Selasa, 19 April 2016

Sehat Itu Mahal Harganya

Gambar 1. Ruang Operasi
dok.pri
Sehat itu mahal harganya. Lebih baik punya uang banyak badan sehat daripada tak punya uang tapi sakit (eh, ini pilihan tepat). Ya Allah, sehatkan badan kami, sehatkan pendengaran kami dan sehatkan penglihatan kami. Ya Allah, jadikan saya manusia yang bermanfaat bagi orang lain dan membuat nyaman mereka.
Itu doa saya setiap hari. Orang yang diberi ganjaran sakit, bukan perkara bisa beli obat, bisa membayar penginapan di RS, tapi lihat kerepotannya. Contoh, sakit pusing kepala. Mau melek saja kepala berat, badannya panas. Kadang terasa mau muntah. Mau shalat saja ketika ruku dan sujud harus memicingkan mata. Belum lagi kalau pusingnya pakai muter-muter.
Yang kedua batuk. Batuk sekali dia kali tak masalah. Terbatuk-batuk dalam kurun waktu beberapa menit, apa tidak membuat banjir atau terkencing-kencing. Repot kan? Sakit batuk saja harus memakai pampers.
Sakit gigi, ini lebih parah lagi. Jangan sampai Anda mengalaminya. Jangan percaya dengan lagu-lagu romantic yang disampaikan penyanyi. “daripada sakit hati, lebih baik sakit gigi….” Sakit gigi itu sakitnya pakai banget. Makan saja tidak enak. Malah gara-gara sakit gigi, teman saya ada yang berat badannya turun drastic. Sadis banget kan?
Ambeien, sakit yang benar-benar sakit. Duduk sakit, berbaring sakit, berdiri dan berjalan sakit, pokoknya sakit! Masih banyak lagi sakit-sakit yang tak usah saya sebutkan satu per satu.
Ya, dari sedikit pengalaman orang-orang yang berhasil saya simpan dalam memori, intinya kita wajib minta pada Allah untuk diberi sehat. Kita wajib bersyukur kepada Allah. Bersyukur tak memerlukan syarat. Bila kita banyak bersyukur, maka Allah akan menambah kenikmatan lagi.
Kalau Allah menguji rezeki kita tidak melimpah, tetap bersyukurlah. Berbaik sangka pada Allah. Pasti ada hikmah di balik semua itu. Sebab rezeki melimpah, harta berlebihan kadang membuat kita lupa. Sujud dan ruku kita mungkin tidak khusyu’. Ketika cobaan datang, saya bersyukur. Ketika nikmat datang, saya bersabar dan bersyukur.

Karanganyar, 19 April 2016