Kamis, 22 September 2016

Menumbuhkan Budaya Literasi di Rumah

dok.pri
Menumbuhkan Budaya Literasi di Rumah
Dalam satu bulan, ada berapa buku yang kita beli? Atau dengan kata lain, dalam tiap bulan koleksi buku kita apakah bertambah? Mungkin pertanyaannya kita ubah menjadi dalam setiap tiga bulan atau enam bulan atau bahkan satu tahun, koleksi buku kita bertambah berapa?
Tiap bulan satu buku, berarti tiap tahun bertambah 12 buku. Atau tiap tahun 6-8 buah buku, 3-4 buku atau hanya satu buku bahkan tidak bertambah sama sekali? Apakah yang menjadi alasan koleksi buku kita tidak bertambah? Karena harga buku mahalkah? Atau karena tak memiliki kesempatan untuk membaca? Atau karena tak suka membaca?
Kalau harga buku mahal, kita bisa menyiasati membeli buku saat ada bazaar, diskon, atau pameran buku. Bahkan kalau mau kita bisa menemukan buku dengan harga miring, kualitas bagus saat buku diobral. Alasan lain tidak membeli buku adalah malas ke toko buku/pameran.
Kalau kita tak memiliki waktu khusus untuk membaca buku, maka membaca bisa dilakukan dengan mencicil. Tiap membaca buku sediakan waktu 15 menit saja. Kalau kita konsisten membaca, tentunya satu buah buku akhirnya tuntas terbaca juga, bukan?
Seandainya kita tak memiliki minat untuk membaca, setidaknya ditumbuhkan dulu minatnya. Atau lebih keras lagi kita memaksakan diri untuk membaca. Selanjutnya bila kita awalnya memaksakan diri, lambat laun akan terbiasa membaca. Membaca menjadi kebiasaan atau habitus. Barulah pada tingkat yang lebih tinggi, membaca buku adalah karena kebutuhan. Kalau tidak membaca buku rasanya ada yang kurang.
Untuk menambah wawasan, kita membutuhkan bahan bacaan. Membaca bukan hanya sebatas membaca buku atau artikel saja. Membaca di sini artinya lebih luas. Alam sekitar, lingkungan dan semua yang ada di langit dan bumi adalah sumber pengetahuan yang bisa kita baca.
00000
Orang tua dan anak-anak bisa membiasakan diri untuk membaca. Budaya membaca di rumah harus ditumbuhkembangkan. Orang tua memberikan teladan, memberi contoh konkrit. Tidak perlu muluk-muluk, budaya membaca di rumah diawali dengan membaca bacaan yang ringan. Untuk menambah pengetahuan.
Agar anak-anak juga memiliki minat membaca, di saat jadwal membaca bersama maka jauhkan gadget dari tangan atau simpan terlebih dahulu. Memang, membaca bukan hanya dari buku fisik saja, bisa membuka e-book atau internet. Akan tetapi tetap berusaha untuk membaca tulisan manual.
Banyak yang membaca dengan membuka internet atau e-book. Membaca buku fisik dan e-book memiliki kelebihan dan kekurangan. Silakan, semua tergantung dari Anda sebagai pembacanya.
Yang jelas, budaya membaca ini harus dimulai dari rumah. Setelah membaca lalu menulis. Membaca dan menulis adalah dua aktivitas yang serasi. Kalau bisa kita gemar membaca dan menulis.  Semoga budaya literasi ini bisa dilakukan tiap-tiap keluarga.
Karanganyar, 22 September 2016