Kamis, 13 Juli 2017
Pedagang Tahu Bulat di Bus AKAP
Perjalanan pulang dari Yogyakarta sampai Solo memakan waktu lama karena macet. Sampai Solo kemalaman. Sebelum memasuki Solo, naiklah seorang laki-laki pedagang tahu bulat. Laki-laki itu menawarkan dagangannya dengan ramah. Salut aku, zaman sekarang ada anak muda menawarkan dagangan dengan ramah. "Kalau tidak dibeli, silakan dikembalikan."
Setelah membeli dua bungkus tahu bulat @2000 rp, aku minta izin memotretnya.
"Pakai kamera saya saja mbak. Punya mbak blitznya tidak hidup."
Akhirnya Faiq memotret mas pedagang tahu bulat. Melalui blutut, gambar dikirim. "Makasih ya mas. Semoga laris."
Matur nuwun. Ada senyum mengembang karena malam ini tahu bulatnya laku banyak. Ternyata rasa tahu bulatnya enak.
Karanganyar, 13 Juli 2017
Rabu, 12 Juli 2017
Jumat, 07 Juli 2017
Berbagi Peran Dengan Pasangan di Rumah
Berbagi
peran dengan pasangan di rumah, sebenarnya mudah dilakukan. Hal ini bisa
terjadi bila masing-masing memiliki kesadaran untuk mengambil tugas bukan
karena terpaksa. Contoh, saya biasa melakukan pekerjaan tumah tangga seperti
mencuci, memasak, menyetrika pakaian, membersihkan rumah, merapikan rumah
dengan tidak merasa terbebani. Saya bekerja di luar rumah, dari pukul 06.30 –
14.00 WIB. Oleh karena semua sudah berjalan lama, maka saya melakukan dengan
hati senang.
Suami
memiliki tugas sendiri. Tugas di rumah adalah membersihkan halaman, sekitar
rumah, dan kebun belakang rumah. Saya dan suami sama-sama mengajar dan memiliki
jadwal yang sama di sekolah. Tanpa diminta, suami juga mau mencuci pakaian,
membersihkan dalam rumah dan menyetrika. Untuk urusan konsumsi, suami juga
tidak canggung untuk membelikan lauk pauk buat keluarga saat dibutuhkan.
Untuk
urusan anak-anak yang berkaitan dengan pelajaran memang saya lebih banyak
mengambil peran. Saya lebih sabar menghadapi atau mendampingi anak-anak
belajar. Saya juga lebih sabar menunggu anak-anak ketika mereka melakukan
aktifitas di rumah selain belajar. Saya paling suka mendampingi si kecil Faiz,
bermain, terutama bermain di luar rumah. Saya harus berada di luar rumah ketika
Faiz bermain di luar. Rumah kami berada di dekat sawah. Kiri, kanan, depan dan
belakang rumah adalah sawah. Memang di depan rumah saya ada jalan permanen,
jalan yang menghubungkan jalan raya dengan perumahan dan kampung. Kalau si
dhenok Faiq, sukanya curhat atau cerita. Biasanya Faiq juga ikut berada di luar
kalau adiknya di luar.
Faiq
dan Faiz, dua anak saya juga dekat dengan Ayahnya. Faiz suka ikut Ayahnya berada
di lapangan untuk badminton atau tenis. Sedangkan Faiq suka pergi dengan
Ayahnya untuk keperluan membeli buku dan barang kesukaannya di Solo.
Dahulu,
ketika Faiq belum memiliki SIM (Surat Izin Mengemudi), saya dan suami berbagi
tugas untuk antar jemput Faiq sekolah maupun les. Demikian juga dengan Faiz,
kami bergantian mengantar dan menjemput Faiz.
Saya
tipe Ibu rumahan. Saya juga membiasakan diri untuk segera berkumpul dengan
anak-anak dan suami. Kalau suami memiliki kepentingan yang tidak bisa ditinggalkan,
maka saya akan mengantar-jemput Faiq-Faiz. Saya selalu ingin anak-anak merasa
aman dan nyaman bersama saya di rumah. Kalau saya memiliki kepentingan dan
tidak bisa menjemput Faiq-Faiz maka saya akan minta bantuan suami untuk
mengurus Faiq-Faiz. Jangan sampai karena kedua orang tua sibuk, Faiq-Faiz jadi
tidak terurus.
