Sabtu, 02 April 2016

The Power of Writing (Bagian 6)


BAB V : STRATEGI MENULIS
Mencicil
Banyak orang yang menyatakan ingin menulis tetapi melihat keadaan yang ada ia berubah pikiran. Salah satu penyebabnya adalah waktu. Gunakan waktu yang ada, waktu yang tersisa untuk menulis. Sebuah buku selesai bukan dalam waktu yang singkat. Membutuhkan waktu yang cukup untuk menulis sebuah buku. Untuk itu menulis bisa dilakukan dengan cara mencicil.
Pepatah yang akrab di telinga kita mengatakan,”Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit.” Hal ini juga berlaku untuk menulis. Lakukan menulis dua paragraph setiap hari dan teruslah mencicil. Bila menulis dilakukan secara konsisten akan menghasilkan sekitar 15 halaman sehari.
Membaca Itu Gizi Menulis
Aktivitas apapun itu tergantung pada niatnya. Kalau memang membaca dan menulis diniati untuk menghasilkan sesuatu yang positif, tentu saja besar kemungkinan akan menghasilkan nilai positif juga. Tetapi jika niatnya negative, tentu saja akan menghasilkan sesuatu yang negative pula.
Membaca merupakan gizi menulis. Dengan banyak membaca maka perbendaharaan dan pengetahuan kita akan lebih banyak. Dengan demikian, dari hasil membaca bila kita tuangkan dalam bentuk tulisan akan menghasilkan tulisan yang berkualitas. Akan tetapi kita harus jujur, sumber-sumber bacaan harus kita tuliskan juga. Apabila sumber-sumber bacaan tidak kita sebutkan atau kita cantumkan, maka tulisan tersebut bukan orisional melainkan hasil menjiplak.
Penulis yang baik adalah pembaca yang baik. Marilah menyeimbangkan membaca demi tulisan yang bergizi (berkualitas).
Membaca, Mencatat, dan Menulis
Manusia memiliki keterbatasan dalam hal mengingat. Oleh sebab itu, agar apa yang kita baca akan lebih lama kita ingat maka kita harus mencatat hal-hal yang penting. Misalnya dengan cara mencatat dalam bentuk resume.
Secara aplikatif, metode mencatat dalam bentuk resume ini dimulai dengan membaca buku segabaimana biasa. Pada saat menemukan hal-hal yang dirasa penting, bagian tersebut ditandai atau langsung dicatat di buku tulis atau komputer. Dengan demikian, saat sebuah buku tamat dibaca, Anda sudah mendapatkan banyak catatan penting. Apabila kita membutuhkan materi tentang suatu hal, kita tidak perlu mencari buku aslinya, cukup dengan melihat isinya dari buku atau file catatan.
Ada kaitan antara mencatat dengan dunia menulis. Mencatat adalah bagian yang sangat erat dan tidak bisa dipisahkan dari dunia menulis. Dunia menulis adalah dunia mencatat itu sendiri. Dari catatan itu akan muncul ide-ide yang bermanfaat untuk menghasilkan tulisan yang berkualitas.
Sumber Ide
Ide atau gagasan bisa kita dapatkan dari mana-mana sumbernya. Sumber-sumber ide antara lain: 1) pengalaman/kejadian yang kita alami, 2) membaca buku dan memiliki buku.
Di sekeliling kita ada banyak bertebaran ide yang bisa kita tulis. Sebenarnya kita tidak akan kehabisan ide, tinggal kita bisa menuangkan apa yang kita lihat dan kita baca atau tidak.
Jam Terbang
Menjadi penulis itu bukan faktor keturunan. Menulis bisa dilakukan oleh siapa saja, bahkan oleh orang yang tidak memiliki bakat menulis sekalipun. Menjadi penulis memerlukan proses yang panjang. Penulis-penulis menjadi terkenal dan tulisan yang dihasilkan berkualitas karena seringnya berlatih dan berlatih. Karena seringnya menulis inilah tulisan yang mereka hasilkan berkualitas.
Setiap penulis memiliki jam terbang. Masing-masing penulis berbeda jam terbang yang sudah dilalui. Penulis dengan jam terbang tinggi lebih berkualitas tulisannya daripada penulis pemula. Jangan hanya melihat dia seorang penulis terkenal lantas kita ingin menjadi seperti dia dengan cara instan. Tapi lihat dan pelajari perjuangannya menjadi terkenal.  
Buku Harian Yang Menggetarkan
Hampir semua penulis menyatakan bahwa salah satu hal yang menjadi dasar dari kesuksesan mereka menulis adalah menulis buku harian. Akan tetapi buku harian yang isinya bukan hanya curhatan semata, melainkan tulisan yang mencerahkan dan bermanfaat untuk orang lain.
Misalnya, karya R.A. Kartini “Habis Gelap Terbitlah Terang” merupakan kumpulan catatan harian dan surat-menyurat antara R.A. Kartini dengan para sahabatnya di Negeri Belanda. Catatan harian itu menginspirasi banyak orang dan membuka mata dunia.
Nikmatnya Menulis di Pagi Hari
Setiap penulis memiliki waktu produktif untuk menulis. Salah satu waktu produktif untuk menulis adalah pagi hari setelah bangun tidur. Saat semacam ini, kondisi fisik masih terasa segar. Otak rasanya juga begitu encer untuk diajak menggali ide. Sayangnya waktu pagi hari sangat terbatas, karena aktifitas yang lain sudah harus dikerjakan. Sebetulnya kapan pun ada waktu dan kesempatan, menulis sebaiknya memang harus dilakukan.
Menulis Itu Jangan Banyak Tanya, Tapi Segera Praktik
Para penulis pemula biasanya memiliki hasrat yang sangat besar untuk menulis, tetapi kurang diimbangi praktik menulis. Setelah praktik menulis, sekarang mudah mencari pembaca yang akan mengapresiasi tulisan kita. Caranya tulisan yang sudah selesai kita posting di media sosial. Tentu saja tulisan kita ada yang membaca.
Dari pembaca inilah sering terjadi komunikasi. Kadang berupa masukan, saran dan kritikan. Jangan berkecil hati untuk menerima masukan tersebut. Dari sini kita akan terus memperbaiki diri, berlatih dan terus berlatih. Secara tidak langsung kita menulis tidak banyak bertanya tapi langsung praktik.
(BERSAMBUNG)