Minggu, 17 Desember 2017

Kartu Kredit Manis di Muka Pahit di Cicilan


Ada seorang kerabat yang membutuhkan uang dalam jumlah besar tiap bulannya. Omong punya omong, ternyata sang kerabat tadi memiliki hutang di bank dengan nominal yang cukup besar. Gaji tiap bulan sebagai PNS hanya tersisa di bawah lima ratus ribu rupiah. Kok bisa? Saya ngeyel. Tidak mungkin sisanya Cuma segitu. Setahu saya, minimal pegawai menerima sisa gajinya sebesar 30% setelah gaji dipotong cicilan.

Saya bukan PNS, tapi kata suami dan teman-teman PNS kurang lebih aturannya seperti yang saya sampaikan tadi. Tidak mungkin bank akan memotong habis gaji PNS yang hutang.  Hutang tersebut harus dicicil selama 15 tahun, lima belas tahun. Lima belas tahun, bukan waktu yang singkat. Beruntung, tiap bulan kerabat tadi masih mendapatkan TPP yang jumlahnya lumayan. Dan ada tunjangan profesi guru yang diterimanya tidak bisa dijagakke (eh bahasanya kok campuran gini) alias cairnya tidak tiap bulan.

Uang pinjamannya buat apa? Tidak perlu saya ceritakan. Yang jelas, selain cicilan bank, dia masih mencicil kredit 2 buah sepeda motor. Saya membatin, gile benar nih orang. Gimana hidupnya mau tenang kalau tiap hari mikir besok gimana makannya, beli bensinnya dan lain-lain. Kalau ada orang yang bilang punya hutang, hidupnya jadi semangat. Preketek! Bagi saya gak punya hutang, hidup lebih bahagia. Kalau punya hutang, paling tidak harus bayar bunga atau bahasa lembutnya adalah jasa.

Kalau tak punya hutang, makan nasi bungkus lauk tempe dan teh hangat di angkringan, nikmatnya bukan kepalang. Sesekali makan masakan padang, olahan daging kambing, rica-rica menthok, buat menambah wawasan biar tidak gagap kuliner.
Kembali pada hutang tadi. Suatu hari yang gerimis, saat menjelang maghrib pula, kerabat saya bercerita kalau mau ke bank BNI.
Saya bilang,”hari ini kan Minggu. Banknya tutup kan?”
Dia bilang,”mau membayar kartu kredit.”
Jederrrr! Kartu kredit?
“Kamu punya kartu kredit? Aku nggak punya. Kartu kredit itu manis di depan, belakang harinya menjerat!”
“Yang penting mbayarnya lancar.”
Saya mau bilang,”lancar gundhulmu!” Tapi kok ya nggak tega.
Ya sudah, hidup-hidup lu sendiri. Lu buat ruwet sendiri hidupmu. Terserah kamu sajalah. Aku ndak mau ikut campur. Nanti kamu tersinggung, terus nantang la kowe ki sapa kok wani mengatur uripku. Gawat, bukan?
00000

Kok tulisan saya jadi begini? Karena pada dasarnya saya suka nulis dengan bahasa saya, bahasa sehari-hari yang saya dengar di sekitar saya. Bahasanya orang-orang yang nyeruput kopi di angkringan. Di sini saya sebagai orang biasa, yang selalu mengamati dan belajar dari orang-orang sekitar saya.   

 00000
Saya tidak memiliki kartu kredit dan tidak tergiur untuk membuatnya. Dulu ketika di sekolah ada penawaran kartu kredit dan banyak teman yang akhirnya luluh pada staf marketing, saya tetap bilang NO!

Bagi saya, daripada memiliki kartu kredit lebih baik memiliki kartu debet. Punya kartu debet, biarpun saldo hanya sedikit, tapi hidup ini tenang karena tidak ditagih hutang.

Tulisan ini dibuat sebagai sarana terapi setelah “stress” dikejar-kejar pak kurikulum untuk menyelesaikan administrasi. Tidak pagi, siang, sore atau malam, yang dipegang hanya aplikasi-aplikasi administrasi untuk persiapan supervisi dan monitoring oleh Pengawas SMK hari Senin besok pagi. Semoga besok pagi tetap ada energi! Butuh tongseng kambing setelah selesai monitoring.

00000