Kamis, 17 Desember 2015

Bersama Ibu Mendengarkan Khutbah Idul Fitri


Gambar : Aku dan Ibu

Foto ini diambil oleh Faiq puteriku, ketika mendengarkan khutbah setelah selesai Shalat Idhul Fitri tahun ini (2015). Secara emosional aku lebih dekat dengan Ibu dibandingkan kelima saudara kandungku yang lain. Ketika belum menikah aku biasa ngobrol dan curhat. Setelah menikah dan aku tinggal di luar kota, biasanya bila mudik yang aku cari lebih dulu adalah Ibu.

Aku paling suka masakan Ibu berupa oseng sawi putih. Suatu ketika Ibu membeli sawi putih segar. Oleh kakak keduaku Ibu ditegur,"Bu, Ima tidak pulang kok beli sawi putih." Kata Ibu biar saja, dia akan pulang. Dan benar, aku pulang mendadak tanpa memberi tahu lebih dahulu. Kakakku dan saudaraku yang lain heran, kok bisa ya? Kedekatanku secara emosional dengan Ibu memang kadang membuat keluargaku heran. Hal itu tidak hanya sekali, dua kali terjadi.

Sayangnya, aku tidak bisa selalu dekat dengan Ibu karena kami dipisahkan oleh jarak. Oleh karena aku tidak bisa sering pulang kampung maka tiap mudik Ibu selalu aku ajak ngobrol. Ibu sudah sepuh, beliau hanya ingin diajak ngobrol saja.

Minggu, 13 Desember 2015

Menurunkan Berat Badan Dengan Diet Ketat

Menurunkan Berat Badan Dengan Diet Ketat
Menurut survey (entah yang mengadakan siapa dan samplenya orang mana?), perempuan cenderung mempermasalahkan badannya yang sedikit kelebihan berat daripada mencemaskan sakit perut ketika datang bulan. Padahal bisa saja berat badan yang kelebihan sedikit tersebut tak berdampak apapun pada kesehatannya. Lain dengan sakit perut ketika datang bulan, bisa jadi hal semacam itu merupakan salah satu gejala adanya kelainan pada alat reproduksi.
Perempuan akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengurangi berat badannya agar BB mencapai ideal. Anehnya perempuan cenderung melakukan semua itu dengan berbagai cara (bahkan kadang caranya sangat menyiksa dan merogoh kocek tidak sedikit). Sementara sakit perut saat datang bulan hanya diobati dengan obat sekedarnya atau dengan minum penghilang rasa sakit saja. Asal sakitnya sudah hilang, perempuan akan merasa beres dan baik-baik saja.
Contoh usaha menurunkan berat badan:
1.     Olahraga tiap hari dan mengubah pola makan. Tidak makan nasi (makanan yang mengandung karbohidrat), hanya makan sayur dan buah.
2.     Olahraga tiap hari dan diet ketat sesuai anjuran/rekomendasi dari orang atau pakar (?) diet. Makan dibatasi dan mengkonsumsi sesuatu yang direkomendasikan (harganya mahal banget).
3.     Makan teratur, porsi dikurangi, tetap makan makanan yang mengandung karbohidrat, protein, lemak, mineral, dan vitamin. Olahraga teratur (tidak setiap hari), segalanya berjalan seperti biasa. Berpuasa sunah seperti yang dicontohkan nabi.
4.     Minum obat pelangsing agar nafsu makan hilang.
5.     Masih ada yang lain, silakan menambahkan sendiri
Bila berat badan sudah turun dan diet berhasil biasanya perempuan akan bangga lalu akan memberikan testimony kepada orang yang ditemui, bisa saudara, teman, kerabat dan siapa saja. Akan tetapi kalau perut tidak terasa sakit ketika datang bulan, perempuan akan merasa biasa saja. Tak perlu cerita pada orang lain karena dianggap tidak begitu istimewa.
Saya sendiri termasuk kurus, malah dulu ketika masih sekolah dibilang kerempeng. Ketika punya anak, setelah melahirkan biasanya berat badan naik secara signifikan. Akan tetapi beberapa bulan kemudian berat badan turun dan normal kembali. Saya mempunyai keinginan untuk menambah berat badan. Sayangnya tidak pernah berhasil.
Makan dengan porsi ditambah, rasanya perut tak mampu memuat makanan. Ingin rasanya seperti perempuan yang lain ketika memiliki anak kecil, sisa makanan anak-anak masuk dalam perut tapi kok tidak bisa. Soalnya saya selalu mengambil makanan untuk anak-anak dalam jumlah cukup, sehingga tidak pernah ada sisa. Saya mengajarkan pada anak-anak bila makan harus dihabiskan.
Ngomong-ngomong, sebenarnya yang menjadi permasalahan dengan berat badan yang sedikit kelebihan (bukan kegemukan atau obesitas) itu apa? Toh masih wajar-wajar saja. Atau malu bila ditanya soal berat badan? Semua kembali pada pribadi masing-masing. Mau gemuk atau langsing, semua itu pilihan. Yang penting percaya diri.
Karanganyar, 13 Desember 2015

