Sabtu, 09 September 2017

Mahalnya Nikmat Sehat


Harta paling berharga yang saya miliki adalah dua anak saya, Dhenok dan Thole. Dengan segala cara, saya akan berusaha sedekat mungkin dengan mereka. Kalau sekarang saya harus mengikuti jam sekolah lima hari sekolah, itu artinya saya bisa bertemu dengan anak-anak pada sore hari.
Si kecil (Thole) pulang sekolah sebelum jam sebelas. Oleh karena itu, saya harus menjemput si kecil terlebih dahulu lalu saya antar ke Taman Penitipan Anak. Bila sore telah tiba dan saya sudah selesai mengajar maka saya akan menjemput si kecil. Biasanya, saya memberikan perhatian lebih besar pada kegiatan makan siang dan sore.
Demikian juga kalau Dhenok sudah pulang sekolah, pertama kali yang saya tanyakan (sesudah shalatnya) adalah makannya. Kalau sudah bertemu dengan keluarga dan ngobrol di samping rumah, saya perhatikan fisik anak saya. Lesu atau bugarkah, mengantuk atau segarkah, sehat atau sakitkah? Mengapa ini menjadi perhatian saya? Sebab kekhawatiran saya bisa berlebihan kalau anak-anak sakit.
Kekhawatiran saya sama dengan kekhawatiran kedua orang tua saya ketika saya kecil sering sakit ringan. Kekhawatiran yang lumrah, tapi sebagian orang mengatakan berlebihan. Ada alasan mengapa saya khawatir dengan kondisi anak-anak ketika sakit. Intinya, saya merasa diberi amanah oleh Allah. Saya akan merawat sekuat tenaga.
Saya pernah merasa bersalah ketika Dhenok (waktu itu 2 tahun, tahun 2002) mengalami muntah secara berlebihan dan masuk rumah sakit. Ketika Dhenok kelas X SMA, dia harus menjalani operasi tumor bibir (bahasa orang awam yaitu kutil di bibir). Si kecil saat masih bayi keluar masuk (opname) rumah sakit sampai 4 kali. Ketika TK menjalani pemasangan dan pelepasan platina karena tangannya patah.
Dengan demikian, saya ekstra hati-hati menjaga kedua anak saya. Jangan sampai sakit! Agar tetap sehat maka saya benar-benar memperhatikan makannya.
Pagi tadi saya mencetak buku rekening di bank yang ada di rumah sakit. Selesai mencetak burek, saya bergegas meninggalkan ruang tunggu. Saya melihat seseorang, sepertinya saya pernah mengenalnya. Saya ragu-ragu, mau menyapa atau membiarkan orang tersebut pergi. Rupanya, orang tersebut juga ragu (sempat melihat saya dan menghentikan langkahnya).
Dengan keberanian saya, saya memanggil orang tersebut yang berjalan di depan saya.
“Mas, apakah panjenengan dulu sekolah di Tunas Muda?”
“Iya, buk.”
“Saya, Bu Ima.”
Setelah berbasa-basi, akhirnya saya tahu Mas Larno murid saya itu anaknya sedang dirawat di rumah sakit. Anak Mas Larno berumur 2 bulan (masih imut sekali), di lehernya ada benjolan. Karena Mas Larno kelihatan buru-buru maka saya tidak banyak bertanya.
“Semoga adik cepat sembuh, Mas Larno.”
“Matur nuwun doanya, Bu.”
Laki-laki muda itu berlalu meninggalkan saya. Lidah saya kelu, sampai di tempat parkir mata saya berkaca-kaca. Saya jadi ingat ketika kedua anak saya dipasang infus lalu saya harus menggendong dan jalan-jalan karena mereka rewel.
Nikmat sehat, begitu mahal harganya. Maka bersyukurlah, jangan kufur. Kalau kita sudah diberi banyak nikmat, limpahan rezeki, anak yang sehat, keluarga yang bahagia berkecukupan, lalu “Nikmat manakah yang kamu dustakan?”
Tulisan ini hanyalah sarana mengingatkan diri sendiri agar selalu syukur nikmat.
Karanganyar, 9 September 2017