Kamis, 10 Maret 2016

GMT dan Operasi Pengambilan Pen

Gambar 1. Makan Lahap
dok.pri
Hari ini, Rabo, 9 Maret 2016 saya dan suami mendampingi si kecil sing bagus dewe yang akan menjalani operasi pengambilan pen (platina yang dipasang di lengan atas kirinya). Meskipun libur Hari Raya Nyepi dan bertepatan dengan GMT tahun 2016, RS Kustati, Kota Surakarta, Jawa Tengah, tetap melayani operasi seperti yang sudah dijadwalkan. Memang jadwal operasi khusus hari ini mundur dari jadwal hari-hari biasa karena Tim Medis (dokter dan perawat) yang akan melakukan tindakan operasi melaksanakan shalat Gerhana di masjid terdekat sekitar rumah sakit terlebih dahulu.
Saya dan suami tidak dapat ikut melaksanakan shalat gerhana karena harus mengantri. (Bagian administrasi tetap berjalan, sejak jam 5 pagi, saya mulai mengantri jam 5). Di loket pendaftaran mengantri tidak terlalu lama. Akan tetapi sebelum saya datang sudah ada beberapa orang yang mengantri. Rata-rata mereka control (khusus orthopedic) dan mau operasi (tulang).
Sebelumnya saya sampaikan terlebih dahulu, Faiz anak saya yang kedua pada minggu keempat bulan Nopember mengalami patah tulang lengan kiri (di atas siku). Tanggal 26 Nopember 2015 menjalani operasi pemasangan pen. Saat akan pulang, Faiz diminta banyak latihan memegang hidung, telinga kiri, kanan dan memegang mulut. Dua minggu kemudian (8 Desember 2016), ketika control, dokter menyarankan untuk memberikan latihan memindahkan kelereng ke tempat yang lebih tinggi (latihan meluruskan tangan) dan gerak bebas. Tanggal 8 Januari 2016, control yang kedua disarankan oleh dokter untuk latihan melempar bola voli/bola basket. Pada saat control ini Faiz juga diminta untuk foto Rontgen. Ternyata posisi pen dan tulang sudah baik. Dua bulan berikutnya, tanggal 7 Maret 2016, control lagi dan dokter mengatakan pen bisa dilepas.
Suami saya memilih tanggal 9 Maret 2016. Padahal tanggal itu sebenarnya saya mau menhadiri acara Kopdar Ibu-Ibu Doyan Nulis Solo, di Sukoharjo. Terpaksa saya izin, tidak ikutan kopdar.
Operasi akan dilaksanakan hari Rabu, 9 Maret 2016 pagi hari. Mulai jam 1 dini hari, Faiz harus berpuasa. Hari Selasa, sewaktu makan malam saya menyuruh Faiz makan yang banyak.  Jam 9 saya membangunkan Faiz untuk minum susu. Kemudian menunggu jam 12 malam untuk menyediakan minum susu yang terakhir, saya tidak tidur. Saya mengisi malam dengan membuka facebook dan menulis blog. Takutnya kalau saya memejamkan mata malah bablas tidur sampai pagi. Kasihan Faiz, bakalan kelamaan puasanya. Jam 12 lebih sedikit saya membuat susu buat Faiz. Lalu saya bilang padanya setelah ini sudah tidak boleh makan dan minum. Dia oke-oke saja. Yes, Alhamdulillah.
Awalnya Faiz diambil sampel darah untuk kemudian diperiksa. Sebagai simbok yang sudah beberapa kali menunggu anak-anak periksa di UGD, saya harus tega melihat Faiz dicoblos jarum. Ketika mulai di lengannya diikat dengan karet, saya menutup mata Faiz agar tak melihat tangannya dicoblos jarum suntik.
Alhamdulillah, tidak nangis sama sekali. Wah ini simboknya berhasil. Setelah pengambilan sampel darah selesai, kami keluar untuk menunggu tahap berikutnya. Tahap berikutnya adalah memberi tanda bagian yang akan dioperasi. Siku Faiz diberi lingkaran hijau. Beberapa saat kemudian Faiz masuk ruang operasi (ruang tunggu, antri operasi). Saya ikut melepas pakaian Faiz dan mengganti dengan pakaian khusus.