http://www.kompasiana.com/noerimakaltsum/menurunkan-berat-badan-dengan-diet-ketat_566d6a17f07e611b0942c902

Selasa, 01 Desember 2015

Rezeki Yang Ngatur Allah, Bukan Manusia

Gambar 1. Silaturahmi meluaskan rezeki
Sumber : dok.alumni tirto'90
Saya percaya lahir, rezeki, jodoh dan maut sudah ditentukan oleh Allah. Manusia tinggal menjalaninya saja. Saya selalu berbaik sangka pada Allah. Allah memberikan tepatnya menitipkan sesuatu kepada saya dan keluarga itulah yang terbaik, yang saya butuhkan bukan yang saya inginkan.
Saya mengajar di SMK Tunas Muda Karanganyar sejak tahun 1999. Sampai sekarang sudah 15 tahun saya mengabdikan diri di sekolah yang mayoritas siswanya adalah laki-laki. Alhamdulillah selama ini saya tidak mengalami kendala yang cukup berarti. Bagi saya mengajar dan mendidik adalah bagian hidup saya.
Saya mendisiplinkan diri saya sendiri. Saya bekerja sesuai dengan bidang saya. Saya loyal pada sekolah yang telah banyak memberikan pelajaran hidup. Sahabat-sahabat saya sangat dekat hubungan persaudaraannya. Saya merasa meskipun saudara kandung saya jauh tapi saya memiliki saudara di lingkungan kerja saya.
Rezeki, itu sudah ada yang mengatur. Saya percaya Allah telah menitipkan rezeki kepada keluarga dalam jumlah cukup. Cukup untuk makan, minum, bayar listrik, bayar air PAM, beli pulsa, memperpanjang hidup kuota internet, beli susu anak-anak, beli bensin, menabung, membayar SPP si kecil, membayar biaya penitipan anak, dan lain-lain. Kalaupun akhirnya Allah mengurangi jatah saya menerima rezeki, saya tetap bersyukur.
Ceritanya di sekolah saya ada guru baru. Guru baru tersebut diberi jam sesuai dengan maple yang diampu (matematika). Guru lama yang mengampu matematika sebenarnya lulusan jurusan Kimia. Kemudian guru matematika yang jam pelajarannya berkurang diberi jam pelajaran IPA (yang mengajar IPA adalah saya). Dengan demikian penambahan guru baru ini mengurangi jumlah jam mengajar saya. Kecewakah saya? Oh tidak! Saya percaya rezeki yang membagi itu Allah bukan manusia.
Memang secara matematis, jumlah jam mengajar saya berkurang maka honor mengajar saya juga berkurang. Tapi matematikanya kehidupan tidak begitu. Honor boleh berkurang tapi keberkahannya jangan sampai berkurang. Waktu Bapak KS bilang,”Bu Ima, maaf jam panjenengan berkurang. Maka bulanan yang diterima juga berkurang.”
“Bagi saya honor sedikit tidak masalah. Insya Allah yang sedikit itulah lebih barokah.”
Saya tahu Bapak KS kaget. Pasti beliau tidak menyangka kalau saya akan mengatakan seperti itu. Jangan kaget Pak. Biasa saja, wong saya itu menerima uang banyak tidak heboh dan menerima uang sedikit juga tidak merasa menjadi orang termiskin sedunia.   
Bulan ini penerimaan honor saya terjun bebas. Alhamdulillah, masih cukup untuk membeli bensin, membeli nasi tumpang, membeli tempe goreng, membeli thengleng dan gule buat anak-anak. Honor saya juga masih cukup untuk membeli susu,  gas, dan pakan ayam. Bersyukur saja, jangan merasa sakit hati. Saya yakin Allah akan menunjukkan jalan untuk membuka pintu rezeki yang lain. Tetap semangat Ima…..
Karanganyar, 1 Desember 2015

Jumat, 27 November 2015

Penyesalan (Tangan Kiri Anakku Patah)


Gambar 1. Faiz sebelum operasi
Sumber: dok. Faiqah Nur Fajri
Sudah beberapa kali saya mengingatkan suami untuk momong Faiz dengan baik. Ke mana saja anaknya pergi harus selalu suami menyertai. Kata suami,”Anak laki-laki, gakpapa.” Apalagi kalau sudah naik sepeda, saya selalu minta pada suami agar berada di dekatnya.