Bila
suatu saat saya ada keperluan dengan teman-teman, tetapi tidak terlalu penting,
bila saatnya menjemput anak-anak, saya pasti izin pulang duluan. Teman-teman
juga tahu, kerepotan saya seandainya suami sedang dinas di luar kota..
Sekarang
Faiq sudah memiliki SIM, ke sekolah dan mengikuti les, Faiq mengendarai sepeda
motor sendiri. Saya selalu berpesan untuk selalu hati-hati dan tidak perlu
tergesa-gesa. Tugas saya mengantar dan menjemput Faiq, sudah tidak ada. Tinggal
antar jemput Faiz.
00000
Sejak
sebelum menikah sampai sekarang, saya tidak suka keluar rumah kalau tidak untuk
hal penting. Saya tidak suka jalan-jalan, berbelanja, atau melakukan aktifitas
yang mengeluarkan banyak uang. Bagi saya, bekerja, mengurus anak, menulis,
menyalurkan hobi dan melakukan perjalanan, sudah cukup menyita waktu. Saya tidak
akan melakukan kegiatan “me time” tetapi mengorbankan anak-anak.
Bagi
saya, anak-anak adalah segalanya. Saya dan suami akan berbagi tugas. Kami sadar,
semua pekerjaan tidak bisa diselesaikan oleh satu orang saja. Kalau sekali
tempo, kami harus melakukan semuanya, itu karena pasangan ada tugas keluar kota
atau tugas sampai menginap.
Anak-anak
biasa, kalau masuk rumah, salah satu di antara Ayah dan Mami, tidak ada di
rumah, mereka pasti bertanya,” Ayah mana? Mami mana?”
Kalau
kami lengkap, saya, suami, Faiq-Faiz, berada di rumah, ternyata banyak hal bisa
kami lakukan bersama. Kami kompak dalam hal berbagi peran.
Karanganyar,
7 Juli 2017
Rabu, 05 Juli 2017
Reuni Dan Kaos Seragam Reuni
![]() |
| Seragam keluarga bukan seragam reuni |
Sebenarnya
tidak ada aturan yang mengharuskan reuni dilakukan saat-saat momen lebaran. Reuni,
mau diadakan kapan saja boleh dan sah-sah saja. Seandainya reuni diadakan bukan
saat (nuansa) lebaran, ya silakan. Pokoknya waktu reuni itu tidak mengikat. Yang
penting saat reuni ada peserta yang datang. Reuni, tidak perlu harus
mendatangkan sekian orang. Bertiga, berempat atau berlima, reuni tetap bisa
jalan (kalau satu orang, bukan reuni dong hahaha).
Untuk
mengumpulkan banyak orang pada saat tertentu bukan perkara mudah. Antara satu orang
dengan lainnya memiliki kepentingan dan acara berbeda. Kalau saat reuni ada
teman yang tidak bisa datang, tentu saja kita harus maklum. Kita tidak bisa
memaksa orang lain agar sama dalam hal waktu luang. Berpikiran positif saja
terhadap teman-teman yang tidak bisa menghadiri reuni.
Reuni
digunakan untuk sarana silaturahmi. Reuni jangan digunakan untuk pamer. Pokoknya
sembarang pamer tak perlu dilakukan saat reuni. Jabatan, kekayaan, prestasi,
anak, pasangan dan lain-lain tak perlu dipamerkan. Reuni bukan ajang pamer,
reuni juga bukan ajang berkeluh kesah. Reuni bukan untuk mengungkit sesuatu
yang menyakitkan atau reuni bukan untuk menyemaikan kembali cinta yang telah
lalu. (Karena yang saya sebut yang terakhir, kadang terjadi pada dua insan yang
pernah jadian. Jadian apa sih? Silakan diterjemahkan sendiri).
Kalau
pada saat reuni ternyata ada teman yang bisa membantu atau kita bantu dalam hal
mendapatkan pekerjaan, ya baguslah kalau begitu. Inilah sisi positif dari reuni.
Senang rasanya bila melihat teman-teman kita sukses dan bisa menyukseskan teman
yang lain.
