Sabtu, 02 April 2016

The Power of Writing (Bagian 5)


BAB IV : HAMBATAN MENULIS
Saat Malas Menyapa
Seorang penulis suatu saat mengalami kejenuhan, dihinggapi rasa malas. Akan tetapi rasa malas tersebut harus segera disingkirkan dan diakhiri. Kita harus segera bangkit untuk menulis lagi. Malas menulis harus segera dilawan.
M. Thobroni melalui karyanya “Tekun Pangkal Kaya” membagi malas menjadi 3 jenis, yaitu: 1) malas yang dipicu oleh factor eksternal, misalnya kanker alias kantong kering, 2) malas yang terjadi karena irama “mood”, dan 3) malas karena sengaja diciptakan.
Untuk nomor 1) dan 2) rasa malas tersebut bisa diatasi bila kondisi sudah seperti sedia kala seperti yang diharapkan. Akan tetapi untuk nomor 3) menyangkut mentalitas, jadi tidak ada obatnya. Oleh sebab itu, saat malas menyapa mari kelola diri agar tidak diperbudak oleh kemalasan.     
Bingung Mau Menulis Apa
Bingung mau menulis apa? Menulislah apa yang Anda ketahui.  Penulis pemula biasanya bingung untuk memulai menulis. Maka menulislah pengalaman, mimpi semalam, cita-cita dan hal-hal yang pasti Anda ketahui.
Menulis sesuatu yang merupakan cacatan harian (ternyata bermanfaat/menginspirasi orang lain) jauh lebih baik daripada menulis status tentang keluh kesah, galau, marah dan sebagainya. Banyak kejadian/kegiatan sederhana keseharian yang bisa dikemas menjadi tulisan.
Buat Apa Menulis?
Setiap penulis pasti memiliki tujuan mengapa dia menulis. Ada beberapa alasan seseorang menulis, antara lain: 1) menyalurkan hobi, 2) merawat tradisi menulis, 3) menjadi pembeda antara satu orang dengan orang yang lainnya.
Orang yang menulis adalah perekan sejarah, perekam pengetahuan dalam bentuk tulisan. Sangat disayangkan orang yang pandai tetapi tidak menuliskan pengetahuan dan ilmunya.
Habitus Plagiasi
Meneliti dan menulis bukanlah sebuah kegiatan yang diperoleh secara instan. Dibutuhkan proses dan latihan terus menerus. Selain itu, meneliti dan menulis lebih berkaitan dengan kecintaan dan perjuangan. Melakukan penelitian dan menulis yang dilakukan dalam kondisi terpaksa tidak akan membawa hasil secara maksimal.
Kesadaran untuk menulis di kalangan akademisi merupakan sebuah perjuangan. Apabila menulis dilakukan dengan keterpaksaan, maka yang terjadi adalah menulis asal menulis. Semakin banyak orang menuliskan sesuatu yang bukan hasil pemikiran sendiri alias menjiplak. Apabila sebagian besar orang/peneliti melakukan hal semacam ini (menjiplak) maka akan terbentuk tradisi plagiasi yang merugikan orang lain.
Jangan Mengeluh
Menulis itu membutuhkan proses panjang dan terus menerus. Selama proses belajar ini tentu saja hambatan, halangan dan rintangan. Hambatan ini perlu segera disingkirkan dan kita segera bangkit kembali untuk menulis. Calon penulis atau penulis pemula biasanya mengeluhkan kondisinya. Setelah mengeluh kemudian menyerah.
Bila ingin berhasil menjadi penulis, maka jangan mengeluh, jangan menyerah, jangan beralasan tidak punya waktu untuk menulis karena sibuk. Maka cara terbaik untuk menulis adalah segera menulis saat kesempatan ada, jangan menunda-nunda danjangan mengeluh.
Tidak Ada Fasilitas
Pada saat ini alat yang digunakan untuk mempermudah menulis sangat bervariasi. Sebagian besar orang menulis menggunakan komputer atau laptop. Akan tetapi apabila tidak ada komputer atau laptop jangan dijadikan alasan untuk tidak menulis. Sebab, kenyataannya pada saat ini alat tulis buku dan bolpoin masih digunakan orang untuk menulis.
Masih banyak orang yang menggunakan buku dan bolpoin untuk menulis, ketika mereka berada di luar ruangan. Untuk mengisi waktu luang, daripada jenuh menunggu antrian, orang menuliskan sesuatu di atas kertas. Setelah berada di rumah/kantor dan membuka alat tulis ajaib tersebut barulah tulisan tangan tadi ditulis kembali di laptop atau komputer. Oleh sebab itu, buku dan bolpoin harus dibawa ke mana pun setiap Anda pergi.
Tulisan Tidak Selesai
Tulisan yang baik adalah tulisan yang selesai. Menyelesaikan tulisan buka pekerjaan yang mudah. Dibutuhkan perjuangan, kerja keras, dan usaha yang tidak mudah. Sehingga kalau seseorang itu mampu menyelesaikan tulisan itu merupakan criteria pertama bagi tulisan yang baik.
Pada sebagian orang, bisa menulis akan tetapi tidak sampai selesai. Bagaimana cara menyelesaikan tulisan yang mungkin baru satu atau dua paragraph ini? Yang pertama kali diperlukan adalah semangat untuk kembali menulis, konsistensi untuk menulis, dan tidak mengeluh saat menghadapi hambatan. Dengan semakin sering menulis, maka berbagai persoalan berkaitan dengan menulis dapat diatasi.

(BERSAMBUNG)