami, Gianto adalah ketua kelas. Gianto termasuk aktif di kelas, di KIRSTA maupun OSIS. Dia memiliki cirri-ciri rambutnya keriting, kulitnya hitam, badannya tak terlalu tinggi, senyumnya manis. Gianto anak desa yang rajin, ke sekolah naik sepeda kebo alias sepeda onthel (dulu memang jamak memakai sepeda onthel).
Pada hari Jumat seperti biasa, sore hari jadwal ekskul KIR. Pulang sekolah sebelum jumatan Gianto minta izin pada saya,”Bil, aku nanti tidak ikut KIR lagi masuk angin.” (Bil, itu panggilan saya. Teman-teman memanggil saya dengan sebutan Ima Libil). Saya menjawab,”Nggak papa, cepat sembuh ya.”
Pagi harinya, ketika saya sampai sekolah mendapat kabar bahwa Gianto meninggal dunia. Innalillahi wa innailaihirojiun. Ada apa dengan Gianto? Bukankah kemarin minta izin pada saya tidak mengikuti KIR hanya karena masuk angin biasa? Ternyata bukan karena masuk angin! Gianto mengalami musibah. Dia tertabrak bis ketika mau pulang ke rumah membawa gerobak berisi gabah.
Ceritanya meskipun dalam keadaan sakit, Gianto tetap membantu orang tuanya menjemur gabah. Hari telah sore, Gianto membawa pulang gabah-gabah itu. Gabah-bagah itu diangkut dengan gerobak. Sayang, ada bis yang melintas dan Gianto beserta gerobaknya tersenggol.
Sempat dibawa ke rumah sakit tapi jiwanya tak tertolong. Kami, teman-temannya sangat kehilangan. Khusus kelas kami pelajaran ditiadakan karena kami diizinkan melayat (memberi penghormatan terakhir) di rumah almarhum Gianto.
Gambar 8. Gianto depan kiri
dok.Eri Ratmanto
Suasana duka menyelimuti rumah keluarga almarhum. Di kota, keranda yang akan membawa jenazah diberi roncean bunga melati, mawar dan kenanga. Tapi di desa sangat berbeda. Hanya bunga yang ada di sekitar kampung yang menghiasi keranda. Yang saya ingat adalah bunga sepatu.
Saya merasa kehilangan seorang sahabat yang supel, rajin dan ulet. Selamat jalan sahabat, semoga khusnul khotimah. Hiks-hiks (mewek saya waktu itu). Nggak nyangka umurnya pendek, malaikat maut sudah melaksanakan tugasnya terhadap Gianto.
 Kelas 3, anak-anak gak jelas kabeh
Dor, dor, tiba-tiba ada ledakan
Gambar 9. Kelas 3 Fisika
dok. Rosa Listyandari
Di kelas 2 dan 3, kelas kami tidak dekat dengan kelas yang lain alias pojok. Kami jarang berkomunikasi dengan siswa kelas lain. Kalau istirahat bertemu dengan siswa kelas lain saat baca Koran dinding alias kording atau pinjam buku di perpustakaan.
Karena jurusan kami adalah fisika maka pelajaran IPA yang kita pelajari jam pelajarannya banyak. Perasaan saya kok pelajarannya IPA melulu. Hehe plek-plek-plek (tepuk pipi sendiri), ini jurusan IPA non!
Paling suka kalau pelajaran pas praktek, seperti praktek kimia (hehe, akhirnya sekarang saya mengajar kimia juga). Pada suatu hari (halah, dongeng banget ini), kami melakukan praktek kimia. Materinya adalah logam-logam dan reaksinya. Ini yang kami sukai karena kami suka usil.
Topiknya adalah sifat logam natrium (Na). Setelah membaca teorinya lalu praktek. Ambil gelas kimia lalu tuangkan air sepertiganya. Berilah beberapa tetes indicator pp. Di atas air berilah kertas saring. Lalu ambil logam natrium dengan penjepit khusus. Pelan-pelan, taruh logam natrium di atas kertas saring. Tidak usah menunggu lama, langsung terdengar ledakan dorrr cukup keras. Semua kaget. Biarpun sudah baca teorinya ternyata kaget juga(dikerjain guru kimianya). Dan lihat airnya berubah warna menjadi pink (larutan yang terjadi bersifat basa). Oke, pelajaran usai akhirnya pulang. Dari lab sampai kelas Cuma cengengesan saja.
Pulang sekolah, kami pulang ramai-ramai, jalan kaki lewat jembatan Julantoro (sebelah selatan jembatan Prapanca). Saat berada di atas jembatan, Budi, teman saya menyuruh berhenti. “Kosek, mandheg sik.” Tiba-tiba dia mengeluarkan sesuatu dari tas lalu dilempar ke sungai. Dorrr. Oalah, ternyata buka ambil logam natrium. Cengengesan lagi.
Ini nangkaku, mana nangkamu?
Teman-teman saya yang mayoritas laki-laki memang pada keterlaluan usilnya. Yang benar-benar berkesan waktu pesta makan buah nangka.
Pak Bon (Tukang kebun), marah-marah. Dia merasa mencium aroma buah nangka dari kelas kami. Kebetulan kelas kami dekat dengan dapur sekolah. Pak Bon kan bikin minumannya di dapur, jadi akhirnya mencium bau nangka. Di sebelah kelas saya adalah kamar mandi. Dekat kamar mandi ada pohon nangka yang buahnya lumayan banyak.
Namanya juga anak suka iseng dan usil, salah satu buah nangka yang sudah tua dipetik teman saya. Rupanya Pak Bon merasa kehilangan buah nangka (mungkin buah nangkanya sudah dikasih nomor antri petik ya?). Beberapa hari menahan rasa, akhirnya Pak Bon melaporkan perbuatan kami (saya jadi ikutan kena) ke kepala sekolah.
Intinya, kami tetap bersalah telah mengambil buah nangka yang bukan milik kami (padahal milik sekolah, milik kami juga ya? #pembelaan). Kami harus minta maaf dan berjanji tak mengulang lagi. Dan buah nangka oleh Pak Bon diikhlaskan buat kami. Asyik… akhirnya makan nangka gratis. Horeee.
Sebenarnya ceritanya banyak ya. Cuma kalau nulisnya terlalu banyak, saya gak bisa menyiapkan materi mengajar kimia untuk esok hari.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway Nostalgia Putih-Abu yang diselenggarakan mbak Arina Mabruroh di blog arinamabruroh.com
Karanganyar, 18 Januari 2016