Reuni
bisa dilaksanakan di mana saja. Masalah tempat bisanya dipilih posisi di
tengah-tengah. Maksudnya, tempatnya bisa terjangkau dari berbagai penjuru. Biasanya
teman-teman kan rumahnya tidak berdekatan. Reuni bisa dilaksanakan di rumah,
menyewa rumah makan, menyewa gedung, atau di tempat wisata tertentu. Semua tergantung
kesepakatan.
Untuk
mengenal peserta reuni (kalau pesertanya banyak), biasanya ada seragam reuni. Kadang-kadang,
saat reuni peserta juga mengajak pasangannya. Misalnya 20 sampai 30 tahun tidak
pernah bertemu, mungkin kita pangling pada teman. Kalau pasangan (bukan dari
sekolah yang sama) memakai seragam, nanti bakalan keliru dan omongannya mungkin
tidak nyambung dong.
Yang
paling praktis seragamnya adalah kaos dengan tulisan tertentu dan ada tahun
reuni. Dengan demikian, terkesan ada kekompakan meskipun sudah lama berpisah. Kalau
mau mengikuti, ada reuni bersama teman SD, SMP maupun SMA. Bila pada tahun yang
sama, reuni pada ketiga jenjang kita ikuti, dan saat reuni memakai seragam,
berapa seragam reuni yang kita miliki? Kalau reuni dilakukan tiap tahun, berapa
seragam yang kita miliki? Dan jangan lupa seragam itu hanya dipakai bareng
dengan banyak orang pada saat reuni. Selebihnya kita pakai sebagai pakaian
harian. Atau kita pakai saat bertemu teman tertentu dan sudah janjian memakai
kostum tertentu, misalnya.
Saya
bukan anti seragam. Saya juga tidak tiap tahun menghadiri acara reuni. Yang saya
ingat, sejak lulus SD tahun 1984 saya baru mengikuti sekali reuni SD. SMP lulus
tahun 1987, sampai sekarang saya belum pernah mengikuti reuni (Padahal hanya di
Yogyakarta, tiap tahun diadakan pertemuan rutin). SMA lulus tahun 1990, baru
tiga kali saya mengikuti reuni. Bahkan dengan teman kuliah (lulus tahun 1993)
saya belum pernah bertemu dengan teman-teman D3 Pendidikan Kimia FPMIPA IKIP
Negeri Yogyakarta. Bagi saya bertemu teman lama itu penting tetapi tidak paling
penting. Kalau memang waktunya memungkinkan, saya juga berusaha untuk mengikuti
reuni.
Kembali
pada seragam untuk reuni. Bila tiap reuni kita harus membeli seragam, berapa
banyak akan kita miliki seragam reuni? Belum lagi kalau ternyata seragam yang
digunakan reuni SD, SMP atau SMA warnanya sama. Rasanya kok menumpuk-numpuk
pakaian. Apakah tidak lebih baik kalau pakaian yang dikenakan saat reuni
memakai dresscode saja. Bisa saja warna pakaiannya sama atau senada, entah itu
polos, bercorak dan lain-lain. Lebih hemat dan tidak mubazir. Wahhhh, nggak
kompak dong? Ya, silakan saja kalau mau memakai seragam. Saya cenderung suka
memakai pakaian yang warnanya senada. Dengan memakai dresscode, bisa saja kita
tak perlu membeli baju/kaos lagi karena kita sudah punya pakaian yang dimaksud
dan tinggal memakai.
Seandainya
seragam reuni diberikan secara gratis karena ada sponsor, saya mau-mau saja. Ya,
barangkali suatu saat pada pelaksanaan reuni ada sponsor yang akan memberikan
seragam secara gratis. Wah, ngarep banget!
Karanganyar,
5 Juli 2017
Lebaran dan Pantai Goa Cemara Kabupaten Bantul, DIY
Bagi
saudara-saudara saya yang tinggal di DIY dan keluarga kakak saya yang tinggal
di Kabupaten Blora, Jateng, berlibur ke pantai selatan itu hal biasa. Mereka
bisa pergi ke pantai sewaktu-waktu. Berbeda dengan saya, suami dan anak-anak.
