Jumat, 03 Juli 2015

Dari Gentong Keluar Emas Perhiasan

CERITA PENDEK
DARI GENTHONG KELUAR EMAS PERHIASAN
Ketika masih kelas 2 SD dulu, sekitar tahun 78-an sebelum berangkat sekolah, aku harus mengisi genthong tempat air. Kebetulan kami masuk sekolah siang hari. Aku dan mbak Ika bekerja sama menimba air. Tali karet untuk menimba kami tarik bergantian, sehingga tidak terlalu berat.
Dua genthong air kami isi penuh. Genthong yang satu, ukuran besar airnya untuk memasak. Kadang-kadang untuk persediaan minum kalau kami kehausan dari bermain. Air genthong atau air langsung diambil dari sumur, bila diminum rasanya segar karena kaya mineral. Saat itu air dari sumber mata air aman diminum tanpa dimasak lebih dahulu.
Genthong yang kedua ukurannya kecil. Genthong ini diletakkan di bibir sumur, lalu diikatkan pada tiang dengan tali. Dua tiang sumur bagian atas dihubungkan dengan kayu. Kayu inilah untuk menempatkan katrol atau kerekan. Genthong kedua digunakan untuk persediaan air wudhu. Kami menyebutnya dengan sebutan padasan.
Bagi masyarakat Yogya saat itu, bila memiliki air dalam genthong merasa lebih nyaman dan ayem. Rata-rata hampir tiap keluarga atau tiap rumah memiliki genthong tempat air. Waktu itu dunia plastik belum merajai seperti sekarang ini. Ember yang digunakan juga dari karet atau dari seng. Kalau bukan ember besar dari seng yang digunakan untuk mencuci pakaian, biasanya orang memiliki pengaron. Pengaron atau tempat air dari tanah liat (gerabah).
Setelah plastik mulai dikenal masyarakat, pengaron dan genthong juga mulai ditinggalkan. Akan tetapi Ibu dan Bapak tetap menggunakan genthong sebagai tempat menyimpan air.
“Orang-orang sudah tak lagi menggunakan genthong, Bu.”kataku
“Biarlah. Memang resiko pecah sangat besar. Tapi selagi tidak kena pukulan atau hantaman, genthong ini tidak akan pecah.”
“Pakai ember plastik saja, Bu.”
“Terlalu sayang bila tidak digunakan.”
Aku diam, tidak menanggapi Ibu lagi. Sewaktu keluarga pindah rumah, genthong tersebut juga dibawa. Genthong besar tetap diisi air, sedangkan genthong kecil tidak digunakan untuk padasan lagi. Genthong kecil ini digunakan Ibu untuk menyimpan beras. Genthong ditutup dengan tutup semacam cowek (cobek) dari tanah liat ukuran besar.
Usia genthong yang dimiliki Ibu dan Bapak hampir sama dengan usiaku, yakni empat puluh tiga tahun. Sekarang dua genthong tersebut merupakan barang kuno dan antik. Genthong kecil sekarang berada di dalam kamar Ibu dan Bapak. Tidak lagi digunakan untuk menyimpan beras. Aku sendiri tidak tahu untuk apa. Bagaimanapun aku harus menghargai Ibu dan Bapak. Aku tak ingin menyakiti mereka dengan meremehkan barang masa lalu.
Genthong besar ditempatkan di depan rumah. Diisi dengan air separo wadah, digunakan untuk memelihara beberapa ekor ikan. Aku dan saudara-saudara membiarkan Ibu dan Bapak dengan kesukaannya/klangenannya. Toh, dengan merawat genthong dan ikan, mereka tidak merepotkan anak-anak.
00000
“Mia, aku mau bicara. Kamu bisa pulang ke rumah Ibu dan Bapak, bukan? Diusahakan ya. Ada yang perlu kita bicarakan,” kata mbak Nana dari telepon.
“Ya, insya Allah aku pulang.”
