Sabtu, 02 September 2017

Penulis Berkencan Dengan Kopi di Malam Hari


Sebelumnya saya minta maaf kepada saudara-saudara saya yang maniak teh kental manis. Bukan berarti saya berkhianat saat ini. Sungguh, beberapa hari saya harus mengkonsumsi minuman selain teh. Ya, saya mengkonsumsi kopi beberapa malam terakhir. Bukan kopi hitam pahit seperti kebanyakan orang yang doyan kopi, melainkan kopi susu. Sengaja saya menuliskan judul di atas hanya “kopi” saja tidak kopi susu. Kalau saya menulis kopi susu, saya yakin ada seorang teman (teman SMA, lawan jenis) terus konotasinya jelek dan diplesetkan. Maaf, saya nggak suka dengan yang berbau porno.
Mengapa saya minum kopi susu di malam hari? Karena kalau pagi, siang dan sore saya minum teh hangat (tidak terlalu manis, bahkan kadang pahit yang penting hangat). Malam hari, setelah menyelesaikan tugas domestik kerumahtanggaan seperti mencuci, setrika, bersih-bersih debu dan lain-lain, saya harus menulis.
Menulis di malam hari ditemani kopi memang mantap dan nikmat. Menulis pada malam hari, tidak mungkin saya ditemani suami. Karena suami mempunyai acara sendiri, yaitu menjaga stamina setelah seharian melakukan aktifitas berat dengan caranya (bobok manis).
Mengapa tiba-tiba saya mengkonsumsi kopi susu? Ada alasan yang mendesak. Bukan supaya saya tahan melek hingga larut malam. Atau kopi susu membantu saya melek karena sejak sore saya sudah mengantuk. Bukan, bukan itu alasannya. Saya minum kopi susu karena beberapa waktu terakhir, saya lihat persediaan kopi susu banyak.
Oleh karena saya tidak terlalu suka kopi, maka saya jarang membeli kopi. Kalaupun saya harus membeli kopi, maka saya akan membeli eceran saja, satu saset. Lantas siapa yang suka membeli kopi? Pelakunya adalah Dhenok, anak pertama saya.
Kalau saya berbelanja ditemani Dhenok, Dhenok suka kalap. Belanjaan saya lebih sedikit daripada Dhenok. Dhenok suka mengambil susu saset (cokelat, putih), bubuk minuman, kopi susu, camilan dan lain-lain. Memang nanti dimakan dan diminum juga, tapi Dhenok mudah bosan. Satu renteng minuman saset tersebut hanya dibuat beberapa saja, lainnya dibiarkan.
Sebagai Ibu bekerja yang tahu bagaimana susahnya mencari uang, ya dimanfaatkan saja apa yang ada. Kalau sudah begitu, suka atau tidak suka maka akhirnya terpaksa ikut mengkonsumsi juga. (Jadilah saya seperti sekarang ini. Badan saya tidak selangsing ketika masih kuliah. #Gayanya saya ini).
Meskipun berkencan dengan kopi di malam hari, saya tetap membatasi mengkonsumsi kopi. Tidak setiap hari saya minum kopi. Saya juga membatasi waktu terjaga di malam hari. Kalau dulu untuk mengejar tulisan, saya rela melek sampai dini hari, sekarang tidak lagi. Sebelum jam dua belas malam, saya harus tidur. Karena tidur lebih awal lebih berkualitas dibandingkan mulai tidur pada larut malam.
Tidur malam selama 5 jam lalu bangun jam 3 pagi lebih sehat daripada tidur malam selama 5 jam lalu bangun jam 7 pagi. Bangun jam 3 pagi, badan lebih segar. Bangun jam 7 pagi, badan terasa loyo dan ringan melayang.
Bagi sebagian orang, penulis identik dengan menulis di malam hari ditemani kopi. Saya tidak menyangkal hal itu. Bagi saya, tiap orang kondisinya berbeda. Dan, perbedaan dalam berpendapat boleh-boleh saja.
Semoga persediaan kopi susu di rumah segera habis dan Dhenok tidak lagi main comot kalau pas di pasar atau toko swalayan. Kebetulan, suami juga tidak terlalu suka kopi. Suami lebih suka air putih hangat. Air putih hangat memang menyehatkan.

Karanganyar, 2 September 2017