Harap maklum, saya tidak memiliki kendaraan roda empat yang bisa membawa kami
sekeluarga berlibur ke pantai. Paling tidak, salah satu dari kami (saya atau
Faiq) harus tinggal di rumah Ibu. Biasanya yang bisa pergi dengan sekali angkut
ayah, saya dan si kecil. Atau, Faiq, ayah dan si kecil.
Kali
ini, anak, menantu dan cucu Ibu bisa
kompak berlibur ke pantai Goa Cemara. Pantai Goa Cemara, Kabupaten Bantul, DIY
terletak di sebelah barat Pantai Parangtritis. Alhamdulillah, senang rasanya
bisa bepergian bersama keluarga besar dengan kostum yang sama. Adik saya
memunyai ide membuat seragam kaos yang digunakan untuk lebaran. Dua kakak saya
yang lain dengan pasangannya tidak ikut ke pantai karena ada suatu keperluan.
![]() |
| Menyendiri memandang laut lepas |
Awalnya,
kakak saya kedua, mbak Anna mengutarakan ingin bepergian bersama tetapi di
tempat wisata yang tidak ramai, dan bebas macet. Maka pantai Goa Cemara
pilihannya. Sebelum berangkat, kami membawa bekal makanan ringan, minuman dan
buah-buahan. Langkah ini kami tempuh agar pengeluaran tidak begitu banyak. Maklum
saja, suasana lebaran, makanan dan minuman yang dijual di tempat wisata, tidak
ada yang murah. Untuk makan berat, kakak saya memesan di lesehan sekitar
pantai, yang harganya masih terjangkau dan tidak “ngepruk”/terlalu mahal.
Biaya
retribusinya juga murah, yakni empat ribu rupiah per orang. Kebetulan saya dan
suami naik sepeda motor, parkir sepeda motor tiga ribu rupiah. Masih terjangkau
dan tidak mahal.
Sampai
di pantai memang pengunjungnya sudah banyak, tapi tidak berjubel. Kami menggelar
dua tikar lalu memandang ke pantai dengan nyaman. Meskipun ramai, tapi
keberadaan pengunjung tidak menghalangi kami melihat pantai dari kejauhan.
![]() |
| Dilarang mandi di laut |
Saya
harus mengawasi Faiz, si kecil yang sangat aktif dan tidak mau diam. Bagaimanapun,
Faiz adalah tanggung jawab saya sebagai Ibunya. Memang di banyak tempat ada
peringatan untuk menjauh dari pantai. Artinya, kami tidak boleh bermain air. Gelombang
besar kadang datang tanpa bisa kita duga sebelumnya. Untuk mengantisipasi agar
Faiz tidak mendekati air, saya ajak dia bermain pasir. Faiz membuat cetakan bangunan pasir dengan
wadah po* mie. Setelah itu Faiz dan keponakan saya, Icha yang kecil mungil
mencari daun cemara lalu ditusukkan di atas bangunan pasir. Mereka berlari ke
sana kemari dengan riang. Saya, kakak, adik dan suami tetap memperhatikan Faiz
dan Icha. Kami tidak boleh lengah.
Ketika
merasa sudah cukup kami menikmati udara sejuk, menikmati makanan ringan dan
menikmati suasana yang nyaman, kami harus membereskan bawaan. Tidak lupa,
sampah-sampah yang kami hasilkan, kami buang di tempatnya. Senang rasanya
berada di tempat yang menyediakan tempat sampah di mana-mana. Dengan tempat
sampah yang tersedia ini, jelas membuat tempat wisata menjadi bersih. Saya amati,
sebagian besar pengunjung juga membuang sampah pada tempatnya. Memang menjaga
kebersihan adalah gaya hidup kita. Apalagi sebagai seorang muslim, tentu
mengutamakan kebersihan.
Kami
menuju warung makan lesehan. Nasi hangat, oseng kangkung, cumi asam manis, ikan
bakar, lalapan, sambal kecap sudah tersedia. Waktunya makan! Seperti biasa,
kakak saya selalu minta wadah plastik atau kertas minyak untuk membungkus
makanan yang tidak habis.