Yang kedua adalah saya sudah minta pada suami agar depan garasi yang berbatasan dengan sawah tetangga untuk dipagar atau ditembok. Rupanya kata-kata saya tak dihiraukan.

Sore itu, saya dan suami dikejutkan teriakan Faiz, si thole, anak keduaku. “Ayah, tolong…..”
Suami langsung keluar, Faiz sudah ditolong oleh saudara saya yang bekerja menggarap sawah belakang rumah. Suami menggendong Faiz dan berkata,”Ma, tangan Faiz patah.”

Saya diam saja. Saya pegangi tangan Faiz, Faiz berada di pangkuan saya.
Akhirnya, kami membawa Faiz ke rumah sakit diantar tetangga. Di sepanjang jalan, suami menangis dan berulang-ulang minta maaf pada Faiz,”Le, ayah minta maaf.”

Menyesal, barangkali itulah kata yang pas buat mengungkapkan kata hatinya. Tapi semua sudah tak ada artinya.

Karanganyar, 27 Nopember 2015

Rabu, 11 November 2015

Dunia Anak adalah Dunia Bermain

Gambar 1. Senyum Ceria
Sumber: dok. Faiqah Nur Fajri
Sudah beberapa hari ini Thole dijemput siang. Tidak seperti waktu-waktu sebelumnya, pulang sekolah Thole berada di Taman Penitipan Anak dan dijemput untuk pulang ke rumah pada sore hari. Saya sering merasa kasihan kalau Thole dijemput sore, waktu berada di rumah jadi sedikit. Pertemuan dengan Thole begitu singkat karena setelah Maghrib keburu tidur. Akan tetapi bila Thole pulang/berada di rumah siang hari, maunya naik sepeda ngeluyur terus. Tambah tidak tega karena jalan depan rumah dan perumahan ramai.
Bila sudah di rumah, saya berusaha untuk mengajarkan huruf dan angka, atau sekedar bertanya tentang huruf dan angka. Ternyata Thole belum begitu paham dengan huruf dan angka, baru beberapa saja yang dia tahu. Dibandingkan dengan Dhenok, rasanya jauh. Dulu ketika Dhenok seusia Thole, dia sudah memiliki kesadaran untuk belajar. Mudah bagi saya untuk mengajarkan membaca dan menulis.
Saya memang harus mau menerima kelebihan dan kekurangan kedua anak saya, si Thole dan Dhenok. Saya kadang membatin, di tempat les membaca si Thole itu perkembangannya bagaimana ya? Saya lalu memupus harapan dengan menerima keadaan si Thole. Mungkin saatnya saya harus mengajarkan huruf dan angka sendiri sambil bermain. Atau mungkin saya mengajar Thole setelah bangun tidur pagi, sebelum Thole mengayuh sepeda di pagi hari untuk olahraga.
Semoga si Thole segera berkeinginan bisa membaca tanpa dipaksa. Dunia dia adalah dunia bermain dan sesuatu yang menyenangkan. Bagi anak-anak dunia ini menyenangkan kalau banyak bermain. Ketika ada paksaan untuk melakukan sesuatu, itu pelanggaran hak. Dan sesuatu yang tak menyenangkan tersebut ditunjukkan dengan sakit panas sebagai bentuk protesnya.

