Kamis, 16 Juni 2016

Nasi Aking dan Nasi Setengah Matang Untuk Berbuka Puasa

Makanan Pokok Nasi
dok.pri
Dalam seminggu ini, saya harus rela berbuka puasa dengan nasi yang luar biasa artinya di luar kebiasaan. Pertama berbuka dengan nasi setengah kering (sebagian yang kering saya sisihkan). Ada alasan mengapa saya tiba-tiba harus makan nasi tersebut. Yang kedua berbuka dengan nasi belum matang.

Berbuka dengan nasi setengah kering (nasi aking)
Hari itu sepulang dari penitipan, biasanya Faiz minta makan terlebih dahulu lalu tidur. Kali ini Faiz minta mandi lantas tidur. Saya tidak terlalu repot, karena dengan Faiz tidur saya bisa mengerjakan segala sesuatunya.

Suami hari itu repot rapat kelulusan untuk kelas IX, dan menerima tamu wali murid yang akan menerima surat kelulusan tersebut. Oleh karena sampai sore, dugaan saya adalah berbuka puasa di sekolah. Sampai jam lima lebih suami belum pulang.

Di rumah saya sudah menyiapkan segalanya untuk berbuka puasa dengan Faiq. Rasanya sudah beres semua. Waktunya azan maghrib, saya dan Faiq langsung berbuka dengan minum teh hangat. Setelah itu saya mengambil piring lalu membuka mejikom. Saya terbelalak, kaget, hah. Ternyata nasinya tinggal sedikit dan setengah kering. Saya bilang ke Faiq,”Nok, nasinya kering. Ternyata tinggal sedikit.”

Kata Faiq yang penting makan sop saja. Makan nasinya belakangan juga tidak apa-apa. Lantas saya mengirim pesan sms pada suami. “Nasi habis, tolong belikan nasi”. Sebentar kemudian suami datang. Dia belum berbuka puasa. Dia memberikan satu kardus kecil berisi kudapan dan satu kardus besar berisi bermacam-macam Roti Kecil.

“Ayah, tidak beli nasi?”
“Tidak.”
“Lahhhhh, sms- ku nggak dibaca.”
“Rapapa. Ngliwet dhisik.”

Saya ceritakan, ternyata kita tak punya nasi. Biasanya kalau pagi hari nasinya tinggal sedikit, mejikom dimatikan lalu nasi diberikan pada ayam-ayamnya Faiz. Pagi tadi Ayah memberi pakan kering. Saya pikir nasi di mejikom masih banyak, soalnya petugas mematikan mejikom adalah Ayah. Tetap bersyukur, masih ada makanan lain untuk berbuka puasa. (tak perlu mengeluh, pada hari-hari biasa banyak loh orang yang kelaparan)

Berbuka dengan Nasi Belum Matang
Kemarin siang sampai sore listrik mati. Aktivitas yang ada kaitannya dengan sumber arus macet, termasuk menanak nasi. Alhamdulillah, jam lima kurang seperempat listrik hidup. Saya bergegas menanak nasi dengan mejikom. Lalu saya meninggalkan rumah untuk membeli sop galantin. Kebetulan suami membawakan pulang lauk dari sekolah.

Di perjalanan listrik mati lagi. Sampai di rumah gelap semua. Saya mengambil lilin lalu menyalakannya. Saya membuka mejikom. Alhamdulillah, ternyata nasi belum matang. Jadilah kami makan nasi belum matang. Tetap bersyukur, masih ada makanan lain untuk berbuka puasa.


Sukses berbuka puasa hingga Isya belum menyala/hidup listriknya. Akhirnya saya tertidur setelah shalat Isya. Ketika hampir jam setengah Sembilan saya bangun, ternyata lampu sudah menyala. Saya mau menulis agak malas, biasanya kalau hujan-hujan seperti kemarin listrik mati hidup mati hidup. Daripada nanti di tengah perjalanan menulis, listrik kembali mati lebih baik nulisnya saya tunda.