Rabu, 14 September 2016

Cilok Idul Adha

Cilok Idul Adha
Cilok Bandung
Sumber : http://www.resepmasakanindonesia.me/cara-membuat-cilok/
Setiap Idul Adha, saya dan suami selalu menyempatkan diri ke rumah kerabat jauh di desa. Tujuannya adalah berbagi daging kurban. Biasanya keluarga saya mendapatkan jatah daging kurban dari masjid terdekat dan dari sekolah tempat suami bekerja. Kalau Dhenok mendapatkan jatah dari sekolahnya, dimasak bareng-bareng dengan temannya.
Saya tidak ingin berlebihan mengkonsumsi daging kurban, secukupnya saja. Dan saya juga tidak mau berlama-lama menyimpan daging kurban di dalam freezer. Bagi saya, daging kurban cepat habis itu lebih baik. Satu-satunya jalan untuk mempercepat kosongnya freezer dari daging kurban adalah sesegera mungkin didistribusikan.
Sore hari, saya membawa 2 bungkus jatah saya ke rumah kerabat. Kebetulan, kerabat saya dan anak-anaknya yang sudah menikah, rumahnya hanya berdekatan saja. Satu bungkus besar saya berikan ke Bu lik dan satu bungkus ukuran kecil saya berikan untuk anaknya.
Nah, anak dan menantu Bu lik ini pekerjaannya adalah berjualan cilok dan es secara keliling. Pada jam istirahat sekolah, anak dan menantu Bu lik berjualan di SD terdekat. Cilok yang dijual ukurannya kecil dan bahan bakunya juga sederhana. Tepung kanji, bawang putih, garam dan bumbu penyedap rasa adalah bahan bakunya.
Cilok-cilok yang sudah jadi ukuran kecil sebesar kelereng dijual dalam bentuk rebus atau goreng. Lalu diberi saus, kecap atau rasa lainnya (balado atau pedas). Namanya juga melayani anak-anak dan pasarnya adalah orang-orang beruang terbatas, maka harga cilok sangat terjangkau.
Biasanya ketika pulang saya diberi cilok dalam jumlah banyak. Dulu saya kewalahan kalau diberi cilok banyak. Tapi 3 tahun terakhir, saudara saya memberi saran kalau cilok tersebut digoreng setelah dilumuri telur kocok. Ternyata rasanya mantap. Kalau tidak langsung digoreng semua, maka sisanya bisa disimpan di kulkas.
Bagi saya, cilok tak perlu berlama-lama istirahat di kulkas. Ketika Dhenok mau bakar-bakar satai di rumah temannya, dia minta cilok yang ada di kulkas. Saya bawakan cilok dan telunya. Biar Dhenok dan teman-temannya menggoreng sendiri.
Ketika pulang dari rumah temannya, Dhenok bilang temannya suka cilok yang dibawanya dan ketagihan. Cilok oh cilok. Cilok yang diberikan oleh saudara saya ini saya namakan cilok Iduladha karena saya miliki pas Iduladha. Sepertinya cilok goreng ini cocok kalau dicelupkan ke dalam bumbu pecel daripada saus sambal.
Mau dicelupkan ke dalam sambal pecel atau saus pedas dan kecap semua tergantung selera masing-masing orang. Kalau saya sih sukanya cilok tinggal makan, gratis pula (ah, kalau begitu banyak temannya).

Karanganyar, 14 September 2016