Ada apa dengan Ibu dan Bapak? Kok tiba-tiba aku disuruh pulang? Aku pulang sendiri, suami dan anak-anak aku tinggal. Semoga anak-anakku tidak rewel. Aku tidak mereka-reka apa yang sudah terjadi di rumah Ibu. Nanti kalau sudah sampai kampung kelahiran semua juga akan terjawab.
Sampai di rumah Ibu dan Bapak, suasana juga tenang seperti hari-hari biasa. Alhamdulillah Ibu dan Bapak sehat wal afiat. Doaku setiap hari memang tak berlebihan, hanya mohon kepada Allah agar Ibu dan Bapak dititipi kesehatan lahir dan batin. Dengan sehat Ibu dan Bapak tentu akan lebih sujud dan syukur.
Mbak Nana mengatakan bahwa Ibu ingin menunaikan ibadah haji.
“Alhamdulillah, kita bersyukur,”kataku.
“Biaya dari mana, Mia? Tahun ini Bapak baru saja pulang haji.”
“Percayalah, mbak Nana. Ibu tak akan membebani anak-anaknya. Pasti Ibu akan memberi kejutan pada kita.”
Malam harinya, Ibu mengungkapkan kepada kami, anak-anaknya bahwa beliau ingin menunaikan rukun Islam kelima itu. Bagiku semua itu masuk akal saja dan bukan mustahil. Lalu Ibu mengajak aku dan saudara-saudara perempuanku masuk ke dalam kamarnya.
Ibu membuka genthong. Dari dalam genthong, Ibu mengeluarkan tempat perhiasan sederhana. Dalam hati aku berdecak kagum. Ternyata Ibu memiliki tabungan emas. Emas-emas tersebut Ibu beli sedikit demi sedikit.
Dari dalam genthong itu juga, Ibu mengeluarkan surat-surat pembelian perhiasan tersebut. Dari perhitungan kedua kakak perempuanku, emas-emas Ibu tersebut bila dijual cukup untuk biaya naik haji.
Terjawab sudah rasa penasaranku kemarin. Aku memang sudah tahu sejak awal kalau Ibu memiliki perhiasan emas. Tapi di luar dugaanku, tabungan emas Ibu jumlahnya banyak. Dulu Ibu pernah mengatakan bahwa tabungan emas tersebut untuk berjaga-jaga di hari tuanya. Ibu tidak ingin memberatkan anak-anaknya.
00000
Genthong, ya genthong milik Ibu adalah tempat untuk menyimpan uang dan perhiasannya. Aku tahu dan paham sekali siapa Ibu. Seumur-umur, Ibu belum pernah menyimpan uang di bank. Kata Ibu daripada disimpan di bank, lebih baik uang tersebut dibelikan perhiasan. Tapi kalau uangnya cuma sedikit, biasanya disimpan dalam rupiah dan dimasukkan dalam genthong.
Aku ceritakan semua ini pada temanku. Beliau tertawa, tawanya tak mengandung olok-olok atau ejekan. Beliau tertawa karena dia sendiri juga melakukan hal yang sama.
“Bu Mia, aku juga menyimpan uang dan perhiasan dalam genthong. Bahkan genthongnya juga untuk menyimpan beras.”
Setelah diberi tahu cara menyimpan perhiasan dalam genthong yang berisi beras, aku tertawa. Boleh juga idenya. Menyimpan barang berharga di dalam rumah tapi tak khawatir terendus pencuri.
Aku jadi ingat dengan kebiasaan Ibu mertua yang menyimpan uangnya di dalam genthong berisi beras. Genthong yang dibiarkan berada di luar kamar. Tak ada orang yang curiga kalau genthong itu berisi uang. Ibu tak khawatir meninggalkan rumah beserta rupiahnya. (SELESAI)
Karanganyar, 2 Juni 2015
Cerita ini terinspirasi dari beberapa orang yang menggunakan genthong sebagai wadah air, menyimpan beras, rupiah dan perhiasan.
Cerita ini juga tayang di : http://www.kompasiana.com/noerimakaltsum/dari-genthong-keluar-emas-perhiasan_559532efce92737c048b4568

