Kamis, 01 September 2016

Sukun Itu Enak Apalagi Gratis

Ini sukunku
dok.pri
Sukun Itu Enak Apalagi Gratis
Pulang dari sekolah, suami risih melihat sukun yang saya biarkan begitu saja di dapur. Dia mulai mengupas sukun dan memotongnya kecil-kecil. Buah sukun utuh yang ukurannya besar tersebut jelas tak mungkin kami habiskan. Maka perlu didistribusikan agar tak mubazir.
Aktivitas goreng-menggoreng sudah cukup sukses. (yang ngebet menggoreng sukun suami, tapi kenyataannya sayalah yang repot). Sebelum saya distribusikan, saya biarkan sukun goreng tersebut di udara terbuka.
Saya bersiap menjemput Thole setelah Asar. Sebelum Thole dan teman-temannya selesai shalat dan zikir, hujan turun dengan derasnya. Beruntung, saya menyiapkan 2 jas hujan besar beserta celananya.  
Ternyata bulan September ini juga diawali dengan hujan deras. Alhamdulillah, masih bisa menikmati udara segar. Saya tak perlu buru-buru mengendarai sepeda motor. Yang penting sampai rumah dengan selamat.
Sampai di rumah, saya menikmati sukun goreng dan teh panas. Enak sekali! Tak lupa, saya distribusikan ke tetangga terdekat. Semoga barokah.
Sebenarnya, pohon sukun depan rumah ini buahnya banyak. Tapi kalau kekurangan air, biasanya buah rontok pada kondisi sudah besar. Bila dibiarkan 2 hari langsung busuk. Busuknya bukan karena matang. Entahlah, kok bisa begitu. (Halo, pakar pertanian… adakah yang tahu penyebabnya?)
Saya mempersilakan tetangga yang ingin buah sukun untuk mengambil sendiri. Kalau kebetulan rumah kami kosong, tak masalah bagi yang mau mengambil. Biasanya tetangga bilang,”Bu, minta sukunnya.” Lalu dijawab sendiri,”Nggih, mendhet piyambak.” Hahaha, ada-ada saja. Barulah nanti kalau bertemu saya dan suami, mereka bilang ke kami.
Di rumah, kami sisihkan beberapa potong sukun goreng. Lumayan, mengurangi pengeluaran untuk membeli kudapan. Sukun, itu enak apalagi gratis.
Karanganyar, 1 September 2016