Karanganyar, 11 Nopember 2015

Rabu, 04 November 2015

Kupu-kupu, Mitos dan Syirik

Gambar 1. Kupu-kupu, Mitos atau Syirik
Sumber : dok. Faiqah Nur Fajri
Sejak akhir tahun 80-an hingga 90-an, kakak saya yang sudah bekerja sering mengatakan kupu-kupu yang masuk ke dalam rumah pertanda akan datang rezeki. Sebetulnya itu hanya iseng-iseng saja. Tidak percaya-percaya amat.
Kalau kebetulan setelah ada kupu masuk kok terus ada rezeki yang tiba-tiba datang, itu bukan karena kupu-kupu. Semua itu sudah diatur oleh Allah. Biarpun beberapa kupu-kupu yang masuk rumah berlama-lama hinggap di dinding, kalau belum datang waktunya ya rezeki yang diharap-harap nggak bakalan datang.
Sekarang saya tinggal di rumah sendiri, jauh dari Yogya, jauh dari kota. Saya tinggal di tengah sawah. Ada pohon pisang dan pohon keras lainnya. Mau tidak mau saya harus melihat kupu-kupu setiap saat. Terutama kupu-kupu dari ulat yang makan daun pisang. Orang Jawa bilang “Enthung”.
Terserah apa kata orang! Ada kupu-kupu pembawa rezeki mau dikatakan mitos, atau tahayul, atau syirik terserah mereka-mereka saja. Tapi itulah kenyataannya. Rezeki adalah pemberian dari Allah bukan dari kupu-kupu.
Kalaupun ada kupu-kupu yang masuk rumah kemudian saya mendapatkan rezeki, percayalah bahwa rezeki tersebut bukan dari kupu-kupu. Sekali lagi rezeki itu dari Allah.
Sudah beberapa kali kejadian ini berlangsung. Kalau saya sih kerap percaya kalau kupu-kupu masuk rumah maka sebentar kemudian dapat rezeki. Tapi saya ada dasarnya lo. Karena saya kan bekerja dan saya mendapatkan honor.
Hanya saja kok kupu-kupu tahu tanggalnya ya? Atau kupu-kupu tersebut sudah membaca buku primbon, atau si kupu-kupu Cuma kira-kira saja. Ealah, kupu-kupu masuk rumah (biarpun tidak musim kemarau, tidak musim bunga) kok ya tanggal-tanggal tua. Jantung saya jadi berdesir lo bila ada kupu-kupu yang masuk dapur. Beberapa hari berikutnya dapat diduga, bakalan terima honor sebab kami terima honor di tanggal tua.
Kupu-kupu masuk rumah, saya sih menanggapi biasa saja. Gak percaya mitos apalagi tahayul. Tapi saya sering berharap ada sesuatu yang dapat saya terima. Rezeki kan tidak hanya uang, bisa berupa macam-macam.
Jadi jangan sinis bilang percaya kayak gitu namanya syirik! (SELESAI)
Karanganyar, 4 Nopember 2015

Minggu, 01 November 2015

Akhirnya Berhasil Sampai Ngruki dengan Modal Nekad

Gambar 1. Kopdar IIDN Solo
Sumber: dok.pri
Seumur-umur baru sekali ini saya melakukan perjalanan jauh. Biasanya saya selalu diantar suami bila bepergian jauh. Seandainya suami tak ada di rumah, kalau tidak naik angkutan umum, saya tidak diizinkan naik sepeda motor sendiri.
Bagi orang lain jarak antara Karanganyar-Solo hanya dekat saja. Berbeda dengan saya, saya membayangkan pos-pos tertentu yang saya pakai untuk acuan kesuksesan saya menempuh perjalanan. Berlebihan? Ya, mungkin.
Hari ini suami melayat kemudian dilanjutkan bersilaturahmi ke rumah temannya. Anak-anak ikut serta. Saya memberanikan diri naik sepeda motor karena suami sudah memberi izin. Modal saya adalah nekad, bensin full (bukan bengsin lo, kalau bahasa jawa memang bengsin kali), rute sekedarnya, uang secukupnya dan doa.
Dengan kecepatan 30 km/jam, saya menempuh perjalanan Karanganyar-Ngruki selama 1 jam. Plok-plok, berhasil-berhasil. Demikian juga waktu pulang, kecepatan dan waktu tempuhnya sama.
Mungkin karena suami khawatir, maka dia menelpon saya. Saya baik-baik saja. Alhamdulillah saya sampai Ngruki lalu tiba di rumah dengan selamat. Teman-teman saya yang bergabung di IIDN Solo memberikan selamat pada saya. Soalnya mereka tahu keadaan saya yang belum pernah muter-muter sendiri. Terima kasih suami dan teman-teman IIDN Solo yang sudah memberikan dukungan kepada saya untuk bergabung dan ikut KOPDAR. Sampai di rumah saya dikejutkan dengan oleh-oleh sayuran yang dibawa suami. Ada sawi, labu siam, daun bawang dan tomat.
Gambar 2. Sayuran dari Ngargoyoso
Sumber: dok.pri
Karanganyar, 1 Nopember 2015