Pantai
Goa Cemara tidak terlalu jauh dari rumah saya. Waktu yang kami tempuh hanya satu
jam. Alhamdulillah, ketika berangkat dan pulang, kami terhindar dari macet. Sampai
di rumah Ibu, azan asar berkumandang.
Bagi
saya, orang asli Yogyakarta, melakukan perjalanan wisata ke pantai selatan amat
menyenangkan meskipun saya takut air. Meskipun
saya asli Yogya, tapi pantai yang saya kunjungi baru sebagian kecil saja, Pantai
Baron, Pantai Indrayanti, Pantai Depok, Pantai Parangtritis, Pantai Samas,
Pantai Kwaru, Pantai Baru, dan Pantai Goa Cemara. Bukan berarti saya kurang
piknik, alasan saya adalah saya takut air. Semoga di masa yang akan datang,
masih ada waktu untuk saya menjelajahi pantai-pantai yang ada di Bantul dan
Gunungkidul.
Bagi
saya, lebaran kali ini adalah pertama kali piknik bersama keluarga besar.
Minggu, 02 Juli 2017
Lebaran Dan Ibu
Hari
Jumat, 23 Juni 2017 malam, Faiq yang sudah duluan mudik di rumah Ibu dan Bapak
tiba-tiba mengirimkan foto sepiring ketupat, opor dan sambal goreng. Masih hari
Jumat, kok sudah ada opor ayam dan sambal goreng, makan-makan acara apa itu?
Kata anak saya,”Nggak tahu, Ma. Pokoknya simbah putri masak itu.” Saya tak perlu bertanya lebih jauh lagi. Toh
hari Sabtu saya mau mudik, tanyanya besok saja kalau sudah sampai rumah Ibu dan
Bapak.
Malam
takbiran, biasanya opor ayam dan sambal goreng masih fresh ngejreng, tapi kali
ini tidak. Opor ayam dan sambal goreng sudah mengalami penghangatan dua kali.
Bahkan untuk ketupat juga sudah basi karena tidak disimpan di dalam kulkas.
Ternyata
oh ternyata, begini kisahnya:
Seperti
yang sudah pernah saya ceritakan sebelumnya, Ibu sekarang daya ingatnya
berkurang. Bahkan Ibu juga tidak bisa mengingat-ingat hari dan tanggal.
Pagi-pagi, Ibu berbelanja di pasar diantar Bapak. (Yang saya herankan, Bapak
kok ya tidak mengingatkan Ibu. Padahal Bapak tahu kalau lebaran masih 2 hari
lagi) Ibu berbelanja bermacam-macam bumbu, telur, daging ayam, krecek dan
lain-lain. Ketika Ibu sudah mengumpulkan belanjaan jadi satu, Ibu belanja bumbu
lagi (lupa padahal barang tersebut sudah dibeli beberapa menit sebelumnya).
Jadilah, bumbu dapur berlimpah dalam plastik bawaan.
Begitu
mulai meracik bumbu, barulah Ibu diberi tahu kalau lebaran masih dua hari lagi,
bukan besok. Karena sudah terlanjur dibeli, ya sudah akhirnya dimasak. Jadilah,
santap opor dan sambal goreng sebelum lebaran. Namanya juga pelupa,
ya……diterima saja. Saat lebaran, opor dan sambal goreng sudah melalui proses
penghangatan berulang-ulang.
Nah
ini ada kejadian tak terduga. Ibu menawari adik saya dan keluarga kecilnya
untuk makan siang. Adik saya langsung bilang ke Ibu sayurnya tidak usah
dipanaskan. Entah mengapa beberapa saat kemudian aroma gosong tercium. Mungkin,
Ibu ingin memberikan yang terbaik untuk anak cucunya. Maksud Ibu dengan sayur
dipanaskan nanti akan menggunggah selera saat menyantap nasi dan sayurnya. Tapi
Ibu lupa, benar-benar lupa (dan kami tetap memakluminya), setelah menghidupkan
kompor beliau kemudian merebahkan badannya. Perasaan Ibu rebahannya hanya
sebentar, tapi cukup menggosongkan sambal goreng. Tidak ada yang marah, semua
menerima apa adanya. Ya, mau bagaimana lagi?
