Sabtu, 05 Maret 2016

Jangan Dendam, Karena Dendam Memerlukan Energi Besar

Ketika Nok Fai masih TK, dia termasuk anak yang mengalah dan tak mau membalas kenakalan teman-temannya. Saya tak menyalahkan guru TK yang tak mampu mengatasi kenakalan siswanya yang banyak. Tapi saya berpesan, seandainya anak yang usil tetap mendekati anak-anak yang cenderung pendiam, mohon Fai dijauhkan dari teman yang usil tadi.
Setelah beberapa kali mengalami kejadian yang tidak mengenakkan, saya mulai berpesan pada Fai (waktu itu sudah masuk klub Tae Kwon Do),”Fai, keluarkan kekuatanmu, balaslah mereka yang usil sama sesuai keusilannya. Jangan diam saja. Fai tidak lemah. Mereka akan terus mengganggu Fai kalau Fai diam saja.”
Suatu ketika ada teman yang bilang Fai nakal. Ah, saya tidak percaya. Fai, anak perempuan, badannya kecil, selama ini Fai diusili temannya. Saya berpikir, Fai hanya membalas saja. Ketika di rumah Fai bercerita tentang hal-hal yang membuatnya nyaman. Membalas perbuatan teman laki-laki yang usil.
Akan tetapi saya tidak mengajarkan padanya untuk dendam. Ada kejadian yang membuat dada saya berdegup kencang. Waktu saya menjemput Fai di TK, gurunya bilang,”Bu, maafkan kami. Fai tadi didorong temannya, Faiz (Faiz ini temannya lo, bukan nama adiknya). Fai jatuh, dagunya ada luka dalam. Kami sudah mengobatinya. Nanti kalau keluarga membawa ke rumah sakit, biayanya biarlah ditanggung sekolah.”
“Semoga tidak terjadi apa-apa,”kata saya.
Faiz, temannya yang ini usilnya minta ampun. Tapi saya masih menganggap ah itu kenakalan anak-anak saja. Hanya saya sayangkan ketika sama-sama menjemput, ibunya Faiz tidak mengucapkan apapun. Sikapnya biasa saja, seolah tak terjadi apa-apa.
Kalau sudah seperti itu apakah saya harus meminta Fai untuk membalas mendorong hingga dagunya Faiz bonyok? Tentu saja jawabnya tidak. Memaafkan saja, itu sudah cukup. Akan tetapi saudara saya berpendapat lain. Kata mereka kalau temannya nakal, ajari Fai membalas. Beda mereka, beda saya.
Memaafkan itu tidak membutuhkan energy banyak. Sedangkan dendam memerlukan energy besar. Memaafkan tak memerlukan syarat. Sedangkan dendam syaratnya berat. Setiap bertemu dengan orang yang kita dendam padanya, hati ini, muka ini, mulut ini akan merasa sakit. Raut wajah kita tak bersinar, cemberut dan lain-lain. Rugi besar, menurut saya.
Suatu hari seorang teman mengatakan pada saya,”Bu Ima, panjenengan ini kok gampang sekali memaafkan orang lain. Lalu berusaha untuk mendahului menyapa orang lain yang mendiamkan panjenengan (bahasa Jawanya nyanak-nyanak). Sepertinya panjenengan tidak terbebani melakukan semua ini. Ringan saja.”
“Hidup di dunia sekali saja. Maafkan mereka dan berbuat baik. Perkara mereka tetap dendam dengan saya itu bukan urusan saya. Saya tidak tahu kapan saya pulang kampung (meninggal), kalau bisa sebelum kembali saya telah menyelesaikan urusan dunia saya.”
Itu prinsip saya. Terserah pendapat orang lain. Kita punya jalan hidup masing-masing. Saya juga tak memaksa orang lain sama dengan saya.
00000
Suatu saat seorang teman ada yang bilang pada saya. Beliau takut bila tiba-tiba meninggal padahal masih ada dendam pada orang lain. Sebenarnya beliau ingin menghilangkan dendam. Tapi rasa gengsi itu menyebabkan beliau tak mau memulai untuk menyapa lebih dahulu. Akibatnya, bila bertemu mukanya sudah masam tak karuan. Mau tersenyum saja rasanya berat karena kelihatan sekali kalau senyumnya hanya dibuat-buat.  
“Tidak ada salahnya memulai menyapa. Toh menyapa tak mengeluarkan biaya. Tersenyum energy yang kita keluarkan hanya sedikit.”
“Tapi hati saya kok berat.”
“Itu godaan syetan.” (Lah, kok saya jadi melibatkan syetan dan menyalahkan syetan ya hehe)
Saya tak memaksa, ya terserah beliau saja. Toh semua menjadi tanggungannya. Di dunia saja beliau menanggung beratnya bila bertemu.
Saya tak menyangka sama sekali dengan apa yang diceritakan teman saya baru-baru ini. Karena dendamnya pada orang, beliau sampai meminta kepada Allah untuk mengabulkan permintaannya. Yaitu membalas perbuatan mereka yang telah mendholiminya, dengan cara memberi peringatan keras berupa musibah.
Sungguh, saya tak habis mengerti mengapa bisa sampai seperti ini. Dan benar, orang yang didoakan kena musibah berturut-turut anggota keluarganya mengalami musibah berat. Dengan ringan beliau mengaku ada sedikit penyesalan tapi merasa bahwa Allah mengabulkan doanya dan beliau berkata itu musibah yang dialami sudah setimpal dengan perbuatannya.
Saya tidak mau membuat masalah, tidak mau dianggap ceramah di siang bolong dan dibilang hari gini masih ada orang yang mudah memaafkan.
Kalau saya yang mengalami hal yang dialami teman saya, saya akan memaafkan perbuatan orang yang telah menyakiti dan mendholimi saya. Minimal, kalau saya ketemu dengan orang yang menyakiti saya, hati saya tidak bergedup kencang dan muka saya tidak masam.
Memaafkan orang memang tidaklah gampang, tapi setidaknya hindarilah dendam kesumat.
Karanganyar, 5 Maret 2016