Jumat, 25 Maret 2016

Ini budi Dan Pendidikan Karakter

Sebelum masuk SD, saya harus menjalani tes. Saya masih ingat, bukan tes membaca melainkan langsung diajak bicara (bercakap-cakap), kala itu dengan Bu Yati. Berjalan bolak-balik melewati jalan di antara bangku kiri dan kanan dari depan sampai belakang. Kemudian diminta untuk menulis angka. Saya menulis sesuai yang diperintahkan. Tapi saya keterusan, bablas wae sampai angka 7 lalu dihentikan.
Setelah dinyatakan diterima dan mulai masuk sekolah, bapak mengantar saya sekolah. Hari berikutnya saya berangkat sekolah bersama teman-teman. Kebetulan dalam satu kampung yang sekolah di SD yang sama, jumlahnya banyak.
Saya duduk di bangku nomor 2 dari depan. Pada hari pertama ini, seingat saya ada seorang teman yang duduk di depan saya BAB di dalam kelas (waktunya sudah hampir pulang). Pantas saja bau.
Sekolah itu menyenangkan. Karena belajarnya juga dengan gembira. Pelajarannya hanya bahasa Indonesia (membaca dan menulis), matematika (berhitung), menggambar, menyanyi, agama dan olah raga.
Membaca dan menulis hanya : “ini budi” yang dibaca dan ditulis berulang-ulang. Setelah itu : membaca dan menulis “ini ibu budi”, “ini bapak budi”, “ini adik budi” dan “ini kakak budi”, dan seterusnya.
Sepertinya pada satu halaman hanya berisi tulisan yang sama, dan ada gambarnya. Ada gambar seorang anak perempuan yang menyiram bunga, anak kecil main kuda dari gedebog pisang.
Tentu saja hari-hari selanjutnya, pelajarannya membaca dan menulis serta berhitung. Waktu itu pelajaran kelas 1 sederhana sekali. Bahkan saat tes catur wulan untuk bahasa Indonesia, ini yang saya ingat lo: ada gambar bola. Sudah ada huruf b maka siswa menuliskan huruf selanjutnya. Ada gambar topi, siswa disuruh menuliskan huruf-huruf yang harus disusun. Itu saja Bu Yati, guru kelas satu membacakan soalnya dan cara mengerjakannya. Matematika juga gampang. Masih tambah-tambahan sederhana.
Pendidikan karakter benar-benar ditanamkan sejak dini. Waktu itu, Bu Yati menggunakan bahasa Jawa krama madyo dalam menyampaikan materi pelajaran. Sopan santun, cara berbicara, gotong royong sudah diterapkan. Kalau ada siswa yang tidak memakai basa krama selalu diingatkan.
Anak sekolah tidak terbebani. Bukunya tidak banyak, tidak perlu memakai tas besar dengan buku setumpuk. Buku yang dibawa hanya 4, dua buku tulis dan 2 buku paket. Keempat buku tersebut ukurannya tidak tebal. Tidak ada LKS, tidak ada pelajaran tambahan, tidak fullday. Semua berjalan lancar-lancar saja. Kelas 1 masuk sekolah jam 7 pulang sekitar jam 10. Anak-anaknya juga pandai.
Sekarang, anak kelas 1 SD pelajaran Bahasa Indonesia untuk materi  bacaannya panjang. Anak masih kesulitan membaca, apalagi memahami isinya. Tugas guru berat, tugas orang tua juga tidak ringan. Belum lagi pelajaran matematika, dan pelajaran yang lain.
Anak kelas 1 seharusnya belajar sambil bersenang-senang, dengan penuh riang gembira.  Belajar bersosialisasi, mengenal lingkungan, belajar adab sopan santun.
Ada orang yang mengatakan, zamannya sudah berubah. Jangan samakan anak-anak sekarang dengan zaman kita masih kecil.  Zaman boleh berubah, tapi pendidikan karakter dari dulu sampai sekarang tetap sama, karena pedoman kita juga sama yaitu mendidik anak berkarakter. Kalau anak-anak sudah berkarakter, maka akan mudah bagi kita (orang tua) memberikan pelajaran yang bersifat akademik.
Semoga anak-anak kita lebih berkarakter.
Karanganyar, 25 Maret 2016
Sumber Bacaan:

http://www.kompasiana.com/noerimakaltsum/ini-budi-dan-pendidikan-berkarakter_56f4d7cd93977319052c6f87