Bapak
dengan sabar bilang,”Ibu sudah diingatkan jangan menghidupkan kompor. Biarlah
yang memanasi sayur Bapak saja.”
Ibu
hanya tersenyum.
00000
Hari
Selasa, kakak saya yang tinggal di Blora datang. Ibu siap-siap memasak sambal
goreng lagi padahal anak-anak Ibu yang lain bersiap ke pantai. Itu artinya kami
tidak makan siang di rumah. Ketika Ibu dilarang memasak lagi, beliau
bilang,”yang mau pergi, pergi saja. Aku mau masak, kalau aku tidak masak nanti
tidak ada lauk.” Semua diam. Ya sudah, pasti Ibu masaknya juga banyak.
Lebaran
dan Ibu,
Mungkin
karena kebiasaan Ibu sejak dahulu selalu menyiapkan makanan istimewa saat
lebaran untuk anak-anaknya. Ibu terbiasa
melakukan semua sendiri. Kami, anak-anaknya hanya membantu seperlunya saja.
Tapi sekarang kondisinya berbeda dengan dahulu.
Bagi
kami, Ibu adalah orang yang harus dimuliakan. Ibu tak perlu bersusah payah lagi
menyiapkan makanan saat lebaran. Kami merasa bisa mengurus diri kami. Kami bisa
saling membantu satu sama lain untuk menyiapkan makanan dan semuanya.
Sebenarnya kami tak ingin merepotkan Ibu. Kami cukup tahu diri. Tapi menurut
saya, Ibu hanya menjalankan kebiasaan yang telah berjalan puluhan tahun. Ibu
ingin anaknya bisa makan bareng dengan penuh suka cita.
Tentang
Lebaran dan Ibu, sebenarnya banyak yang akan saya ceritakan. Waktu saya tiba di
rumah Ibu yang lalu, saya bertanya (ngetes Ibu),”Hayo, saya siapa?” Jawab
Ibu,”Kamu, ya Ima.” Saya kejar lagi dengan pertanyaan berikutnya,”Ima anak
nomor berapa?” Ibu tersenyum,”Pira ya.” Saya membantu menyebutkan urutan nama
anak-anak. Sambil tersenyum beliau bilang,”Kamu nomor empat.” Tidak berhenti
sampai di situ, saya bertanya lagi,”Anak nomor lima siapa hayoooo.” Jawab
Ibu,”Ovi.” Saya meluruskan,”Nomor lima Lely, nomor enam Ovi.” Ibu tersenyum.
Sehat
selalu ya Buk, maaf kemarin uang bulanannya lupa belum saya serahkan.
Karanganyar,
2 Juli 2017
Sabtu, 01 Juli 2017
Lebaran Momentum Silaturahmi di Masjid
Hari
Ahad, 25 Juni 2017 kami menuju lapangan Minggiriran untuk menunaikan shalat Id.
Meskipun berhalangan untuk shalat, Faiq tetap turut serta ke lapangan. Sengaja kami
datang lebih pagi. Alhamdulillah, kami berada di shaf pertama untuk perempuan.
Kami
melantunkan takbir sembari menunggu jamaah shalat Id yang datang. Udara begitu
sejuk, tidak panas. Pukul tujuh lebih, shalat Id dimulai. Pada rakaat kedua,
saya mendengar Imam membaca ayat-ayat akhir dari surat Al Ghasyiyah dengan
suara bergetar, tercekat, sepertinya menangis. Demikian dalam makna dari surat
tersebut.
Usai
shalat Id, kami mendengarkan khutbah sampai selesai. Zaman sekarang, kesadaran
umat muslim sudah demikian tinggi. Ketika saya masih kecil, bila shalat telah
selesai, para jamaah banyak yang meninggalkan lapangan untuk pulang. Hampir separo
jamaah yang tidak mendengarkan khutbah sampai selesai. Sekarang pengetahuan
jamaah sudah bertambah baik. apalagi sebelum shalat, panitia memberitahukan
kepada jamaah untuk tidak meninggalkan khutbah. Khutbah diikuti sampai selesai.
Toh, khutbah juga tidak terlalu lama.