Kamis, 02 Juli 2015

Daun Jambu Biji Berkhasiat Sebagai Anti DBD

JAMBU BIJI MERAH, REDAKAN SAKIT PERUT
Jambu biji merah merupakan salah satu jenis tanaman yang dapat tumbuh subur di dataran rendah sampai ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut (dpl). Permukaan kulit luar pohonnya berwarna cokelat dan licin. Jika kulit kayu jambu biji merah dikelupas, terlihat permukaan batang kayunya yang basah.
Buah, daun dan kulit batang pohon jambu biji merahmengandung tanin. Daunnya juga mengandung asam ursolat, minyak atsiri, asam psidiolat, asam kratogolat, asam oleanolat, asam guajaverin dan vitamin. Kandungan gizinya antara lain kalori, vitamin A, B1, C, kalsium, fosfor, besi, protein, dan air.
Ketua Sentra Pengembangan dan Penerapan Pengobatan Tradisional (SP3T) DIY Dr dr Nyoman Kertia SpPD-(K) R mengungkapkan, jambu biji merah berkhasiat obat. Daun jambu biji merah biasanya dimanfaatkan sebagai obat diare dan buahnya untuk menambah kadar trombosit darah pasien demam berdarah.
Akan tetapi hasil riset Prof. Dr. Soegoeng Soegijanto Sp A (K), DTM & H., dan Harjono Achmad, keduanya dari Fakultas Kedokteran Airlangga, menemukan bahwa yang berkhasiat sebagai anti DBD justeru daun jambu biji.
Menurut DR Drs Suprapto Ma’at, Apt MS dari laboratorium Patologi klinik Universitas Airlangga, senyawa pokok penambah jumlah trombosit tersebut adalah quercentin. Kandungan quercentin di selembar daun, bisa sama dengan sekilo buah.
Berdasarkan literatur, sejumlah penyakit dapat diobati dengan tanaman jambu biji merah:
1.      Sakit perut dan diare
Sediakan 5 lembar daun jambu biji merah, 1 potong akar, kulit dan batangnya. Bahan-bahan direbus dengan 1,5 liter air sampai mendidih, disaring diambil airnya, lalu diminum 2 kali sehari pagi dan sore.

2.      Diabetus militus (DM)
Caranya, sediakan 1 buah jambu biji merah setengah masak. Kemudian buah jambu biji merah tersebut dibelah menjadi empat bagian dan direbus denagn 1 liter air sampai mendidih. Air rebusan kemudian disaring untuk diambilairnya, lalu diminum 2 kali sehari, pagi dan sore.

3.      Sakit perut atau diare pada bayi yang masih menyusu:
Sediakan jambu biji merah yang masih muda dan garam secukupnya. Bahan-bahan tadi dikunyah oleh ibu yang menyusui bayi, airnya ditelan dan ampasnya dibuang. Air susu ibu (ASI) ini diyakini bisa membantu menyembuhkan sakit perut atau diare pada bayi bersangkutan.

4.      Sakit maag
Sediakan 8 lembar daun jambu biji merah yang masih segar. Bahan-bahan tersebut direbus dengan 1,5 liter air sampai mendidih, kemudian disaring untuk diambil airnya. Air rebusan yang sudah disaring, lalu diminum 3 kali sehari, pagi, siang dan sore. Lakukan sampai sembuh.

5.      Beser atau sering kencing
Sediakan segenggam daun jambu biji merah yang masih muda, 3 sendok bubuk beras yang digoreng tanpa minyak (jawa: sangan). Lalu kedua bahan direbus bersama 2,5 gelas air sampai mendidih hingga tinggal 1gelas kemudian disaring. Air rebusan diminum tiap 3 jam sekali 3 sendok makan.

6.      Sariawan
Sediakan 1 genggam daun jambu biji merah, 1 potong kulit batang jambu biji merah. Bahan-bahan tersebut direbus bersama 2 gelas air sampai mendidih, kemudian rebusan bahan-bahan itu disaring untuk diambil airnya. Air rebusan diminum 2 kali sehari.

7.      Sakit kulit
Sediakan 1 genggam daun jambu biji merah yang masih muda, 7 kuntum bunga jambu biji merah. Lalu bahan-bahan tersebut ditumbuk bersama-sama sampai halus, selanjutnya digunakan untuk menggosok bagian kulit yang sakit. Lakukan berulang-ulang hingga sembuh.

8.      Luka bakar
Caranya, ambil 3 pucuk daun jambu biji merah yang masih muda, dikunyah dampai lembut, kemudian ditempelkan pada bagian tubuh yang terkena luka bakar agar tidak mengeluarkan darah terus menerus. Lakukan hingga sembuh. (Agus Suwarto, KR, minggu 24 pebruari 2013).

9.      Menambah jumlah trombosit bagi penderita DBD
Minum satu sendok ekstrak daun jambu biji 3 kali sehari. Lakukan selama 3-4 hari berurutan.
Atau dalam kondisi darurat : 5 lembar daun biji yang sudah dicuci bersih (tidak terlalu tua dan tidak muda) ditambah 3 gelas air lalu direbus hingga tersisa 1 gelas. Air rebusan diminum satu hari sekali selama 3-4 hari.

*Dari berbagai sumber.
Tulisan ini juga bisa dibaca di :http://www.kompasiana.com/noerimakaltsum/hasil-riset-yang-berkhasiat-sebagai-anti-dbd-justeru-daun-jambu-biji_55948228c8afbdf409b08ce9

Senin, 29 Juni 2015

Penculikan di Toko Modern : Kaum Ibu Bila Belanja Jangan Bawa Balita

Penculikan di Toko Modern : Kaum Ibu Bila Belanja Jangan Bawa Balita

Beberapa hari yang lalu saya membaca pesan di WA. Isinya kurang lebih terjadi penculikan anak berusia 4 tahun di Carrefour, ketika ibunya sedang memilih belanjaan di Carrefour. Sang ibu baru sadar bila anaknya sudah tidak ada di sampingnya. Seseorang yang baik hati ikut membantu si ibu dengan minta bantuan pegawai Carrefour untuk segera menutup  pintu dan jalur keluar manapun.

Akhirnya semua pintu berhasil ditutup/dikunci. Ketika dicari anak yang dimaksud ditemukan di kamar mandi dalam keadaan terbius, hanya memakai celana dalam, kepala/rambut sudah tercukur setengah. Di samping anak tadi ada tas pakaian, sebuah pencukur/razor dan sebuah wig di lantai. Si penculik hanya butuh waktu 13 menit, dari mengambil anak hingga mencukur rambut. Dari pesan WA tersebut tidak disebutkan penculik tertangkap/tidak. Misalnya bila aksi penculikan tersebut tidak dihentikan, mungkin penculik akan sukses menculik anak. Karena kondisi anak saat diambil dengan kondisi dibawa kabur sudah sangat berbeda!

Kejahatan bisa terjadi di mana-mana. Tentu saja modus operandinya juga beraneka macam. Sebagai orang tua dan orang dewasa kita perlu hati-hati terhadap keselamatan anak-anak kita. Bahkan sekarang sudah saatnya kita sebagai orang dewasa tidak hanya cukup melindungi anak-anak kita sendiri. Kita juga diharapkan bisa melindungi anak-anak yang ada di sekitar kita. Di lingkungan keluarga, lingkungan rumah dan di manapun. Kita wajib “peduli anak-anak”.

Saya sangat setuju dengan pendapat bahwa anak bukanlah orang dewasa mini. Anak tetaplah anak. Anak daya nalarnya belum tinggi. Anak belum bisa membedakan orang baik (sungguhan) dan orang baik (bohong-bohongan). Oleh sebab itu anak memerlukan kondisi/lingkungan yang nyaman dan aman.

Orang tua terutama ibu harus mampu menghadirkan lingkungan yang nyaman dan aman untuk buah hatinya. Pada kasus di atas, balita menjadi korban penculikan karena ibu sibuk dengan urusannya (belanja). Sebaiknya ibu bisa mengukur tingkat kerepotan bila berada di swalayan. Tentu saja bila tak ada yang ikut mengawasi anak yang kita ajak, bahaya mengancam pada anak kita.

Masih bagus ada orang yang ikut membantu menghentikan pekerjaan penculik dengan menutup pintu. Bayangkan bila terlambat beberapa menit saja. Bisa kita tebak apa yang akan terjadi. Awas, bahaya mengintai pada anak-anak kita khususnya balita yang mudah tergiur menerima sesuatu yang menarik dari orang yang belum dikenalnya.

Bila ibu-ibu mau belanja di swalayan, pasar atau di mana saja, pastikan anak-anak kita ada yang ikut mengawasinya. Bila tidak ada teman yang ikut mengawasi anak kita saat kita belanja, sebaiknya jangan mengajak anak di tempat umum yang rawan. Anak bisa ditinggal di rumah atau dititipkan dulu pada saudara, orang tua, tetangga atau di Taman Penitipan Anak.

Sayangi buah hati kita. Bulan Ramadhan ini, sekarang sudah terlihat aktifitas orang-orang. Sibuk di pasar, toko, swalayan, mall dan tempat belanja lainnya. Ibu-ibu sudah mulai menyiapkan segala sesuatu untuk menyambut lebaran. Belanja makanan, minuman, sembako, pakaian dan lain-lain. Boleh-boleh saja melakukan hal itu. Tapi jangan sampai kita mengabaikan anak kita. Konon katanya anak adalah harta yang tak ternilai. Kalau orang Jawa mengatakan ojo kemeruk anak digawa mrono mrene (jangan berlebihan, anak dibawa ke sana kemari).

Untuk kaum bapak, mohon kerja samanya ikut mengawasi anak-anak di kala ibu sedang repot belanja. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Karanganyar, 29 Juni 2015
Sumber :
http://www.kompasiana.com/noerimakaltsum/penculikan-di-toko-modern-kaum-ibu-jangan-bawa-balita-saat-belanja_55914429317a61f2098b4567 

Sabtu, 27 Juni 2015

Sarjana Kedokteran, Tetap Bangga Menjadi Ibu Rumah Tangga

Sarjana Kedokteran, Tetap Bangga Menjadi Ibu Rumah Tangga

Gambar 1. Bersama Sahabat Penulis Berbagi Ilmu

Tulisan ini terangkai, terinspirasi dari cerita teman-teman, tetangga, dan sahabat-sahabat saya baik di dunia maya maupun nyata. Judul dalam tulisan ini saya ambil karena saya menilai betapa mulianya hati seorang perempuan. Dia dilahirkan, dibesarkan, diberikan pendidikan yang tinggi oleh orang tuanya. Akan tetapi setelah menempuh pendidikan tinggi, mereka tidak berkesempatan bekerja dengan menghasilkan uang. Mereka memilih membesarkan putra-putrinya di rumah dengan berbagai pertimbangan.

Saya dan Keluarga
Alhamdulillah, saya bisa menyelesaikan sekolah dan lulus sarjana. Saya sangat berterima kasih kepada kedua orang tua saya, kakak-kakak dan adik saya yang telah membiayai saya menempuh pendidikan. Sungguh, jasa mereka tak bisa saya balas dengan materi yang saya miliki sekarang. Semoga yang yang telah mereka usahakan untuk saya mendapatkan pahala dan merupakan amal jariyah. Amin.

Gambar 2. Bersama Saudara Kandung (Motivator)

Saya juga sangat berterima kasih kepada keluarga besar saya, orang tua dan saudara-saudara kandung saya yang terus memotivasi kepada saya untuk mengamalkan ilmu yang saya peroleh dengan jalan mengajar. Tak lupa saya sangat berterima kasih kepada suami yang saya cintai, yang telah memberikan kesempatan dan mengizinkan saya untuk mengamalkan ilmu dengan bekerja di luar rumah. Kebetulan saya dan suami berprofesi sebagai guru.

Senang rasanya menjadi perempuan yang bisa bekerja dan berpenghasilan tetapi tetap tidak mengabaikan kewajiban sebagai isteri dan ibu bagi kedua putri-putra saya. Kebetulan kami tak memiliki asisten rumah tangga, jadi semua pekerjaan praktis kami kerjakan sendiri.

Saya bangga menjadi seorang ibu yang memiliki pengetahuan yang cukup. Bila anak saya memerlukan bantuan untuk mengerjakan PR atau sekedar menerangkan pelajaran matematika, fisika dan kimia, saya berusaha untuk membantunya. Tentu saja saya harus kembali membuka-buka buku. Dan mencari strategi supaya keterangan saya dengan mudah dipahami anak saya. Alhamdulillah, meski saya sarjana jurusan kimia sampai sekarang saya juga masih bisa menerangkan pelajaran matematika/fisika.

Saya teramat bangga karena kedua anak saya yang momong dan mendampingi dia bermain adalah sarjana pendidikan yaitu saya dan suami saya.

Tetangga dan Kenalan
Cerita yang kedua ini adalah tetangga saya. Beliau lulus dari Fakultas Kedokteran dan memperoleh gelar dokter waktu itu. Akan tetapi tetangga saya tidak bekerja sebagaimana mestinya sarjana kedokteran. Beliau bersyukur menjadi ibu rumah tangga. Beilau mendampingi suaminya yang berprofesi sebagai dokter umum.

Dengan menjadi ibu rumah tangga beliau tetap bisa mengamalkan ilmunya. Sebab beliau aktif pada tiap kegiatan sosial. Pasangan dokter ini memiliki seorang anak laki-laki. Seorang anak laki-laki yang dibesarkan oleh tangan-tangan dokter. Anak laki-laki satu-satunya ini berhasil menamatkan pendidikannya di salah satu perguruan tinggi negeri di Yogyakarta. Ya, meskipun sarjana kedokteran, tetangga saya tetap bangga menjadi ibu rumah tangga.

Cerita yang ketiga ini adalah teman saya yang aktif menulis buku. Beliau lulus dari IAIN Su-Ka Yogyakarta. Akan tetapi teman saya memilih menjadi ibu rumah tangga dengan berbagai pertimbangan. Menjadi ibu rumah tangga dan mengurus 3 putra-putrinya. Beliau tetap bisa mengamalkan ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan, yaitu dengan cara menulis buku. Selain menulis buku, beliau juga menulis artikel yang ditayangkan oleh majalah online. Dengan demikian, ilmu yang diperoleh tetap disampaikan kepada orang lain dan tentu saja ilmu yang bermanfaat ini merupakan amal jariyah.

Cerita yang keempat adalah tetangga saya waktu saya masih tinggal dengan orang tua. Sebut saja Dikta. Mbak Dikta pernah satu kelas dengan saya. Setelah lulus SMA, mbak Dikta melanjutkan ke FK Hewan di salah satu perguruan tinggi negeri di Yogyakarta.

Seingat saya, terakhir saya bertemu mbak Dikta ketika dia menikah. Waktu itu saya njagong mewakili Karang Taruna. Setelah itu saya tidak bertemu lagi sampai sekarang. Akan tetapi Allah mempertemukan kami di dunia maya, facebook. Kebetulan kami seangkatan, jadi kami bertemu di Group Alumni.

Dari pertemuan di facebook ini saya jadi tahu mbak Dikta tinggal dan memiliki 3 putra-putri. Tahun lalu ketika saya mudik lebaran, saya juga berusaha menemui mbak Dikta yang mudik. Sayang saya tidak bisa bertemu dengannya karena dia sedang bepergian dengan anak-anaknya.