Saya bisikkan pada Faiz, Faiz berdoa ya. Bismillahirrohmannirrohim. Mama tunggu di luar, assalamualaikum. Saya keluar, suami menunggu Faiz di dalam. Beberapa saat kemudian saya mendengar teriakan anak kecil. Sepertinya suara Faiz, sebab yang masuk ruang operasi tadi tidak ada anak kecil selain Faiz. Sebentar kemudian suami keluar dari ruangan. Berarti Faiz sudah dibius. Saya tanya,”Faiz dicoblos lagi ya?” Ternyata pemasangan infuse mengalami kesulitan karena ketika dicoblos Faiz menarik tangannya. Sedangkan suami juga orangnya gak tegaan. Waduhh.
00000
Ketika menunggu jalannya operasi, saya sempat berbincang-bincang dengan keluarga pasien dari Pati. Pasiennya seorang batita cantik yang kakinya patah. Ceritanya bikin air mata terus berlinang. Teringat waktu Faiz jatuh dan mau memasang pen 4 bulan yang lalu.
Sekitar jam 10 Faiz keluar dari ruang operasi dalam keadaan belum sadar. Saya dan suami beserta 2 orang petugas menuju zal. Di zal I C1 seorang perawat sudah siap menerima kedatangan pasien. Setelah Faiz dipindahkan ke tempat tidur, mbak perawat cantik tadi berpesan bla-bla-bla. Sip. Pesannya, jangan lupa sebentar-sebentar dibangunkan.
Suami berada di dekat Faiz. Sesekali menepuk-nepuk pipi Faiz pelan sambil mengucap salam. Di dekat Faiz, suami juga melantunkan zikir. Pokoknya Faiz harus mendengar apa yang diucapkan suami seperti ketika akan dibius tadi.
Alhamdulillah, matanya sudah terbuka. Kembali kami mengucap salam. Yang pertama kali disebut adalah ayah. Lalu mama, dan yang terakhir kakak. Beberapa saat kemudian minta diteleponkan ke kakak. Pingin mendengar suara kakak.
Setelah itu Faiz tidur lagi. Masih mengantuk. Paling cepat jam 1, Faiz baru boleh minum air putih. Setelah benar-benar sadar dan sudah kentut sampai 3 kali rupanya anak itu ingin makan. Baru beberapa butir nasi yang masuk mulut, Faiz batuk, muntah berupa air seperti ludah dalam jumlah banyak. Mungkin dia merasa mual-mual dan ingin muntah.
Jam 5 sore, Faiz minta biscuit. Saya beri sedikit saja dan sedikit air putih. Sepertinya perutnya sudah nyaman untuk kemasukan makanan. Alhamdulillah, Faiz sehat. Sebelum pulang saat makan sore hari rakus banget. Tempe satu potong, hati ayam, sop, nasi sepiring (tinggal 2 sendok), disantap dengan lahap.
Setelah maghrib Faiz diizinkan pulang. Cepat sembuh ya le. Jangan ngantuk di jalan ya le. Soalnya kita hanya naik sepeda motor. Saya bersyukur, memasuki kawasan Karanganyar, jalanan basah. Sore sebelumnya hujan deras (reportasenya anak saya perempuan yang seharian berada di rumah adik ipar). Ketika pulang nggak ada hujan, nggak ada badai.
Sampai di rumah, Faiz makan roti bakar dan masih minta mie goreng milik ayah. Wah, maruki iki jenenge. Ya wis, rapapa thole sing bagus dewe.
Ketika Faiz mulai tidur, Alhamdulillah saya bisa memejamkan mata lebih awal. Pagi harinya saya dan suami harus mengajar. Faiz yang masih malas-malasan terpaksa seragam tidak saya pakaikan. Biarlah dia memakai baju bebas dan tidur di Taman Penitipan Anak dulu.
Di sekolah, saya masih mengantuk dan akhirnya pusing pun datang. Tetap kuat, kuat, dan kuat. Anak sakit jangan digunakan alasan lantas tidak produktif.
Karanganyar, 9-10 Maret 2016
Catatan : maruki = makan dengan lahap setelah tidak makan dalam jangka waktu lama

Sumber bacaan: