Sabtu, 30 Desember 2017

Tantangan Menulis Dibatasi Jumlah Karakter

noerimakaltsum.com
dok.aufi
Bagi seorang penulis, surat cinta dari penerbit atau media di mana naskah tersebut kita kirimkan, sangat berarti bagi kita. Kalau ternyata kabar yang dibawa itu adalah kabar baik, maka kita akan terus bersyukur dan bersyukur serta berbahagia tiada tara. Entah itu kabar baik tentang naskah kita yang layak terbit atau tayang tanpa revisi, maupun naskah kita diminta untuk sedikit diedit.

Kalau ternyata kabar tersebut adalah bukan kabar baik, maka sudah biasa kita berbesar hati menerima berita itu. Kita tidak mungkin marah dan menggerutu. Memang, dengan penolakan tersebut, kadang kita menjadi tidak bersemangat alias nglokro. Nglokro sebentar boleh, jangan lama-lama lalu bangkit, nulis lagi. Ayo, semangatttt.

Beberapa hari yang lalu, saya mendapatkan pesan lewat sms. Isinya, naskah saya diminta untuk diedit kembali. Tulisan saya terlalu panjang, menurut pengasuh rubrik tersebut. Padahal pada rubrik tersebut ada tulisan kecil yang isinya pembaca bisa mengirimkan naskah dengan jumlah karakter minimal 4000 karakter.  Saya sudah berusaha memenuhi persyaratan tersebut. Akan tetapi ternyata tulisan saya diminta untuk diringkas menjadi 2300 karakter with space. What?

Bayangkan, 4000 karakter lebih menjadi 2300 karakter, bagaimana tidak bingung. Itu artinya hampir 50% tulisan saya pangkas. Bismillah, saya berdoa semoga Allah memudahkan pekerjaan saya. Dengan edit sana-sini, memilih kata-kata yang efektif, dengan perjuangan yang keras, saya berhasil mengedit. Ya Allah, semoga masih rezeki saya.

Beginilah penulis, tugasnya menulis. Ternyata tugas penulis juga mengedit tulisan. Oleh sebab itu, memang mengendapkan tulisan barang 1-2 hari itu perlu agar kita bisa mendapatkan tulisan yang layak, hasilnya maksimal.

Menulis dibatasi jumlah karakter, sebenarnya sudah saya lakukan saat menulis cerita humor Ah Tenane dengan lakon Jon Koplo. Tulisan maksimal 1 1/4 halaman dalam cerita humor tersebut. Kalau ternyata terlalu panjang, saya akan menghilangkan beberapa kata tanpa mengurangi makna. Inilah tantangan penulis, menulis dibatasi jumlah karakter.

Beruntung, kini saya sudah mengenal komputer dan laptop. Bayangkan, seandainya saya menulis dengan mengetik secara manual, bagaimana saya memperkirakan jumlah karakter/kata? Saya memang termasuk generasi spesial. Saya pernah mengirim naskah yang ditulis dengan mesin ketik biasa dan kali ini menulis menggunakan alat tulis digital.

Ternyata oh ternyata, menulis outline itu perlu, menulis kerangka tulisan itu tidak keliru. Kalau langkah tersebut sudah dilakukan, hanya perlu mengembangkan tulisan.

Semoga bermanfaat. Ayo, menulis. Ayo, sebarkan virus menulis.

#kahfinoer

Karanganyar, 30 Desember 2017