Ternyata mbak Dikta tidak bekerja di luar, dia menjadi ibu rumah tangga. Suatu saat dia menulis status kurang lebih maksudnya : meskipun dia sarjana kedokteran, dia menganggur, karena suami tidak mengizinkan dia bekerja. Dari status itu ada beberapa komen. Di antaranya ada yang pro dan ada yang kontra.

Kalau saya menyarankan meskipun tidak bekerja, kita juga bisa mengamalkan ilmu. Lakukan saja menulis. Menulis bisa dilakukan di rumah, tanpa meninggalkan keluarga.  Kita bisa menulis sesuatu yang kita kuasai. Saya yakin mbak Dikta bisa. Pengetahuan dan wawasannya luas, bagi mbak Dikta menulis tentang hal yang berhubungan dengan hewan juga bisa. Apalagi kalau saya sering membaca statusnya tentang ketiga anaknya, luar biasa. Ketiga anaknya memberi ide cerita yang dahsyat. Sebenarnya tulisan yang kita buat memberi manfaat untuk orang banyak. Mbak Dikta juga bisa aktif di komunitas atau perkumpulan sesuai agama yang dipeluknya.

Mungkin, suatu saat bila saya bertemu langsung dengan mbak Dikta, dia akan saya bisiki, mbak bangganya kita, anak-anak diasuh dan dirawat oleh seorang dokter. Meskipun tidak bekerja di luar rumah, kita tetap bisa memberi manfaat untuk orang lain. Kita tetap bisa bangga menjadi ibu rumah tangga. Karena menjadi ibu rumah tangga tugasnya di rumah juga tidak bisa dianggap enteng. Membesarkan dan mendidik anak-anak menjadi manusia yang berakhlak mulia dan berkarakter ini tugas yang amat berat.

Kalau dulu saya pernah membaca status mbak Dikta yang mengeluh karena tak memiliki penghasilan, tidak bekerja dan hanya menjadi ibu rumah tangga. Saya ingin mbak Dikta mencontoh kehidupan orang-orang di sekelilingnya. Sarjana kedokteran, sarjana psikologi, sarjana agama yang tidak bekerja di luar rumah tetapi tetap berpenghasilan dengan menulis. Mereka bisa mengawasi putra-putrinya bermain. Mereka bisa mendampingi putra-putrinya belajar. Mereka dekat dan ada ketika putra-putrinya membutuhkannya.

Saya salut kepada dua orang perempuan kuat yang saya kenal di daerah saya tinggal yaitu sarjana kedokteran yang tidak bekerja, mendampingi suaminya yang dokter umum dan sarjana kedokteran gigi yang tidak bekerja mendampingi suaminya yang dokter kandungan.

Semoga tulisan ini bermanfaat.

Karanganyar, 27 Juni 2015


Terima kasih untuk keluarga besarku, suamiku dan kedua anakku, yang mengizinkanku tetap bekerja.

Jumat, 26 Juni 2015

Suamiku Amnesia dan Tunanetra

Gambar 1. Suami Sahabat Karib Berbaju Putih ketika Sehat

Cerita ini adalah kisah nyata. Kisah dari sahabat karibku ketika mengajar satu sekolah. Aku mengikuti perkembangan cerita tentang suaminya, karena kami sama-sama sering bertukat cerita. Semoga Allah senantiasa memberikan kemudahan dan kesabaran pada sahabat karibku. Semoga apa yang dilakukan kelak bisa membuka pintu surganya. Amin.

Gambar 2. Suami Sahabat Karib Kaos Oranye setelah Sakit 

Allah menguji kesabaran sahabat karibku dengan kondisi sekarang suaminya yang amnesia dan tunanetra. Sahabat karibku sangat sabar. Menurutnya semua harus dihadapi, dijalani dan dicari jalan keluarnya. Mengeluh bukan merupakan solusi.  

