Minggu, 05 Juni 2016

Arti Mudik Bagi Isteri Sholehah

Rachman Big Family
dok.pri
Pertama-tama, jangan melihat judul dengan memicingkan mata. Ingat saja, muslimah adalah wanita sholehah. Ini ceritanya mau berkisah tentang senam jantung yang saya rasakan bila saudara-saudara perempuan saya tiba-tiba menelepon (tidak berkabar lewat WA). Perasaannya jadi gimana gitu. 

Apalagi kalau pas mereka menelepon, saya tak membawa hape. Jadilah semakin penasaran dan dag-dig-dug. Kalau ditelepon balik, mereka juga tak langsung mengangkat hape. Dikirimi sms, mereka juga tak segera menjawab. Pikiran saya langsung tertuju pada kedua orang tua yang sudah senja. Ada apa dengan Mamiku dan Bapakku?

Saya 6 bersaudara, kakak saya yang sulung laki-laki. Yang lainnya perempuan semua. Empat saudara perempuan saya berdomisili di Yogyakarta. Praktis, dengan berkirim WA, dalam waktu tak lama 4 saudara perempuan saya bisa berkumpul. Lain halnya dengan saya. Saya memerlukan waktu minimal 3 jam untuk sampai Yogyakarta.

Dua hari yang lalu tiba-tiba kakak saya yang nomor 2 menelepon. Pertama menanyakan kabar, terus bertanya-tanya tentang uang. Begitu topiknya uang, saya kok jadi berbunga-bunga, apalagi kalau dia bilang uangnya bisa diambil saat kamu mudik. Pasti saya tidak akan menunggu waktu atau menunda-nunda, saya langsung mudik!

Di sini saya mulai berpikir, saudara memang begitu. Kalau ketemu bareng tumplek blek kadang berselisih paham sampai padu dewe-dewe. Kalau lagi berjauhan, saling merindukan. Saya termasuk yang selalu dirindukan. Huwaaa, ge-er saya. Selalu yang ditanyakan kapan mudik, ya Cuma saya. Yang lain kan tinggal di Yogya.

Lantas kemarin siang di kala saya sedang rapat, kakak saya yang guru SD menelepon. Berhubung hape saya posisi silent maka saya tak tahu. Ketika saya bertanya, mau bicara apa ya kok nelpon aku? Jawabnya sungguh membuat saya terharu, walah wis lali!

Tapi saya yakin banget kalau mereka mau bertanya,”Awal puasa sekolah libur, murid dan gurunya libur. Kamu pasti mudik kan?”
Sayangnya kali ini awal puasa saya tidak bisa mudik. Saya manut suami saja. Kalau akhirnya yang bisa mudik suami sama si Dhenok, ya biarlah. Saya menunggu rumah sambil jaga ayamnya Thole yang makin banyak.

Sebenarnya saya ingin mudik. Bagi saya mudik di awal Ramadhan memiliki arti tersendiri. Pertama saya ingin berkumpul dengan saudara (jadi ingat waktu kecil), berbuka puasa makan bareng lesehan. Yang kedua, mumpung masih ada kesempatan, saya ingin berpuasa bersama kedua orang tua. Ketiga, Yogyakarta selalu memberi nuansa tersendiri. Dan yang keempat kalau ditanya teman guru, bu Im mudik nggak? Saya bisa menjawab dengan bangga, mudik dong!

Siapa tahu mudik bisa menyambangi kampung Ramadhan, sekitar Masjid Jogokariyan dan Kauman. Keren, bukan? Orang Yogya kalau ada waktu kok nggak mampir ke Kauman dan Jogokariyan, wah wah rugi. Orang luar Yogya saja penasaran dengan Masjid Jogokariyan lo!


Tapi sudahlah, kalau hari ini tidak bisa mudik, saya berharap bisa diajak jalan-jalan ke desa Jumantono lalu panen singkong. Soalnya dua hari yang lalu teman suami ada yang menawarkan panen singkong. Panen singkong, mau dong!