Rabu, 28 Maret 2018

WARTAWAN HARUS MENERBITKAN BUKU

Mas Tiyan dan Pak Andri
Foto : dokumen Otiswara Heru


Memiliki teman guru sekaligus berprofesi sebagai wartawan, rasanya senang sekali. Ketika kami terlibat dalam suatu obrolan, ternyata pembicaraan kami bisa menyambung. Inilah kelebihan saya dalam menggiring seseorang untuk mengikuti topic pembicaraan yang saya inginkan.

Teman saya, sebut saja Pak Andri. Saya mengenal beliau belum lama, belum genap satu tahun. Pak Andri selain mengajar, juga menjadi wartawan. Tentu saja beliau bisa menulis sesuai tema yang sudah ditentukan. Dari bincang-bincang kecil ini, saya melontarkan satu pertanyaan yang cukup membuat beliau tersenyum.

“Pak Andri, sudahkah menerbitkan buku?”
“Belum, Bu.”
“Wah, Pak Andri harus menerbitkan buku. Paling tidak satu buku. Saya yakin tulisan panjenengan terdokumentasi dengan baik di file. Tulisan panjenengan sudah dibaca banyak orang (yang tayang di Koran). Kalau tulisan-tulisan tersebut diterbitkan dalam sebuah buku, tentu akan lebih bermanfaat.

Saya pernah membaca sebuah buku yang ditulis oleh mantan wartawan . Beliau bilang kalau teman-teman wartawan mengaku tidak bisa menulis (maksudnya menulis seperti penulis pada umumnya, khususnya penulis buku). Padahal wartawan memiliki kesempatan lebih banyak menulis apa yang bisa ditulis.

Tetap saja wartawan mengatakan tidak bisa menulis. Padahal tulisan-tulisannya menginspirasi banyak orang. Mantan wartawan tersebut tidak lelah mengajak teman-teman wartawan untuk menulis dan menerbitkan buku.”

“Belum punya pikiran ke arah menulis buku, Bu. Kalau video memang sudah saya dokumentasikan dan saya upload di youtube.”

“Berarti Pak Andri harus menerbitkan buku, dong. Dulu saya juga memaksakan diri untuk menerbitkan buku. Buku berisi tulisan sederhana, menurut saya biasa saja tapi menurut orang lain sangat membantu untuk belajar menulis. Menurut teman-teman, saya menjadi kompor lewat tulisan. Nah, ternyata tulisan saya bisa dinikmati dan bermanfaat bagi orang lain.”

Obrolan kami tidak hanya sebatas pekerjaan sebagai guru. Dengan berbagi tentang menulis, rasanya saya mendapatkan teman sepaham dalam hal literasi di sekolah. Saya memang tidak sempurna, saya juga belum begitu baik menulis, tapi saya tetap bisa mengajak kebaikan.

Saya mengajak teman-teman yang sepaham dengan saya untuk menulis. Mengajak suatu kebaikan, lalu yang diajak melakukan kebaikan itu dengan ikhlas dan ikut mengajak orang lain untuk melakukan kebaikan, ada pahala berlipat ganda.

Mas dan mbak wartawan, ayo membukukan tulisan Anda. Terbitkan dan distribusikan buku Anda, niscaya ilmu yang Anda miliki tidak akan hilang sia-sia. Karena memang “Wartawan Harus Menerbitkan Buku”.

Semoga bermanfaat.
Karanganyar, 28 Maret 2018