Kisah selengkapnya bisa Anda baca di :

Kamis, 25 Juni 2015

Telur Asin Laku Berkat Sedekah

PENJUAL TELUR ASIN

Di rumah ibu Nur, terdapat bebarapa ekor ayam yang sengaja dipelihara untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga. Selain dimanfaatkan telurnya, juga diambil dagingnya. Dengan memberikan sisa-sisa makanan dan bekatul sebagai pakannya, ayam kampung yang diternakkan cepat beranak pinak.
Suatu hari, rombongan bebek milik tetangga RT ikut nimbrung makan di halaman rumahnya. Sebetulnya mengganggu, tetapi bagaimana lagi. Dibiarkan bebek-bebek itu ikut menyantap pakan untuk ternaknya.

Suatu malam terdengar suara bebek di belakang rumahnya. Ibu Nur tidak memedulikannya. Beberapa malam, satu bebek itu berada di kebun belakang rumah. Keesokan harinya, anak Ibu Nur memdapatkan tempat bertelurnya bebek beserta 11 butir telur bebek di kebun belakang rumah.

Ibu Nur berusaha mencari tahu siapa pemilik bebek tersebut. Akhirnya Ibu Nur mendapatkan titik terang, bahwa yang mempunyai bebek itu adalah Pak RW. Ibu Nur membawa telur bebek ke rumah Pak RW dan menyerahkan telur-telur bebek itu. Pak RW memberikan telur bebek itu kepada Ibu Nur, tetapi Ibu Nur menolak saat telur bebek itu diberikan padanya. Lalu Pak RW menerima telur-telur bebeknya.

Beberapa hari kemudian untuk mengisi waktu luangnya, Ibu Nur yang berprofesi sebagai guru membuat telur asin dan menjualnya. Bisa dibilang usahanya laku keras. Sukses. Alhamdulillah, bebek-bebek milik Pak RW memberi petunjuk, jalan sukses Ibu Nur sebagai pedagang telur asin.

Karanganyar, 25 Juni 2015

Catatan ini berdasarkan kisah nyata. meskipun sekarang Ibu Nur sudah tidak berjualan telur asin karena kesibukannya, tapi banyak orang masih sering menanyakan telur asinnya.
Baca juga perjalanan yang lain di :
http://www.kompasiana.com/noerimakaltsum/terhindar-dari-ular-berbisa-karena-sedekah_558b67738f7e6177048b45fb

Selasa, 23 Juni 2015

Sedekah Pisang Dibalas Pisang

SEDEKAH PISANG DIBALAS PISANG
Apa jadinya bila ingin bersedekah tetapi tidak mempunyai uang. Sedekahkan saja apa yang kita punya. Seperti Mia. Ibu muda ini senangnya memberikan hasil kebun kepada tetangga, saudara, teman-teman guru, dan teman-teman pengajian.

Suatu hari Mia menyisihkan buah pisang yang sudah masak. Delapan belas buah pisang itu disiapkan untuk dibawa ke pengajian di rumah tetangganya. Mia merasa pisangnya terlalu sedikit, bagaimana nanti kalau yang datang banyak? Kalau tidak cukup?

Temannya yang sekaligus guru mengaji mengatakan, kalau tidak cukup kita-kita tak usah. Alhamdulillah, pisang ambon yang dibawa Mia cukup untuk ibu-ibu yang mengaji.

Beberapa hari kemudian, kurang dari tujuh hari, tetangganya datang memberikan pisang kepok hasil panen kebun di belakang rumah. Subhanallah. Pisang kepok itu lebih banyak, lebih besar, dan lebih berkualitas dari pisang ambon yang Mia sedekahkan dulu.
Ternyata benar, Allah akan mengganti yang kita sedekahkan. Gantinya lebih baik. Tanpa ragu-ragu, Mia kembali menyedekahkan pisang kepok ini dengan cara dibuat pisang goreng lalu dibagikan kepada tetangga lagi. Sebagian direbus lalu dibawa dan dibagi ke sekolah.

Karanganyar, 23 Juni 2015
Ada yang perlu dibaca yang lain, masih tentang sedekah.