Kamis, 05 April 2018

RESOLUSI MENULIS (RESENSI)



RESENSI
Judul               : RESOLUSI MENULIS
                          ( Menyusun Rencana Mewujudkan Karya)
Penulis             :  Hernowo Hasim
Penyunting      :  Ngainun Naim
Penerbit           :  Akademia Pustaka
Cetakan           :  2017
ISBN               :  978-602-61158-9-8
Tebal               :  253 hal + xii

Setiap akhir tahun, semakin banyak orang yang melakukan evaluasi tentang kegiatan atau capaian dari target atau cita-cita yang telah ditentukan. Evaluasi merupakan cara terbaik untuk menilai apa yang telah kita lakukan. Capaian-capaian positif dipertahankan dan yang belum tercapai diharapkan di masa mendatang bisa tercapai.

Selain melakukan evaluasi, hal yang juga penting untuk dilakukan adalah membuat resolusi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Resolusi adalah putusan atau kebulatan pendapat berupa permintaan atau tuntutan yang ditetapkan oleh rapat (musyawarah, sidang); biasanya berisi tuntutan tentang suatu hal. Dalam konteks Resolusi Menulis, resolusi adalah kebulatan tekad yang ditetapkan  dalam diri untuk mencapai target-target tertentu yang telah ditetapkan.

Bagi Ahmad Fahrudin resolusi menulisnya adalah terus menulis, berusaha belajar istiqomah untuk menulis satu catatan setiap hari dan keinginannya menulis buku (hal 39). Eka Sutarmi berkesempatan ke Thailand selama 5 bulan untuk menjalankan tugas dari kampus. Di Negeri Gajah, Eka menuliskan pengalamannya selama di Thailand di blog. Setelah pulang dari Thailand, Eka mendokumentasikan tulisannya dalam bentuk buku. Eka menargetkan bisa menulis buku lagi dari menabung tulisan yang sudah tembus media (hal 96).

Belajar menulis, dilakukan dengan menulis di media cetak maupun online, berupa karya ilmiah di jurnal ilmiah. Tulisan-tulisan yang ada mengalami pergeseran dari jurnal ke artikel, dari artikel ke buku. Menulis buku merupakan resolusi menulis yang disampaikan oleh penulis yang telah memiliki banyak karya, yaitu Hayat (hal 135).

Menjaga dan merawat kemahiran dan kenyamanan menulis dilakukan dengan berlatih dan menambah pengetahuan tentangnya secara konsisten. Konsisten menulis dan membaca merupakan hal yang penting. Berlatih membaca dan menulis disebut mengikat makna. Bagi Hernowo Hasim, mengikat makna bisa diwujudkan dalam bentuk buku (hal 145).

Much. Khoiri diberi predikat “tidak patut” untuk penulisan buku, sebab karya bukunya melebihi batas standar bagi dosen. Menulis buku dalam jumlah lebih malah disebut tidak patut merupakan kekuatan khusus untuk melanjutkan menulis buku. Resolusi Much. Khoiri adalah konsisten menulis setiap hari, dan menargetkan menulis 5 buku mandiri (hal 197).

Adanya resolusi, menjadikan langkah penulisan dan target tulisan semakin jelas. Ngainun Naim memiliki resolusi menulis buku, mengisi blog dan berbagi ilmu. Sebagai seorang akademisi, Ngainun Naim juga menulis artikel jurnal sebagai wahana pengembangan keilmuan (hal 222).

Rita Audriyanti memiliki konsep Tri Dharma Literasi, yaitu 1) 4 M: Membaca, Menulis, Berbicara, dan Menyimak, 2) Publikasi dan 3) Berbagi Pengalaman. Secara spesifik, Resolusi Menulis Rita adalah menerbitkan buku, meningkatkan jumlah buku bacaan, membantu komunitas, dan promosi buku (231).

Buku ini ditulis oleh 55 orang penulis yang bergabung dalam komunitas Sahabat Pena Nusantara dengan berbagai macam resolusi menulisnya. Secara umum resolusi menulis adalah konsisten menulis, menulis di media, menulis jurnal, artikel dan menulis buku. Buku Resolusi Menulis ini memotivasi penulis pemula untuk optimis dan penyemangat bagi penulis yang memiliki jam terbang tinggi. (SELESAI)