Kamis, 17 Maret 2016

Panen Padi Penuh Berkah

Gambar 1. Thole Nleser
dok.pri
Ketika Ibu dan Bapak mertua masih ada, tiap panen padi di sawah belakang rumah saya hasilnya lumayan banyak. Ada sekitar 30 karung ikan/pakan ayam. Biasanya setelah diambil beberapa karung untuk persediaan makan sehari-hari, sebagian dijual untuk menutup biaya operasional/produksi dan sebagian disimpan. Gabah kering yang disimpan ini sebagai tabungan, bila sewaktu-waktu membutuhkan uang, tinggal dijual.
Saya dan suami sejak tahun 2002, hidup mandiri. Tinggal di rumah sendiri. Rumah yang dibangun di atas tanah milik mertua. Belakang rumah saya sawah. Kiri, kanan, dan depan rumah juga sawah. Bila musim hujan, nyanyian katak menemani kami. Tikus, kadal, luwing, bahkan ular berbisa juga menemani kami, kadang masuk rumah, Hi… ngeri kalau yang ini.
Saya dan suami sering ditawari beras oleh ibu mertua, tapi saya selalu bilang masih punya. Saya membeli beras sendiri. Meskipun beras di rumah habis, saya akan bilang sudah punya. Kalau suami biasanya mau mengambil beras dari rumah mertua. Akan tetapi kalau Ibu mertua sudah memasukkan beras ke dalam kantong plastic, atau karung gandum, saya tidak menolak. Pasti saya angkut dan dalam hati saya bersyukur, Alhamdulillah gak beli beras, ngirit….
Mengapa kalau sekedar ditawari saya mengatakan di rumah berasnya masih ada? Sebab, saya tidak ingin menjatuhkan wibawa suami. Jangan sampai nanti tetangga Ibu mertua ada yang bilang enak ya, gajinya utuh la wong makannya saja masih disuplai orang tua.
Gambar 2. Nleser, merontokkan padi
dok.pri
Tapi kalau sudah dimasukkan kantong plastic rasanya beda. Kan saya bisa menjawab ke orang-orang tetangga Ibu mertua, saya dipaksa membawa. Soalnya Ibu terlanjur memecah gabah hehe. Kalau beras tidak segera habis, lama-lama bau dan rasanya berubah.
Mulai tahun 2009, sawah belakang rumah praktis dikelola suami dan adik-adiknya (empat bersaudara). Ibu dan Bapak mertua sudah meninggal. Nah, karena kami tak punya latar belakang bertani maka pengelolaan sawah diserahkan pada kerabat, saudara dekat. Sistemnya paroan. Pengelola menyediakan benih, membajak sawah hingga menanam. Untuk pupuk ditanggung pengelola dan keluarga suami. Bila panen tiba, biaya panen ditanggung berdua.
Hasil panen dibawa pengelola untuk dijemur. Keluarga suami tahu beres tinggal membayar ongkos mengeringkan. Saya tidak tahu persis, berapa banyak biaya operasionalnya sebab semua biaya operasional diambilkan dari uang kas keluarga. (Bahasanya uang kas, rada mentereng. Kas ini berasal dari uang sewa lahan-lahan warisan mertua yang belum dibagi. Mertua meninggalkan rumah besar di pinggir jalan. Bagian depan ada semacam kios-kios. Dari kios-kios yang disewakan ini uang kas bertambah. Uang kas yang terkumpul, nantinya akan digunakan untuk biaya balik nama setelah warisan dari mertua dibagi)
Satu tahun biasanya hanya dua kali tanam padi setelah itu tanah dibiarkan menganggur, karena tidak ada air. Rata-rata dalam setahun mendapatkan 44 karung gabah kering (belakang rumah saya Tanami pohon tahunan. Dulu waktu Ibu dan Bapak mertua masih ada, tidak ada pohon tahunannya). Pengelola mendapatkan 22 karung. Keluarga suami mendapat 22 karung. Dari 22 karung ini masing-masing mendapatkan 5,5 karung. Ini lebih dari cukup untuk makan setahun. Alhamdulillah, kami tak kekurangan makan.
Beras yang kami dapatkan kualitasnya bagus, pulen, wangi dan rasanya mantap. Berasnya enak, lauknya enak, makan pun jadi lahap. Semoga apa yang diberikan mertua untuk anak-anaknya menjadi amal. Apa yang diusahakan anak-anak hingga saat ini mendapatkan keberkahan.
Pengelola sawah kami, juga menggarap sawah milik beliau sendiri. Menurut cerita dan pengalaman yang sudah-sudah, sawah milik beliau hasilnya tidak bagus. Ada saja masalahnya, dari padi ambruk, hama wereng, sekarang kena hama walang sangit. Dengan menggarap sawah milik keluarga suami, beliau bisa menikmati jerih payahnya selama di sawah. Minimal menikmati hasil panen sawah yang lain.
Hari Senin yang lalu ketika panen, buruh tebangnya memuji kalau padi sawah kami hasilnya bagus. Padinya tidak ambruk dihempas angin kala hujan deras. Sedangkan sebelah kiri, kanan, dan depan rumah sebagian ambruk.
Semoga Allah senantiasa menitipkan rezeki yang barokah untuk keluarga saya dan keluarga adik-adik suami. Amin.
Karanganyar, 17 Maret 2016