Sabtu, 17 September 2016

Aku Ingin Naik Haji Bersamamu

dok.pri
Aku Ingin Naik Haji Bersamamu
Aku ingin naik haji bersamamu. Kata-kata itu aku dengar tahun 1995 beberapa hari setelah kita saling mengenal. Baru beberapa hari. Aku menanggapi dengan santai, Insya Allah. Eit, tapi mana mungkin? Impossible! Aku di Yogyakarta, kamu di Karanganyar. Jawabmu, ada cara kita bisa naik haji bersama. Aku diam. Teman kita yang lain, dari Blora juga bilang,”Mbak, aku ingin kita naik haji bersama.” Oh, berarti kita usahakan tahun pemberangkatannya sama ya. Biarpun kita beda kabupaten, beda provinsi.
00000
Dahulu, saya tak begitu memedulikan kalimat Aku Ingin Naik Haji Bersamamu. Kata seorang mahasiswa yang baru beberapa hari saya kenal karena saya dan dia satu kelompok ketika melaaksanakan Kuliah Kerja Nyata, di Sleman.
Saya tersenyum menanggapinya. Ah, mana mungkin? Dia berasal dari Kabupaten Karanganyar, sedangkan saya dari Yogyakarta. Misalnya bisa berangkat pada tahun yang sama, tapi untuk bertemu di Tanah Suci tentu saja tidak mudah.
Tujuh belas tahun kemudian. Saya mendengarkan laki-laki tersebut mengucapkan kalimat yang sama,” Aku Ingin Naik Haji Bersamamu.” Tahun 2012, uang yang ada di genggaman tangan hanya cukup untuk mendaftar haji satu orang. Saya bilang kepada laki-laki tersebut,”Berangkatlah lebih dahulu. Setelah sampai di Tanah Suci, panggil aku dan anak-anakmu.”
“Aku ingin naik haji bersamamu, kita cari solusinya. Karena denganmu semuanya akan mudah. Kita akan melakukan banyak hal bersama-sama di Tanah Suci.” Air mataku meleleh.
Ternyata laki-laki itu tidak ingkar janji. Laki-laki yang saya kenal 17 tahun yang lalu tetap ingin bersama saya pergi ke Tanah Suci. Siapakah laki-laki yang berani mengucapkan kalimat Aku Ingin Naik Haji Bersamamu?
Laki-laki tersebut sebelum berkenalan dengan saya ternyata 5 tahun sebelumnya telah memperhatikan saya (ah, jadi ge-er saya). Menurut pengakuannya, tahun 1990, saya pergi ke kampus naik sepeda onthel. Ternyata dia juga naik sepeda onthel. Dia hafal dengan rute yang saya tempuh. Tapi saya sama sekali tak pernah tahu laki-laki tersebut. Nah, tahun 1995 saya mengambil mata kuliah KKN. Laki-laki tersebut juga mengambil mata kuliah KKN. Bukan kebetulan, rasanya Allah sudah mengatur semuanya. Saya dan laki-laki tersebut berada pada kelompok kecil yang sama. Bisa ditebak ceritanya.
Setelah melalui jalan yang berliku-liku, akhirnya kami bisa mendaftar haji bersama dan ketika saya ditanya oleh petugas DEPAG tentang muhrim, laki-laki tersebut menjawab,”Saya, suaminya.”
Terima kasih, sudah kaupercaya melahirkan, merawat, membesarkan anak-anakmu. Tak pernah saya sangka ternyata  Insya Allah, Aku  Akan Berangkat Haji Bersamamu.
Karanganyar, 17 September 2016