Sampai
di rumah, saya kemudian memesan mie ayam di warung tetangga. Mengawali bulan
Syawal dengan mengkonsumsi mie ayam, bukan opor ayam, lontong dan ketupat. (ada
cerita lain mengapa hari nan fitri ini tidak diawali dengan makan opor ayam dan
ketupat).
Baru
saja akan menyantap mie ayam, para tetangga datang ke rumah untuk
bermaaf-maafan dengan Ibid an Bapak serta kami, anak-anaknya. Dari tahun ke
tahun, semakin banyak yang bersilaturahmi ke rumah Bapak. Tentu saja, yang dulu
remaja, kini sudah berkeluarga dan memiliki anak.
Pukul
Sembilan, saya, Ibu dan Bapak menuju Masjid Al Ikhwan. Masjid Al Ikhwan adalah
tempat saya menimba ilmu agama dan berbagi ilmu. Di tempat inilah, dahulu saya
belajar banyak hal, belajar banyak karakter orang.
Di masjid
berkumpul jamaah yang akan bersilaturahmi, merayakan Idulfitri dan saling
bermaaf-maafan. Ibu masuk masjid kemudian panitia menempatkan Ibu di dekat
Ibu-ibu yang sudah sepuh. (di dalam masjid khusus perempuan, sedangkan
laki-laki berada di luar). Saya harus mengawasi Ibu. Maklum, Ibu sudah banyak
lupa. Jadi, agar Ibu tidak bingung, saya harus menuntun Ibu.
Saya
memperhatikan orang-orang yang berada di dalam masjid. Anak-anak, remaja,
dewasa, dan tua, menjadi satu dalam suasana suka cita. Beberapa dari Ibu-ibu
sepuh, saya masih mengenalnya. Beberapa orang yang dulu masih imut sekarang
sudah dewasa, atau yang seusia dengan saya, saya juga mengenalnya. Sekitar 20
tahun lamanya kami tak bersua. Ternyata, wajah saya tidak berubah. Mereka sangat
mengenal saya di usia yang tak muda lagi.
Ibu
berusia 71 tahun, badannya masih sehat tapi daya ingatnya sudah berkurang. Ibu cenderung
menjadi pelupa. Bagi yang tidak sabar menghadapi orang tua yang pelupa, pasti
bawaannya akan marah. Sebenarnya alasan apakah yang membuat orang mudah marah
menghadapi orang tua yang pelupa? Sederhana saja, biasanya apa yang diutarakan
orang tua tidak sejalan dengan jalan pikiran kita.
Ketika
silaturahmi di masjid, saya melihat Ibu-ibu yang usianya sebaya dengan Ibu juga
bermacam-macam kondisinya. Ada yang sakit-sakitan, ada yang hidupnya tergantung
dengan obat, ada yang hidupnya tergantung dari transfuse darah dan lain-lain. Dengan
melihat dan mendengar cerita beberapa orang yang saya temui, saya tetap
bersyukur. Meskipun sekarang menjadi pelupa, tapi Ibu tetap sehat dan diberi
umur panjang. Shalat dan puasa juga tidak ditinggalkan Ibu. Bahagianya saya
mendapatkan Ibu dengan kondisi seperti ini. Tetap sehat ya Bu…..
Akhirnya
saya, Ibu dan Bapak meninggalkan masjid dan pulang. Ibu dan Bapak mampir ke
rumah tetangga non muslim. Tetangga non muslim juga kedatangan tamu-tamu
muslim. Ada apakah ini? Biasa, tetangga non muslim juga terbuka menerima tamu
muslim atau bertamu ke rumah tetangga muslim di saat lebaran. Tidak bermaksud
apa-apa, hanya bermaaf-maafan saja.
Selanjutnya,
Ibu dan Bapak menuju rumah Mbah Wazilah Wido Suroto (mbah putri). Pada hari-hari
biasa, Bapak sering mengisi pengajian yang diselenggarakan di rumah mbah Wido. Mbah
Wido usianya lebih dari 80 tahun dan masih sehat.
Semoga
tahun lebaran ini lebih bermakna dari tahun sebelumnya. Selamat Idulfitri,
mohon maaf lahir dan batin. Taqoballah minna wa minkum.
Karanganyar,
1 Juli 2017
Langganan:
Postingan (Atom)




