Jumat, 25 Maret 2016

Rezeki Berkah Pedagang Kaos Kaki Keliling

Bagi saya, Mas Paiman yang sering menawarkan kaos kaki dan celana kolor (baik pendek maupun panjang) sudah tidak asing lagi. Cara menawarkan dengan santai dan kekeluargaan inilah yang membuat guru-guru membeli barang dagangannya. Yang paling saya suka, Mas Paiman tidak mudah tersinggung. Semua ditanggapi dengan senyuman.
Namanya juga pedagang, jadi ya tidak gampang marah. Dengan demikian, kalau Mas Paiman datang menawarkan dagangan selalu saja ada yang membeli. Paling dia datangnya sebulan sekali. Ada yang membeli kaos kaki, kaos tangan, ikat pinggang, celana kolor, kaos atau kemeja. Tergantung harga penawarannya cocok tidak? Ada bonus untuk pelanggan kalau jadi membeli dagangannya, yaitu plastik kresek.
Dahulu, kaos kaki tidak terlalu tebal diberi harga sepuluh ribu rupiah per 3 pasang. Sekarang harganya naik menjadi sepuluh ribu rupiah per 2 pasang. Karena harganya sudah umum, beli di keramaian Taman Pancasila malam hari juga sama, saya langsung membeli. Buat persediaan, bisa digunakan bergantian.
Sebulan yang lalu, saya iseng-iseng menanyakan harga celana panjang yang bisa dipakai untuk harian. Mas Paiman memberikan harga seratus ribu dapat 3 potong. Saya membantin, menjahitkan celana saja ongkosnya tiga puluh ribu rupiah. Saya menawar, kalau boleh tiga puluh ribu saya beli satu. Namanya juga pedagang, ngotot 100. 000 dapat 3 potong. Saya sih tidak butuh-butuh amat. Kalau itu bisa deal kan lumayan, celana di rumah yang sudah cacat bisa dibungkus plastik lalu dimusiumkan.
Tidak usah pakai alot, langsung diberikan begitu saja. Lumayan, bisa untuk gonta-ganti. Kemarin siang Mas Paiman datang lagi. Biasa, menawarkan dagangannya.
“Kaos kaki, bu.”
“Celana yang seperti ini warnanya coklat ada atau tidak?”tanya saya.
“Nggak bawa bu. Kalau yang ijo ini atau biru juga bagus lo bu.”
“Mas, arep takpakai untuk pramuka, mosok ijo. Terus kalau biru jodone bajuku pake apa? Kalau ada yang coklat.”
Rupanya dia tidak membawa. Teman saya membeli celana panjang warna biru, deal. 30.000, langsung bungkus tas kresek.
“Kalau celana pendeknya berapa?”
“Dua potong lima puluh ribu, Bu.”
“Tiga puluh ribu.”
“Isih adoh Bu.”
“Maksudnya untungnya belum banyak ta?”saya ngeyel.
“Empat puluh, Bu.”
“Kalau boleh tiga lima. Kalau nggak boleh ya sudah.”
“Empat puluh Bu, taktambahi kaos kaki.”
“La aku ndak butuh kaos kaki je Mas.”
“Dereng angsal Bu.”
Saya tidak memaksa, kalau tidak deal ya sudah. Toh saya belum butuh-butuh amat. Ini masih mending, teman saya malah nawarnya sepuluh ribu.
Rezeki datangnya dari mana saja. Kalau kita membeli sesuatu pada pedagang yang sungguh-sungguh, semoga barang yang kita beli bermanfaat. Pedagangnya mendapatkan keberkahan dari keuntungan yang diambil.
Saya jadi ingat, dulu waktu SMP sering membantu ibu berjualan di pasar. Kebetulan pelanggan ibu tidak ada yang menawar dagangan ibu sampai titik penghabisan. Ketika saya kuliah, saya membantu menjualkan dagangan kakak saya. Ada kosmetik Sara Lee, mukena, dan sprei. Kebetulan pembeli juga tidak banyak bertanya. Untuk kosmetik, sudah ada buku katalognya. Mukena dan sprei bisa diangsur 3 kali. Kakak saya juga tidak mengambil untung banyak. Maklum, konsumennya adalah tetangga sendiri. Ketika saya jualan telur asin buatan sendiri, konsumennya juga tidak menawar karena harganya sama dengan di pasaran.
Saya ingin membeli barang-barang yang ditawarkan pedagang keliling yang mampir di sekolah saya. Kalau saya suka dengan produknya, dan melihat pedagang ramah menawarkan dagangannya, saya akan membeli meski teman saya bilang mahal. Bagi saya kemahalan harganya tidak masalah, paling kemahalan seribu dua ribu rupiah. Apalagi kalau barang itu bisa digunakan selama satu tahun, wah jadi murah sekali.
Beberapa hari yang akan datang, Mas Paiman akan datang ke sekolah, membawakan celana panjang coklat pesanan saya. Terima kasih Mas Paiman, sudah melayani guru-guru dengan ramah dan tiap candaan tidak dimasukkan ke hati.
Kaaranganyar, 25 Maret 2016